
Hari ini Vindra dan Zeline tidak langsung pulang setelah sskolah melainkan singgah dulu ke sebuah minimarket untuk membeli makanan ringan. Kebetulan Anin tidak bersama mereka karena diajak pergi oleh temannya.
“Udah belum?” Tanya Vindra pada kekasihnya yang saat ini sedang memilih makanan ringan di dalam sebuah minimarket tak jauh dari sekolah mereka.
“Belum, aku lagi cari yang pedas asin gitu. Tapi banyak banget, aku bingung pilihnya. Bantuin aku pilih dong, Vin,”
“Kamu mau yang pedas-pedas? Jangan lah, nanti kamu sakit perut. Kita sebagai manusia tuh jangan cari penyakit, Zel. Orang yang sakit aja mau ngusir penyakitnya, lah kamu malah ngundang penyakit mau datang,” ujar Vindra menasehati kekaishnya supaya menggagalkan niat untuk beli makanan yang pedas. Vindra tidak mau kalau sampai kekaishnya sakit. Ia tidak akan tega melihat Zeline sakit. Tapi Zeline hobi mengundang penyakit datang.
“Tapi aku pengen, beli satu aja kok,”
“Ya udah deh terserah,”
“Nggak apa-apa ‘kan?” Tanya Zeline pada Vindra yang mengangkat kedua bahunya. Itu tanda kalau Vindra tidak memberikan izin. Tapi Zeline tetap mau membeli makanan yang pedas.
“Aku anggap boleh ya,” ujar Zeline seraya terkekeh sambil melanjutkan kegiatannya memilih makanan ringan yang pedas.
Setelah dapat keripik kentang dengan bumbu balado, Zeline langsung tersenyum puas. “Akhirnya dapat juga yang pedas dan keliatan enak,”
“Tau darimana kalau itu enak?” Tanya Vindra dambil mengamati makanan ringan yang saat ini ada di tangan kekasihnya.
“Keliatannya sih gitu dari gambar di bungkus,”
“Ya ampun, Zel. Gambar di bungkus-bungkus makanan emang selalu keliatan enak dan jumlahnya banyak. Tapi ‘kan sering dibohongi. Kamu masih polos aja sih,”
“Iya sih, tapi ini feeling aku enak. Udah biarin aja lah aku maunya ini kok,”
“Ya udah deh terserah. Tapi aku nggak mau ya kamu sakit perut. Gambar di bungkusnya aja keliatan pedas banget,”
“Nah kamu juga kiat dari bungkus. Awas hati-hati dibohongi lho,” ujar Zeline yang membahas ucapan suaminya tadi dan itu membuat Vindra tertawa. Dengan gemas Vindra mencubit pipi Zeline yang menggemaskan.
“Nggak usah ya? Aku nggak izinin, cari yang lain aja ya,” pinta Vindra dnegan sorot mata yang memohon. Lebih baik makanan seperti biskuit, roti, dan lain-lain ketimbang yang pedas seperti itu.
Vindra akan mengembalikan makanan ringan yang tadi sudah dimasukkan Zeline ke dalam keranjang belanja yang dibawa oleh Vindra.
“Ih kok begitu sih? Aku pengen banget, Vindra,”
“Jangan, Zel. Ini pedas, mending yang sehat-sehat aja sih,” omel Vindra seraya menunjuk ke arah rak makanan lain.
“Tapi ‘kan cuma sekali-sekali aja,” ujar Zeline yang masih bersikeras ingin menikmati makanan ringan dengan rasa pedas itu.
“Mending biskuit, atau roti tuh. Bikin kenyang daripada beginian bikin sakit perut,” ujar Vindra.
“Nggak, aku kuat tau,”
Vindra menghembuskan napas pelan, kemudian merangkum kedua pipi Zeline sambil menggeram gemas.
“Kenapa sih susah banget dikasih tau sama aku? Nggak ingat siapa nih yang ngasih tau kamu? Hmm?”
“Aku ingat kok,”
“Aku siapa kamu?”
“Pacar, ‘kan baru kacar jadi maish bebasin dong harus,” ujar Zeline seraya menaik turunkan alisnya.
“Oh jadi nggak mau diatur yang baik-baik ya udahlah terserah, aku nggak mau dianggap posesif,” ujar Vindra.
