
“Ngomong-ngomong lo punya pacar nggak? Kalau punya, dia nggak bakal cemburu ‘kan ya kalau kita duduk berdua gini di kantin?”
Zeline langsung menggelengkan kepalanya. Kalau Ia maish punya kekasih, Ia tentu tidka akan mau juga diajak ke kantin hanya berdua dengan laki-laki selain kelaishnya. Karena Ia sudah lepas dari Vindra, alia stak ada status menjadi kekaish satu orangpun, jadi Ia merasa bebas untuk berteman atau dekat dengan diapapun.
“Nggak ada lah,”
“Serius? Kok gue nggak percaya ya?”
“Hahaha ya udah kalau nggak percaya. Itu sih hal lo ya,”
“Kok bisa?”
“Ya bisa lah, gue emang nggak punya pacar sekarang,”
“Kok bisa?”
“Hah? Kok pertanyaan lo aneh sih? Ya bisa lah. Gue ‘kan manusia, jadi bisa jomblo juga,”
“Kayaknya abis putus ya?” Tanya Juan smabil tersenyum udil dan menaik turunkan alisnya memggoda Zeline yang langsung terkekeh dan mengangkat kedua bahunya. Zeline maish enggan mengungkapkan terlalu gambalng tentang berakhirnya hubungan Ia dan Vindra pada Juan yang kerupajan orang baru dikenalnya.
“Kayaknya gitu, auranya keliatan,”
“Bah, aura? Lo belajar darimana soal aura-auraan?”
“Ya ‘kan keliatan orang yang baru putus sama yang emang udah single dari lama,”
“Gue gelum lama ini singlenya,” jawab Zeline dengan tegas.
“Oapah, tuh ‘kan benar kata gue,”
“Jangan sok tau,”
“Dih, dari clue aja udah jelas. Ceirta aja sih secara gambalng, susah amat. Santai, anggak gue ini sahabat lo. Ya walaupun kita baru kenal sih,”
“Lo beneran penasaran nih?”
“Ya kalau lo nggak mau cerita juga nggak apa-apa sih, gue nggak masalah. Mungkin lo nggak nyaman ya cerita sama gue?”
“Nah itu tau, jadi sorry ya,”
Juan tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Walaupun Zeline belum jujur tentang kebenaran yang pasti tentang statusnya, tapi entah kenapa Juan sudah bisa menebak bahwa Zeline untuk saat ini benar-benar berstatus single dan seperti belum lama ini status itu Ia miliki.
Selepas makan siang bersama di kantin dnegan menu yang berbeda. Zeline membawa dari rumah sementara Juan beli makanan kantin, mereka berdua meninggalkan kantin demgan peurt masing-maosng yang sudah kenyang. Tiba
Di depan kelas, Zeline tiba-tiba menghentikan langkahnya. “Kenapa lo?” Tanya Juan pada Zeline.
__ADS_1
“Gue mau buang air kecil dulu bentar, lo duluan aja sana,”
“Okay, hati-hati,”
“Ya elah lebay lo. Nggak usah hati-hati segala emang gue mau nyebrang pulau,”
Juan terkekeh dan melangkah masuk ke dalam kelas sekentara Zeline ke kamar mandi dengan pangkah yang terburu-buru karena keinginannya untuk buang air kecil benar-benar sudah mendesak sekali.
Begitu Ia tiba di dalam kamar mandi, beruntungnya ada dua bilik yang kosongs ehingga Ia tidak pelru antre dan bisa langsung menuntaskan desakan buang air kecilnya itu.
Setelah buang air kecil, Zleine merasa lega. Setelah itu Ia keluar dari bilik kamar mandi, yak lupa mencuci yangannya di depan wastafel sambil mengamati penampilannya sendiri.
Tiba-tiba ada yangd atang dari arah belakangnya dan Ia kaget sampai kedua bahunya terlonjak ke atas.
“Ih kaget gue,”
“Hahaha lo kira gue penjahat ya?”
“Kurang asem lo, Gis!”
“Lo abis ngapain sih? Tadi gue nanya ke Juan karena kata Dela, lo sama Juan keluar jelas barengan. Eh barusan Juan bilang lo ke kamar mandi,”
“Ya abis buang air kecil lah,”
“Oh gue kirain mau kabur,”
“Ya udah ayok,”
“Lo ke kamar mandi bukan karena kau buang air kecil?”
“Bukan song, gue mau nyampeirn lo, cakep,”
Gisa sudah merangkul bahu Zeline mengajak Zeline untuk keluar dari kamar mandi. Zeline lumayan terkejut karena Ia beprikir Gisa menghampirinya sebab ingin buang air kecil tapi ternyata tidak, niat Gisa memang untuk menghampirinya saja.
Ketika mereka melintasi kamar mandi laki-laki tak sengaja mereka berpapasan dengan Vindra yang baru saja buang air kecil. Melihat Zeline, reflek Vindra menahan lengan Zeline. Ada hal yang ingin dibicarakan oada Zeline.
Tapis ayangnya Zeline enggan. Zeline langsung berdecak pelan dan akan melepaskan tantan mantan kekaishnya yang menahan lengannya itu.
“Mau apalagi sih? Hah?”
