
“Zel, itu ada Vindra di bawah. Kamu tumben deh lama siap-siapnya. Ini udah kedua kali lho Mama ngasih tau ada Vindra yang nungguin kamu di bawah. Nanti kamu telat, Zel, kalau terllau lama. Buruan ah nguncir rambutnya. Sini Mama bantuin. Lagian biasanya juga nggak dicatok dulu, kuncir ya kuncir aja,”
Sejujurnya Zeline sengaja mengulur waktu. Ia memang hampir tidak pernah menggunakan alat styling rambut kalau akan berangkat ke skeolah kecuali ada kegiatan-kegiatan tertentu di luar sekolah. Memang baru kali ini saja, maka tidak heran kalau mamanya bingung,
Sejujurnya Zeline mengulur waktu karena ada tujuan dan tentunya ini masih berkaitan dengan Vindra, akan tetapi Zeline masih ragu mau cerita ke mamanya.
“Ma, nggak udah. Biar aku aja. Lagian ini udha mau selesai kok,”
“Ah tadi juga bilangnya udah mau selesai waktu Mama datang ke kamar kamu pertama kali. Tapi ternyata nggak tuh, kamu masih belum selesai juga sampai sekarang,”
“Iya aku minta maaf, Ma,”
“Ya udah buruan sekarang ke bawah,”
Zeline tidak mau berangkat dengan Vindra. Jelas-jelas Ia dan Vindra sudah bukan sepasang kekasih lagi. Daripada Mamanya terus menyuruh Ia untuk segera ke bawah menemui Vindra dan mereka berangkat sekolah bersama, akhirnya Zeline memilih untuk cerita sekarang tentang hubungannya dengan Vindra yang sudah berakhir sejak mereka ada kegiatan sekolah di puncak.
Tiba-tiba Zeline meraih tangan mamanya yang berdiri di sebelahnya. Zeline memutar duduknya hingga berhadapan dengan sang mama kemudian Ia genggam hangat tangan mamanya itu.
“Kenapa, Nak? Ada yang mau kamu omongin sama Mama ya?” Tanya Reta yang sudah bisa menebak gelagat anaknya kalau mau curhat, atau menyampaikan sesuatu yang dipikirkan atau yang dirasakan detik itu.
“Ma, aku mau jujur sama Mama,”
“Hmm okay, jujur soal apa, Nak?”
“Aku sama Vindra sebenarnya udah nggak pacaran lagi, Ma. Kami udah putus,” ucap Zeline seraya menatap mamanya dengan tenang, setenang ketika Ia menjelaskan pada mamanya tentang hubungan yang sudah ada selama dua tahun bersama Vindra.
Reta langsung terkejut mendengar penjelasan Zeline. Ia benar-benar tidak menyangka kalau Zeline dan Vindra sudah berakhir.
“Kamu beneran? Ini serius, Zel?”
“Iya, Ma. Nggak mungkin lah aku bohong. Emang dia bukan pacar aku lagi makanya aku malas banget berangkat ke sekolah bareng dia,”
“Lho jangan begitu. Dia udah repot-repot datang ke sini masa kamu nggak bareng dia? Ha walaupun kamus ama Vindra udha bukan pacar lagi statusnya tapi kalian ‘kan masih bisa berteman baik, Zel. Dan nggak ada salahnya kalau memang kalian mau tetap pulang pergi bareng. Jangan sampai mantan malah jadi musuh. Mama nggak mau anak Mama dimusuhi, dibenci, dan begitupun sebaliknya. Kalian putus baik-baik ‘kan?”
Zeline anggukkan saja kepalanya. Ia tidak mau jujur pada mamanya bahwa di awal sebelum Ia mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungannya dengan Vindra karena dipancing dengan sikap Vindra yang Ia nilai sernak hati karena Vindra menyalahkannya atas insiden yang dialami oleh Anin padahal bukan Ia yang salah.
“Beneran putus baik-baik?”
