
“Nin, iya nggak apa-apa santai aja. Kapan aja dibalikin nggak masalah kok. Udahan—“
“Jelasin ke aku sekarang, Vindra! Aku mau dengar penjelasan kamu. Kok malah lanjut ngobrol sih?”
Zeline berusaha menekan suaranya supaya tidak meninggi sedikitpun walaupun rasanya sangat ingin. Alih-alih langsung menjelaskan, Vindra malah bicara pada Anin.
“Nin udahan dulu ya,”
Vindra langsung menyudahi sambungan teleponnya dengan Anin. Lalu Ia meletakkan ponselnya di atas meja tuang tamu. Zeline memutuskan untuk pergi, hatinya sudah terlanjur kesal. Ia butuh penjelasan langsung tapi Vindra kelihatannya santai saja menanggapi kekesalannya, malah Vindra tadi bicara pada Anin disaat Ia butuh penjelasan secepat mungkin.
__ADS_1
“Zel, tunggu dulu dong, masa kamu mau pergi sih? Katanya tadi mau dengar penjelasan aku ‘kan?”
“Ya abisnya kamu santai banget ya nanggapin rasa kesal aku? Kamu harusnya jelasin cepat dong maksud Anin tuh apa? Kenapa jaket kamu sama dia? Hmm? Tadi kamu bilang, kamu anterin dia ke apartemen,”
“Iya emang, aku anterin dia ke apartemen dan aku langsung pulang kok,”
Vindra membujuk Zeline supaya mau duduk dulu mendengarkan penjelasannya. Vindra meraih tangan Zeline dengan lembut dan matanya mengiaratkan Zeline untuk duduk lagi.
“Nggak usah ngalihin pembicaraan deh, aku nggak suka,”
__ADS_1
“Okay jadi gini. Jaket aku emang kebetulan di Anin. Kenapa? Karena Anin tadi datang bulan dan untuk nutupin noda kotor di roknya, aku pinjemin jaket aku ke dia. Aku emang beneran kok nganterin dia ke apartemen tapi setelah itu aku langsung ke sini, nggak kemana-mana,”
“Ya tapi kenapa Anin sampai nelpon kamu segala untuk jelasin kalau jaket kamu belum bisa dia balikin? ‘Kan bisa dia ngomong tadi aja pas lagi sama aku, kenapa harus telepon kamu di depan aku dan aku dengar apa omongan dia. Akhirnya aku salah paham ‘kan? Udah gitu, kamu nggak cepat-cepat jelasin. Aku jadi males tau nggak!”
“Ya udah aku minta amaf, Zel. Aku nggak maksud untuk bikin kamu kesal. Maafin aku ya. Tapi sumpah aku nggak ngapa-ngapain sama Anin. Cerita dibalik jaket itu udah aku jelasin semuanya ke kamu. Kalau kamu nggak percaya ya udah terserah kamu, itu hak kamu. Yang terpenting aku udah jujur seratus persen sama kamu,” ujar Vindra dengan sorot mata yang tegas. Vindra kelihatan benar-benar yakin bahwa Ia sudah jujur tidak ada yang ditutupi dari kekasihnya.
Melihat gerak gerik dan tatapan matanya, Zeline tahu kalau Vindra tidak berbohong di belakangnya. Zeline percaya dengan penjelasan Vindra.
“Kamu kenapa mikirnya yang aneh-aneh sih? Astaga, Zel, aku ini masih sekolah, punya cita-cita, dan aku punya kamu yang harus aku jaga hatinya. Jadi nggak mungkin lah aku macam-macam. Dan perlu kamu ingat Anin itu sahabat aku. Masa karena jaket aja kamu jadi curiga gini sih, Zel? Aku heran deh, emang aku sebrengsek itu ya di mata kamu? Hmm?”
__ADS_1
“Kenapa kamu sekarang jadi marah? Aku salah apa sama kamu? Harusnya kamu intropeksi diri lah. Kenapa aku jadi mikir yang aneh-aneh? Ya karena kamu sama Anin yang mancing!”
Vindra berdecak pelan sambil memggusar rambutnya ke belakang. “Zel, udah dong jangan bawa-bawa Anin. Dia nggak ada salah apapun, kamu cuma salah paham aja. Ini masalah kecil kenapa jadi dibesarin sih? Udah ya aku nggak mau debat. Intinya aku dan Anin itu nggak ada hubungan apapun lebih dari sahabat, dan masalah jaket tadi kamu cuma salah paham,”