Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 160


__ADS_3

“Lho, kata mama nggak ngajak siapa-siapa, kok itu ada Tante Shanti sama Dania? Ah mama nih kenapa sih bohongin aku? Ngapain ketemuan sama mereka segala? Aku ‘kan udah bilang cukup kita berdua aja. Aku bakal ngajakin mama ke kafe buat ngopi sama temenin mama ke mall. Tapi aku udah pesan jangan ngajak teman mama siapapun itu, eh malah diajakin,”


Vindra kesal dengan mamanya yang kenyataannya malah turut mengajak Dania dan mamanya untuk makan bersama di sebuah restoran yang ada di dalam mall.


“Eh Mama nggak ngajak. Emang mereka lagi beli kebutuhan bulanan. Jadi mama ‘kan update status tuh lagi di mobil. Ditanyain sama Shanti mau kemana, ya mama jawab mau ke mall ini dan dia bilang juga lagi ditempat yang sama beli kebutuhan bulanan, jadi jangan nyalahin mama dong!”


Vindra berdecak dan dalam hati tidak percaya sama sekali dengan apa yang dikatakan oleh mamanya.


Vindra mendadak enggan melangkah masuk lebih jauh ke dalam restoran setelah melihat wajah dua orang itu.


“Nanti pasti bahas perjodohan segala macam. Aku males, mending pulang aja,”


Vindra akan berbalik namun tangannya langsung dicekal oleh sang mama yang juga melotot tajam ke arahnya.


“Jangan macam-macam kamu ya! Mama lapar, dan mau makan, siapa yang mau bahas perjodohan segala,”


“Tapi aku nggak mau ah, mama nih rempong banget sih. Segala ketemuan sama Tante Shanti, ngajak Dania pula. Ujungnya makin gencar nih jodohin aku sama Dania. Padahal mama sendiri bilang aku jomblo aja dulu supaya bisa nikmatin waktu sendiri dan sama mama papa, eh ini—“


“Nggak! Siapa sih yang mau ngomongin itu? Kamu nggak jelas banget. Ayo, kita masuk,”


“Ma—“


Rina menggandeng lengan anaknya, dan detik itu juga Vindra tahu tak ada lagi kesempatan untuknya menjauh. Ia sudah ditarik paksa ke dalam restoran.


“Tau gitu mendingan nggak usah ke mall aja sekalian biar nggak barengan sama mereka,”


“Kamu nggak ikhlas temenin mama ke mall, berarti nggak jadi dapat pahala,”


“Ya udah biarin aja, abisnya mama kayak gini sih, udah aku bilang—“


“Lah mama ‘kan udah bilang. Mama nggak ngajakin sama sekali. Emang kebetulan sama-sama di mal, terus nggak sangka bakal ketemu di restoran ini,”


Vindra duduk di sebelah mamanya, mereka berdua berhadapan dengan Shanti dan Dania yang tersenyum menyapa.


“Seneng banget, kayaknya udah lama nggak ketemu kayak gini ya,”


“Vindra tumben temenin mamanya ke mall,” ujar Dania pada Vindra yang Ia tahu malah lebih sering kumpul dengan teman-temannya ketimbang orangtua.


“Ya emang kenapa? Nggak boleh?”


“Biasanya ngumpul sama Dino, Jerry, Zam,”


“Tapi ‘kan nggak ada salahnya lah gue temenin nyokap gue ke mal. Lagian mereka bertiga juga ada kegiatan masing-masing kali,”


Vibdra mendapat lirikan berupa peringatan dari mamanya. Bagi Rina, jawaban Vindra terhadap pertanyaan Dania itu kurang tepat. Kedengaran ketusnya, padahal Dania bertanya baik-baik dan bahkan sambil terkekeh juga. Seharusnya kalaupun tidak suka dengan pertemuan ini, jangan ditunjukkan secara langsung ke mereka.


“Oh gitu, eh Vin nanti kamu pesta kelulusan pakai baju apa?”


“Aturannya ‘kan formal ya berarti pakai baju yang formal,”


“Nggak, maksud aku warnanya gitu lho. Aku juga tau kalau peraturannya harus formal,”


“Belum tau, gue belum nyari,”


“Hah? ‘Kan udah tinggal berapa minggu lagi tuh. Kamu kenapa belum nyari? Kamu tau acaranya kapan ‘kan?”


“Ya tau lah,”


“Ya kali aja nggak tau, soalnya kadang nggak masuk setelah ujian,”


“Gue masih rajin, Dan. Sembarangan aja nih kalau ngomong. Lo jangan ngomong begitu di depan nyokap gue, ntar sampai rumah gue dihajar,”


Dania terkekeh mendengar ucapan Vindra, begitupun Rina dan Shanti. Vindra tak mengakui bahwa memang tidak setiap hari Ia datang ke sekolah. Karena Ia malas masuk sekolah untuk membahas soal ujian terakhir kemarin, membicarakan konsep acara kelulusan, dan rencana jalan-jalan setelahnya. Akhirnya Ia bersama tiga sahabatnya sering beda arah, bila teman-teman yang lain ke sekolah setiap hari, Ia dan tiga sahabatnya malah ke kafe, ke restoran, ke rumah salah satu dari mereka. Intinya tidak ke sekolah.


“Terus kamu setuju nggak sama rencana jalan-jalan ke Jogja itu?”


“Setuju-setuju aja,”


“Kamu tau ‘kan mau ke Jogja?”


“Awalnya ke Bandung, terus ke Puncak Bogor, terus kemana lagi tuh? Ah taulah pusing gue, emang jadinya ke Jogja?”


“Iya udah beneran ke Jogja, eh kita satu bus ya,”


Vindra menatap Dania dengan kening mengernyit. Ia tidak bisa mengatur akan satu bus dengan siapa saja. Tiba-tiba Dania bicara begitu.


“Nggak tau,”


“Semoga, aku berharap sih bisa satu bus sama orang yang seru-seru,”


“Kok deket banget jalan-jalannya? Nggak jadi ke luar negeri? Waktu itu bukannya ada wacana ke luar negeri ya?” Tanya Rina yang dijawab dengan gelengan oleh Dania.


“Nggak jadi, Tante. Anak-anak mau melokal aja, lagian kata mereka di Jogja nggak kalah seru dari luar negeri,”


“Oalah, iya-iya benar. Di sana seru kok. Tante beberapa kali ke sana suasananya emang beda banget sama di ibukota ini. Enak lah, dijamin betah nggak mau pulang ke sini lagi,”


“Padahal anak-anak orang kaya, kok nggak ke luar aja?”


“Ya mana aku tau, Vindra. Anak-anak pada maunya wisata domestik aja, nggak mau sampai ke luar, emang kamu mau ke luar? Ya udah jalan-jalan sendiri aja,” canda Dania.


“Nggaklah, nanti gue jalan ke luar negeri kalau udah punya pasangan aja. Hitung-hitung bulan madu gitu ‘kan,”


“Mau kemana, Vin?”


Tiba-tiba Vindra beranjak dan itu langsung membuat mamanya bertanya bingung.


“Aku mau ke kamar mandi sebentar,”


Rina mengangguk membiarkan putranya bergegas ke kamar mandi. Tanpa Ia ketahui Vindra ingin kabur dari restoran itu. Ia memutuskan untuk menunggu mamanya di mobil saja. Sebenarnya Ia ingin pulang, tapi Ia tidak setega itu meninggalkan mamanya yang nanti akan pulang sendirian kalau Ia pulang lebih dulu.


“Nggak mau ngobrol-ngobrol, mendingan gue duduk, dengerin lagu di mobil ketimbang ngobrol nggak jelas. Takutnya nanti ujung-ujungnya malah mau ngobrolin perjodohan, ogah gue,”


*****


“Vindra mana ya? Kok dia nggak balik-balik? Masa iya dia nyasar ke kamar mandi? Atau ilang? Lah orang dia bukan anak kecil lagi,” gumam Rina seraya mengedarkan pandangan.


