Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 81


__ADS_3

“Nggak tau, semoga lebih lama lagi. Semoga kamu juga segera dapat kalau nggak pacar ya minimal teman pedekate dulu lah. Ntar kalau udah jadi, kita double date berempat ya?”


“Ah aku lagi nyaman single. Udah cukup sih punya cowok yang dekat sama aku walaupun bukan pacar tapi setidaknya dia baik banget ke aku, anggap aku keluarga, dan orangtua aku juga akrab sama dia, dan dia itu Vindra,”


Zeline ******* bibirnya mendadak cemas. Anin sampai tidak perlu lagi yang namanya laki-laki lain karena dia sudah punya Vindra sebagai sahabatnya. Walaupun bukan pacar tapi setidaknya Vindra snagat baikd an menganggapnya keluarga. Anin mengatakan itu terang-terangan di depan Zeline yang notaben nya adalah kekasih Vindra.


“Anin sadar nggak sih kalau omongannya itu bikin aku sedih dan kesal?” Batin Zeline seraya melirik ke arah Anin menggunakan ekor matanya.


******


Vindra pulang ke rumah untuk istirahat. Dan ketika Mamanya telepon minta dijemput Vindra langsung bangun. Hanya dihubungi sekalis aja Vindra langsung terbuka matanya.


Vindra mencuci mukanya supaya mata terang. Baru satu jam tidur rasnaya kurang untuk Vindra tapi Ia harus bergegas menjemput mamanya. Beginilah kalau mamanya tidak didampingi supirnya yang kebetulan lagi sakit hari ini. Tapi tidak apa, Vindra senang mengantar jemput mamanya. Jadi hidupnya lebih berwarna karena diisi dengab kegiatan selain sekolah, dan main game atau main dengan teman.


Vindra sudah sampai di tempat arisan Mamanya dan Ia belum melihat tanda-tanda mamanya sudah keluar. Akhirnya Vindra menunggu di dalam mobil dan Ia beritahu mamanya bahwa Ia sudah menunggu.


-Ma, Vindra udah sampai ya, nunggu di luar-


Rina masih berbincang dengan teman-temannya sambil menunggu kedatangan sang anak. Ia tidak sadar kalau sejak lima blas menit lalu anaknya sudah memberitahu bahwa Ia sudah sampai.


Terlalu asyik mengobrol, karena jarang bertemu dengan kumpulan teman-teman kuliahnya, jadi Rina tidak tahu kalau anaknya sudah menjemput begitu Ia lihat ada pesan dari Vindra yang mengatakan bahwa Ia sudah sampai barulah Ia panik.


“Ya ampun anakku udah jemput dari tadi,”


“Aku duluan ya, teman-teman semuanya,” ujar Rina pada kumpulan teman-temannya.


“Iya hati-hati salam buat Vindra ya,”


“Iya nanti aku sampaikan. Makasih ya untuk waktunya sampai jumpa nanti lagi Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam,”


Rina langsung bergegas menghampiri anaknya. Vindra yang sedang menatap ponsel tidak sadar kalau mamanya sudah berjalan mendekat ke arahnya.


Ketika jendela mobil diketuk barulah Vindra sadar, Vindra langsung membuka kunci pintu mobil dan tersenyum menatap mamanya. Sementara mamanya menatap Ia dengan sorot mata bersalah.


“Nak, maaf ya Mama baru baca chat kamu. Lagian kamu nggak telepon aja. Mama ‘kan sambil ngobrol sama teman-teman jadi nggak tau kalau kamu chat,”


“Nggak apa-apa, Ma. Nggak usah minta maaf, santai aja. Aku juga belum lama-lama banget kok. Aku mau telepon nggak enak takut ganggu Mama sama teman-teman Mama,”


“Ya udah kita pulang sekarang,”


Mama Vindra langsung mengajak anaknya pulang. Kasihan Vindra sudha dibuat menunggu lama.


“Maaf ya Mama jadi ngerepotin kamu, Vin,”


“Ya ampun mama jangan ngomong gitu. Mama nggak ngerepotin aku lah. Aku malah senang antar jemput Mama, aku jadi ada kegiatan gitu. Sering-sering aja kayak gini, Ma. ‘Kan sekalian aku jalan-jalan juga,”


“Kamu tadi lagi tidur ya Mama bangunin?”


“Iya, tapi nggak apa-apa, Ma. Aku sennag soalnya jadi kayak jalan-jalan kalau antar jemput Mama,”


“Tapi jadi ganggu istirahat kamu,”


“Nggak kok, Ma. Aku ‘kan udah istirahat terus. Tadi gimana pertemuannya Mama sama teman-teman?”