“Kamu pacar aku, kamu larang aku untuk makan yang epdas,”
“Ya iya karena untuk kebaikan kamu juga,”
“Nggak, aku orangnya kuat kok,”
“Hadeh kamu ini susah bener dikasih tau,” ujar Vindra dengan jengah. Zeline menanggapi dengan senyum lebar.
“Boleh ‘kan?”
“Tuh aneh banget. Udah dilarang masih aja tetap bandel. Tapi ujungnya nanya ‘boleh nggak?’ Udah jelas aku jawab nggak,”
“Jawab iya aja,” paksa Zeline.
“Nggak,”
“Iya, buruann jawab iya nggak?!” Ujar Zeline seraya melotot menatap kekasihnya.
“Nggak,”
“Ih Vindra kok nyebelin sih? Aku pelototin terus nih? Kamu nggak takut liat mata aku melotot?”
Vindra tertawa, Ia biarkan saja mata kekaishnya itu melotot nanti juga lelah sendiri. Ketimbang Ia memberi jawaban iya dan mengangguk malah buat Zeline merasa senang sebab keinginannya dipenuhi.
“Hahaha biarin aja, ntar mata kamu capek sendiri,”
“Ih jahat banget. Ya udah pokoknya aku anggap kamu jawab iya,”
Vindra geleng-geleng kepala menghadapi keras kepala kekasihnya. Sudah dilarang, masih juga tetap pada keinginannya.
“Jawab iya ‘kan?”
“Zel, aku udah jawab nggak, kamu kenapa bandel sih? Aku tinggalin di sini kamu ya,” ancam Vindra yang tidak main-main. Zeline kalau sudah dalam mode keras kepala benar-benar menguji kesabaran sekali.
“Ancamannya kayak ke bocah aja,”
__ADS_1
“Ya abisnya nyebelin banget,”
“Udah pokoknya iya,”
Zeline meraih tempat belanjaan yang ada di tangan Vindra kemudian Zeline bergegas ke kasir. Vindra menghembuskan napasnya dengan kasar setelah itu geleng-geleng kepala mengamati kekasihnya yang sudah berjalan membawa belanjaan mereka ke kasir.
Vindra langsung bergegas untuk menyusul. “Sini aku aja yang bawa, Zel,”
“Nggak usah, aku aja,”
“Aku aja, itu lumayan berat lho, ada minuman satu liter nya,”
“Ya nggak apa-apa, aku ‘kan kuat orangnya,”
“Ngaku kuat mulu ya padahal mah nggak juga,”
“Eh enak aja, aku kuat kok,”
“Ya udah coba taruh di kepala itu keranjang, kuat beneran nggak,” tantang Vindra yang tentu tidak serius tapu malah mau dilakukan Zeline sungguh-sungguh.
Tanpa mengeluarkan suara Zeline langsung mengangkat keranjang hendak Ia taruh di kepala dan Vindra yang panik padahal sebelumnya Vindra yang menantang.
“Eh jangan-jangan! Aku cuma bercanda,”
Vindra langsung menahan lengan tunangannya dan tanpa menunggu waktu lama Vindra mengambil alih keranjang belanjaan yang semula ada di tangan sang istri.
“Kamu aneh-aneh aja sih, Zel. Ngapain coba mau dilakuin beneran?”
“Aku tuh suka ngelakuin tantangan,”
“Apaan sih? Suka sih suka, tapi pikirin hal positifnya juga dong, ada atau nggak?”
“Ada,”
“Apa?”
“Itu ‘kan tantang dari kamu, nah aku mau lakuin karena aku kuat, sekalian latih otot juga,” kata Zeline seraya tertawa.
“Ada-ada aja. Kalau mau latih otot ya olahraga bukan angkat keranjang belanja,”
Dimana-mana orang itu kalau mau olahraga tidak menggunakan keranjang belanjaan. Vindra hampur tidak pernah melihatnya. Memang ustrinya saja yang kurang kerjaan.
“Nanti kalau otot kamu apda sakit, aku yang khawatir,”
“Itu bukannya termasuk olahraga ya?”