Sampai makanan yang dipesan tiba, Vindra belum juga kembali dari kamar mandi sehingga Ia bingung kemana anak keduanya itu. Karena tadi hanya izin ke kamar mandi saja tapi bisa lama begini sampai lima belas menit tak juga datang.


“Ini makanan udah ada di depan mata tapi Vindra belum datang, Rin. Dia tau kamar mandi nya nggak? Jangan-jangan salah lagi,”


“Coba aku telepon dulu ya, kalian duluan aja makannya,”


Rina tidak mau kalau sampai teman dan anaknya menunggu kedatangan Vindra sampai menunda untuk makan, Ia yang akan mengurus anaknya itu.


Dengan cepat Ia menghubungi nomor Vindra. Sekali tidak dijawab, dua kali juga tidak dijawab. Gigi geraham Rina mulai beradu satu sama lain.


“Nggak diangkat telepon aku. Kemana sih anak ini?! Kok nggak jelas banget tiba-tiba ngilang, masa iya dia nggak bawa handphone?” Batin Rina yang mulai cemas sekaligus kesal.


“Gimana, Rin? Nggak bisa dihubungi ya?”


“Iya, coba aku chat dulu deh. Takutnya dia nih udah keluyuran nggak jelas, lupa mamanya masih di sini,”


Rina segera menghubungi anak lelakinya itu melalui pesan singkat untuk menanyakan keberadaannya.


-Vindra, kamu dimana? Balik ke sini, mama tungguin!-


********


Vindra terlalu menikmati waktu kesendiriannya di dalam mobil. Mulutnya mengikuti untaian lirik dari lagu yang sedang diputar playlist dalam mobilnya. Mobil sudah terparkir dengan aman di area parkir jadi Ia tidak merasa terganggu sedikitpun.


Aku bisa membuatmu


Jatuh cinta kepadaku


Meski kau tak cinta kepadaku


Vindra terbawa suasana dalam lagu yang berjudul -Risalah hati- yang dibawakan oleh salah satu band kesukaannya Dewa 19


Rasanya sudah lama Ia tidak bernyanyi dengan perasaan yang benar-benar tenggelam dalam lirik lagu. Matanya memejam, tangannya sesekali akan menepuk-nepuk stir mobil. Suasana sepi di dalam mobil membuat Ia semakin bisa menikmati lagu.


“Anjay, mantep banget dah. Ganti-ganti,”


Setelah lagu itu berakhir, Ia memilih lagu yang lain. Pokoknya untuk saat ini Ia akan konser pribadi, yang bernyanyi adalah dirinya dan yang mendengar juga hanya dirinya saja. Alih-alih memilih duduk di samping mamanya dan mengobrol dengan Shanti juga Dania, Vindra lebih nyaman berada di dalam mobil sambil bernyanyi sepuas hatinya. Walaupun tak dipungkiri perutnya lapar dan pasti mamanya sudah memesan makanan untuk dirinya dan kemungkinan besar makanan sudah ada di meja, Vindra tak peduli. Pikirnya, Ia bisa makan ketika sampai di rumah.


Vindra menghindari pertemuan dengan Ardina, Dania, atau kenalan-kenalan mamanya yang lain. Karena Ia tidak mau perceraiannya dibahas, Zeline dibahas, situasi pernikahannya dulu dibahas, dan perjodohan dibahas.


Izinkan ku lukis senja


Mengukir namamu di sana


Mendengar kamu bercerita


Menangis tertawa


Kali ini Vindra menyanyikan lagu -Melukis senja- dengan semangat yang belum pudar malah kali ini semakin membara karena sudah menghabiskan satu lagu sebelumnya.


*****


“Astaga, bener-bener ini anak ya, minta dimarahin banget. Awas aja, sampai rumah kena kamu, Vindra! Udah bikin mama malu kamu ya. Izinnya ke kamar mandi nggak taunya malah ngilang nggak balik-balik ke meja,”


Rina akhirnya keluar dari restoran seorang diri tanpa anaknya. Berbeda dari sebelumnya yang memasuki restoran bersama Vindra. Hingga Ia selesai makan bersama Shanti dan Dania, Vindra tidak kembali juga ke restoran sehingga Ia menyimpulkan bahwa Vindra benar-benar kabur. Tapi kaburnya entah kemana. Apa pulang ke rumah, atau justru keluyuran ke tempat lain.


Shanti dan Dania sudah pulang lebih dulu. Mereka mengajak Rina pulang bersama namun Rina menolak. Ia ingin mencari keberadaan anaknya yang mungkin masih di berada di dekatnya. Di area parkir mobil, Ia tidak menemukan mobil Vindra. Tapi Ia tahu ada satu area parkir lagi dan itu campuran. Bisa untuk motor dan mobil. Dengan langkah cepat Ia ke sana, karena kesabarannya sudah habis dan ingin segera menemukan Vindra, Ia tidak fokus dan akhirnya malah tidak sengaja ditabrak oleh sebuah mobil yang akan memasuki area parkir.


Rina jatuh terduduk dan paper bag berisi belanjaannya ikut jatuh juga. Ia meringis kesakitan. Dan tak lama kemudian Ia dihampiri oleh seorang gadis muda, disusul oleh si pengemudi mobil yang kalah cepat dengan Zeline untuk menghampiri Rina.


Ya, Zeline yang tak sengaja melihat seorang wanita jatuh, tidak jadi masuk ke mobilnya, dan memutuskan untuk menghampiri wanita itu yang ternyata adalah mama dari kekasihnya.


Zeline dan Rina sama-sama terkejut ketika mereka menyadari satu sama lain. Zeline tersenyum walaupun canggung sekali.


“Bisa bangun, Tante?”


Rina sempat terperangah beberapa saat. Ia tidak menyangka respon Zeline begitu cepat untuk menolongnya. Dan awalnya Zeline juga tidak tahu siapa yang Ia tolong. Jadi niat Zeline benar-benar mau menolong, tanpa pandang bulu siapa yang Ia tolong itu.


Zeline dibantu pengemudi mobil membantu Rina untuk beranjak berdiri. Rina menelan salivanya susah payah. Entah kenapa, Ia seperti ditampar dengan kenyataan bahwa Zeline itu baik, tapi malah baru sadar sekarang.


“Tante baik-baik aja?”


“Iya, makasih,”


“Sama-sama, Tante. Ini belanjaannya,” ujar Zeline seraya menyerahkan paper bag sebanyak tiga buah ke tangan Rina.


“Ibu, perlu saya bawa ke rumah sakit?” Tanya si pengemudi. Tiba menjawab dengan menggelengkan kepalanya. Perasaan Rina masih belum menentu jadi Ia masih sulit mengeluarkan suara. Kejadian tadi terlalu tiba-tiba dan momen selanjutnya juga tak pernah Ia sangka. Selepas putusnya Zeline dengan Vindra, Ia belum pernah bertemu dengan Zeline, dan sekarang dipertemukan lagi dengan momen yang beda dimana Ia sedang kesakitan dan butuh bantuan.


“Maaf ya, Bu. Tadi saya udah tekan klakson cuma kayaknya Ibu nggak sadar deh, Ibu jalan buru-buru,”


“Iya nggak apa-apa, saya yang salah,”


“Ibu beneran nggak perlu ke rumah sakit?”


“Nggak usah, makasih ya,”


“Baik, Bu. Kalau begitu saya permisi, sekali lagi mohon maaf ya, Bu,”


Si pengemudi berjenis kelamin laki-laki itu masuk lagi ke dalam mobil, sementara Zeline masih bertahan di sebelah Rina.


“Tante mau kemana? Cuma sendirian aja? Kakinya baik-baik aja? Perlu aku antar?”


