Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 59


__ADS_3

“Eh sebelum kita berangkat, aku mau ngasih seuatu buat kamu,”


“Udah nanti aja. Nanti kita telat,”


Zeline masih membawa rasa kesalnya karena teaksi Vindra baisa-biasa saja setelah Ia sengaja mengulur waktu berangkat sekolah. Sampai di mobil Vindra pun Zeline masih kesal. Yang ada dalam bayangannya Vindra itu memarahinya.


“Kamu kok lama banget sih? Aku udah nungguin lumayan lama lho. Kamu ngapain aja? Biasanya juga nggak lama. Kita jadi telat deh nanti!”


Tapi ternyata kenyataannya tidak sesuai dengan apa yang ada di dalam pikirannya. Kekasihnya itu tidak ada kesal sedikitpun. Padahal niat Zeline membuat Vindra kesal dengan cara seperti itu. Yang ada malah terbalik, Zeline yang kesal.


“Kamu yakin aku kasih hadiahnya nanti aja?”


“Iya,”


Jujur Vindra kecewa karena Zeline menolak ketika Ia hendak memberikan hadiah yang sengaja Ia siapkan untuk Zeline. Tapi karena apa yang dikatakan oleh Zeline itu benar jadi Ia simpan niatnya untuk memberikan hadiah itu sekarang. Daripada mereka jadi terlambat sampai dia ekolah, lebih baik memang nanti saja Ia berikan hadiah itu.


“Oh iya ngomong-ngomong Anin kemana, Vin? Kok nggak bareng kita hari ini? Tumben ya,”


“Dia nggak sekolah,”


“Lho, emang kenapa?”


“Nggak enak badan,”


“Oh gitu, sakit apa?”


“Ya katanya sih tenggorokannya tadi pas bangun sakit banget, terus kepalanya juga pusing. Dia takut nggak kuat sekolah makanya izin nggak sekolah hari ini,”


“Kamu nggak jenguk Anin?”


“Belum sih emang kenapa?”


“Ya..nggak apa-apa. Kalau jenguk, aku ikut,”


Vindra menganggukkan kepalanya. Tak ada pembicaraan apapun lagi di antara Ia dan kekasihnya hanya ada suara musik yang diputar dan itupun sangat pelan. Zeline tidak mau terlalu hening makanya memutar playlist.


“Vindra, kamu ke toko boneka tuh ngapain sih?”


“Ya ampun masih dibahas aja. Ya emang aku nggak boleh gitu kalau ke toko boneka? Hmm?”


“Boleh sih, cuma ‘kan aneh aja gitu. Masa cowok ke toko boneka sih? Harusnya ke toko apa kek gitu. Toko tempat beli playstation, toko sepatu, ‘kan biasanya cowok-cowok begitu ya,”


“Nggak ada salahnya kok, Zel,”


“Iya emang nggak ada salahnya sih. Ah ya udah deh nggak usah dibahas,”


Vindra tertawa mendengar Zeline yang awalnya membahas, lalu tiba-tiba dia juga yang mengakhiri pembahasan tentang toko boneka yang ternyata masih membuat perempuan itu bingung.


“Kamu aneh, kamu yang bahas duluan tadi,”


“Iya nggak usah dilanjut deh,”


“Ya makanya ngapain bahas hal yang udah kita bahas sebelumnya? Buang waktu, buang energi tau nggak?”


“Ya abisnya aku penasaran!”


“Yang jelas aku ke sana nggak beli boneka buat siapa-siapa entah itu buah diri aku sendiri, buat mama, buat Anin, nggak sama sekali,” ujar Vindra dengan lugas yang membuat Zeline akhirnya bingung.


“Seriusan?”


“Iyalah, emang ada tanda-tanda aku nggak serius ya?”


Zeline mengamati wajah kekasihnya dari samping kemudian Ia menggelengkan kepalanya. “Nggak sih, kayaknya nggak bohong, cuma kok aku masih susah percaya ya?”

__ADS_1


“Ya ampun, okay lah terserah kamu aja. Aku nggak bisa maksa kamu untuk percaya sama aku, Zel,”


“Maaf yankalau aku nggak percaya,”


“Kok minta maaf? Kamu nggak salah kok, jadi nggak usah minta maaf ya,”


Vindra mengusap puncak kepala Zeline yang mengaku bahwa dirinya tidak percaya dengan penjelasan Vindra.


