
“Alhamdulillah akhirnya datang juga yang ditunggu-tunggu. Duh, rindu banget sama sahabat satuku ini,”
Rina langsung memeluk Ninda yang baru saja tiba bersama anaknya di kediaman Vindra. Ria sengaja mengundang Ninda yang baru pulang dari Jepang supaya mereka bisa melepas rindu.
“Sama, aku juga rindu banget tau sama kamu. Alhamdulillah bisa ketemu lagi ya,”
“Ayo duduk-duduk,”
Rina langsung mempersilahkan Ninda dan Anin untuk duduk di ruang tamu yang dimana mejanya sudah terdapat minuman serta beberapa jenis kue.
“Gimana rasanya ketemu lagi sama anak setelah beberapa bulan pisah, Nin?” Tanya Rina pada sahabatnya itu.
“Hmm jangan ditanya. Mau nangis lah aku, tapi bukan karena sedih. Aku mau nangis karena aku senang banget akhirnya ketemu anakku lagi. Udah kangen banget sama dia,” ujar Ninda seraya merangkul bahu Anin yang duduk di sebelahnya saat ini.
Rina tersenyum nendnegar cerita Ninda. Jelas saja seperti itu reaksi Ninda ketika bertemu lagi dengan Anin. Rina tahu bagaimana tidak enaknya harus menahan rindu dengan anak, apalagi Anin ini anak perempuan, pasti benar-benar berat melepaskannya sendirian seklaipun di negaranya sendiri.
“Dan dia bilang kayaknyannggak mau lagi hidup mandiri, karena nggak enak,” Ninda menceritakan anaknya yang dulu menggebu-gebu ingin hidup mandiri di Indonesia sekentara kedua orangtuanya masih harus di Jepang, sekarang justru tidak mau hidup mandiri lagi setelah bertemu dengan mamanya.
“Udah nempel lagi sama Mamanya pastilah berat banget untuk pisah lagi,”
“Aku memang rencananya udah mau netap di sini lagi, Rin. Kalau Julion emang masih harus stay di sana untuk sebulanan ini kayaknya,”
“Senang aku dengarnya, jadi Anin nggak semdirian lagi? Terus kalian berdua tinggal dimana sekarang? Udah balik ke rumah atau maish di apartemen?”
“Anin maish mau di apartemen, masih sepi katanya kalau cuma berdua, jadi dia nunggu Papanya aja baru balik ke rumah,”
“Oh gitu, iya deh gimana maunya Anin aja,”
“Makaish ya, Rin. Selama nggak ada aku, banyak banget kebaikan kamu, Vindra, dan Hadi ke Anin. Makasih banyak udah anggap Anin keluarga sendiri. Dijagain banget Aninnya apalagi sama Vindra. Aku tau itu nggak lepas dari permintaan kamu dan Hadi ke Vindra. Makasih banyak ya,”
Rina tersenyum dan mengusap lengan Ninda dengan lembut. “Nggak perlu bilang makasih. Kita semua ‘kan keluarga, jadi ya harus saling jaga, salings ayang satu sama lain,”
“Aku selalu ingat sama cerita-ceritanya Anin tentang kebaikan kalian. Vindra yang suka datang ke apartemen bawa makanan titipan kamu, Anin yang diajakin nginap di rumah kalian ini, Vindra yang jadi supir antar jemputnya Anin. Belum lagi kalau Anin sakit, kepedulian kalian nggak pernah hilang. Kebaikan kalian luar biasa banget. Aku bersyukur punya kalian di hidup aku,”
“Iya, Nin. Jangan bilang makasih ah. Anin itu ‘kan anakku juga. Jadi ya harus dijagain, dan disayang dong,”
“Maaf ya kalau selama ini Anin bikin repot, bikin kalian nggak nyaman. Maafin kesalahan-kesalahan Anin,”
“Wh jangan ngomong begitu. Anin nggak bikin repot sedikitpun, dia anak yang baik, anak yang nurut. Mana ada ceirtanya ngerepotin keluarga? Nggak ada lah, yang namanya keluarga ya memang harus ada satu sama lain,” ujar Rina.
“Vindra, makasih banyak ya, Sayang,”
Vindra yang sedari tadi diam memilih menjadi pendnegar langsung tersneyum dan menganggukkan kepalanya.