“Seru, oh iya mereka pada titip salam buat kamu,”


“Kenapa titip salam buat aku, Ma?”


“Iya, ada yang mau kenalin kamu sama anaknya lah, sama keponakannya lah hahaha. Bercanda aja sih mereka. Tapi Mama udah bilang kamu punya pacar. Wah gawat kalau kamu dikenal-kenalin gitu. Zeline gimana coba? Nggak mau Mama ah,”


“Aku udah punya Zeline, Ma,”


“Ya makanya itu, mama bilang aja kamu udah punya pacar, dan mereka juga kayaknya sih cuma bercanda aja. Ya namanya juga ibu-ibu ya. Tadi ada yang ngeliat kamu dan ganteng banget katanya, jadi naksir pengen jadiin mantu,”


Vindra tertawa menanggapi cerita mamanya tentang tanggapan teman-temannya ketika tadi sempat melihat Vindra mengantarkan mamanya.


“Bisa-bisanya ngomong gitu,” ujar Cindra sambil tertawa.


“Harusnya yang ngomong gitu Mamanya Zeline ya? Pasti kamu senang deh kalau dnegar Mama Zeline ngomong gitu,”


“Belum lah, Ma. Orang masih sekolah,”


“Ya tapi ‘kan pastis enang, karena tabdanya dianggap bakal jadi menantu. Mama berharap yang terbaik untuk kamu sama Zeline ya, Nak. Kalau memang Zeline yang terbaik untuk kamu dan kamu terbaik untuk Zeline Insya Allah dimudahkan sampai bersatu,”


“Makasih doanya, Ma,”


“Eh nanti kamu jadi ke rumah Zeline?”


“Jadi, Ma,”


“Kita mampir ke toko kue dulu, Mama mau nitip kue buat Zeline,”


“Nggak usah, Ma. Nanti aku aja yang—“


“Mama aja yang beli kue buat Zeline. Titipin ya ke Zeline. Itu di toko yang dekat komplek ya, Vin,”


“Iya, Ma,”


Sebelum masuk ke dalam komplek perumahan mereka, Vindra singgah ke toko kue yang disebut mamanya tadi.


Vindra dan Mamanya segera turun dari mobil masuk ke dalam toko kue. Vindra memilih donat karena Zeline suka donat, dan juga memilih kue kering. Sementara Rina mengambil brownies dan bolu gulung masing-masing dua loyang.


******


“Aku sekalian nunggu Vindra di sini ya, Zel,”


“Nunggu Vindra gimana maksudnya?”


“Iya aku nunggu Vindra datang ya kayaknya, biar pulang bareng,”


“Oh—ya—ya udah terserah kamu lah. Kok nanya aku?”


“Nggak apa-apa ya aku di sini dulu sampai Vindra datang? Jadi aku sama dia pulang sekalian aja gitu,”


Zeline menganggukkan kepalanya. Zeline bingung sebenarnya. Anin sampai harus menunda kepulangannya hanya untuk pulang bersama Vindra. Padahal Anin punya supir setahu Zeline. Tapi mungkin Anin memang lebih senang pulang dengan sahabatnya itu.


“Kamu nggak keberatan nggak?”


“Nggak, suka-suka kamu aja mau di sini sampai kapan, Nin,” ujar Zeline sambil tersenyum tipis.


“Zel, ada teman kamu yang mau ketemu, Gia sama Hani, Zel,”


“Wah ada sekre sama wakil ternyata,”


Zeline tersenyum melihat kedatangan dua teman sekelasnya yang diminta oleh wali kelas untuk menjenguk Zeline.


“Hai, Zel. Gimana keadaan lo?”


“Alhamdulillah udah membaik, kok nggak bilang sih mau ke sini?”


“Ya ngapain bilang-bilang ‘kan? Nyar malah ngerepotin,”


“Duduk dulu ayo, jangan langsung pulang temenin Zeline dulu,”

__ADS_1


Reta keluar sari kamar usai mempersilahkan dua teman Zeline untuk duduk di sofa. Reta menyiapkan puding untuk mereka dulaya mereka juga mencobanya sama seperti Anin tadi.


“Lo masih pucat, Zel. Nggak ke rumah sakit?”