Vindra bisa apa kalau Zeline kekasihnya tidak percaya? Ia tidak bisa memaksakan orang supaya percaya kepadanya.


Mereka telah tiba di area parkir sekolah. Keduanya langsung keluar dari mobil bersamaan dan berhubung belum waktunya masuk, jadi Vindra putuskan untuk memberikan hadiahnya sekarang kepada Zeline.


“Zeline tunggu bentar!”


Vindra masuk lagi ke dalam mobil untuk mengambil hadiah yang sudah Ia siapkan untuk kekaishnya itu, dan Zeline yang semula dudah mengambil satu langkah akhirnya memutar tumit sambil bertanya


“Kenapa?”


Vindra menutup pintu mobil dan Zeline bingung melihat kekasihnya menjinjing paper bag.


“Kamu bawa apaan itu, Vin?”


“Ini buat kamu, tadinya ‘kan mau dikasih sebelum berangkat ke sekolah tapi kamu bilang nanti aja. Nah sekarang aku rasa waktu yang tepat jadi tolong diterima ya. Nggak seberapa sih, tapi aku harap kamu suka sama apa yang aku kasih, semoga kamu nggak kecewa sama hadiah aku ini,”


“Ya ampun, ini beneran buat aku?”


Zeline terkejut ketika tiba-tiba diberikan hadiah padahal ini bukan hari ulang tahunnya dan ini juga bukan hari ajdi hubungan mereka.


“Ini dalam rangka apa ngasih hadiah buat aku?” Tanya Zeline pada kekasihnya itu sebelum Ia membuka paper bag yang diberikan oleh kekasihnya itu.


“Nggak dalam rangka apa-apa sih sebenarnya. Lagi pengen ngasih sesuatu aja ke kamu. Semoga kamu suka ya, nggak kecewa sama pemberian aku ini,”


“Ya nggak mungkin kecewa lah kalau aku kecewa tandanya aku nggak bersyukur. Makasih banyak ya. Ini untuk sogokan supaya aku nggak ngambek lagi ya?”


“Okay nggak apa-apa, aku terima dengan senang hati. Sekarang aku buka ya hadiah dari kamu. Makasih banyak lho, aku nggak nyangka dapat ini,”


“Iya, belum juga dibuka udah bilang makasih mulu,”


“Ya harus, aku ‘kan menghargai kamu. Coba ah aku buka sekarang,”


Sejujurnya Zeline lumayan gugup membuka perekat paper bag yang ada di tangannya sekarang itu. Begitu Ia buka awalnya Ia bingung apa yang ada did alam plastik dapam keadaan di press.


“Ini apa? Selimut ya? Kok halus banget sih keliatannya? Kayak bulu-bulu gitu,”


“Bukanya ntar aja di rumah, soalnya itu aslinya gede makanya dipres dalam plastik,”


“Hah? Emang apa?”


“Ya udah nanti aja dibukanya,”


“Sekarang aja deh,”


“Eh itu gede banget lho,”


“Nggak apa-apa, aku penasaran soalnya. Nggak sabaran kalau nunggu sampai rumah baru dibuka,” ujar Zeline seraya berusaha untuk membuka palstik yang menjadi pengemas terakhir barang di dalamnya yang berwarna merah muda, kelihatan sangat halus.


“Kok kayak bon—ARGHHHH BENERAN BONEKA! INI KAN YANG AKU MAU!”


Setelah berhasil membuka plastiknya, Zeline sampai tidak kampu lagi melanjutkan kata-kata katena Ia terlalu kaget melihat isinya.


Yang Ia dapati sekarang adalah boneka my melody yang menjadi incarannya kemarin. Bahkan Ia sudah punya niat untuk menabung sisa uang bulanannya supaya bisa membeli boneka tersebut. Zeline menolak dibelikan mamanyanakrena Ia benar-benar ingin membeli dengan uang miliknya sendiri.


“Hah? Ini incaran kamu? Seriusan nih?” Vindra sedikit meragukan ucapan kekasihnya. Ia akans angat bahagai kalau nemang benar boneka itu adalah imcaran kekasihnya. Itu ebradti pemberiannya tidak sia-sia dan sudah pasti Zeline menyukainya.

