
“Buat kamu,”
“Nggak usah, gue udah kenyang,”
Mendengar lo gue keluar lagi dari mulut Zeline dan tampaknya Zeline mulai terbiasa, Vindra langsung berdecak tidak suka.
“Orang kalau ngasih makanan tuh diterima, bukan malah ditolak. Diajarin caranya menghargai pemberian orang kan?”
“Ya diajarinlah. Emang lo pikir gue kurang didikan orangtua gitu?”
“Ya makanya terima lah, gue ngasih ini ikhlas lahir batin buat lo,” ujar Vindra seraya menekan kata lo dan gue barangkali Zeline paham bahwa Ia tidak suka mendengar dua kata itu.
“Dih kok maksa?”
“Lah katanya diajarin buat menghargai pemberian orang lain, dan menurut kamu begini caranya menghargai?” Tanya Vindra seraya menatap tangannya yang terulur tanpa balasan. Apa yang Ia beri tak mendapatkan sambutan baik dari Zeline.
“Ya tapi buat apa? Gue nggak—“
“Buat dimakan, buat diminum lah ini. Pake nanya lagi. Buruan diterima,”
“Nggak! Jangan maksa. Udah sana deh, gue mau masuk kelas,”
__ADS_1
“Zel, tolong hargai pemberian aku, katanya kamu diajarin itu kan sama orangtua kamu? Nah ya dah dilakuin lah sekarang. Sayang banget orangtua kamu udah ngajarin kamu hal-hal baik tapi kamu nggak mengamalkan itu di kehidupan kamu sendiri, percuma dong mereka ngajarin kamu,”
Zeline berdecak kemudian Ia tersenyum singkat dan segera menerima pemberian mantan kekasihnya. “Okay ini gue terima. Makasih banyak ya. Tapi lain kali lo nggak usah repot-repot, gue kan udah bilang gue kenyang. Tapi nggak apa-apa ini nanti pasti gue makan kok, sekali lagi makasih banyak,”
“Okay sama-sama, nggak usah pake lo gue bisa nggak sih? Kayak asing banget kita, bukannya kamu sendiri bilang kita bisa jadi teman ya?”
“Ya terus lo maunya gue manggil lo apaan?”
“Ya nggak harus sayang sih, dan nggak harus lo gue juga kan? Biasa aja kayak waktu kita masih bareng kan lebih enak didengar gitu, aku kamu, nggak usah yang aneh-aneh,”
“Emang itu aneh ya?”
“Aneh lah,”
“Ya nggak ada salahnya aku dan kamu nggak usah lo gue segala, itu aneh tau. Aku nggak biasa dnegar begitu dari kamu, kalau dari yang lain okay lah. Lama-lama aku biarin, aku kadang ladenin juga, kok makin nggak nggak nyaman aku nya, terus kamu juga makin seirng kayak gitu. Berasa asing banget, kita kan teman masa asing sih?”
“Misi-misi mau lewat, sorry ya kalau kena,”
Tiba-tiba Dania datang dan sengaja membuat Zeline juga Vindra bubar, alias otomatis mundur karena Dania yang mendadak jadi kereta cepat yang melintas di depan mereka.
“Ya elah, Dan. Lo kenapa sih ganggu aja? Kan bisa lewat di belakang gue? Masuh banyak ruang, kenapa harus lewat di depan gue sih?”
__ADS_1
“Eh iya, maaf ya, Vin. Aku nggak sengaja,”
“Nggak sengaja matamu! Jelas-jelas lo sengaja,”
“Hehehehe, kan aku cosplay jadi kereta gitu ceritanya,”
“Apaan sih aneh banget jadi cewek,” ujar Vindra dengan ketus. Dania langsung mendengus kesal.
“Kenapa sih kamu? Gitu amat sama aku,”
“Ya lo ngapain coba? Lo nyebelin ganggu gue yang lagi ngobrol sama Zeline,”
“Udah aku bilang, aku tuh nggak sengaja,”
“Kalau nggak sengaja tuh, lo tiba-tiba jatuh dari langit terus jatuhnya pas di depan gue sama Zeline. Nah itu baru namanya nggak sengaja. Kalau lo jelas-jelas datang terus lewat gitu aja di depan gue sama Zeline itu namanya sengaja! Lo sengaja mau ganggu,”
“Ya emang kenapa sih? Daripada Anin ganggu mendingan aku kan?”
“Apaan sih? Kok bawa-bawa Anin? Dia aja nggak salah apa-apa,”
“Cie ngebelain,”
__ADS_1
“Zeline, kata gue ya, lo mending pikir-pikir deh kalau mau balikan sama Vindra,”