“Tante mau cari Vindra. Tante yakin dia masih ada di sekitar sini, terus tante mau cari di dalam parkiran untuk mobil dan motor, eh malah dapat musibah. Tapi makasih ya kamu udah bantu tante,”


“Oh kalau gitu aku bantu cari Vindra ya? Tante udah coba hubungin dia?”


“Udah, dicuekin terus. Tadi dia sama tante di restoran. Terus izin ke kamar mandi, eh nggak balik-balik. Tapi tante yakin dia masih di sini cuma saya juga bingung dimana nya, ini tante lagi mau nyari di parkiran ini, soalnya di parkiran khusus mobil dia nggak ada,”


“Ya udah Tante duduk aja dulu di pos security, biar aku yang cari,”


“Nggak usah, tante bisa cari sendiri kok,” Rina enggan dibantu oleh Zeline untuk yang kedua kalinya. Ia merasa mampu mencari keberadaan anaknya itu. Lagipula Ia tidak enak dibantu Zeline lagi.


“Tapi Tante ‘kan baru abis jatuh, sebaiknya duduk aja, ayo aku antar ke pos,”


Di dekat area parkir yang begitu luas, ada sebuah pos keamanan, Zeline meminta Rina untuk duduk di pos tersebut dan Ia yang akan mencari Vindra.


Kali ini Rina tidak menolak. Ia mengikuti saran Zeline untuk duduk mengistirahatkan diri pasca dibuat kaget dan sakit karena jatuh ditabrak oleh mobil tapi untungnya Ia hanya jatuh, tidak ada luka-luka yang parah.


Rina menatap punggung Zeline yang sudah menjauh darinya usai memastikan Ia duduk dengan nyaman di sebuah kursi yang berada di depan pos keamanan. Zeline memulai pencariannya.


“Nggak pernah berubah, Zeline tetap anak yang baik,”


*****


Zeline menghembuskan napas lega ketika melihat plat mobil Vindra. Ia masih mengingat plat mobil mantan kekasihnya itu. Ia lega karena bisa menemukan Vindra yang tidak tahu kalau mamanya baru saja ditabrak oleh sebuah mobil.


Zeline langsung mengetuk jendela mobil Vindra beberapa kali. Tidak lama kemudian Vindra menurunkan jendela mobilnya.


Vindra menatap Zeline dengan kening mengernyit. Ia bingung tiba-tiba Zeline datang dan mengetuk jendela mobil sambil menatapnya dengan wajah datar tanpa ekspresi.


“Kamu nggak bisa dihubungin sama mama kamu?”


“Gue dari tadi konser dadakan di mobil, kenapa emangnya?”


“Pantes aja nggak liat handphone, atau emang sengaja nggak mau jawab telepon mama kamu? Itu mama kamu baru aja ditabrak sama mobil, kamu tau nggak? Nggak ‘kan? Makanya kalau lagi jalan sama orangtua ya dampingin lah sampai pulang, jangan malah tiba-tiba pergi. Kamu hargain mama kamu,”


Vindra langsung membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan Zeline. Kemudian Ia langsung membuka pintu dan keluar dari mobil. Zeline langsung mengajaknya untuk berjalan menghampiri Rina yang menunggu di pos security.


“Tapi mama aku baik-baik aja, Zel?” Tanya Vindra dengan perasaan khawatir. Seketika Ia dibuat cemas dan menyesal karena meninggalkan mamanya sendirian.


“Kata mama kamu beliau baik-baik aja nggak mau juga dibawa ke rumah sakit, tapi ‘kan kasian beliau. Gara-gara nyariin kamu akhirnya nggak fokus pas jalan terus nggak sengaja ditabrak sama orang,” ujar Zeline menjelaskan pada mantan kekasihnya itu.


“Ah syukurlah, tapi beneran nggak apa-apa ‘kan? Nggak ada yang luka?”


“Beliau bilang nggak,”


Rina bisa melihat Vindra dan Zeline berjalan cepat ke arahnya. Ia langsung menggertakkan giginya geram ketika melihat sosok anak keduanya itu.


Begitu Vindra tiba di dekatnya, Rina langsung mencubit pinggang Vindra hingga anaknya itu meringis kesakitan.


“Kamu ya, nggak sopan banget! Kenapa kamu ninggalin mama? Hah? Mama cari-cari nggak ketemu akhirnya malah ditabrak sama orang. Terus handphone kamu itu kemana? Rusak atau emang sengaja cuekin telepon dan chat mama?”


Vindra bisa menyimpulkan mamanya benar baik-baik saja seperti apa yang dikatakan oleh Zeline karena beliau langsung marah-marah begitu Ia datang.


“Maaf, Ma. Aku males ngobrol sama tante Shanti sama Dania, makanya aku pergi aja. Terus di mobil aku nyanyi-nyanyi, maaf banget ya, Ma,”


“Bisa-bisanya kamu malah konser di mobil. Kamu tau mama ditabrak?”


“Iya tau, Zeline udah cerita sama aku,” ujar Vindra seraya melirik Zeline.


“Iya, Zeline yang nolongin mama. Gara-gara kamu yang ninggalin mama! Kalau aja kamu pulang sama mama nggak ninggalin mama mungkin mama nggak kayak tadi. Tapi ya udahlah, emang udah musibah mau gimana. Ayo sekarang kita pulang,”


“Aku pamit pulang ya, Assalamualaikum,”


“Eh, Zel! Bentar dulu, gue mau bilang makasih,”


Vindra menahan lengan mantan istrinya yang baru saja pamit pulang. Zeline menganggukkan kepalanya.


“Iya sama-sama, lain kali jangan kayak gitu lagi ya,”


Vindra sempat membeku di tempat. Karena Zeline perhatian sekali. Ia tidak diizinkan untuk mengulangi kesalahannya lagi terhadap perempuan yang telah melahirkannya itu.


“Thanks ya,”


“Iya, aku pulang dulu,”


“Zel, makasih,”


Rina juga mengucapkan terimakasih kepada Zeline yang mengangguk dengan tersenyum tipis. Ia membalas “Sama-sama” setelah itu melangkah pergi meninggalkan Rina dan anaknya yang memandang ke arah Zeline yang semakin jauh berjalan kemudian mereka saling menatap satu sama lain.


“Mama beneran ditolong sama Zeline? Gimana ceritanya?” Tanya Vindra pada mamanya yang masih duduk.


“Iyalah beneran. Jadi mama jatuh ke bawah, dia langsung datang ke mama. Dan mama juga kaget banget pas liat dia yang datang mama dan nanya mama baik-baik aja atau nggak, terus dia juga yang ambil belanjaan mama dan bantu mama untuk bangun,”

__ADS_1


“Si pengemudi yang nabrak nggak tanggung jawab?”


“Dia bantuin mama untuk bangun juga. Dan dia juga nawarin mama ke rumah sakit. Tapi mama nggak mau karena mama merasa baik-baik aja,” ujar Tina menceritakan kejadian yang menimpanya tadi dan peran Zeline maupun si pengemudi ketika Ia tertabrak.


“Zeline tau yang dia tolongin itu mama? Dari awal dia tau? Atau dia emang nggak tau?”


“Kayaknya dia nggak tau sih, reflek bantuin mama. Soalnya begitu liat mama yang dia tolong, dia juga kaget, mama pun sama kagetnya. Mama bingung dia kok mau bantuin mama? Padahal kan kalian udah putus,”


“Ya kalau emang dasarnya baik mah bakal tetap baik walaupun udah nggak ada hubungan apa-apa, Ma,”


Ucapan Vindra membuat Rina mengangguk setuju. Seketika momen-momen dimana Ia masih menjadi mertua Zeline berputar di kepalanya.