__ADS_1


“Iya serius banget! Kok kamu bisa tau sih? Kamu cenayang atau gimana?”


“Ya aku milih aja sebenarnya, tanpa tau kalau itu incaran kamu, Zel,”


“Ya ampun, makasih banyak ya,”


“Sama-sama,”


“Tapi kenapa sih harus dipress? Dia kasian tau nggak bisa napas, lagian agak lecek gini deh jadinya,”


Vindra tertawa mendengar ucapan Zeline yang kelihatan sedih sambil mengusap wajah bonekanya.


“Iya maaf soalnya aku pikir itu boneka gede, jadi kalau aku bawa kayak gitu ‘kan takut dinilai aneh ‘kan sama orang-orang makanya aku minta bungkus, supay nggak makan banyak tempat aku suruh pelayan tokonya untuk ngepress sampai benar-benar kempes hahaha. Maaf ya, aku nggaka da niat bikin dia jadi lecek,”


“Iya nggak apa-apa, nggak keliatan sih sebenarnya, cuma kasian aja dia kegencet dalam plastik. Tapi nggak apa-apa kok, ini cantik banget bonekanya walaupun abis kamu siksa dalam plastik,”


“Maaf ya sekali lagi, aku sengaja supaya nggak diliatin aneh sama orang-orang. Ini yang bawa aku sendiri lho dari tokonya,”


“Kamu milih sendiri juga?”


“Iya dong, mama aku sama Anin sempat kasih saran sih, cuma setelah aku pertimbangkan kayaknya aku lebih milih apa kata hati aku aja deh, eh ternyata jodoh sama kemauannya kamu. Kebetulan kamu emang lagi mau ini,”


“Iya aku ngincar banget. Pengen dibeliin sama Mama, tapi aku nggak mau. Aku bilang, aku bakal nabung uang jajan bulanan aku supaya bisa beli boneka ini. Eh tapi tenryata tanpa aku nabung kamu udha beliin. Duh aku senang banget,”


“Suka nggak?”


“Suka banget dong,”


“Tapi nggak malu bawa-bawa boneka gitu? Makanya aku bilang nggak usah dibuka di sini, cukup kamu buka aja paper bag nya. Eh kamu malah buka plastiknya juga,”


“Lho, kenapa harus malu? Ini ‘kan dikasih kamu, bukan hasil maling, atau minta. Kamu ikhlas ‘kan ngasih ini ke aku?”


“Ya ampun, bisa-bisanya nanya kayak gitu, ya iyalah aku ikhlas, Zel,”


“Hahahaha bercanda. Kamu udah pasti ikhlas, aku tau itu. Makasih ya,”


“Zel, udah nggak kehitung makasih dari kamu tuh,”


Vindra sudah beberapa kali mendengar kata ‘terimakasih’ dari kekasihnya itu. Tidak ada bosan-bosan Zeline mengatakannya. Zeline merasa sangat bahagia mendapatkan boneka dari Vindra.


“Maaf ya aku cuma ngasih itu aja,”


“Astaga, jangan ngomong gitu. Ini aja aku udah sangat bersyukur banget. Apapun yang kamu kasih, aku selalu senang kok, aku nggak kiat dari apa dan berapa. Kamu ngaishnyandengan ketulusan atau keikhlasan aja aku udah senang luar biasa. Aku sampai sekarang masih nggak habis pikir kok bisa ya kamu tau aku lagi kepengn boneka ini?“


“Ya mungkin jodoh kali, jadi bisa baca pikiran deh,”


“Iya kali ya? Atau kamu nih sebenarnya cenayang ya?”


“Hahaha ya kali aku cenayang. Kamu emang mau pacaran sama cenayang?”


“Nggak sih,”


“Ya udah yuk kita masuk ke kelas. Kamu serius nggak malu bawa boneka ke kelas?”


“Nggak, cuma pasti kotor ya?”


“Oh iya! Aku baru ingat, kamu ‘kan bisa simpan di mobil aku dulu,”


Zeline langsung menepuk keningnya. Ia baru ingat kalau kendaraan kekaishnya itu bisa digunakan sementara sebagai tempat penyimpanan boneka yang Ia dapat dari si pemilik mobil.


“Kenapa aku nggak ingat juga ya?”


“Namanya juga jodoh, yang satu lupa, yang satu lagi juga lupa,”

__ADS_1


__ADS_2