“Iya sama-sama, Tante,”
“Maaf ya kalau Anin sering ngerepotin,”
“Nggak kok, Tan. Anin nggak pernah bikin repot sama sekali,”
“Ah masa sih? Bohong kali nih,” ledek Anin pada Vindra yang Ia duga tak menjawab jujur.
“Lah beneran, Nin. Nggak ada istilahnya ngerepotin, benar kata Mama. Karena kita ini udah jadi keluarga,”
******
“Duh yang lagi jatuh cinta sama boneka pemberian pacar, sampe dipelukin mulu itu,”
Zeline sedang memeluk boneka sambil berbaring dan Ia tidak tahu kalau diam-diam Reta membuka pintu kamarnya. Maka ketika Reta bersuara, Zeline langsung tersentak kaget.
“Duh Mama. Kaget aku, Ma,”
“Hahaha lagi ngelamun sambil melukin boneka? Hmm?”
“Iya dnak ngelamun sambil peluk boneka,”
“Jangan sering-sering ngelamun, nggak bagus,”
“Iya, Ma. Aku lagi nggak tau mau ngapain nih. Abis ngerjain tugas, terus scroll instagram. Setelah bosan, aku akhirnya baringan dan ngelamun deh,”
“Tumben nggak telponan sama Vindra,”
“Hmm tadi Vindra bilang lagi ada Anin sama Mamanya di rumah. Jadi dia minta maaf kalau belum bisa sering-sering buka handphone. Nanti dia telepon katanya, Ma,”
“Oalah, ya udah nggak apa-apa. Dlang harus begitu kalau ada tamu. Masa tuan rumahnya sibuk sendiri, ‘kan nggak enak kalau gitu. Tapi dalam rangka apa Anin sama Mamanya diundang ke rumah Vindra, Sayang?” tanya Reta sambil mendekat ke arah Zeline yang maish berbaring di tempat tidur. Ketika Reta duduk di tempat tidur, Zeline juga ingin duduk namun Mamanya melarang. “Udah nggak apa-apa baringan aja, pasti pegal ‘kan habis kerjain tugas. Mama cuma mau ngobrol santai aja kok,”
__ADS_1
“Mama baringan aja sini sebelah boneka aku,”
“Ah males Mama baringan di kasir kamu, kanan kiri liatnya boneka,”
“Heheheh ya begitulah, Ma,”
“Jadi gimana? Pertanyaan mama belum dijawab nih,”
“Oh iya maaf, Ma. Jadi orangtua Vindra sama Anin itu udah saling kenal, Ma. Mereka dekat banget. Terus ‘kan, Mamanya Anin itu baru pulang dari Jepang, jadi mungkin jarena itu Mamanya Vindra ngundang Anin dan Mamanya ke rumah. Ya supaya bisa lepas kangen istilahnya,”
“Oh begitu ceritanya. Pantas ya anaknya bersahabat, karena Mama-Mamanya juga bersahabat baik,”
“Iya, Ma,”
“Kamu sendiri udah pernah ketemu Mamanya Anin?”
“Udah kok, Ma. ‘Kan aku waktu jenguk Anin ketemu sama Mamanya,”
“Masih tinggal di apartemen?”
“Nggak tau juga kalau sekarang, Ma. Waktu aku datang beberapa hari laku sih masih di apartemen. Aku lupa juga nanyain Anin,”
“Hubungan kamu sama Anin baik-baik aja ‘kan?”
“Iya, Ma. Baik-baik aja kok sejauh ini, dan semoga seterusnya kayak gitu. Aku nggak mau berantem-berantem. Ribet soalnya,”
“Iyalah, Nak. Untuk apa berantem itu. Nggak enak punya musuh, apalagi kalau musuhnya itu sebelumnya adalah teman kamu,”
“Iya, Ma,”
“Akur-akur lah kalian ya,”
“Iya, Ma,”
“Jangan ada cemburu-cemburuan,”
Zeline terdiam, apa Mamanya tahu Ia suka merasa cemburu pada Anin? Bahkan sampai sekarang masih, hanya saja Ia terus berusaha untuk menekan rasa cemburu itu.
“Kok Mama tau?”