“Ternyata dia baik ya, spontan nolongin mama tanpa dia tau kalau yang dia tolong itu adalah mama,”


“Iya emang dia baik sebenernya, cuma sayangnya malah mau putus dari aku,”


“Perjuangin lah kalau masih bisa” ujar Rina menambahkan ucapan sang putra.


Vindra tersenyum mengusap bahu mamanya. Kemudian Ia mengajak Rina berangkat pulang. Rina mengangguk, dan Vindra segera meraih tas-tas belanjaan mamanya.


“Mama bisa jalan ‘kan?”


“Ya bisa lah, kamu pikir kaki mama kenapa?”


“Ya aku takutnya kaki mama sakit gara-gara kejadian tadi,”


“Nggak kok, ayo kita pulang,”


“Tapi nggak ada yang sakit, Ma?”


“Nggak ada, tadi cuma pinggang sama bagian belakang sakit gara-gara jatuh, sekarang sih udah nggak sakit lagi,”


“Ah syukurlah kalau gitu, Ma,”


Vindra segera membukakan pintu mobil untuk mamanya dan mempersilahkan mamanya masuk ke dalam mobil. Sementara dirinya memasukkan belanjaan sang mama ke dalam bagasi mobil.


“Kita langsung pulang, Ma?” Tanya Vindra setelah duduk di dalam mobil.


“Iya langsung pulang, mama mau istirahat. Mama masih kaget sebenarnya,”


“Ya Allah, tapi mama beneran nggak apa-apa ‘kan? Mama masih jantungan ya?”


“Iyalah, mama masih kaget banget,”


“Beneran nggak mau ke rumah sakit?”


“Nggak ah, mau istirahat di rumah aja,”


“Oh begitu, ya udah kalau gitu kita ke rumah aja ya,”


“Ya, mama mau tegasin ke kamu ya jangan kayak tadi lagi. Kamu kurang ajar banget ninggalin mama. Padahal kita udah enak-enakan ngobrol sama Dania dan mamanya,”


“Aku nggak betah, Ma. Mendingan aku kabur aja. Aku enak di dalam mobil terus nyanyi-nyanyi sendiri,”


“Kayak orang aneh nyanyi-nyanyi sendirian di mobil bukannya sama mamanya malah konser dadakan di mobil,”


“Aku tau ujungnya bakal kayak ngobrolin apa,”


“Emang apa?”


“Pasti mau jodohin aku sama Dania lagi ‘kan?”


“Apaan sih? Mama nggak ngomongin itu tadi,”


“Ya karena nggak ada aku. Coba kalau ada aku, pasti arah pembicaraan mama sama Tante Shanti bakal ke situ,”


“Nggak usah sok tau! Kamu suka nebak-nebak sendiri,”


“Emang begitu biasanya ‘kan? Mama tuh masih gencar jodohin aku sama Dania, janganlah, Ma. Aku ‘kan nggak suka sama Dania. Aku anggap dia itu teman aku,”


******


"Kamu cepat banget larinya waktu mau nolongin ibu-ibu itu, Sayang,"


"Ternyata beliau mamanya Vindra, Ma,"


Sampai di rumah, Reta membahas momen dimana anaknya yang sudah membuka pintu mobil bersiap untuk pulang, tiba-tiba malah berlari menjauh dari mobil untuk menghampiri seorang wanita yang terjatuh usai tidak sengaja bersentuhan oleh mobil.


"Hah? itu mamanya Vindra? mama nggak liat jelas sih tadi. Mama 'kan udah di dalam mobil, dan kamu juga bawa beliau pergi,"


"Iya itu aku ajakin ke pos satpam. Jadi beliau nyariin anaknya yang nomor dua tuh. Mamanya ditinggalin terus dianya malah di dalam mobil nyanyi-nyanyi. Aneh banget si Vindra,"


"Kok ditinggalin?"


"Aku juga nggak ngerti. Pokokmya kata Mama Vindra, tiba-tiba Vindra tuh pergi terus nggak balik lagi. Nah sebelum mama Vindra pulang, beliau mau nyari Vindra tapi malah dapat musibah,"


"Astaghfirullah tapi keadaannya nggak apa-apa 'kan?tadi mama sempat liat Alhamdulillah tetap bisa jalan,"


Zeline menganggukkan kepalanya. Satu hal yang disyukuri Zeline adalah Rina tidak mengalami luka berat.


"Baik-baik aja, Ma. Nggak ada luka parah dan beliau juga nggak mau dibawa ke rumah sakit,"


"Mama senang kamu tanggap bantu orang. Walaupun kamu sama Vindra udah nggak ada hubungan apa-apa tapi kamu nggak nyesal 'kan datang bantu beliau tadi?"


Zeline tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya. Ia tidak menyesal sama sekali bergegas cepat menghampiri Mamanya Vindra tadi sekalipun di masa lalu ketika Ia masih menjadi menantu, Mama Vindra menganggapnya seperti musuh.


"Nggak sama sekali, Ma. Aku malah senang bisa bantu beliau. Dan jujur aku malah kesal sama Vindra. Harusnya dia nggak kayak gitu. Kalau emang di awal pergi sama mamanya ya seharusnya pulang juga sama mamanya. Memang yang terjadi tadi itu namanya musibah tapi mungkin nggak bakal terjadi kalau Vindra nggak ninggalin mamanya sendirian, jadi mamanya 'kan nggak perlu harus nyariin dia,"


"Kita 'kan nggak tau kenapa Vindra tiba-tiba pergi. Yang penting keadaan mamanya nggak apa-apa. Itu udah cukup bikin hati kita lega 'kan,"


******


"Kenapa kamu?"


"Nggak tau, tiba-tiba batuk,"


"Makanya kalau lagi minum yang bener, fokus minum aja jangan nguping,"


"Lah, aku 'kan punya kuping. Papa ngomongnya di deket aku ya aku dengerlah," ujar Vindra yang tidak mau disalahkan.


"Kamu kaget ya setelah tau harapannya papa? sebenarnya papa mau kamu sama Zeline itu bertahan, papa mau Zeline jadi menantu papa. kamu kaget denger itu makanya batuk ya?"


"Aku udah bisa nebak karena papa tuh 'kan sayang banget sama Zeline. Cuma aku nggak nyangka aja papa bakal ngomongin itu sekarang. Soalnya 'kan udah nggak mungkin lagi, Pa. Zeline udah terlanjur jauh dari keluarga kita. Dia bukan pacar aku lagi,"


"Nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini, Vindra,"


Vindra langsung menelan salivanya susah payah mendengar ucapan sang ayah. Vindra jadi canggung dan Ia sendiri tidak tahu apa sebabnya. Setelah mendengar ucapan lugas papanya yang mengatakan bahwa di dunia ini tak ada yang tidak mungkin termasuk soal Zeline yang bisa saja kembali menjadi bagian dari keluarga mereka.


"Kamu kok jadi kikuk gitu? kamu udah ada yang baru? hmm?"


Vindra meletakkan gelas di atas meja dan posisi gelas terlalu di pinggir meja sehingga hampir jatuh, Ia segera meraihnya dengan panik. Gelagatnya itu dianggap kikuk oleh Hadi, papanya.


"Ada yang baru gimana maksudnya, Pa?"


"Ya maksud papa kamu udah ada pacar? kok jadi kikuk gitu kita bahas Zeline. Atau kamu salah tingkah? ah papa nggak paham sebetulnya,"


"Papa nih ada-ada aja," ujar Vindra seraya terkekeh dan menggelengkan kepalanya pelan.


"Udah punya pacar?"


"Belum, kalau udah pasti aku cerita ke papa,"


"Lagian mama belum izinin! enak aja pacar-pacaran! nanti aja kalau emang beneran udah siap,"


Rina yang sedari tadi sempat terdiam telak mendengar ucapan sang suami, akhirnya angkat bicara untuk menegaskan bahwa Ia melarang Vindra untuk kembali menjalin hubungan dalam waktu dekat ini.