“Udah diajakin sih dari kemarin tapi gue nggak mau. Orang udah mendingan ini kok,”


“Ih kalau diajakin ke rumah sakit sama orangtua itu harus nurut, Zel,”


“Iya tapi ini gue udah sehat, cuma sakit-sakit dikit aja. Lagian ya sakitnya gue tuh sakit biasa, bukan yang gimana-gimana. Udah sering sakit kayak gini kalau lagi kecapekan,”


“Kalau lahi makan sembarangan tuh jangan lupa juga,” ujar Anin yang tahu kalau Zeline itu suka jajan belu makanan yang dia suka tapi tubuhnya tidak suka.


“Anin sendirian aja? Ke sini dari kapan, Nin?”


“Dari—udah dari tadi sebenarnya, vuma gue di sini sekalian nungguin Vindra mau pulang bareng aja,”


“Dih manja lo. Pulang sendiri lah,”


“Nggak apa-apa, selagi ada yang bisa dimintain tolong, dan dia mau hehehe,”


“Tapi berarti lo nunggu Vindra di sini sampai jam berapa?”


“Vindra kayaknya bentar lagi datang deh. Nah pas dia mau pulang gue juga mau nebeng,”


“Sama kita berdua aja pulangnya kita anterin mau nggak? Kebetulan Hani bawa mobil tu,”


“Nggak deh, mau sama Bindra aja. ‘Kan Vindra pahlawan gue, orang yang mau gue andelin hahaha,”


Gia dan Hani diam-diam melirik Zepine ingin tahu reaksi Zeline seperti apa setelah mendnegar ucapan Anin.


Sebagai kekaish, pastia da rasa risih ketika kekaishnya dianggaps ebagai paawan oleh perempuan lain, apalagi dibilang bisa diandalkan. Walaupun kenyataannya seperti itu, Zeline akui, tapi tidak seharusnya juga Anin bicara demikian di depan Zeline.


Sampai tidak mau dulu pulang demi menunggu Vindra dupaya pulang bersama. Itu agak berlebihan bagi Hani dan Gia yang sudah mengaak Anin untuk pulang bersama saja karena kebetulan Hani membawa mobil.


Reta masuk ke dalam kamar dan memberikan puding untuk dua teman anaknya itu yang kaget. Niat mereka datang ke rumah untuk tahu kondisi Zeline tapi malah diperlakukan seperti orang yang ingin bertamu saja.


“Ya ampun, Tante nggak usah repot-repot. Masa orang jenguk dikasih makanan sama yang dijenguk,”


“Cobain puding buatan Tante,”


“Makasih banyak ya, Tante. Maaf ya kita bikin repot,”


“Ih nggak repot kok. Dimakan ya, semoga suka,”


“Iya pasti enak, makasih, Tan,”


“Sama-sama, Tante keluar dulu, silahkan dinikmati,”


“Gue udah cobain tadi puding buatan Mamanya Zeline enak banget, padahla yang buah kata Zeline baru pertama kali bikin,”


“Oh ya? Keren banget baru pertama kali bikin tapi udah sernak ini ya,” ujar Hani setelah mencoba puding buatan Reta, mamanya Zeline.


******


“Ayo sana siap-siap ke rumah Zeline, jangan lama,”


“Aku mau mandi dulu, Ma,”


“Ya udah sana,”


Vindra langsung bergegas ke kamarnya. Ia akan mandi terlebih dahulu sebelum ke rumah kekasihnya itu.


Saat akan masuk ke dalam kamar mandi, ponselnya berdering. Ada panggilan masuk dari Zeline taoi cuma sebentar saja.


Vindra tidak menghubungi Zeline karena Ia pikir Zeline salah tekan layar ponselnya. Sesaat sebelum Vindra meletakkan ponslenya di atas nakas, ada pesan masuk dari Zeline.


Vindra langsung mengetik balasannya dengan cepat. Ia paling tidak mau membuat Zeline menunggu lama Ia membalas pesan.


-Iya tapi aku mandi dulu ya, Zel-


-Ini Anin nungguin kamu nih-


-Hah? Ngapain dia nungguin aku? Emang Anin belum pulang ya?-


-Belum, dia nungguin kamu karena katanya mau pulang bareng kamu-


-Padahal tinggal minta driver nya, atau naik ojek online. Tapi gakpapa deh sekalian ini kan. Tunggu bentar ya, aku mandi dulu baru deh langsung ke rumah kamu-


-Emang janjian sama kamu mau pulang bareng ya?-


-Nggak, aku nggak janjian sama siapa-siapa kok. Orang Anin ngajakin ke rumah kamu bareng aja aku nolak karena aku mau antar Mama arisan-


-Ya udah-


Vindra selesai berkirim pesan dengan Zeline sekarang Ia masuk ke kamar mandi untuk melaksanakan niat awalnya masuk ke kamar.