“Aku boleh ngomong berdua sama kamu bentar nggak?”
“Nggak, ‘kan sekarang gue sama Gisa ya bggak solan dong kalau gue cuma ngobrol berdua sama lo terus Gisa nggak diajakin,”
“Eh gue nggak apa-apa kok kalau misalnya emang—“
__ADS_1
“Lo sama gue, Gis,” ujar Zeline dnegan lugas. Zeline tidak mau Gisa pergi kemana-mana. Ia malas untuk bicara berdua dengan Vindra tapi kalau memang Vindra begitu ingin bicara dnegannya, maka akan Ia turuti asalkan bersama Gisa.
“Plis kasih aku kesempatan untuk ngobrols ama kamu, okay nggak amsalah kalau nggak berdua,” ujar Vindra.
“Ya udh mau ngomonga ap sih?” Tanya Zeline seraya menjauhkan lengannya dari tangan Vindra dan Zeline langsung bersedekap dada.
“Aku mau tanya, kita udah benar-benar berakhir ya, Zel? Kamu seriud ambil keputusan itu walaupun aku nggak setuju?”
“Lho, eknag perlu persetjuan dulu ya? Kalau gue udha nggak nyaman, udah capek patah hati lagi masa iya maish mau tetap gue lanjutin? Ya nggak lah, gue nggak bodoh,” ujar Zeline dengan ketus.
“Kenapa tiba-tiba banget sih, Zel? Aku masih sayang banget sama kamu, Zel. Aku nggak mau kita selesai gitu aja. Untuk semua kesalahan aku, dari mulai hilangnya perhatian aku, aku sering bikin kamu nggak nyaman kalau aku dekat sama Anin, aku benar-benar minta maaf, Zel,”
“Udah dimaafin,”
“Tapi kamu cepat bangetd apag pengganti aku. Emangsbsia secepat itu move on, Zel? Kalau aku priabdi, jangankan move on, sekarang aja aku masih nggak percaya apa aku beneran udah putus dari kamu atau belum,”
“Ya harus cepat move on dong, ngapain lama-lama, yang ada makin sakit hati. Lama move on tuh nyiksa diri, kalau bisa cepat ya kenapa harus lama, benar ‘kan?”
Dari jawaban Zeline, Vindra menarik kesimpulan bahwa benar Zeline sudah memiliki penggantinya.
“Jadi—jadi kamu udah move on?”
Vindra hanya ingin memasokan. Apa benar aecepat itu? Ia baykan belum ada niat untuk melupakan Zeline. Saat ini Ia sedang sibuk meyakinkan dirinya semdiri bahwa smeua memang telah berakhir, Zeline tidak mau lagi bersamanya. Sulit untuk meyakinkan dirinya sendiri yang masih merasa kalau ini smeua adalah mimpi. Kehilangan Zeline tidka pernah ada dalam benaknya.
“Bukan urusan lo, Vin. Mau gue udah move on atau belum itu bukan urusan lo. Kita ‘kan bukan siapa-siapa lagi,”
Vindra langsung menghembuskan napas kasar. Entah kenapa Gis ayang melihat Vindra sepeeti putus ada merasa iba. Kelihatannya Vindra masih sangat mencintai Zeline tap sayangnya Zeline sudah terlanjur sakit hati, terlanjur kecewa dibuat Vindra.
“Kalau gue boleh ngomong sekali aja nih, makanya jangan berlebihan deh sama orang di luar hubungan kalian, walaupun dia cuma teman atau sahabat. Lo ‘kam nggak bisa tau isi hati pasasangan lo gimana. Keliahatannya di luar dia baik-baik aja tapi di dalamnya mungkin dia udah benar-benar nahan cemburunya banget, ini nggak hanya buat salah satu tapi ini omongan buat lo berdua. Gue sih berharap yang terbaik aja buat kalian,”
Zeline dam Vindra sempat sama-sama menatap Gisa sebelum akhirnya mereka slaing menatap lagi.
“Udah ya, kita nggak ada urusan lagi. Jangan saling ganggu satu sama lain. Bahagia sama jalan hidup masing-masing aja,”
Setelah berkata seperti itu Zeline langsung bergegas pergi bersama Gisa, meninggalkan Vindra yang tergugu menahan sesak.
“Gini ya kehilangan orang yang dicinta? Sakit hati banget diginiin sama Zeline. Dia kayak bukan Zeline yang gue kenal selama ini. Secepat itu dia move on dari gue, sementara gue lagi kacau kayak gini,”
“Vindra! Ih aku cariin kamu lho, itu ulangannya Bu Dini udha mau mulai,”
Vindra terkejut ketika tiba-tiba saja Anin berjalan cepat ke arahnya sambil menggerakkan tangan agar Ia segera kembali ke kelas. Tanpa menunggu waktu lama, Vindra segera melangkah kakinya demgan terburu-buru.
“Kamu ngapain sih malah diam aja did elan kamar mandi? Nggak jelas banget,”
“Abis ngobrol sama Zeline,”
__ADS_1
“Ngapain coba ngobrol sama Zeline? Orang udah putus juga, ntar kalau dia ketus, kamu sakit hati, kamu sedih. Udah makanya move on aja deh, cari cewek lain sana,”