Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 181


__ADS_3

Suasana makan malam di Yogyakarta terasa sangat hangat. Setelah merasakan lelah dan bosan selama perjalanan dari Jakarta menuju Yogyakarta, sekarang waktunya mereka yang sudah bersih-bersih di hotel mengisi perut.


Lauk makan malam kali ini adalah gudeg ceker, ayam goreng, dan udang pedas. Semua bebas menikmati makanan apa yang dikehendaki tanpa dibatasi porsinya sehingga yang suda benar-benar lapar boleh saja mengambil porsi semaunya.


“Padahal dikasih lemper sama kue-kue di jalan tadi ya, sempat mampir juga di restoran untuk makan siang tapi rasanya kayak lapar banget nggak sih? Perut gue gitu, njir. Aneh banget yak,”


Ujar Jerry seraya duduk di sebelah Vindra. Tiga sahabatnya sudah memilih meja yang dijatahi empat kursi saja, tepat untuk mereka.


“Sama wey, mungkin karena kita banyak tidur kali, jadi begitu mata melek bawaannya laper muluk,”


“Padahal gue juga makan ciki-ciki yang gue bawa lho, tapi kok tetap lapar ya. Melar banget perut gue, njir,”


“Gue biasa aja,”


“Ah lo mah stay cool banget sih. Lapar bilang aja lapar,”


“Ya emang lapar tapi biasa aja, nggak lapar-lapar banget,”


“Lu dibagi makanan sama Zeline ya? Tadi gue liat, selain makan punya sendiri, lu sharing sama Zeline ‘kan?”


Vindra menganggukkan kepalanya. Ia tak menyangka sahabatnya tahu kalau Ia dan Zeline sempat berbagi makanan ringan yang mereka bawa untuk persiapan bekal di jalan.


“Gimana duduk sebelahan sama Zeline dengan waktu yang cukup lama, bro?”


Vindra mengangkat bahunya disela bersantap mengisi perutnya. Tak ada yang aneh ketika Ia harus duduk bersebelahan dengan Zeline. Awalnya Ia akui memang canggung, tak bisa berkata-kata tapi perlahan bisa mencair, bahkan tak ragu saling menawarkan makanan setelah Ia dulu yang memulai.


“Nih, kamu mau cokelat aku nggak?” Tanya Vindra tadi pada Zeline yang memejamkan mata mendengarkan playlist lagu yang diputar di dalam bus. Karena tak ada tanggapan dari Zeline, akhirnya Vindra sengaja menghentak pelan lengan mantan kekasihnya itu yang langsung membuatnya membuka mata.


“Apa?”


“Kamu nggak budeg ‘kan, Zel? Ini aku nawarin cokelat, kamu mau nggak?”


“Gue bawa makanan juga kok,”


“Ya udah nggak apa-apa, gue cuma mau nawarin aja, nggak usah pamer bawa makanan,” jawab Vindra.


“Ih aku nggak pamer tapi maksud aku supaya kamu nggak perlu repot-repot ngasih makanan ke aku, Vindra,”


“Nggak apa-apa santai aja, ambil lah kalau emang mau,”


Alih-alih mengambil cokelat batang yang diulurkan sang mantan kekasih, Zeline justru meraih makanan ringan berupa keripik kentang dengan varian rasa barbeque.

__ADS_1


Setelah membuka kemasan makanan ringan itu, Zeline langsung mengulurkannya ke arah Vindra yang langsung bingung dan bertanya-tanya. Ia bingung karena Zeline malah menawarkannya juga.


“Ayo silahkan diambil ciki aku. Cobain deh, enak tau,” suruh Zeline tapi Vindra menggelengkan kepalanya.


“Kalau kamu mau aku nyobain makanan kamu, okay nggak apa-apa. Tapi kamu harus mau juga nyobain makanan yang aku tawarin ini,”


Zeline akhirnya menganggukkan kepalanya. Tidak ada canggung sedikitpun rasanya susah, maka dari itu perlu momen-momen seperti ini diantara mereka.


“Okay makasih, Vindra. Sekarang giliran kamu yang cobain ciki aku, enak banget deh,”


Zeline menawarkan Vindra lagi. Karena cokelatnya tadi sudah diterima Zeline, sekarang gantian Vindra yang merasakan makanan ringan milik Zeline.


“Gimana rasanya?” Tanya Zeline.


“Enak tapi itu keterlaluan banget bumbunya ya. Lo tuh jangan terlalu banyak makan kayak begitu, mau sakit lo?”