Hanya mandi kurang dari sepuluh menit Vindra keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di pinggangnya. Ia segera mengambil pakaian setelah berpakaian Ia langsung menyisir rambut dan menggunakan parfum. Setelah itu meraih ponsel dan juga dompet serta kunci nobil.


“Saatnya ketemu pacar,”


****


Ketika Vindra tiba di rumah Zeline, Vindra tidak bertemu siapa-siapa lagi selain Anin. Tapi Vindra tahu kalau baru saja ada yang menjenguk Zeline, dia orang perempuan yang Vindra tahu adalah teman sekelas Zeline.


Kebetulan Zeline dan Anin sedang turun ke lantai bawah, ketika Vindra datang. Zeline langsung ke ruang tamu menemui kekasihnya itu sedang mengobrol dengan papanya Zeline yang baru pulang dari kantor.


“Nah itu Zeline nya. Udah sembuh Insya Allah buktinya udah bisa jalan-jalan tuh keluar kamar dengan wajah ceria,” ujar Richie menggoda anaknya yang baru saja tiba di ruang tamu bersama Anin.


“Ya udah Om ke kamar dulu. Ngobrol-ngobrol lah kalian di sini ya,”


“Iya makasih, Om,”


“Kamu kok udah jalan-jalan aja sih? Emang udah mendingan?”


“Udah, tenang aja. Dari pagi aku udah mendingan kok, bahkan aku berjemur tadi,”


“Ya tapi walaupun udah mendingan bukan berarti kamu udah bebas capek-capek, Zel,”


“Iya aku tau, aku nggak capek-capek kok. Kamu tenang aja,”


“Nin, udah dari kapan di sini?“


“Dari tadi, aku balik bareng kamu aja, Vin. Ayo balik,”


“Lah aku aja baru sampai, kok udah ngajakin balik,”


Vindra mengernyit menatap Anin yang baru saja mengajaknya pulang padahal jelas-jelas Anin tahu kalau Ia baru saja tiba.


“Oh iya aku lupa,”


“Nih ada titipan Mama aku, Zel, semoga kamu suka ya,”


“Wah makasih ya, bilang amaksih juga ke Tante Rina semoga rezekinya makin banyak, dan berkah aamiin,”


“Sama-sama, aamiin,”

__ADS_1


“Jadi antar Mama kamu arisan, Vin?” Tanya Anin pada Vindra yang langsung menganggukkan kepalanya.


“Jadi dong, aku jadi antarin Mama dan jemput Mama juga, baru abis itu aku mandi dan ke sini deh,”


“Pantesan rambutnya masih agak basah klimis hahaha. Kamu kayak orang yang lagi mau ngajakin pacarnya kencan tapi siap-siapnya dadakan ya,” Zeline mengejek Vindra yang rambutnya memang kelihatan masih sedikit basah dan baju juga celana juga kelihatan asal ambil. Vindra hanya mengenakan kaos polos berwarna biru tua dan juga celana cargo di bawah lutut.


“Tapi kece ‘kan, Zel?” Tanya Anin.


“Kece dong, Vindra gitu lho,”


“Pacar siapa dulu dong?”


“Pacarnya Zeline gitu lho,” jawab Zeline dengan tersenyum miring menatap Vindra sambil menaik turunkan alisnya. Vindra yang melihat itu langsung menarik hidung rumcing kekasihnya yang menggemaskan sekali.


“Jadi salting,” ujar Vindra.


“Duh, jangan di depan aku dong, bingung nih harus kabur kemana soalnya ini bukan rumah aku, kalau ini di rumah aku, aku mungkin udah lari aja ke kamar. Daripada liat kalian bucin, jadi pengen bucin juga tapi masalahnya mau bucin sama siapa aku? Sama guling? Orang belum ada pacar,”


“Makanya cari, Nin. Biar kita lain kali bisa double date. Tapi nggak apa-apa deh kalau single lebih buat kamu bahagia,”


“Cari kemana, Zel? Ke gorong-gorong? Hahaha,”


“Ya udah aku nggak mau lama-lama di sini. Biar kamu banyak istirahat. Ayo pulang, Nin. Kalau kita kelamaan Zeline nggak bisa istirahat,” ajak Vindra pada temannya supaya segera pulang bersamanya agar sang kekasih bisa istirahat. Zeline sedang sakit harus banyak istirahat.


“Yaudah ayo,”


“Kamu mau bareng sama aku ‘kan?”