“Hehehe iya jujur, Ma,”
“Jangan, baik-baik sama teman,”
Zeline nenghembuskan napas kasar. Sebenarnya Ia iuga tidak kau merasa cemburu apda siapapun itu apalagi orang terdejatnya, orang yang bisa dibilang adalah sahabatnya. Karena jujur aaja merasa cemburu itu melelahkan.
Cemburu itu bikin lelah jiwa, lelah pikiran, lelah semuanya. Tapi kalau dipancing, Ia hanya manusia biasa yang mudah terpancing. Kalau melihat Vindra lebih mengutamakan sahabatnya itu, pasti Ia merasa cemburu. Apdahal sebenarnya Ia juga tidak kau seperti itu.
“Ya udah jangan cemburu-cemburu lagi ya, baiklah sama teman. Berpikir postif aja, ya kalau jodoh ‘kan nggak kemana,”
“Ya gimana aku nggak cemburu ya, Ma? Kadang, aku tuh bingung. Vindra perhatian banget sama Anin, dia jagain Anin, dia baik banget sama Anin sampai-sampai aku yang pacarnya tuh suka kerasa iri. Iya aku tau iti itu nggak baik, cuma aku ‘kan boleh merasa cemburu, aku punya hak ‘kan, Ma? Apalagi aku perempuan yang hatinya tuh lebih sensitif, ditambah lagi Vindra itu pacar aku, jadi ada rasa memiliki dalam diri aku atas Vindra. Kalau liat Vindra baik ke yang lain, perhatian ke yang lain walaupun itu sahabat, tetap aja bawannya tuh hati aku kesal, nggak terima, aku juga bingung harus gimana, Ma,”
“Ya udah, Sayang. Jangan dibikin pusing. Namanya pacaran wajar lah ada aja cemburunya, tapi menurut Mama sih uangan sampai ya pertemanan jadi hancur jarena laki-laki. Lagian kamu ‘kan bisa liat Anin tuh gimana ke Vindra? Apa keliatan ada rasa suka? Dan dia mengakui Vindra sebagai apa?”
“Sahabatnya aja, aku nggak bisa baca isi hati dia, Ma,”
“Ya semoga nggak macam-macam lah baik itu Vindra ataupun Anin. Vindra sayang sama kamu dan Naik bisa liat itu sendiri. Insya Allah hubungan kalian bertiga bakal baik-baik aja seterusnya,”
“Aamiin, aku iuga sebenarnya males cemburu-cemburuan, apalagi sama orang yang dekat sama aku. Cuma ya…gimana. Aku galau kalau liat Vindra udah perhatian sama Anin, tapi aku cuma bisa nahan itu aja kadang supaya nggak ada perdebatan, tapi kalau menurut aku udah bikin aku kesal banget ya aku bakal marah. Kayak misalnya kejadian waktu itu aku pulang sendiri naik angkutan umum, karena Vindra lama banget nggak keluar-keluar dari apartemen Anin yang ternyata kehilangan kunci pintu apartemen. Ya harusnya Vindra ngabarin aku lah biar aku nggak nungguin dia,”
Reta terkekeh mendnegar curhatan anaknya itu. Reta mengusap keoala Zeline sambil berpesan “Udah jangan galau-galau, kalau nanti dampaknya ke mental kamu, ke pendidikan kamu. Katakan tidak pada galau apalagi galau karena cowok. Ah jangan sampai terjadi itu. Rugi kamu nya,”
“Iya, Mamaku sayang,”
*******
Vindra dan Mamanya mengantarkan tamu mereka hingga ke depan gerbang. Setelah kurang lebih dua jam di rumah, makan sambil banyak mengobrol, Anin dan Mamanya memutuskan untuk pulang dan dijemput oleh driver.
“Hati-hati ya, Kabarin kalau udah sampai,”
“Sip, nanti aku kabarin. Makasih banyak ya jamuannya,”
“Sama-sama, sering ke sini ya pokoknya. Jangan sungkan,”
“Iya tapi ngerepotin,”
__ADS_1
“Ih jangan ngomong gitu ah. Nggak ngerepotin,”
“Makasih banyak juga, Vindra,”
“Iya, Tante sama Anin udah berapa kali bilang makasih ya? Aku sampai nggak bisa ngitung,”
Mereka tertawa dan Rina membenarkan ucapan anaknya itu. Memang sudah berulang kali mereka mengucapkan terimakasih.
Setelah Anin dan mamanya pulang, Vindra langsung meraih ponselnya di dalam saku dan duduk di halaman depan rumahnya.