“Ya kalaupun beneran olahraga, jangan ngelakuin di minimarket juga dong, Zel dan pakai ekranjang belanjaan pula, orang tuh baisanya barbel ‘kan. Malu lah diliat orang, mereka yang lagi belanja ngiranya kamu mau jualan kue,”
“Iya juga ya. Ngapain aku olahraga di tempat umum begini. Lagian sih kamu, Vin. Kamu ‘kan yang nantang aku untuk taruh keranjang di atas kepala. Aku suka tantangan jadi mau langsung aku lakuin tuh tadi,”
“Zeline, aku ‘kan cuma bercanda, masa mau dilakuin sih? Aduh aku nggak paham deh sama kamu. Walaupun aku nantang begini begitu, kamu harus pikirin dulu ada hal positifnya nggak? Kalau nggak ada ya ngapain dilakuin? Aku lagian cuma bercanda, malah kamu anggap serius,”
“Aku mau nunjukkin kalau aku kuat, nggak deh bercanda,”
“Jadi kamu nggak serius mau angkat keranjang nya ke atas kepala kamu?”
“Nggak serius, cuma bercanda juga,”
“Halah bohong, pasti serius deh,”
“Nggak, aku cuma bercanda aja kok,”
“Bohong, pasti mau beneran dilakuin. Iya ‘kan? Jujur aja deh, Zel. Jangan bohong sama aku,”
“Dih, orang aku nggak serius, aku juga kayaknya nggak kuat deh angkat keranjangnya,”
“Kalau aku sih udah pasti kuat. Angkat kamu aja kuat,”
“Yee nggak nyambung banget. Masa larinya ke aku? Kamu kayak pernah aja angkat aku,”
“Oh mau coba?”
Vindra mendekat dan Zeline langsung memegang bahu kekaishnya dan panik mencegah.
“Aku cuma bercanda, jangan dibawa serius gitu dong,”
“Aku kuat, aku angkat kamu aja kuat apalagi keranjang kecil begitu. Yah elah, gampang banget itu sih,”
“Iya deh yang kuat perkasa,”
“Iya dong perkasa,” kata Vindra sambil tersenyum menatap Zeline yang terkekeh dan langsung mendorong wajah kekasihnya.
“Nggak usah senyam-senyum kayak orang stres deh, Vin. Aku takut liatnya lho, serius,”
“Aku emang kuat, perkasa, gagah, berani. Pokoknya semua deh,”
Vindra langsung mengambil ponselnya yang bergetar tiba-tiba. Terpaksa Ia dan Zeline mengakhiri obrolan, tapi kaki mereka tetap melangkah mendekati kasir.
Kening Vindra mengernyit ketika Anin menghubunginya. Dalam hati Arnold bertanya-tanya.
“Kenapa Anin telepon gue ya?”
__ADS_1
Batin Vindra.
“Zel, aku angkat telepon dari Anin dulu ya,”
“Okay,”
Vindra menggeser oanel hijau di layar ponslenya untuk menerima panggilan dari Anin.
“Halo, Nin,”
“Kamu masih di supermarket nggak?”
“Iya masih emang kenapa?”
“Aku mau minta tolong beliin sesuatu boleh nggak? Ntar aku ‘kan mau ke rumah kamu, aku ambil di rumah kamu,”
“Okay boleh, mau beliin apa?”
“Pengharum buat kamar aku aja sih, aku takut lupa mampur supermarket jadi mau nitip kamu aja, lagian ini aku kasih di salon sama teman aku,”
“Iya boleh pewangi yang kayak gimana?”
“Ntar aku kirim fotonya, biasnaya ada kok di supermarket manapun,
“Ya udha kirim gambar aja ya,”
“Okay makasih ya, Vin,”
“Sama-sama,”
Zeline langsung menoleh ke arah kekaishnya yang sudah mengobrol dengan Anin melakui smabungan telepon.
“Kenapa, Anin?”
“Dia mau nitip pewangi ruangan kamarnya, kata dia biasnaya ada di supermarket manapun,”
“Kenaoa harus kamu?”
“Dia takut nggak semoat mampir supermarket, sekarang dia masih di salon sama temannya,”
“Terus bakal diambil kapan? Kamu yang harus antar ke apartemen Anin? Ya amlun, itu capek banget pasti,” ujar Zeline oada kekaishnya yang langsung tersneyum menenagkan. Vindra mernagkul bahu Zeline dan mengusapnya dengan lembut.