“Ya aku sih anggapnya begitu,”
“Tapi kenapa Vindra masih datang ke sini ya? Dan dia juga nggak ada ngomong apa-apa tuh baik Mama ataupun Papa kamu. Dia keliatan biasa aja, seolah nggak ada yang terjadi di antara kalian makanya tadi Mama sempat bingung sekaligus kaget kok tau-tau putus? Kalau ngeliat sikapnya Vindra biasa aja, nggak keliatan abis putus dari kamu, dan dia nggak berubah tetap jemput kamu di sini pagi-pagi untuk datang ke sekolah barengan,”
“Ya makanya aku tuh bingung kenapa dia keliatan biasa aja? Padahal udah aku putusin. Ih kayak nggak punya muka deh, udah ketutup semen kali mukanya. Masa nggak malu sih masih aja deketin aku padahal dia tuh bukan pacar aku lagi,”
Reta langsung mengusap bahu anaknya. Reta ingin anaknya tenang. Reta bisa menyimpulkan sepertinya telah terjadi sesuatu sesaat sebelum mereka akhirnya menjadi mantan kekasih.
“Mama yakin deh ada penyebabnya kalian putus dan kayaknya sebab itu lumayan berat ya? Karena kalau nggak berat, Mama yakin kalian nggak akan sampai putus. Berarti kamu ‘kan yang mutusin?” Tanya Reta yang langsung dijawab dengan anggukan kepalanya.
“Ya emang setiap yang berakhir itu pasti ada alasannya, Ma,”
“Nah okay sekarang kamu kasih tau apa yang Vindra lakuin sampai akhirnya kamu mutusin untuk nggak sama Vindra lagi,”
Reta ingin cerita yang lengkap dari Zeline. Ia tidak puas kalau hanya tahu bahwa anaknya dan juga kekasihnya telah putus menjadi sebagai sepasang kekasih, tanpa dijelaskan sebabnya apa padahal Zeline sendiri menegaskan bahwa berakhirnya suatu hubungan itu pasti karena ada alasan yang mendasarinya terlebih dahulu.
__ADS_1
“Ayo kamu cerita sama Mama. Jangan ada yang ditutupi dari Mama, Kak. Ayo buruan cerita deh,”
Reta membujuk Zeline supaya cerita lebih lengkap. Reta menjawil dagu Zeline yang sedang terdiam menimbang, apa Ia harus sekarang menyampaikan alasan Ia putus dengan Vindra?
Tapi kalau Ia jelaskan apa mamanya akan membenci Vindra? Ia memang bukan lagi pacar Vindra tapi Ia tidak mau orang lain menganggap Vindta buruk namanya. Biar bagaimanapun Vindra pernah menjadi bagian dari hidup Zeline. Dan Zeline tidak ingin orang-orang terdekatnya terluka walaupun Vindra sekedar mantan kekasih saja.
“Ya udah deh ceritanya ntar aja kalau udah sampai di rumah ya. Sekarang kamu turun terus kamu berangkat deh ke sekolah,”
“Maksud Mama sama Vindra gitu?”
“Lho iya, ‘kan emang biasanya dia datang pagi ya karena mau berangkat ke sekolah bareng kamu, Nak,”
“Untuk sekarang nggak deh, karena aku sama dia udah nggak ada hubungan apa-apa lagi,”
Reta langsung mengusap salah satu bagian pipi dari putri semata wayangnya itu sambil berkata
“Ayo turun, berangkat ke sekolah sama Vindra. Jangan ditolak, kasian dia udah rela datang ke rumah ini untuk berangkat ke sekolah bareng kamu ternyata malah kamu tolak. Jangan gitu ya, Nak. Boleh jadi berteman tapi ya memang nggak perlu intens karena ‘kan bukan pacar lagi. Perlu kamu tau, Mama dukung apapun yang menurut kamu baik. Karena mama tau kamu udah bisa dewasa dalam mengambil keputusan, jadi mama dukung apapun keputusan kamu yang pasti udah di pikirkan dulu matang-matang. Kita ambil sisi positifnya aja. Berarti dengan putusnya kamu sama Vindra, kamu bisa semakin fokus belajar, gapai cita-cita, iya ‘kan?”
Zeline menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan sang Mama. Itu juga yang Ia pikirkan. Ada sisi positif yang bisa Ia ambil ketika putus dari Vindra.
