
“Zeline kemana? Kok dia nggak masuk sekolah, Vin?”
Pagi ini seperti pagi-pagi biasanya Vindra menjemput Anin di apartemennya. Tapi Zeline tidak ikut karena Zeline memutuskan untuk tidak sekolah hari ini karena suhu badannya sangat tinggi. Dari pagi setelah shubuh, Zeline langsung memberitahu Vindra bahwa Ia tidak sekolah jadi Vindra tidak perlu datang ke rumahnya untuk berangkat ebrsama ke sekolah.
“Iya hari ini Zeline izin nggak masuk sekolah dulu,”
“Hah? Kok nggak sekolah? Lagi mager atau gimana?”
“Ya kali mager, Nin. Zeline nggak pernah mageran kok anaknya, kalau urusan sekolah. Dia malah kerajinan. Selagi sakitnya bisa dia tahan, pasti dia tetap sekolah. Cuma masalahnya pagi ini dia demam tinggi, sama batuk dan flu makanya dia nggak sekolah,” jelas Vindra yang tidak terima ketika ungkapan ‘mager’ sama dengan malas yang Anin sematkan untuk Zeline hari ini karena Zeline tidak amsuk sekolah
“Oh Zeline sakit? Ya ampun, terus udah dibawa ke rumah sakit?”
__ADS_1
“Dia agak susah berobah sih, tapi nggak tau deh nanti. Mungkin kalah nggak ada perubahan juga bakal dipaksa orangtuanya ke rumah sakit,”
“Emang gara-gara apa sakitnya?“ tanya Anin yang kali ini duduk di kursi depan tepatnya sebelah Vindra karena yang biasa menjadi penghuni kursi itu sedang tidak masuk sekolah.
“Ya emang lagi mau sakit aja. Sakit ‘kan nggak bisa ditebak kapan datang, kapan pergi,”
“Apa jangan-jangan karena semalam dia datang ke party ulang tahun aku?”
Vindra berdecak pelan. Vindra paling malas mendengar orang yang menyalahkan dirinya sendiri atas suatu peristiwa atau insiden yang dirinya sendiri sudah tahu bahwa apapun yang terjadi di dunia ini sudah ada yang mengatur.
“Iya sih, cuma aku jadi merasa bersalah. Soalnya Zeline jadi sakit setelah hadir di party ulang tahun aku. Eh atau jangan-jangan Zeline sakit karena minum alkohol itu ya? Tapi padahal itu dikit banget lho, aku sendiri liat. Masa iya sih sampai sakit kayak gitu? Aku aja nggak pernah sakit kalau abis minum,”
__ADS_1
Vindra terkekeh karena ucapan Anin memang terdengar lucu di telinga dan menggelitik perutnya.
“Kamu ini ada-ada aja ya. Toleran seseorang pada suatu zat, atau apapun itu beda-beda, jadi nggak bisa disamain. Kamu mungkin baik-baik aja abis minum itu sekalipun minumnya banyak segalon tapi Zeline bisa aja beda. Minum sedikit aja mungkin udah nyebabin efek yang lumayan berat buat dia apalagi dia ‘kan sebelumnya nggak pernah nyobain itu. Ya emang bisa aja Zeline sakit karena sempat minum walaupun itu cuma dikit tapi ya udahlah nggak usah dibahas lagi,”
“Vindra aku benar-benar minta maaf ya,”
“Kamu nggak salah, Anin. Tapi aku minta sama kamu, nggak usah ngajakin Zeline minum yang macam-macam lagi ya, soalnya dia punya daya tahan tubuh yang emang agak lemah. Dia kena hujan dikit aja bisa sakit lho, padahal hujan sederas apapun di aku nggak ada efek apa-apa, tapi di dia bisa bikin masuk rumah sakit,”
Penjelasan Vindra membuat Anin mengerjapkan kedua matanya kaget. Sampai seperti itu? Ternyata benar-benar lemah daya tahan tubuh Zeline.
“Sampai segitunya?”
__ADS_1
“Iya, dia pernah pulang sama aku naik motor, terus tiba-tiba ujan di jalan dan dia kena ujan sayangnya aku nggak bawa jas ujan. Terus malamnya dia meriang, sampai besokannya nggak habis-habis akhirnya dibawa ke rumah sakit karena saking panas dinginnya dia. Aku ikut anterin dia ke rumah sakit sama orangtuanya. Dia baru mau dibawa ke sana karena udah benar-benar parah. Bentar panas banget, abis itu dingin sampai menggigil. Ya nggak sepenuhnya salah air hujan sih, kebetulan badan dia emang lagi nggak siap diserang aja jadi begitu deh,”
“Kamu pacar yang idaman banget,”