"Semoga dapatnya yang kayak Zeline ya. Papa nggak berharap lebih dari Zeline sih, karena Zeline aja udah cukup untuk papa. Dan papa rasa kamu pun ngerasa begitu. Anaknya nggak neko-neko, tau banget ngehargain orang, dan sayang juga sama orang terdekatnya. Kalau nggak bisa cari yang lebih dari Zeline, minimal yang kayak Zeline ya, Vin,"


"Duh, Pa. Aku belum mikirin itu deh. Tapi sempat harapannya papa bisa aku wujudin ya. Aku berharap bisa dapat yang lebih dari Zeline,"


"Jangan sibuk cari perempuan yang baik, kalau kamu sendiri aja belum memperbaiki diri. Papa setuju sama mama. Dan bagusnya kamu juga belum mikir untuk cari pasangan baru. Supaya kamu tuh benar-benar bercermin dulu dan kamu cari kesalahan kamu apa aja di masa lalu supaya nanti nggak terulang lagi,"


Vindra banyak dinasehati oleh papanya pasca perceraian. Karena Hadi tidak mau putranya itu mengulangi kesalahan yang sebelumnya sudah pernah Ia lakukan.


Hadi berharap Vindra benar-benar bercermin, tahu kesalahan lalu memperbaiki diri. Sehingga siap untuk menyambut masa depan.


"Mama masih punya niat jodohin Dania sama Vindra?"


Tina melirik suaminya kemudian Genio secara bergantian. Ia menggeleng setelahnya.


"Yang bener? tadi kata Vindra kalian ketemu sama Bu Shanti dan Dania 'kan? mama sengaja mau ketemuan sama mereka karena mau ngomongin perjodohan?"


"Nggak, emang Vindra aja tuh yang belum apa-apa udah mikir jelek ke mama. Orang nggak ada obrolan ke sana kok. Udah terserah Vindra aja mau sama siapa, mama nggak mau jodohin lagi,"


Vindra langsung mengerjapkan matanya setelah mendengar pernyataan sang mama yang kelihatan disampaikan dengan serius.


"Beneran, Ma?"


"Iya, terserah kamu mau sama siapa, tapi nanti kalau udah ketemu mama tetap berhak untuk menilai dan bilang 'nggak' ya?"


Vindra langsung mengepalkan tangannya dan Ia angkat ke atas. Ia sedang meluapkam kebahagiaannya sekarang.


"Lagian mama aneh. Nggak mau anaknya pacaran tapi masih jodohin Vindra,"


"Ya maksud mama yang penting dekat aja dulu, pacaran atau nikahnya nanti-nanti aja. Tapi 'kan Vindra juga nggak mau. Jadi ya udah terserah dia aja,"


"Aku sama udah Dania dekat kok, Ma. Kita 'kan temen dari kecil tapi aku cuma anggap dia teman aja, nggak bisa lebih. Kalau lebih ya udah dari dulu aku sama dia. Mama nggak perlu jodohin aku sama siapapun, nanti pasti ketemu kalau emang udah waktunya,"


Hadi mengusap bahu anak lelakinya itu kemudian menepuknya sekali dan memberikan pesan yang sebenarnya sudah sering Ia sampaikan tapi rasanya tak pernah puas Ia perdengarkan pesan itu di telinga Vindra.


"Baik-baik kalau udah punya, Vin. Ingat pesan papa, jangan ulangi kesalahan yang sama. Cukup Zeline aja yang pernah kamu sakiti,”


*******


Hari ini jadwal keberangkatan rombongan angkatan akhir berlibur ke Yogyakarta. Itu adalah perjalanan liburan terakhir mereka sebagai murid.


Dalam satu bus diisi oleh anak-anak campuran dari semua kelas. Dan kebetulan, yang diinginkan Jerry tercapai yaitu satu bus dengan Zeline.


Tapi sayangnya keinginan Jerry untuk bisa benar-benar dekat dengan Zeline yaitu duduk bersebelahan tidak tercapai, yang ada malah Ia dibuat kebakaran jenggot ketika tahu kenyataan bahwa Zeline duduk bersebelahan dengan Vindra.


“Gila bener, masa iya mantan duduknya sebelahan. Duh nggak bisa ini,”


Jerry mengajukan protes pada panitia namun tidak didengarkan. Semua sudah diatur, dan tidak ada yang berhak untuk merubah aturan itu.


“Biar aman nih ya, ikut aturan aja, Jer, nggak usah banyak cingcong udah. Emang takdirnya Vindra duduk sama mantan. Lo nggak usah iri. Tuhan nggak memberi restu lo duduk sama Zeline, udah mingkem aja mulut lo,” kata Dino memperingati temannya yang benar-benar kecewa dengan aturan duduk yang sudah dibuat oleh panitia. Ia terpaksa gigit jari, menahan cemburu karena Zeline duduk dengan sahabatnya yang merupakan mantan kekasih Zeline.


“Vin, tukeran deh,”


“Nggak, gue mau ikut aturan biar perjalanan berjalan sesuai rencana,”


“Ah kampret lo,”


Di sisi lain, Zeline juga ingin mengatakan dia keberatan duduk dengan Vindra. Ia lebih memilih duduk dengan Chaca saja. Kalau dengan teman dekat lebih menyenangkan sebenarnya, atau kalaupun tidak boleh dengan Chaca, Zeline juga tidak keberatan duduk dengan murid yang lain, tapi bukan Vindra.


“Kevin, ini beneran aku duduk sama Vindra? Kenapa nggak sama Chaca aja? Aku mau duduk sama Chaca nggak boleh? Atau sama yang lain gitu, boleh nggak? Yang cewek maksud aku,”


“Zeline, ini tuh untuk mempererat pertemanan sama anak-anak kelas lain, itulah tujuannya satu bus isinya dari semua kelas, nggak satu bus untuk satu kelas full,”


Zeline menghela napas pelan. Jujur Ia merasa kecewa dengan keputusan itu. Padahal Ia berharap bisa duduk dengan Chaca, supaya di perjalanan mereka bisa mengobrol dengan akrab seperti biasanya, tak bisa dibayangkan kalau Ia duduk bersebelahan dengan Vindra. Yang jelas pasti canggung.


“Okay, semuanya tolong masukkan koper masing-masing ke dalam bagasi bus ya. Setelah itu udah boleh duduk di tempat yang sudah disiapkan. Ada nama di tiap bangku, jadi kalian tinggal duduk aja,”


“Ah elah, udah mau berangkat lagi, males banget gue liat Vindra duduk sama Zeline,”


“Jer, lo kenapa sih? Jangan gitu lah, liburan ini ‘kan terakhir kali buat angkatan kita nih, nanti nggak ada cerita liburan atau study tour kayak biasanya lagi, jadi nikmati dengan hati yang senang, jangan kesal,”


Jerry langsung merubah ekspresi mukanya dengan terpaksa menjadi tersenyum. Ia sudah benar-benar menaruh hati untuk Zeline jadi melihat Zeline dengan yang lain sekalipun itu sahabatnya sendiri, Ia tetap kesal. Apalagi yang Ia tahu Vindra itu mantannya Zeline. Jadi Ia makin kesal.


Tapi Ia tidak bisa berbuat apa-apa karena aturannya sudah seperti itu. Dan demi kelancaran perjalanan juga. Kalau masing-masing anak memilih teman duduk, yang ada bisa rusuh. Maka dari itu terbitlah aturan yang mau tidak mau dipatuhi demi kelancaran perjalanan mereka juga.


“Ini tuh bukan perjalanan bulan madu lo sama Zeline, Jer, jadi jangan ngarep bisa berdua,”


“Ah berisik lo, ngomong sekali lagi gue gibeng nih,”


Zam tertawa lebar karena mendapat peringatan seperti itu dari temannya. Ia senang meledek Jerry apalagi ketika Jerry sedang cemburu.


