Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 65


__ADS_3

“Kamu jangan marah sama aku dong,”


Vindra meraih kursi teman Zeline dan Ia tarik agar dekat dengan Zeline. “Zel, aku benar-bsnar minta maaf udah ke kantin duluan,”


“Orang aku nggak marah kok. Kamu kenapa ngira aku karah sih? Aku bingung deh,”


“Aku tau kamu marah sama aku, jangan bohong, Zel. Kamu marah ‘kan karena aku duluan ke kantin sama Anin?”


“Nggak!”


“Jujur sama aku,”


“Orang dibilang nggak ya nggak! Kamu paham nggak sih? Ngerti bahasa manusia nggak?”


“Jangan kasar gitu, aku ‘kan ngomong baik-baik sama kamu,”


Vindra meraih tangan kekasihnya itu dan Ia genggam dengan lembut. Kali ini Zeline tidak menolak.


“Aku minta maaf, dan maafin Anin juga ya,”


“Lho bukannya kamu sendiri bilang kalau Anin tuh nggan salah? Aku nggak nyalahin Anin juga kok jadi kenapa kamu minta maaf atas nama dia?”

__ADS_1


“Ya soalnya kamu kayak nggak terima gitu waktu aku bilang Anin nggak salah, jadi ya udah aku akuin kalau Anin salah, dan aku minta sama kamu, tolong maafin aku dan Anin. Kami berdua smang salah udah ninggalin kamu. Kami usah ke kantin duluan sementara kamu nungguin di dalam kelas. Maaf banget ya, plis jangan marah lagi,”


“Ya udah sana deh, jangan bahas itu lagi. Aku nggak mau,”


“Kamu ngusir aku?”


“Bentar lagi waktunya guru masuk. Udah saja keluar, jangan di sini lagi. Aku nggak ngundang kamu,”


“Aku minta maaf, Zel,”


“Iya udah aku maafin. Udah sana ah,”


Zeline menatap Vindra dengan kesal. Zeline sudah meminta kekasihnya itu pergi namun dia tetap saja bertahan.


“Tapi kamu nggak marah lagi ‘kan?”


Zeline menggelengkan kepalanya. Walaupun mulutnya bilang tidak marah, tidak kesal, tapi tetap saja Vindra bisa tahu yang sebenarnya dirasakan oleh kekasihnya itu.


“Gini deh, biar kamu nggak marah lagi—“


“Aku nggak marah! Jangan bulak balik ngomong gitu deh. Aku capek tau ngulanginnya,”

__ADS_1


“Hei, aku tau kamu masih marah sama aku,”


Vindra menepuk pelan punggung tangan Zeline yang masih Ia genggam saat ini. Kemudian Ia sengaja mengguncang pelan tangan Zeline seperti anak kecil yang sedang bermain


“Sebagai permintaan maaf aku. Gimana kalau nanti pulang sekolah kita—nonton bioskop? Gimana? Mau nggak?”


“Nggak ah, kalau mau nonton ramae-rame, mending nonton di rumah. ‘Kan rame juga tuh. Ada mama papa aku, ada asisten rumah tangga, ada penjaga, ada—“


“Nggak, cuma berdua doang kok. Nggak rame, aku janji,” ujar Vindra yang tahu maksud dari kata ‘ramai’ yang diucapkan oleh kekasihnya itu.


Vindra tahu Zeline inginnya keteka menonton hanya berdua tanpa ada siapapun yang ikut bersama mereka.


“Nggak ada Anin kok, aku tau kamu nggak mau ‘kan kalau kita nontonnya nggak berdua? Iya aku turutin. Aku sama kamu aja yang nomton, beneran deh aku nggak bohong,”


“Ntar takutnya berubah pikiran,”


“Nggak kok, beneran cuma kita berdua, aku janji, serius,”


Vindra sampai mengangkat dua jarinya saat bilang ‘janji’ untuk meyakinkan kekasihnya itu yang semakin hari semakin rindu dengan momen berdua mereka karena sudah semakin jarang ada.


“Ya udah ayo,”

__ADS_1


“Yess! Okay nanti pulang sekolah ya?”


Zeline menganggukkan kepalanya. Jawaban Zeline sesuai yang di harapkan oleh Vindra. Maka dari itu Vindra bahagia sekali rasanya.


__ADS_2