“Ya siapa suruh dia ke sini? Aku ‘kan nggak nyuruh dia, Mama. Dia datang ke sini sendiri. Aku nggak tau kenapa dia masih aja jemput aku. Padahal aku nggak minta. Boro-boro minta jemput, dia nanya keadaan aku yang abis jatuh karena kesenggol motor aja aku males banget nanggepinnya,”
“Kamu disenggol motor? Kok Mama nggak tau sih? Dan kamu juga kelihatannya baik-baik aja pas pulang. Ya Allah, Nak. Kamu ada-ada aja. Terus gimana keadaan kamu sekarang?” Tanya Reta seraya memperhatikan tubuh putrinya dari atas sampai ke bawah untuk memastikannya baik-baik saja.
Zeline langsung tersenyum dan mengusap tangan Mamanya yang Ia genggam. “Mama tenang aja, aku udah nggak apa-apa kok, lagian cuma agak kebeset aja kena aspal, sama tulang lutut aku sempat ngilu karena sentuhan sama aspal tapi aku udah baik-baik aja kok, Ma. Makanya pas pulang Mama nggak liat keanehan di badan aku ‘kan?”
Reta menganggukkan kepalanya. Ia tidak tahu kalau anaknya ternyata mengalami insiden yang tidak menyenangkan ketika pergi bersama teman-temannya ke puncak karena ada acara sekolah yaitu acara rutin pramuka.
“Ya udah kalau gitu sekarang kamu turun ke bawah. Kamu berangkat ke sekolah sama Vindra. Soalnya dia udah terlanjur datang ke sini. Nah kalau emang besok kamu nggak mau lagi berangkat sama Vindra mungkin kamu diskusikan dulu sama Vindra. Bicara baik-baik ke dia kayak gini ‘Vin, nggak usah jemput aku lagi ya. Aku pulang pergi sendiri aja. Makasih, selama ini udah pulang pergi kemana-mana sama aku,’ Nah kalau udah ngomong kayak gitu ‘kan jadinya sama-sama enak. Kamu nggak kejam karena udah bicara baik-baik, dan Vindra juga bakal ngerti kok,”
“Ya ngerti dong, makna nya kamu ngomong baik-baik ke dia. Ayo buruan turun lah kasian Vindra. Dia udah datang dari rumahnya ke sini lho, supaya bisa berangkat sama kamu dan sikapnya juga nggak berubah tetap Vindra yang Mama kenal. Vindra masih sangat menghargai Mama Papa, tadi dia tetap biasa aja tuh ngobrol sama Papa, begitupun ke Mama. Jadi kita juga harus tetap hargai dia,”
Zeline berdecak pelan. Membayangkan pergi ke sekolah bersama Vindra benar-benar membuatnya tidak nyaman. Tapi Ia terus diminta oleh mamanya untuk turun ke bawah menemui Vindra dan berangkat ke sekolah bersama Vindra.
“Ayo buruan, Zel. Kamu jangan begini ah. Nggak enak sama Vindra. Besok juga Vindra mungkin nggak datang jemput kamu lagi setelah kamu ngomong ke dia, jadi sekarang anggap lah ini terakhir kalinya Vindra jemput kamu di rumah untuk berangkat ke sekolah bareng-bareng,”
Bujuk Reta pada anaknya yang masih bertahan, bersikeras tidak mau juga turun menemui Vindra yang diakuinya bukan lagi menjadi kekasihnya.
“Erghh ya udah deh aku turun sekarang,”
Reta tersenyum ketika akhirnya Zeline meninggalkan kursi yang Ia duduki sebelumnya. Zeline menatap cermin sebentar untuk memastikan penampilannya sudah rapi. Kemudian Ia langsung meninggalkan kamarnya disusul oleh sang Mama.
Melihat Zeline ke ruang tamu, Vindra langsung tersenyum cerah, padahal sebelumnya murung karena menebak Zeline tidak mau berangkat bersamanya maka dari itu lama tidak kunjung turun.
“Mau ngapain ke sini?” Tanya Zeline yang langsung membuat Vindra merasa sakit hati, tapi Ia tetap tersenyum. Ia tahu suasana hati Zeline masih belum membaik.