“Semua koper sudah masuk bagasi ya, okay kalian boleh duduk di tempat masing-masing,” ujar Kevin, selaku ketua Osis di sekolah mereka.


“Selama perjalanan bakal diawasin jadi jangan neko-neko, tuh ada kamera cctv juga, yang akur ya, kalau belum kenal sama teman sebelah boleh kenalan dulu. Barangkali aja ada yang nggak kenal sama teman sebangku soalnya ‘kan beda-beda kelas nih,”


Vindra dan Zeline sudah duduk di tempat mereka. Tak ada obrolan sama sekali. Tak ada perkenalan juga karena mereka sudah kenal bahkan pernah satu rumah, satu kamar, satu tempat tidur. Status mereka yang mantan, membuat mereka benar-benar canggung. Makanya hanya bisa diam.


Sebelum memulai perjalanan, mereka dibagikan makanan. Setelah itu berdoa bersama supaya perjalanan mereka bisa dilancarkan sampai tujuan. Sehingga bisa tiba di Yogyakarta dengan keadaan sehat selamat.


“Siap berangkat,”


Bus mulai melajukan roda meninggalkan sekolah mereka yang menjadi tempat berkumpul bagi semua pihak yang turut dalam perjalanan kali ini dan menjadi titik awal keberangkatan juga.


“Boleh nyanyi-nyanyi. Ada yang mau sumbang suara?”


“Jerry nih,”


Dino menjawil lengan Jerry yang duduk di seberangnya. Posisi Dino duduk dengan seorang murid yang kelasnya bersebelahan dengan kelasnya bernama Dante, dan posisi Dino duduk di pinggir sementara Dante di pojok. Jerry juga di pinggir sehingga mudah bagi Dino menjawil lengan sahabatnya itu yang sedang berusaha ikhlas menerima kenyataan bahwa Ia tak bisa duduk dengan incaran hatinya.


“Apaan sih lo, Din!”


“Lah, waktu perpisahan lo ngajuin diri mau nyanyi,”


“Gue bakal mau kalau nyanyi sama gebetan gue,”


“Dih, gebetannya nggak mau sama lo! Sadar diri napa,”


Jerry terkekeh dan meninju bahu Dino yang selalu membuat Ia dihempas oleh kenyataan. Ia disuruh sadar terus.


“Atau Vindra mau nyanyi?”


“Nggak, gue kan nggak bisa, lo lupa, Kev?”


“Oh okay-okay, ada yang lain? Pangeran terkenal nggak bisa nyanyi,”


“Gue mau nyanyi tapi kalau sama Vindra,” ujar Dewi yang langsung membuat Ia menjadi bahan sorakan anak-anak di dalam bus.


“Berasa Anang Ashanty kali yak,”


“Aamiin, semoga gue sama Vindra bisa kayak Anang Ashanty yang saling mencintai, bahagia, anteng-anteng aja hubungan pernikahannya,”


“Idih ngarep lo kejauhan Dewi!”


Dewi ikut tertawa ketika yang lain menjadikan dirinya sebagai bahan tertawaan. Ia tidak sakit hati sama sekali karena memang Ia begitu percaya diri, mengharapkan hubungan yang seperti itu bersama Vindra.


“Nggak usah ketawa lo, ikut-ikutan ketawa aja,”


Vindra memperingatkan Zeline yang turut menjadi salah satu orang yang tertawa. Zeline kandung mengernyitkan keningnya tidak suka mendengar ucapan Vindra.


“Emang kenapa sih? Suka-suka aku lah mau ketawa atau nggak,”


“Lo nggak boleh ketawa, dilarang,”


“Emang kenapa? Masa ketawa aja nggak boleh? Aku ‘kan merasa terhibur sama Dewi makanya ketawa,”


“Ya tapi lo nggak usah ketawa, kayak seneng banget gue diincar sama Dewi,”


“Kamu mah banyak yang ngincar, ya nggak apa-apa, Vindra. Barangkali ada yang cocok dan jadi jodoh kamu,”


“Apaan sih lo, nggak jelas banget,”


“Lho kok nggak jelas? Itu ‘kan doa, Vindra. Harusnya kamu aminkan dong. Nggak ada yang tau jodoh, kali aja dari mereka yang ngincar kamu itu ada yang beneran jadi jodoh kamu,”


“Kali aja mantan gue yang jadi jodoh gue,”

__ADS_1


“Hah?”


Vindra terkekeh dan menunjuk wajah Zeline yang tegang. Mulut Zeline terbuka sedikit dan keningnya mengernyit ketika menatapnya.


Mereka jadi berinteraksi berdua, sementara yang lain sudah sibuk bernyanyi bersama usai Kevin menghidupkan playlist lagu.


“Iya ‘kan nggak ada yang tau takdir,”


“Maksudnya mantan kamu bisa jadi jodoh kamu? Anin gitu ya? Aku aminkan ya, Vin,”


“Mantan gue bukan Anin, lagian emang gue bilang spesifik tentang siapanya? Jangan sok tau makanya,”


Vindra tidak tahu mendapat dorongan darimana sehingga bisa bicara seperti itu. Dan yang jelas Vindra langsung terkejut begitu mendengar ucapannya itu.


“Mantan lo si Zeline?”


“Ya nggak tau, gue nggak tau jodoh gue sehidup sesurga tuh siapa, ‘kan gue bilang kali aja, gue nggak tau juga,”


Zeline terkekeh dan menggelengkan kepalanya beberapa kali. “Ya nggak mungkin lah, Vin,”


“Tapi nggak tau apa kata Tuhan soal jodoh gue,”


******


Suasana makan malam di Yogyakarta terasa sangat hangat. Setelah merasakan lelah dan bosan selama perjalanan dari Jakarta menuju Yogyakarta, sekarang waktunya mereka yang sudah bersih-bersih di hotel mengisi perut.


Lauk makan malam kali ini adalah gudeg ceker, ayam goreng, dan udang pedas. Semua bebas menikmati makanan apa yang dikehendaki tanpa dibatasi porsinya sehingga yang suda benar-benar lapar boleh saja mengambil porsi semaunya.


“Padahal dikasih lemper sama kue-kue di jalan tadi ya, sempat mampir juga di restoran untuk makan siang tapi rasanya kayak lapar banget nggak sih? Perut gue gitu, njir. Aneh banget yak,”


Ujar Jerry seraya duduk di sebelah Vindra. Tiga sahabatnya sudah memilih meja yang dijatahi empat kursi saja, tepat untuk mereka.


“Sama wey, mungkin karena kita banyak tidur kali, jadi begitu mata melek bawaannya laper muluk,”


“Padahal gue juga makan ciki-ciki yang gue bawa lho, tapi kok tetap lapar ya. Melar banget perut gue, njir,”


“Gue biasa aja,”


“Ah lo mah stay cool banget sih. Lapar bilang aja lapar,”


“Ya emang lapar tapi biasa aja, nggak lapar-lapar banget,”


“Lu dibagi makanan sama Zeline ya? Tadi gue liat, selain makan punya sendiri, lu sharing sama Zeline ‘kan?”


Vindra menganggukkan kepalanya. Ia tak menyangka sahabatnya tahu kalau Ia dan Zeline sempat berbagi makanan ringan yang mereka bawa untuk persiapan bekal di jalan.


“Gimana duduk sebelahan sama Zeline dengan waktu yang cukup lama, bro?”


Vindra mengangkat bahunya disela bersantap mengisi perutnya. Tak ada yang aneh ketika Ia harus duduk bersebelahan dengan Zeline. Awalnya Ia akui memang canggung, tak bisa berkata-kata tapi perlahan bisa mencair, bahkan tak ragu saling menawarkan makanan setelah Ia dulu yang memulai.


