Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 146


__ADS_3

“Vindra kan masih aja gangguin anak Tante, kasian sih sebenarnya sama Zeline. Udah sibilangin jangan ganggu Zeline lagi tapi si Vindra keras kepala banget,”


Hari ini Vindra pulang bersama Zeline. Vindra mengantar Zeline sampai depan rumah dan kebetulan bertemu dnegan mama Zeline yang baru pulang belanja bulanan, maka dari itu Reta langsung mengajak Juan untuk duduk dulu di ruang tamu. Juan sudah menolak tapi karena benar-benar diajak, bukan sekedar basa basi akhirnya Juan masuk juga ke rumah Zeline. Juan langsung dipersilahkan oleh Reta duduk di sofa ruang tamu, dan tak lama kemudian Reta menghidangkan minum juga cake.


Obrolan mengalir begitu saja sampai akhirnya tercetuslah pembahasan tentang Vindra sebagai selentingan. Dan Juan tiba-tiba berceletuk tentang Vindra yang masih mengganggu Zeline sampai saat ini.


“Ya mungkin Vindra mau tetap berteman sama Zeline,” ujar Reta yang berpikir positif jarena Ia juga kenal baik dengan Vindra. Kemungkinan besar Vindra masih mendekati Zeline karena Vindra ingin punya hubungan yang baik dengan Zeline meskipun sebatas teman hanya saja Zeline menganggap itu bentuk gangguan padahal Vindra mungkin tak berniat untuk mengganggu.


“Ya tapi Zeline kan risih, Tante,”


Reta langsung menatap Zeline seplah bertanya apakah yang dikatakan oleh Juan itu benar adanya.


“Iya sejujurnya aku merasa terganggu, Ma,”


“Perlu Mama bicara ke Vindra? Apa kamu nya udah bicara baik-naik ke Vindra?”

__ADS_1


“Udah, Mama. Tapi dia—“


“Ya udahlah, Sayang. Berteman itu hal yang baik lho. Apalagi kamu kan udah tau Vindra gimana. Dia tandanya mau jadi teman kamu, jangam diusir atau diminta untuk menjauh,”


“Hmm kayaknya dia belum bisa move on,” ujar Juan.


“Ya itu urusan dia. Mau udah move on atau belum kita nggak ada yang tau. Intinya berteman baik aja. Mama rasa Vindra itu nggak ada niat untuk bikin kamu risih kok, dia cuma mau berteman aja sama kamu cuma kamu nya nggak mau, ya mungkin karena ada satu dan lain hal,”


“Karena Zeline juga belum bisa move on jadinya nggak mau deh dideketin sama Vindra karena kalau dekat-dekat bisa makin susah untuk move om, iya ‘kan, Zel?” Tanya Juan sambil menatap Zeline dan menaikkan salah satu alisnya.


“Ah yang benar,”


“Gue udah biasa aja tuh,”


“Masa sih?”

__ADS_1


Reta juga penasaran benar atau tidak anaknya itu sudah move, sudah biasa saja pada Vindra. Karena sulit dipercaya tipe Zeline yang begitu menyayangi pasangan bisa cepat move on. Apalagi kalau silihat dari bahasa tubuhnya, Zeline itu tidak nyaman masih dikejar Vindra bukan karena sudah move ln, tapi lebih kepada takut kalau Ia tidak bisa mengendalikan perasaannya sendiri yang seharusnya sudah sirna.


“Ya udah balikan aja, Zel,”


“Apaan sih, gampang amat lo ngomong gitu, Juan. Ya nggak mungkin lah,”


“Ya udah cari yang lain,”


“Gue kalaupun nyari yang lain, mesti lepas dulu lah dari masa lalu,”


“Berarti sekarang udah lepas atau belum?”


“Nggak tau,”


Reta terkekeh mendengar jawaban polos anaknya, begitupun Juan yang sudah bisa menebak jawaban dari mulut Zeline.

__ADS_1


“Tapi lo kalau mau balikan pikir-pikir juga sih, itu di Anin gimana perasaannya,”


__ADS_2