Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 140


__ADS_3

“Makan nasi goreng doang ‘kan?”


“Iya dong, nggak kemana-mana lagi selain ke tempat nasi gofeng yang sering kita makan itu, dari kecil dia udah jadi langganan kita ya, Vin. Aku nggak pernah berubah sih tetap suka nasi goreng itu walaupun yang jual udah anaknya karena si bapak udah nggak ada,”


Vindra mengangguk, Ia pun masih menyukai kelezatan dari nasi goreng yang sudah sering sekali Ia nikmati sejak kecil, karena Anin temannya sudah sejak lama, Anin juga tahu persis nasi goreng itu.


“Kamu kenapa sih tadi sempat nggak mau aku ajakin makan nasi goreng? Setelah aku paksain baru deh mau. Kamu emang lagi mager atau gimana? Atau lagi sibuk ya?”


“Tuh tau,” jawab Vindra sambil melajukan mobilnya meninggalkan rumah membawa Anin untuk makan di tempat nasi goreng langganan mereka.


“Emang kamu sibuk apa?”


“Ya sibuk lah intinya,”


“Sibuk galau? Ya elah emang masih jaman ya galau-galauan? Nggak lagi kali, move on makanya,”


“Aku sibuk main game, bukan galau. Nggak usah sok tau deh,”


Anin tertawa karena jawaban ketus Vindra. Kemudian Ia menganggukkan kepalanya pelan. Jadi Vindra tidak sedih lagi atas percintaannya, benarkah? Tapi yang Ia lihat justru sebaliknya. Makanya Ia berani bicara soal move on karena Vindra memang ketahuan sekali belum bisa move on dari mantan kekaishnya.


“Kamu tuh harusnya cari kesibukan, ya mislanya jalan kayak gini sama teman-teman kamu supaya pikiran kamu tuh nggak galau mulu,”


“Aku nggak galau,”


“Nggak usah gengsi ngakuin itu, Vindra. Cowok nggak dilarang untuk sedih kok, nggak dilarang juga untuk nggak bisa move on tapi baiknya ya move on aja. Toh dia udah ada yang baru ‘kan. Kamu liat sendiri gimana dekatnya Zeline sama anak baru itu. Kayaknya mereka udah beneran punya hubungan sih ya mungkin belum waktunya di spill aja, ntar juga lama-lama ketauan kalau mereka—“


“Bisa stop ngobrolin Zeline sama Juan nggak sih? Aku nggak lagi bahas mereka lho, dan nggak mau dengar tentang mereka juga. Kamu kenapa malah bahas mereka coba?”


Anin langsung menutup mulutnya rapat-rapat ketika mendapat peringatan dari Vindra. Selama perjalanan akhirnya Anin hanya diam saja tak mengatakan apapun sampai kemudian mereka tiba di warung nasi goreng pinggir jalan yang sudah menjadi langganan mereka.


“Ayo buruan turun,”


“Ya sabar,”

__ADS_1


Anin hendak menanggalkan sabuk pengaman namun kesulitan. “Nih seat belt kamu cacat banget segala macet,”


“Coba usaha,”


“Dih nggak sabaran banget,”


Vindra berdiri menunggu di sebelah pintu mobil bagian dimana Anin maish duduk terperangkap oleh sabuk pengaman nya.


“Bisa nggak?”


Anin tak menjawab melainkan usaha karena sahabatnya itu sudah berkata ‘jangan manja’ itu perkataan yang Ia anggap pukulan supaya Ia tidak meminta tolong.


“Makanya biasa pakai sabuk pengaman,”


“Ih aku biasa ya!”


“Lah itu buktinya. Nyalahin sabuk pengaman mobil aku lagi,”


“Lah emang dia yang salah,”


Vindra akan membantu namun Anin sudah berhasil melepaskannya. Anin langsung keluar dari mobil dan tiba-tiba ada yang menyapa mereka dengan hangat.


“Eh Vindra, Anin, berduaan aja?”


Anin langsung menatap orang yang menyapanya itu dengan senyum sementara Vindra sebaliknya. Alih-alih menyapa balik dengan hangat, Vindra langsung berjalan begitu saja memasuki warung nasi goreng.