“Nih, lo mau cokelat gue nggak?” Tanya Vindra tadi pada Zeline yang memejamkan mata mendengarkan playlist lagu yang diputar di dalam bus. Karena tak ada tanggapan dari Zeline, akhirnya Vindra sengaja menghentak pelan lengan mantan istrinya itu yang langsung membuatnya membuka mata.


“Apa?”


“Lo nggak budeg ‘kan, Vin? Ini gue nawarin cokelat, lo mau nggak?”


“Aku bawa makanan juga kok,”


“Ya udah nggak apa-apa, gue cuma mau nawarin aja, nggak usah pamer bawa makanan,”


“Ih aku nggak pamer tapi maksud aku supaya kamu nggak perlu repot-repot ngasih makanan ke aku, Vin,”


“Nggak apa-apa santai aja, ambil lah kalau emang mau,”


Alih-alih mengambil cokelat batang yang diulurkan sang mantan suami, Zeline justru meraih makanan ringan berupa keripik kentang dengan varian rasa barbeque.


Setelah membuka kemasan makanan ringan itu, Zeline langsung mengulurkannya ke arah Vindra yang langsung bingung dan bertanya-tanya. Ia bingung karena Zeline malah menawarkannya juga.


“Ayo silahkan diambil ciki aku. Cobain deh, enak tau,” suruh Zeline tapi Vindra menggelengkan kepalanya.


“Kalau lo mau gue nyobain makanan lo, okay nggak apa-apa. Tapi lo harus mau juga nyobain makanan yang gue tawarin ini,”


Zeline akhirnya menganggukkan kepalanya. Tidak ada canggung sedikitpun rasanya susah, maka dari itu perlu momen-momen seperti ini diantara mereka.


“Okay makasih, Vindra. Sekarang giliran kamu yang cobain ciki aku, enak banget deh,”


Zeline menawarkan Vindra lagi. Karena cokelatnya tadi sudah diterima Zeline, sekarang gantian Vindra yang merasakan makanan ringan milik Zeline.


“Gimana rasanya?” Tanya Zeline.


“Enak tapi itu keterlaluan banget bumbunya ya. Lo tuh jangan terlalu banyak makan kayak begitu, mau sakit lo?”


“Ini sehat-sehat aja kok,”


“Anak micin banget, nggak berubah ternyata,”


Zeline yang sedang asyik mengunyah makanan ringannya langsung berhenti menggerakkan mulutnya ketika Vindra bicara seperti itu.


“Nggak berubah? Maksudnya?”


“Waktu sama gue, lo juga doyan makan kayak gituan ‘kan? Doyan yang pedas-pedas juga,”


“Iya, kok masih ingat?”


“Ingatlah, masa lupa,”


Zeline terkekeh menutupi gugupnya yang tiba-tiba datang setelah Vindra mengaku bahwa hal kecil tentangnya tidak dilupakan oleh Vindra. Tak disangka olehnya Vindra yang selama ini kelihatannya tak peduli apapun tentangnya, ternyata tahu juga apa yang Ia suka.


“Lupain, jangan diingat-ingat terus, bahaya lho,”


“Emang kenapa? Suka-suka memory otak gue lah, kalau tetap mau ingat ya biarin aja, nggak usah lo nyuruh gue untuk lupain. Lagian itu ‘kan hal sepele yang gue tau dari lo, wajar aja kalau gue masih ingat,”


“Aku pikir kamu malah nggak tau apa yang aku suka lho,”


“Tau, pernah tinggal satu rumah,”


Vindra tersentak karena tepukan di bahunya. Seketika memorynya yang sedang memutar ulang momen dimana Ia mengobrol dengan Zeline di bus tadi buyar karena ulah Jerry.


“Lo ngapa makannya diam aja sih? Mana makannya santai gitu, mata nggak fokus, lo kenapa?”


“Nggak apa-apa,”


“Lagi ada yang dipikirin kali. Kesian amat lo, Vin. Masih muda udah banyak beban pikiran,”


“Apaan sih, njir. Gue nggak lagi ada pikiran,”


“Lah lo bukan manusia dong kalau nggak ada pikiran?”


Vindra berdecak ketika diledek oleh Jerry, dengan kesal Ia meninju pelan lengan sahabatnya yang sudah hampir selesai makan.


“Buruan makannya! Jangan terlalu santai, abis ini ‘kan mau istirahat,”


“Bawel mulut lo. Gue juga tau kali,”


“Lo mikirin apa sih? Ada beban pikiran?”


“Nggak ada, jangan sok tau, bro,”


“Serius? Sejenak tinggalkan beban pikiran lo itu, Nio. Fokus mau liburan senang-senang,”


“Iya paham gue, nggak usah lo ajarin,”


“Apa lo lagi ingat-ingat momen kebersamaan lo sama Zeline? Hmm? Senang nggak lo bisa duduk sebelahan sama Zeline untuk waktu beberapa jam? Tadi kita tuh di perjalanan berapa lama ya? Delapan jam nggak sih? Nah berarti lo selama itu duduk sama dia,”


“Berarti emang udah ketentuan dari Allah, gue yang di samping dia, bukan lo. Terima aja udah,”


“Waduh, di samping dalam artian apa nih? Di samping saat duduk aja, atau di samping dia untuk selamanya?”


Dino dan Zam tertawa lebar mendengar pertanyaan yang dilontarkan Jerry kepada Vindra. Kalimat yang terlontar dari mulut Vindra membuat Jerry bertanya-tanya dan butuh penjelasan yang lugas. Mendadak Ia cemburu ketika mendengar Vindra berucap bahwa ketentuan Tuhan adalah dirinya yang tepat di samping Zeline.


“Jawab wey! Maksud lo di sampingnya Zeline tuh gimana? Di samping dia selamanya gitu? Di samping dia waktu duduk aja?”


“Ya nggak tau, gue mah cuma manusia biasa yang nggak bisa jawab pertanyaan semacam itu,”


Dino dan Zam semakin tertawa karena jawaban Vindra pasti membuat Jerry merasa ketar-ketir tapi mereka menyukai ekspresi Jerry sekarang yang kelihatan jengkel sekali dengan Vindra.


“Gue berharap banget pas pulang nanti aturan tempat duduk berubah,”


Vindra kali ini tertawa. Jerry tampaknya masih tidak terima sekali dengan kenyataan bahwa Ia lah yang duduk bersebelahan dengan Vindra, memang aturannya yang mengharuskan mereka duduk berdua.


******


“Wuidih bukan kaleng-kaleng bajunya bagus amat yang mau jalan ke pasar Beringharjo, lu mau belanja apa mau kencan?”


Jerry terkekeh kemudian mengusap dagunya dengan memasang ekspresi terlalu percaya diri ketika baru saja keluar dari kamar, langsung dipuji sekaligus diledek oleh Dino, sahabatnya.


“Ganteng nggak gue?”


“Beuh! Ganteng bener, gantengnya bukan kaleng-kaleng,”


Vindra menyusul keluar dari dalam kamar. Kebetulan selama liburan ini teman kamar Jerry adalah Vindra. Satu kamar hanya dihuni oleh dua orang dan tentunya satu jenis kelamin. Karena ini acara jalan-jalan sekolah bukan bulan madu.


“Dia pake kemeja. Formal banget ya, udah kek mau lamaran,” ujar Vindra yang ikut meledek Jerry.


“Belajar sebelum lamaran beneran,”


“Wuidih-wuidih, mau lamar siapa nih? Spill dong spill,”


“Siapa lagi? Tidak lain dan tidak bukan adalah Zel—“


“Ayo kita semua sarapan dulu sebelum belanja di pasar,”


Instruksi untuk sarapan langsung membuat Vindra dan tiga sahabatnya duduk di ruang makan tempat penginapan yang ukurannya begitu luas.


