
“Kamu datang sendiri aja ke rumahnya Zeline,”
“Lho emang kenapa? Bukannya kita bareng aja? Kamu pasti mau ke rumah Zeline juga deh untuk tau keadaan dia,”
“Aku ntar aja agak sorean, kita sendiri-sendiri aja ya datangnya,”
“Kok gitu?”
“Ya nggak apa-apa, Nin. Doalnya aku mau antar Mama aku pergi abis pulang sekolah ini,”
“Oh kemana?”
“Arisan,”
“Wih baik banget jadi anak cowok. Tumben lho anak cowok mau temenin Mamanya arisan,”
“Nganterin aja lebih tepatnya, kalau ditemenin sih nggak soalnya Mama ‘kan udah sama teman-temannya ngapain aku temenin lagi,”
“Ya udah deh,”
“Ini aku antar ke apart kamu atau rumah Zeline?”
“Apart dulu, aku mau ganti baju. Abis dari rumah Zeline mau jalan soalnya,”
__ADS_1
“Okay,”
Sepulang sekolah Vindra dan Anin pulang hanya berdu, tanpa Zeline karena Zeline yang sedang sakit.
Selain karena memang benar-benar mau mengantar mamanya untuk arisan, Vindra sebenarnya menghindari datang berdua ke rumah Zeline. Daripada salah di mata Zeline, lebih baik Ia dan Anin datang sendiri-sendiri saja.
“Makasih udah antar aku pulang, Vin,”
“Iya sama-sama, aku langsung balik ya,”
“Okay, hati-hati,”
Vindra menganggukkan kepalanya. Ia langsung melajukan mobilnya meninggalkan apartemen Anin menuju kediamannya.
Di rumah Rina sudah menunggu kedatangannya. Vindra izin untuk ganti baju sebentar setelah itu langsung mengantarkan mamanya ke tempat berlangsungnya arisan sang mama bersama teman-temannya.
“Aku rencananya mau ke rumah dia nanti sore, Ma. Aku izin ya,”
“Boleh dong,”
“Aku pengen tau keadaan dia, tadi Anin sih ngajakin bareng ke rumah Zeline cuma karena aku mau antar Mama jadi aku tolak aja deh, lagian aku mau sendirian aja ke sana,”
“Kenapa?”
__ADS_1
“Nggak apa-apa,”
“Takut Zeline cemburu? Hahaha,”
“Nggak, takut dia badmood aja gitu liat aku sama Anin datang berdua, apa-apa berdua. Ya walaupun sahabat sih,”
“Ya namanya juga perempuan, kamu harus bisa jaga hati makanya,”
“Ma, kayaknya aku udah jaga perasaan Zeline deh, tapi Zeline suka salah paham,”
“Ya karena kamu sahabatannya sama perempuan, coba kalaus ama laku-laki ya beda cerita,”
“Tapi aku sama Anin ‘kan nggak pernah macam-macam, Ma,”
“Coba kamu ingat-ingat dulu, kamu adik nggak sama pacar dan sahabat kamu? Hmm? Kalau misal kamu lebih unggul perhatian ke Anin, ya otomatis Zeline cemburu lah,” ujar Rina pada anaknya supaya lebih membuka pikirannya. Kalau Zeline cemburu pasti ada sebab. Pasti tidak jauh-jauh dari rasa ketidakadilan. Karena sahabat Vindra itu perempuan.
“Makanya yang wajar-wajar aja,”
“Aku wajar kok, Ma, sama siapa aja aku tuh bersikap wajar,”
“Mama senang banget kamu mau jagain Anin, perhatian sama Anin, tapi jangan pernah lupain Zeline, Nak,” ujar Rina.
“Iya aku nggak pernah lupain Zeline, Ma. Aku tau kok Zeline itu pacar aku, tapia ku ‘kan nggak mungkin juga jauhin Anin. Dia sahabat aku dari lama,”
__ADS_1
“Iya asal kamu nya adil aja, jangan hanya berpihak ke satu pihak. Karena Zeline itu ‘kan pacar kamu, Anin sahabat kamu, kalaus alah dikita ja bersikap bisa timbul kesalahpahaman di antara kalian bertiga,”
“Aku cinta sama Zelien, intinya gitu, Ma. Mau siapapun sahabat aku, Zeline ya tetap pacar aku,”