“Iya,”


“Kok bentar banget sih? Baru juga datang. Aku bahkan belum ngobrol berdua sama kamu,”


Vindra yang akan beranjak meninggalkan sofa langsung mengurungkan niatnya itu karena ucapan Zeline.


“Kamu mau ngobrol sama aku berdua? Emang apa yang mau diobrolin?”


“Ya…nggak sih tapi ‘kan aku belum puas aja gitu ngobrol sama kamu. Kok cepat banget pulangnya?”


“Biar kamu istirahat, Zel,”


“Ih aku udah istirahat terus,”


“Ya udah okay kamu mau ngobrolin apa?”


Anin tidak mau pergi, tapi tidak mau ganggu juga jadi Ia putuskan untuk meraih ponselnya dan sibuk dengan benda canggih itu alih-alih mendengarkan obrolan kedua temannya.


“Kamu tadi antar Mama kamu sekalian nungguin? Nggak ya?”


“Nggak, aku antar Mama terus aku pulang. Nah akus emoat tidur sebnetar, baru deh aku pergi jemput Mama. Agak lama soalnya Mama nggak baca chat aku yang ngasih tau aku udah jemput Mama. Setelah sampai rumah, aku langsung siap-siap deh ke rumah kamu,”


“Hmm, terus kamu udah makan?”


“Udah kok, kamu udah?”


“Udah,”


“Astaga aku lupa tanya ya? Kamu udah minum obat belum?”


“Tuh ‘kan lupa nanya. Makanya jangan buru-buru dong. Aku udah minum obat,”


“Kenapa sih aku nggak boleh buru-buru? Kangen ya? Padahal baru juga nggak sekolah sehari? Benar sehari ‘kan? Apa udah seminggu?”


“Hahahaha ya kali seminggu,”


“Barangkali aku lupa kalau ternyata udah seminggu,” ujar Vindra seraya terkekeh.


“Eh tadi aku sempat liat dua teman kamu tuh. Mereka pasti abis jenguk kamu ya?”


“Yup, Hani sama Gia abis jenguk aku. Diminta sama wali kelas juga,”


“Udah lama mereka?”


“Nggak sih, baru bentar. Emang kenapa?”


“Sesudah Anin datangnya?”


“Iya,”


“Ayo pulang katanya mau pulang,” ajak Anin lagi pada Vindra.


“Ya udah ayo,”


Zeline menghembuskan napas kasar. Padahal Ia masih ingin bersama Vindra tapi Gindra ingin secepatnya pulang terus.


“Beneran ini mau pulang?” Tanya Zeline pada kekasihnya yang langsung menganggukkan kepalanya.


“Iyalah beneran,”


“Ya udah hati-hati ya, makasih udah datang,”


“Aku mau kamu banyak istirahat, dari tadi ‘kan udah didatangin tamu,” ujar Vindra sambil mengusap kepala kekaishnya itu.


Zeline menganggukkan kepalanya lantas mengantarkan Vindra dan Anin sampai ke depan pintu. Ia melambai pada Vindra.


“Hati-hati, makasih ya,”


“Okay, besok aku ke sini lagi ya?”


“Ngapain? Nggak usah aja,”


“Emang kenapa?”


“Ya mau ngapain? Aku ‘kan udah mau sekolah besok, orang sekarang ini udah mendingan banget kok,”


“Kamu yakin? Emang kuat masuk sekolah besok?”


“Iya emang kamu udah bisa, Zel?”


“Iya bisa kok,”


“Yakin? Kamu takutnya kenapa-napa di skeolah,”


“Ya jangan ngomong gitu lah, doanya yang baik-baik aja,” ujar Zeline sambil tersenyum. Ia merasa sudah jauh lebih baik sekarang dan Ia berharap besok semakin membaik sehingga besok benar-benar sudah bisa sekolah.


“Ya udah besok aku jemput ya kalau emang mau sekolah jangan lupa kabarin aku, okay?”


“Okay besok aku kabarin,”


“Semoga makin pulih ya, Zel,”


“Udah pulih kok,”


“Iya aku doain makin pulih dan cepat masuk sekolah,”


“Makasih doanya, Nin,”

__ADS_1


“Okay, sekarang aku pulang dulu sama pacar kamu ya, aku pinjam dulu pacar kamu untuk anterin aku pulang ya,” ujar Anin sambil menepuk-nepuk bahu Vindra dan tersenyum menatap Zeline yang tersenyum getir dan menganggukkan kepalanya.


__ADS_2