
“Kemarin aku pulang sendiri karena kamu lebih milih untuk antar Anin. Terus tadi malam aku ketiduran nungguin kamu yang katanya mau ngajak aku makan tapi ternyata kamu ingkarin omongan kamu sendiri. Tadi malam kamu malah makan sama Anin. Udah sering banget kamu lebih pentingin Anin. Selama ini aku diam, Vin. Anin sahabat kamu dari kecil, tapi aku juga anggap dia sebagai sahabat aku kok. Cuma kenapa ya? Kok posisi aku sama dia lama-lama kayak kebalik? Kamu tau ‘kan siapa yang harusnya lebih kamu pentingin? Sekarang aku tanya, Pacar atau sahabat?”
Akhirnya Zeline mengeluarkan isi hatinya. Jujur Ia lelah karena semakin ke sini, Vindra seperti mengabaikannya, dan mengubah prioritasnya.
Ia adalah prioritas Vindra, itu awalnya. Tapi setelah kehadiran Anin, Zeline merasa posisinya tergeser. Zeline beberapa kali harus menelan kekecewaannya atau kesedihannya karena Vindra yang semenjak ada Anin selalu mengutamakan Anin. Zeline berusaha untuk menghilangkan semua perasaan itu karena biar bagaimanapun Anin adalah sahabatnya juga.
Tapi kali ini Zeline tak bisa menahan isi hatinya lagi. Puncak kekecewaan yang Ia rasakan adalah semalam, ketika Vindra lupa menepati janjinya.
Seharusnya, Ia dan Vindra pergi berdua tapi ternyata Vindra ingkar. Ia tunggu Vindra sampai ketiduran, dan Vindra tidak kunjung datang. Rupanya Vindra pergi makan dengan Anin semalam. Ia sebagai kekasih Vindra, dan sering dinomorduakan semenjak ada Anin, wajar ‘kan kalau merasa sekecewa ini? Zeline juga baru sekarang bicara soal apa yang Ia rasakan. Ia tidak terima ketika Vindra malah ingkar dengan janjinya sendiri padahal selama ini Vindra tak pernah melakukannya. Kalau Vindra sudah bicara akan mengajaknya pergi, maka Vindra akan menepati.
__ADS_1
“Iya aku minta maaf banget, Zel. Jadi semalam itu aku nggak bisa nolak permintaan Anin. Dia lagi nggak baik-baik aja, dia datang bulan dan pengen makan sesuatu bareng aku. Jadi ya udah aku turutin. Dan sumpah, aku udah chat kamu untuk minta maaf kalau aku nggak jadi dulu pergi sama kamu, tapi nggak tau kenapa chat aku malah nggak terkirim ke kamu. Aku benar-benar minta maaf ya, Zel. Aku janji nggak akan buat kamu kecewa lagi,”
“Nggak sekali dua kali lho, tanpa sadar kamu bikin aku sedih. Kamu ngerasa nggak sih posisi aku itu kayak tergeser sama Anin?”
“Nggak lah, Zel. Anin itu sahabat aku, dan kamu pacar aku,”
“Pacar atau sahabat?”
“Kamu pilih, pacar atau sahabat?”
__ADS_1
“Lho kok aku disuruh pilih kayak gitu? Ya nggak bisa lah, Zel. Kamu sama Anin itu sama-sama ada artinya di hidup aku. Tapi tetap aja kalian beda. Aku cinta sama kamu, Zel,”
“Ya tapi kamu lebih perhatiannya ke Anin, apa-apa Anin, aku makin lama makin mundur aja posisinya,”
“Aku pilih pacar! Aku pilih kamu. Aku minta maaf kalau memang persahabatan aku sama Anin bikin kamu nggak nyaman,”
“Siapa bilang? Aku nyaman-nyaman aja asal kalian wajar! Aku nggak masalah kamu mau sahabatan sama Anin, aku anggap Anin juga sahabat aku kok. Kamu bisa liat sendiri ‘kan selama ini? Yang bikin aku kecewa itu, kamu lupa kalau kamu pacar aku, Vin! Yang biasanya nggak pernah ingkar sama janji, semalam kamu ingkar! Yang biasanya perhatian banget sama aku, jadiin aku prioritas tiba-tiba setelah ada Anin mulai berubah, semuanya kayak berpindah ke Anin,”
Vindra langsung merangkum kedua sisi wajah kekasihnya, Ia menatap Zeline dengan sorot mata yang dalam dan meyakinkan.
__ADS_1
“Aku sayang sama kamu, kamu itu pacar aku. Dan Anin sahabat aku. Aku minta maaf kalau selama ada Anin, kamu kecewa karena sikap aku ke dia menurut kamu berlebihan. Aku minta maaf, tolong jangan marah lagi ya. Aku janji bisa lebih baik lagi jadi pacar kamu, aku nggak mau bikin kamu kecewa lagi,”