“Tenang aja, dia mayang bakal ngambil sendiri kok,”
“Hah? Dia ke sini gitu maksudnya?” Tanya Zeline dengan ekspresi kaget. Entah kenapa malah jadi panjang urusannya hanya karena perkara pengharum ruangan, memang setidak sempat itukah singgah sebentar ke supermarket padahal dirinya sendiri bilang kalau supermarket manapun pasti ada.
“Ya nggak lah, Zel,”
“Lah terus gimana caranya dia dapetin pewangi yang udah kamu beli nanti? Aku masih belum paham deh jujur,”
“Jadi gini, nanti dia mau ke rumah aku ekbetulan jadi dia bakal ambil pas ke rumah aku,”
“Lho, emang ada acara apa di rumah kamu?”
“Ya nggak ada apa-apa sih,”
“Dia mau main aja, kamu mau ikutan juga? Ayo aja, aku senang kamu datang ke rumah aku,”
“Nggak ah, aku ‘kan nggak diundang,”
“Ih kata siapa? Khusus buat kamu malah tanpa undangan, mau masuk ya masuk aja,”
“Tapi Anij juga gitu kan pasti? Dia ‘kan anak sahabatnya mama papa kamu, dan sahabat kamu juga. Mana mungkin harus pakai undangan,”
“Ya iya sih kamu benar, tapi kamu aku anggap lebih istiemea lagi mau datang tengah malam, dini hari, atau kapanpun ya bebas karena kamu ‘kan statusnya pacar aku. Ntar apalagi kalau mislanya jadi mantu Mama Papa aku. Beuh, bakal bebas deh sesuka kamu,”
“Ya itu ‘kan kalau jadi istri kamu. Yang aku bicarain sekarang,”
“Iya emang Anin dibolehin datang kalan aja kok sama Mama. Karena dia anak sahabatnya Mama dan sahabat aku juga, tapi kalau kamu tuh beda, Zel. Kamu mau tinggal di rumah aku selamanya juga okay-okay aja tuh Mama Papa aku,”
Mereka tiba di kasir dan untuk sementara waktu berhenti mengobrol dulu, setelah melakukan penbayaran barula mereka meninggalkan meja kasir.
“Mba, teman saya ada yang suka sama Mba nya,”
Sebelum Zeline dan Vindra melewati keluarpintu keluar tiba-tiba ada perempuan yang berdiri sedang menyusun sesuatu di rak bicara seperti itu dan jelas-jelas ditujukan untuk Zeline. Hati Vindra mendadak panas dan keradang.
“Kenapa, Mab? Boleh tolong diulang?”
“Vin, udah ah. Kita pergi yuk, ngapain di ladenin. Biasa lah itu,al ada ada yang iseng ‘kan,”
“Nggak, Mas,”
Wanita yang jelas-jelas tadi membawa informasi langsung gugup ketika ditatap dengan tajak oleh Vindra.
Vindra benar-benar membuat krang lain segan hanya dnegan tatapan wajah dan juga raut mukanya.
“Coba ngomong sekali lagi saya mau tau Mba tadi ngomong apa,” tanya Vindra maish dengan sopan santun.
“Saya cuma cerita aja, teman saya ada yang suka sama Mba, termasuk langganan ‘kan belanja di sini? Nah ada teman saya yang kagum sama Mba. Mba dibilang anggun banget walaupun lagi belanja,” ujar karyawan itu dengan gugup.
“Oh begitu, saya nggak penasaran juga sihs aka laki-laki itu. Tapi tolong sampaikan aja ke dia kalau Zeline ini udah ada yang punya, nah yang punya itu adalah orang yang lagi ngobrol sama Mba sejarang ini. Jangan pernah lancang bersikap kayak gini lagi ya, Mba. Nggak pantas soalnya,” ujar Vindra dengan tegas, tajam menusuk dan itu berhasil membuat si karyawan meneguk salivanya susah payah. Walaupun Vindra dan Zeline sudah tidak terlihat lagi tapi gugup dan detak jantungnya yang tidak beraturan itu belum bisa langsung hilang akibat pembicaraan yang menegangkan tadi. Vindra dengan tegas kenyatakan kepemilikannya atas Zeline.
__ADS_1