“Ini sehat-sehat aja kok,”


“Anak micin banget, nggak berubah ternyata,”


Zeline yang sedang asyik mengunyah makanan ringannya langsung berhenti menggerakkan mulutnya ketika Vindra bicara seperti itu.


“Nggak berubah? Maksudnya?”


“Iya, kok masih ingat?”


“Ingatlah, masa lupa,”


Zeline terkekeh menutupi gugupnya yang tiba-tiba datang setelah Vindra mengaku bahwa hal kecil tentangnya tidak dilupakan oleh Vindra. Tak disangka olehnya Vindra masih tahu juga apa yang Ia suka.


“Lupain, jangan diingat-ingat terus, bahaya lho,”


“Emang kenapa? Suka-suka memory otak gue lah, kalau tetap mau ingat ya biarin aja, nggak usah lo nyuruh gue untuk lupain. Lagian itu ‘kan hal kecil yang gue tau dari lo, wajar aja kalau gue masih ingat,”


“Aku pikir kamu malah nggak tau apa yang aku suka lho,”


“Tau, pernah berhubungan lumayan lama masa nggak tau apa-apa,”


Vindra tersentak karena tepukan di bahunya. Seketika memorynya yang sedang memutar ulang momen dimana Ia mengobrol dengan Zeline di bus tadi buyar karena ulah Jerry.


“Lo ngapa makannya diam aja sih? Mana makannya santai gitu, mata nggak fokus, lo kenapa?”

__ADS_1


“Nggak apa-apa,”


“Lagi ada yang dipikirin kali. Kesian amat lo, Vin. Masih muda udah banyak beban pikiran,”


“Apaan sih, njir. Gue nggak lagi ada pikiran,”


“Lah lo bukan manusia dong kalau nggak ada pikiran?”


Vindra berdecak ketika diledek oleh Jerry, dengan kesal Ia meninju pelan lengan sahabatnya yang sudah hampir selesai makan.


“Buruan makannya! Jangan terlalu santai, abis ini ‘kan mau istirahat,”


“Bawel mulut lo. Gue juga tau kali,”


“Lo mikirin apa sih? Ada beban pikiran?”


“Nggak ada, jangan sok tau, bro,”


“Serius? Sejenak tinggalkan beban pikiran lo itu, Vin. Fokus mau liburan senang-senang,”


“Iya paham gue, nggak usah lo ajarin,”


“Apa lo lagi ingat-ingat momen kebersamaan lo sama Zeline? Hmm? Senang nggak lo bisa duduk sebelahan sama Zeline untuk waktu beberapa jam? Tadi kita tuh di perjalanan berapa lama ya? Delapan jam nggak sih? Nah berarti lo selama itu duduk sama dia,”


“Berarti emang udah ketentuan dari Allah, gue yang di samping dia, bukan lo. Terima aja udah,”


“Waduh, di samping dalam artian apa nih? Di samping saat duduk aja, atau di samping dia untuk selamanya?”


Dino dan Zam tertawa lebar mendengar pertanyaan yang dilontarkan Jerry kepada Vindra. Kalimat yang terlontar dari mulut Vindra membuat Jerry bertanya-tanya dan butuh penjelasan yang lugas. Mendadak Ia cemburu ketika mendengar Vindra berucap bahwa ketentuan Tuhan adalah dirinya yang tepat di samping Vindra.


“Jawab wey! Maksud lo di sampingnya Vindra tuh gimana? Di samping dia selamanya gitu? Di samping dia waktu duduk aja?”


“Ya nggak tau, gue mah cuma manusia biasa yang nggak bisa jawab pertanyaan semacam itu,”


Dino dan Zam semakin tertawa karena jawaban Vindra pasti membuat Jerry merasa ketar-ketir tapi mereka menyukai ekspresi Jerry sekarang yang kelihatan jengkel sekali dengan Vindra.


“Gue berharap banget pas pulang nanti aturan tempat duduk berubah,”


Vindra kali ini tertawa. Jerry tampaknya masih tidak terima sekali dengan kenyataan bahwa Ia lah yang duduk bersebelahan dengan Zeline, memang aturannya yang mengharuskan mereka duduk berdua.


“Dua kali ke Jogja, dua kali juga lo berhasil duduk sama Zeline. Ah kamoret banget lo sialan!”

__ADS_1


“Itu sih derita lo ya, harus terima kalau gue lah pemenangnya,”


“Halah pemenang tai kucing, orang mantan mah mantan aja kali, nggak usah berharap balikan lagi, nggak usah berharap jadi pacar lagi,”


__ADS_2