Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 176


__ADS_3

“Makasih banyak ya, Nin udah datang,”


“Sama-sama, Vin,”


Anin menemani mamanya datang ke acra sederhana ulang tahun Rina mama Vindra. Setelah acara selesai mereka langsung pamit untuk pulang.


Setelah mengantar Anin dan mamanya sampai masuk ke dalam mobil, Vindra segera masuk ke dalam sambil bergumam “Mau ngajakin Zeline jalan ah,”


Rina yang mendengar itu langsung menggelengkan kepalanya dan menahan senyum. Antusias Vindra karena Zeline mau datang ke rumah benar-benar belum pudar sedikitpun. Vindra keluhatan sangat senang karena Zeline mau datang ke rumah. Walaupun sedikit Ia paksa. Tapi setidaknya Vindra berhasil membawa Zeline ke rumahnya dan membuat kedua orangtuanya senang terutama sang mama yang tengah berulang tahun hari ini.


“Semangat banget ya anak itu, abis nganterin tamu ke depan gerbang, langsung pergi ke dalam,” ujar Rina.


Tamu terakhir sudah selesai dihantarkan sekaligus diberikan bekal untuk pulang ke rumah, Rina menyusul anaknya itu.


“Aku anterin ya, Zel,”


“Nggak, aku minta jemput aja sama Papa aku,” ujar Zeline pada mantan kekaishnya itu.


“Nggak mau ngerepotin,”


“Dih apaan sih, siapa yang ngerepotin coba? Ayok sama aku aja pokoknya,”


“Zel, udah mau pulang? Ya sama Vindra aja, Sayang. Biar Vindra yang nganterin kamu,” ujar Rina yang langsung membuat Vindra senang bukan main karena ada yang mendukungnya untuk mengantarkan Zeline ke rumah.


“Tapi nggak usah, Tante, aku nggak mau ngerepotin. Aku minta jemput Papa aja, papa aku udah sampai rumah juga,”


“Zel, udah nggak usah minta jemput Papa kamu, kasina capek baru pulang kerja juga kan. Mending diantar sama Vindra aja,”


Vindra semakin senang karena yang mendukungnya bertambah. Setelah sang Mama, sekarang gantian Papanya yang mendukung Ia untuk menjadi pengantar Zeline.


“Hati-hati di jalan ya,” pesan Rina.


“Vin, yang benar kamu bawa mobil,”


“Iya, Pa, aku pasti benar lah, kan bawa princess,” ujar Vindra sambil menaik turunkan alisnya menatap sang ayah yang tersenyum.


“Ayo, Zel,” ajak Vindra sambil mengulurkan tangannya berharap Zeline menyambut baik tangan yang sudah Ia ulurkan itu.


Tapi sayangnya Zeline mengangguk saja tanpa menerima uluran tangannya. “Ya udah ayo,” ajak Zeline.


Walaupun sedikit kecewa karena Zeline menolak uluran tangannya tapi masih ada yang membuatnya bahagia yaitu Zeline tak menolak Ia antar pulang. Itu artinya masih ada kesempatan untuknya bersama Zeline.


“Ini bekal buat Zeline,” ujar Rina sambil menyerahkan kue dua kotak, dan makanan lainnya yang disatukan dalam satu goodie bag.

__ADS_1


“Ini buat aku? Aku kan bukan tamu nggak usah dikasih ini, Tante,”


“Ish kata siapa bukan tamu? Kamu itu tamu istimewa,”


“Kalau aku anggap aja bukan tamu, Tante,”


“Nggak ah, tetap tamu, kamu tamu istimewa malahan,”


“Ya udah ayok pulang,” ajak Vindra.


“Asyik ada waktu berdua lagi,” batin Vindra yang benar-benar bahagia sekali.


“Tante, Om, aku pamit pulang dulu ya. Makasih banyak udah undang aku ke sini, malah ini dikasih bekal juga,” ujar Zeline seraya menatap makanan yang diberikan oleh Rina kepadanya.


“Iya, Sayang sama-sama. Makasih juga udah mau datang ke sini, bahkan ngasih kado juga. Itu bekal buat Zeline di jalan,”


“Kayak mau pergi jauh aja aku di kasih bekal,”


“Hahaha nggak-nggak apa, Sayang. Titip salam buat mama papa kamu ya,”


“Iya nanti aku sampein, Tante,”


“Hati-hati ya, sering ke sini, Zel,”


Vindra dan Zeline dihantarkan oleh orangtua Vindra hingga ke depan gerbang. Zeline melambai pada mereka yang begitu baik bersikap kepadanya walaupun Ia bukan lagi kekaish Vindra. Ia benar-bebar merasa dihargai, dianggap keluarga.