“Mendingan ngisi perut daripada ladenin orang basa-basi,”


Kamu kok langsung nyelonong gitu aja sih? Padahal kan tadi disapa lho,”


“Aku udah lapar banget nggak ada eaktu untuk basa-basi,”


“Halah bilang aja kamu punya dendam pribadi, iya ‘kan? Jujur aja deh sama aku,”

__ADS_1


Vindra melirik Anin dengan ekspresi wajah yang kesal. Seharusnya kalau sudah tahu seperti itu, Anin tak perlu membahas lagi. Cukup simpan did slam hati. Kalau dibahas lagi malah membuat hatinya kembali memanaas padahal sebelumnya mulai dingin setelah menjauh dari orang yang menyapanya dengan hangat dan Ia memilih untuk mengabaikan sapaan itu dan pangsung memasuki warung nasi goreng kemudian duduk di salah satu kursi yang masih kosong.


“Kamu cemburu ya sama Juan makanya kamu ada dendam pribadi gitu sama dia. Kamu nggak mau balas sapa dia. Padahal kayaknya si anak baru itu baik sih, ya pantas aja kalau Zeline langsung mau sama Juan, mungkin dmang bagi Zeline, Juan itu lebih baik daripada kamu makanya—“


“Duh, Nin. Bisa diam nggak sih? Jangan ngomong mulu. Aku lapar butuh makanan bukan omongan kamu, ngerti ‘kan? Tolong ya pengertiannya,”


Ucapan tajam dan pedas dari Vindra langsung membuat Anin melipat bibirnya ke dalam. Ia dibuat bungkam oleh Vindra.


Vindra langsung memesan nasi goreng kesukaannya ketika dihampiri oleh seseornag yang tugasnya melayani.


Anin pun memesan setelah itu mereka sama-sama duduk terdiam menunggu pesenan mereka datang.


Tidak beberapa lama kemudian nasi goreng yang mereka inginkan sudah tersaji did epan mata merekq. Tanpa menghabiskan waktu lama langsunglah nasi goreng itu masuk ke dalam mulut masing-masing.


Anin paling tidak bisa mengunci mulutnya kalau bersama Vindra karena mereka terbiasa untuk membahas sesuatu.


“Vin, kamu kenapa sih sensi sama aku? Apa aku buat salah ya? Kasih tau aja, barangkali bisa aku perbaiki, Vin, jangan cuma diam-diam aja aku nggak tau salah aku apa, Vin,”


“Nggak usah ngomong dulu, tadi ‘kan aku udah ngomong gitu. Kamu paham nggak?”


“Nggak bisa, Vin. Aku penasaran sebenarnya kamu itu kenapa sih? Aku buat salah apa? Kok kayaknya kamu lagi sesni banget sama aku padahal aku tuh nggak merasa ounya salah,”


“Aku cuma nggak suka kalau kamu udah bahas zeline ataupun Juan, mereka itu nggak ada urusannya sama kita jadi nggak usah dibahas lah,”


“Lho, Zeline ‘kan teman aku. Ya wajar dong kalau aku sesekali bakal—“


“Nggak usah, Anin. Aku nggak mau,”


“Kenapa? Takut makin gagal move on? Hahaha makanya belajar dulu pelan-pelan. Tapi ya menurut aku wajar aja sih Zeline udah move on karena yang aku liat si Juan anak baru itu emang baik sih, hangat orangnya. Ya mungkin bagi Zeline, Juan lebih baik dari kamu makanya Zeline pilih Juan, dan buang kamu,”


Tak ada alasan untuk Vindra tidak merasa kesal setelah mendengar pernyataan Anin yang tajam tentangnya seolah Ia setidak baik itu untuk Zeline.


“Yang kamu ejek barusan sahabat kamu sendiri lho, Nin,” ujar Vindra dengan ketus.

__ADS_1


“Aku nggak ngejek kamu kok, aku ngomong kenyataan. Ya maksud aku tuh baik biar kamu buka mata. Eh kamu nya batu nggak mau buka mata jadi ya udah deh sesekali aku tampar pakai kata-kata aku ya supaya kamu sadar kalau Zeline tuh nggak pantas lagi buat kamu begitupun sebaliknya. Dia udah bahagia tuh sama anak baru yang namanya Juan, yang tadi nggak kamu balas pas nyapa,”


__ADS_2