“Makan yang lahap ya, nanti istirahat sebentar baru deh berangkat kita. Belanja deh sepuasnya, jangan lupa titipan orangtua atau keluarga. Mungkin ada yang nitip baju, tas, sandal, dan sebagainya. Tapi kalau udah waktunya selesai belanja, udah ya, jangan susah dikasih tau. Setelahnya harus ngumpul lagi ya supaya kota terus bareng-bareng, jangan sampai ada yang ketinggalan,”


“Siap, Pak,” ujar murid-murid menjawab Pak Iwan yang memberikan pesan kepada semua muridnya yang tengah menikmati makan pagi sebelum bergegas pergi.


“Lo nanti mau beli apaan, Vin? Nyokap nitip apaan?”


“Nggak ada, nyokap gue nggak nitip apa-apa. Cuma pengen gue sehat selamat aja katanya,”


“Ah manis banget omongan nyokap lo bro,”


“Gue tanyain mau apa, eh malah ngomong kayak gitu. Ya udah gue simpulin berarti nyokap gue nggak mau apa-apa,”


“Kalau lo punya pacar, pikirin deh tuh pacar lo mau dibeliin apa. Eh tapi lo ‘kan nggak punya pacar ya,”


“Itu tau, pake diomongin lagi,”


“Makanya cari dong, jangan tunggu nanti-nanti, brp. Keburu tua lo,”


“Heleh bacot lo. Kayak udah nemu aja,”


Vindra mengomeli Dino yang menasehati agar Ia segera mencari sosok pendamping sementara Dino sendiri belum jelas siapa kekasihnya karena yang Vindra tahu dekat dengan beberapa perempuan.


“Jangan deh mending kata gue kalau belum punya pemikiran dewasa, daripada ujungnya gagal lagi,”


“Udah diem, nggak usah berisik kalau saran gue mah,”


Vindra mendekatkan telunjuknya dengan bibir supaya Jerry berhenti bicara. Ia tidak suka menjadi bahan omongan apalagi kalau sudah mulai menyinggung masa lalunya yang gagal.


Mereka melanjutkan makan sebagai persiapan sebelum jalan ke tempat belanja dengan barang-barang kualitas bagus, khas Yogyakarta, dan harganya tak menguras kantong.


Setelah mengisi perut, mereka diminta untuk duduk-duduk dulu sambil menunggu bus dipersiapkan.


“Pak ini kita nggak lama ‘kan nunggunya?”


“Ya nggak dong, itu salah satu bus ada yang kurang bahan bakar. Lagian ‘kan baru habis makan, biar nasinya turun dulu, ntar muntah lagi,”


“Lah kita-kita mah nggak ada yang mabok, Pak,”


“Ya ‘kan bisa aja kalau abis makan langsung naik bus dan jadinya malah muntah. Saya tau nggak ada yang mabok orang masing-masing udah sering bawa mobil sendiri ke sekolah,”


“Puas-puasin aja dulu duduknya sebelum keliling pasar nanti pada capek lho. Di sana rame, dan kalian jarang turun ke pasar ‘kan pasti? Seringnya ke mall, nonton, iya nggak? Anak kota mah begitu,”


“Kalau belanja tuh nggak ada kata capek, Pak. Apalagi cewek-cewek tuh,”


“Semua bus sudah siap. Boleh berangkat sekarang, Pak,”


Pak Iwan dihampiri oleh seorang supir bus yang melaporkan bahwa empat bus sudah siap digunakan.


Pak Iwan langsung memberikan instruksi kepada anak-anak didiknya untuk segera memasuki bus dengan tertib dan posisi duduk sesuai dengan aturan di awal.


“Pak, boleh nggak sih khusus sekarang aja saya pindah tempat duduk?”


“Memang kamu mau pindah kemana?”


“Di sebelah Zeline,”


“Tapi Vindra nya mau nggak?”


Jerry langsung tersenyum lebar begitu mendengar penuturan gurunya. Terdengar ada kelonggaran dari guru, maka dari itu Ia langsung bertanya pada Vindra.


“Boleh gantian bentar nggak?”


“Nggak-nggak! Sorry banget nih, gue nggak mau posisi duduk gue berubah. Pengen kayak awal aja soalnya gue ‘kan taat peraturan,”


“Halah eek kucing lo! Kampret banget, orang udah dibolehin tuh sama Pak Iwan eh lo nya malah bergaya nggak mau nurutin maunya gue,”


“Ngapain mau lo diturutin. Ngelunjak lo nanti,”


“Sebentar doang, Vin! Gantian napa, jangan pelit jadi orang tuh! Buruan bangun, gue yang mau—“


“Apaan sih? Emang gue udah bilang iya? Udah dibilang gue tuh mau taat aturan. Gue nggak mau pindah-pindah tempat duduk, dengar nggak?”


“Halah bilang aja lo mau duduk deket Zeline. Iya ‘kan?!”


“Dih, kesel gegara nggak diturutin. Bodo amat, suka-suka gue lah,”


“Gantian bentar doang, Astaga! Pelit banget najis dah,”


“Biarin, udah sana duduk di tempat asli, jangan rengek-rengek ke gue supaya bisa duduk di tempat gue,”


“Udah Jerry balik ke tempat asli sana. Genio nggak mau gantian sama kamu, jadi jangan dipaksa,”


Jerry menggerutu dalam hati. Ia benar-benar kesal dengan Vindra karena awalnya Pak Iwan tampaknya setuju-setuju saja bila Ia duduk di tempat Vindra. Tapi sayangnya Vindra enggan untuk menuruti keinginannya.


Alhasil Jerry harus terima nasib. Ia tetap duduk di tempatnya, alih-alih bisa merasakan posisi Vindra yang duduk di sebelah Zeline.


“Padahal Pak Iwan udah longgarin tuh kayaknya. Tapi Vindra malah kayak gitu. Sialan banget emang si Vindra. Gue udah senang banget barusan, kirain gue Vindra nggak masalah mau gantian tempat duduk sama gue, eh nggak taunya dia belagu, halah kampret!”


Sudah duduk pun Jerry masih menggerutu saja terhadap sahabatnya itu. Ia sudah benar-benar berharap tadinya karena dengar jawaban dari Pak Iwan yang tak keberatan bila Ia bertukar tempat duduk dengan Vindra bila memang Vindra ingin.


Berbeda dengan suasana hati Jerry sekarang yang sedang kesal, Vindra justru senang karena Ia berhasil membuat suasana hati Jerry berubah dari yang antusias menjadi lesu sekaligus jengkel.


Zeline sempat melirik ke sebelah, dan Ia melihat Vindra sedang tersenyum kecil. Zeline tentu merasa bingung.


“Kenapa kamu? Abis debat sama Jerry kok malah senyum?”


“Dih siapa yang senyum?”


“Kamu ngajak berantem aja,”


“Lah, kok ngajak berantem? Dia aja tuh yang nggak tau diri, udah ada aturan malah melanggar. Pemaksaan ke gue pula. Hak gue lah mau nolak, orang ini bangku gue kok. Suka-suka gue mau nolak kemauan dia atau nggak, lagian emang kenapa sih? Lo pengen duduk sebelahan sama dia? Sana lo aja yang pindah, kalau teman sebelahnya dia nggak mau gantian duduk sama lo, duduk aja sana di pangkuannya Jerry,”


“Apaan sih kamu, ngomong sembarangan. Siapa bilang aku mau duduk sama Jerry? Kok jadi ngelantur mulut kamu,”


“Lah, abisnya kayak nggak senang gitu sama keputusan gue untuk nolak kemauannya Jerry,”

__ADS_1


“Siapa nggak senang? Aku nggak ngomong begitu. Aku cuma nanya aja tadi, kenapa kamu senyum-senyum? Lah kamu nya malah ngomong panjang lebar,”


__ADS_2