“Gimana Zel? Kamu senang nggak?”


“Senang lah, kan kalau buat orang senang pasti kita nya ikut senang. Orangtua kamu kelihatannya senang pas aku datang, jadi aku ikutan senang,”


“Untung aja ya kamu mau datang. Coba kalau nggak. Kasian Mama pasti galau banget,”


“Emang iya?”


“Lah kamu liat sendiri tadi gimana kecewanya mama pas aku bilang kamu nggak jadi datang, mukanya sebel campur sedih gitu, eh pas ada kamu langsung berubah, bahkan kamu dengar sendiri kan mama ngomel ke aku karena aku gagal bawa kamu ke rumah,”


“Kenapa ya Mama kamu bisa kecewa? Padahal kan aku bukan siapa-siapa lagi istilahnya, udah asing lah bisa dibilang karena hubungan kita udah nggak kayak dulu lagi,”


“Ya karena Mama udah terlanjur sayang sama kamu, Zel,”


“Aku bersyukur kalau memang benar begitu,”


“Orangtua kamu juga masih aja baik ke aku, masih kelihatan sayang sama aku, jadi wajar lah kalau kamu dapat perlakuan yang sama dari orangtua aku,”

__ADS_1


Vindra sendiri merasa sangat dihargai juga oleh orangtua Zeline walaupun statusnya bukan kekaish anak mereka lagi. Sewaktu Ia datang mengantar Zeline pulang misalnya, atau menjemput Zeline di rumah untuk mengajak Zeline pergi bersama ke sekolah, mereka menerima dengan baik kedatangannya walaupun Zeline sebaliknya karena Zeline merasa mereka tak ada status lagi jadi untuk apa pergi dan pulang skeolah bersama? Yang ada Zeline merasa risih apalagi kalau melihat berbagai reaksi penghuni sekolah bila melihat Ia dan Vindra turun dati kemdaraan bersama. Ada yang menatap dengan senyum ada juga yang menatap tak suka, mungkin itu barisan penggemas Vindra.


“Sampai di rumah nanti istirahat ya, kamu pasti capek ya?”


“Ah nggak kok, aku nggak capek,”


“Capek lah pasti, makanya nanti istirahat,”


“Kamu kenapa mau nganterin aku?” Tanya Zeline seraya menoleh pada lelaki yang duduk di sebelah kanan nya ini dan fokus mengemudikan mobil sambil bicara dengannya.


“Ya mau lah, siapa yang nggak mau nganterin princess?”


“Aku bukan princess! Aku Zeline, nama aku Zeline. Masa udah lupa sih?”


“Ya kamu princess, Zel. Princess nya orangtua kamu, dan princess nya—hmm isi sendiri deh,”


“Ngelantur kamu ah, nggak jelas ngomongin apa,”


“Hahahaha sewot amat sih,”


“Ya abisnya nggak jelas ngomongin apa. Udah mending diem deh, nyalain musik aja boleh nggak?”


“Boleh lah, apa sih yang nggak boleh buat kamu, Zel,”


“Ya udah beneran ya?”


Vindra menganggukkan kepalanya. Permasalahan menyalakan musik did alam mobil saja, Zeline harus izin dulu padanya, tidak perlu seharusnya.


“Apapun yang kamu mau kalau aku bisa nurutin ya paati bakal aku turutin lah, permintaan kamu man nggak aneh-aneh, apalagi ini cuma nyalain musik doang, nyalain aja, bebas kok,”


“Okay makasih, Vindra,”


“Sama-sama, nggak usah bilang makasih napa kayak aku kasih apaan aja,”


“Ya kan dikasih kebebasan untuk nyalain musik, biar ada hiburan gitu,”


Zeline segera mencari lagu-lagu yang tepat untuk Ia putar. Lagu dengan makna memberikan semangat untuk siapapun yang sedang merasa sedih menjadi pilihan pertama Zeline.


“Zel, kita tiap hari dong begini,”


“Hah? Maksudnya tiap hari Mama kamu ulang tahun terus aku datang ke rumah kamu?”


Pertanyaan Zeline langsung membuat tawa Vindra pecah seketika. Ia benar-benar merasa terhibur padahal Zeline bertanya serius. Menurut Zeline ucapan Vindra itu maknanya adalah Vindra ingin setiap hari mamanya ulang tahun dan Ia datang ke rumah Vindra.

__ADS_1


“Ya maunya sih begitu, cuma kan nggak mungkin,”


__ADS_2