Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 136


__ADS_3

“Zel, lo nungguin siapa?”


“Driver gue,”


“Bareng gue aja yuk. Mau ‘kan lo? Takutnya lama driver lo,”


“Ya kalau gue sama lo, kasian dong Pak Han? Gue nggak mau. Lo pulang sendiri aja. Tapi makasih udah nawarin gue pulang bareng,”


Zeline menolak ajakan Juan bukan tanpa alasan. Hari ini seperti biasa Ia akan dijemput oleh supir di rumahnya. Karena Papanya tak bisa menjemput. Setelah tidak lagi bersama Vindra otomatis Zeline pulang dan pergi dengan papanya atau dengan supir. Ia merasa tidak sopan kalau tiba-tiba pulang dengan Juan sementara supirnya sudah menuju ke sekolah untuk menjemputnya.


“Lo yakin nih nggak mau pulang sama gue?”


“Nggak, lo pilang aja duluan sana,”


“Hmm okay kalau gitu gue cabut duluan ya. Hati-hati lo, Zel,”

__ADS_1


Zeline menganggukkan kepalanya dan tak lama kemudian Juan melaju dengan motornya yang berbadan besar dan kokoh meninggalkan sekolah.


Zeline masih menunggu di depan gerbang sambil memainkan ponselnya. Lalu tiba-tiba ada mobil yang berhenti di dekatnya, dan langsung membuka jendelanya.


“Zel, pulang bareng aku,”


Zeline langsung menolehkan kepalanya dan melihat ada Vindra dan Anin di mobil itu. Zeline mmendengus. Ia tdiak berharap diajak pipang bersama. Lebih baik Ia naik ojek online datipada harus pulang bersama Vindra dan Anin kalau memang seandainya sang driver tak bisa menjemputnya.


“Ayo pulang sama kita, Zel. Walaupun kamu udah putus sama Vindra tapi ‘kan kita bisa tetap berteman,” ujar Anin pada Zeline yang langsung merotasikan bola matanya. Berteman dengan Anin suka makan hati. Jadi lebih baik Ia gindari. Berteman dnegan Vindra juga sama. Cukup mengenal mereka baik saja, lebih datipada itu tidak perlu. Zeline rasa, hanya omong kosong sebagian orang yang bilang mantan bisa jadi teman. Kenyataannya banyak yang tidak seperti itu. Putus yang seperti apa dulu yang mantannya bisa dijadikan teman. Kalau putusnya karena merasa tak dihargai lagi, jangankan untuk menjadi teman, untuk basa-basi saja sudah malas.


“Ayo naik, Nin kamu pindah ya ke belakang,”


“Nggak usah, gue dijemput kok,” jawab Zeline dengan ketus.


Untuk apa Vindra menyuruh Anin pindah ke kursi belakang? Maksudnya supaya Ia duduk di depan, di sebelah Vindra seperti biasa? Perlu diingat, Ia bukan gadis istimewa bagi Vindra lagi, mereka bukan sepasang kekasih lagi jadi tidak perlu memperlakukan Ia serupa dengan saat Ia masih menjadi kekasih Vindra.

__ADS_1


“Ayo, Zel. Nanti ‘kan bisa dikabarin Pak Han nya. Lagian belum tentu beliau udah berangkat,”


“Orang udah berangkat ke sini kok dari rumah. Udah deh sana pulang aja duluan. Gue pulang sama Pak Han,”


Vindra menghembuskan napasnya dengan kasar lalu mengangguk dengan berat hati. Ia gagal pilang bersama Zeline siang ini karena Zeline bersikeras ingin pilang dengan drivernya dan Vindra tak bisa memaksa. Ia tidak mungkin memasukkan Zeline ke mobilnya secara paksa lalu Ia bawa pulang Zeline. Itu bentuk kejahatan dan Zeline akan semakin membencinya.


“Okay kalau gitu aku sama Anin duluan ya,”


Zeline menganggukkan kepala tak mau menatap ke arah Vindra ataupun Anin. Ia fokus saja dnegan ponsel.


“Kamu hati-hati, Zel,”


Tak ada tanggapan apa-apa lagi dari Zeline. Sejujurnya berat bagi Vindra meninggalkan Zeline sendirian walaupun katanya dia akan dijemput oleh driver. Karena mereka biasa pulang pergi bersama. Tapi Ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi kalau ajakannya sudah ditolak dengan tegas.


Setelah berpesan seperti itu pada Zeline, Vindra langsung bergegas melajukan mobilnya meninggalkan sekolah.

__ADS_1


Zeline mendengus melihat Vindra dan Anin yang sudah pulang bersama kemudian Zeline tersenyum sinis.


“Udah cocok deh mereka. Gue emang nggak pantes lagi ada di antara mereka berdua. Dipikir gue mau kali diajakin pulang bareng mereka lagi yang cuma basa-basi doang,”


__ADS_2