“Aku mau berangkat ke sekolah bareng kamu lah,”
“Hah? Berangkat sekolah bareng gue? Kenapa sih emangnya? Emang kurang jelas ya kalau gue sama lo itu udah nggak ada hubungan apa-apaan lagi,”
“Udah putus ya putus aja, kamu harus terima kenyataan itu dong, makanya kalau emang benar sayang dan nggak hubungan kita kenapa-napa, kamu jangan mulai cari perkara duluan makanya!”
“Zel, aku nggak pernah anggap hubungan kita udahan ya. Aku nggak pernah mau putus dari kamu. Keputusan yang kamu ambil itu cuma sepihak aja, dan aku nggak terima ya, Zel,”
__ADS_1
“Kalian mendingan berangkat sekolah sekarang deh, takutnya telat,”
Reta menghentikan pembahasan tentang putus atau tidaknya hubungan antara Zeline dengan Vindra. Jujur Ia pening karena bingung sebenarnya hubungan mereka itu sudah berakhir atau belum. Zeline ternyata mengakhiri hubungan mereka begitu saja tanpa membahasnya terlebih dulu bersama Vindra. Dan karena hal itulah Vindra tetap datang ke sini, sikapnya seperto biasa saja, ternyata memang Vindra tidak pernah menganggap bahwa hibungan mereka telah berakhir.
“Untuk kali ini aja ya kita berangkat bareng, besok-besok nggak usah,”
“Hmm liat besok,” jawab Vindra sambil tersenyum usil. Zeline mendengus kesal. Ia sudah bisa menebak sebelumnya kalau Vindra tak akan semudah itu mendengarkan kata-katanya. Vindra terkadang keras kepala.
“Mama, aku berangkat dulu, Assalamualaikum,”
Zeline pamit pada mamanya. Vindra pun melakukan hal yang sama dengan Zeline. Karena kesopanan Vindra, tidak ada yang berubah dari Vindra, maka dari itu Reta mengira bahwa semuanya baik-baik saja.
“Waalaikumsalam hati-hati ya kalian,”
“Iya, Ma,”
“Iya siap, Tante. Insya Allah aku jagain anaknya ya, Tante,”
“Terimakasih, Vindra. Bahagia terus ya,”
“Aamiin, doa yang serupa untuk Tante,”
Reta mengantarkan anaknya hingga naik ke atas motor Vindra. Setelah motor Vindra melaju meninggalkan rumah, barulah Reta kembali ke dalam rumah.
********
“Zel, aku mau tanya sesuatu sama kamu,”
“Apaan sih? Udah kalau lagi nyetir ya nyetir aja, yang fokus! Nggak usah kebanyakan ngoceh,”
Vindra tertawa mendengar Zeline memarahinya. Biasanya Zeline itu malah senang kalau mengobrol dengannya di atas kendaraan baik itu motor ataupun mobil.
“Serius aku mau tanya sesuatu sama kamu,”
“Ya udah buruan tanya aja selagi bertanya itu masih diperbolehkan secara gratis, kalau udah bayar ‘kan bahaya, soalnya lo banyak tanya ya otomatis bakal banyak juga uang yang harus lo keluarin untuk memulai pertanyaan.
“Kamu sengaja ya lama-lama nggak turun dari kamar? Maksud kamu tuh supaya aku pergi dengan sendirinya gitu ya?”
“Pinter banget, nggak salah jadi mantan gue. Lo udah tau jawabannya kenapa masih nanya,”
“Segitu besarnya ya kesalahan aku, Zel?”
“Nggak tau ah, gue malas bahas yang udah lalu,”
“Jangan pergi, Zel, aku mohon, jangan kemana-mana ya,”
“Emang gue nggak kemana-mana kok,”
“Duh maksud aku jangan pergi ninggalin aku artinya kita putus, dan kamu benar-benar ambil keputusan itu sendirian padahal sebenarnya kita bisa ngomong baik-baik,”
“Udahlah, lo cari kebahagiaan lo sendiri aja, gue juga gitu,”
“Ya kebahagiaan aku ‘kan ada di kamu selain orangtua dan juga keluargaku,”
__ADS_1
“Halah omong kosong! Ngapain coba ngomong kayak gitu ‘kan? Kamu pikir, aku bakal luluh ya? Hahahaha jangan harap, aku udah nyaman nih sendirian aja tanpa pacar, apalagi mantan,” ujar Zeline langsung dengan nada tegas.