“Mau duduk di situ?”
“Iya mau ngebucin dulu, Ma,”
“Oalah hahaha iya deh silahkan. Salam buat Zeline ya,”
“Nanti aku sampein ya, Ma,”
“Okay Mama masuk kalau gitu ya,”
Vindra menganggukan kepalanya membiarkan sang Mama masuk ke dalam rumah sementara Ia bertahan di kursi halaman rumahnya.
Ia menghubungi nomor Zeline sekali namun tak ada jawaban, yang kedua kali juga seperti itu. Vindra mulai khawatir. Padahal tadi Ia sudah katakan pada Zeline kalau nanti Anin dan Mamanya sudah pulang Ia akan menghubungi Zeline, dan Zeline juga sudah membaca pesannya. Tapi sekarang Zeline tidak menerima panggilan darinya.
“Apa Zeline marah ya sama gue?” Batin Vindra yang langsung berpikir kalau Zeline tidak senang karena Ia tidak mengutamakan Zeline.
“Masa iya sih dia nggak pengertian banget? ‘Kan dia pasti pernah dong punya tamu, masa iya harus pegang handphone terus? ‘Kan nggak enak,”
*******
“Udah belum nangkepnya, Pa? Aku bosen nih,”
Zeline bertopang dagu mengamati Papanya yang baru pulang bekerja langsung mengajak Ia pergi ke empang untuk memancing. Hal yang disukai oleh Richie selain olahraga adalah memancing.
“Main handphone aja biar nggak bosan,”
“Handphone aku mati nih,”
“Lho kok bisa? Rusak?”
“Nggak, batre nya udah habis, Pa,” ujar Zeline sambil merengut dan memutar-mutar handphonenya sendiri di atas bambu yang menjadi tempat duduknya.
“Ya udah mainin handphone Papa gih,”
“Ah nggak ada yang seru. Nggak ada sosmed, nggak ada game, nggak ada whatsapp aku,”
“Tinggal instal, Nak. Kala whatsapp sih Papa udah ada ya tapi isinya ya kerjaan-kerjaan Papa, nggak ada bucin-bucinannya Vindra,” goda lelaki yang hobi memancing itu apda anak peremluannya yang harang-jarang mau diajak memancing. Niat hati supaya tidak bosan menunggu Vindra menghubungi makanya Zeline terima ajakan papanya untuk memancing tapi ternyata Ia tidak sadar daya baterai ponselnya tinggal sedikit ketika berangkat ke tempat pemancingan, dan baru saja ponselnya itu mati karena kehabisan daya setelah satu jam Ia sempat mainkan dulu untuk menonton film.
“Ih Papa jangan ngeledek kayak gitu,”
“Lah ‘kan emang benar, di WA papa nggak ada bucin-bucinannya Vindra jadi pasti kamu nggak tertarik deh sama WA papa,”
“Emang nggak, pusing aku liat kerjaan Papa, atau obrolan Papa sama teman-teman Papa,”
“Nggak bawa powerbank?”
“Nggak, kalau bawa udah aku pakai, Papaku sayang,”
“Ya udah sabar, setengah jam lagi deh, baru juga dapat dua,”
“Ih lagian aku heran deh, kenapa sih harus capek-capek mancing? ‘Kan bisa beli langsung aja kalau emang kepengen makan ikan,”
“Beda dong, Sayang. Kalau mancing ‘kan hasilnya didapat dengan penantian yang membosankan sekaligus menegangkan, nah kalau beli ikan gampang, tinggal pergi bentar ke pasar, cari tulang ikan kasih uang terus kita dapat deh ikan yang kita mau,”
“Nah begitu kebih dnak ketimbang mancing,”
“Ya namanya hobi, Nak. Kayak kamu hobi nonton drakor, memurut Papa itu buang-buang waktu, nguras emosi,”
“Mancing juga buang waktu, Papa,”
Zeline tidak ingin kalah. Menurutnya memancing juga salah satu kegiatan yang membuang waktu sia-sia. Padahal kalau ingin ikan tinggal beli, daripada lelah menunggu hasil pancingan.
“Beda, kalau mancing ‘kan diajarin sabar,”
“Kalau nonton drakor emang diajarin apa, Pa?”
__ADS_1
“Diajarin galau,”