Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 172


__ADS_3

“Emang nggak ada lagu lain gitu? Kenapa harus lagu tadi?”


“Ya emang kenapa? Suka-suka gue sama Vindra lah mau nyanyi lagu apa kenapa lo protes gitu? Yang nyanyi kan bukan lo, Dan,”


“Emang sih, tapi kenapa nggak lagu lain?”


“Tadinya bukan lagu itu. Kami ganti lagu last mibute sebelum naik ke atas panggung,”


“Emang tadinya lagu apa?”


Sementara Zeline menunggu minuman yang Ia beli diambilkan, Zeline terus diajak mengobrol oleh Dania.


“Mantan terindah,” jawab Zeline.


“Hah? Mantan terindah? Terus kenapa nggak nyanyi lagu itu aja? Hah?”


“Nggak mau, ntar jadi bahan ledekan,”


“Ya justru itu penegasan bahwa kalian udah jadi mantan kenapa nggak nyanyi lagu itu aja?”


“Nggak mau, ih nanya terus lo,”


“Ya harusnya lo nyanyi itu aja sama Vindra itu kan bentuk penegasan kalau lo berdua udah bukan sepasang kekasih lagi tapi cuma mantan ya walaupun ada kata-kata terindahnya sih yang bikin mual dikit,”


Zeline melirik Dania dengan sinis. Semakin didengarkan ucapan Dania semakin jauh dan berusaha melukai hati orang lain.


“Untungnya gue bukan orang yang terlalu baperan ya. Lo sadar nggak sih dari tadi yang lo omongin tuh berusaha untuk bikin gue sakit hati. Udah ngomongin penampilan gue sama Vindra tadi dengan kata-kata nggak enak, terus barusan lo ngomong begitu,”


“Ya kan emang penampilan lo sama Vindra biasa aja, lo sih yang biasa banget menurut gue, nggak ada kemistri, nggak cocok! Dan harusnya lo nyanyi—“


“Lo bukan guru gue jadi jangan ngajarin gue, dan lo nggak punya hak untuk ngomentarin apapun yang baik buat gue,”


“Lho kan gue komen supaya ke depannya—“

__ADS_1


“Ya karena lo bukan guru gue, lo bukan siapa-siapa gue dan yang lo komentarin tuh bukan untuk kebaikan gue tapi malah bikin mental gue down, jadi mending lo diam deh,” ucap Zeline.


Usai berkata seperti itu Zeline langsung duduk di salah satu kursi kantin yang kosong menikmati minumannya. Tiba-tiba Dania mengikuti. Dada Zeline semakin panas dibuatnya.


“Ngapain sih? Lo tuh ganggu gue tau nggak? Gue pengen tenang, dan lo nggak bikin gue tenang sama sekali,”


Anin yang hendak membeli makanan ringan tadinya tidak menyadari keberadaan Zeline dan Dania tapi karena mendengar suara Zeline, Ia langsung menoleh ke sumber suara.


Seelah membeli makanan ringan, Ia langsung memghampiri keduanya yang berada di meja yang sama, duduknya berhadapan.


“Hai, gabung ya,”


“Ampun deh gue, benar-benar nggak dikasih hidup tenang,” batin Zeline setelah Anin duduk di sebelah Dania. Mereka berdua duduk tepat di hadapannya.


“Ngapain? Gue magi mau sendiri nih,”


“Zeline sombong banget ya? Masa kita nggak boleh gabung sih?” Kata Dania pada Anin.


“Zel, tadi penampilan kamu bagus deh,”


“Lo mujinya ikhlas dari hati nggak nih?”


“Ya iya dong,”


“Jangan pick me deh,”


“Apaan sih? Lo tuh dikit-dikit pick me. Gampang banget mulut lo ngomongin orang ya,”


“Menurut gue sih penampilan Zeline sama Vindra biasa aja, nah yang paling biasa Zeline nya,”


“Nggak, bagus kok keren,”


“Kenapa penilaian kita beda?”

__ADS_1


“Ya wajar lah, manusia punya mata, kepala, mulut masing-masing, kalau penilaian beda ya wajar,”


“Halah, lo tuh cuma cari muka doang muji-muji Zeline biar lo gampang ngambil Vindra ya?”


“Heh jaga mulut lo ya! Emang gue apaan?”


“Lo apaan? Cewek pick me, cewek srigala berbulu domba,”


“Hahahahaha sok tau banget lo kayak yang udah kenal gue lama aja. Emang lo tuh siapa gue sih? Hah? Kenapa lo bisa nilai gue kayak gitu?”


“Ya kan gue sering dengar tentang lo ya. Lo tuh mau ngakahin Zeline, banyak yang udah ngomongin lo di belakang lo asal lo tau aja,”


“Ya bodo anat, itu sih gue nggak peduli, yang jelas gue nggak jahat,”


“Masa sih nggak jahat? Manja sama cowok orang, pengen diperhatiin sama cowok orang yang jelas-jelas ceweknya tuh dekat sama lo, dia masih ada di dunia ini tapi lo seenak jidat ke cowoknya. Dih nggak tau diri banget sih,”


“Bacot lo ah,”


“Dih nggak terima masa hahahaha,”


“Gue nggak kayak apa yang lo bilang,”


“Ya terus kalau lo nggak kayak apa yang gue bilang kenapa Vindra sama Zeline jadi putus? Hah? Lo sadar diri nggak kalau lo ada campur tangan? Lo tuh terlalu mau nguasain Vindra dengan embel-embel sahabat. Sedangkan lo anggap Zeline juga sahabat,”


Zeline memijat kepalanya yang mendadak jadi pening setelah menyaksikan perdebatan antara Anin dan Dania.


“Kalau mau debat jangan di depan gue, waktunya nggak pas, dan tempatnya juga nggak pas. Gue lagi mau sendiri nih, dan sekarang lagi di kantin. Emang nggak malu ya debat kayak di depan gue dan di kantin?”


“Nggak, biasa aja,”


“Muka udah pada tebel berarti,” cetus Zeline seraya beranjak meninggalkan kursinya. Ia lebih baik pergi meninggalkan situasi panas yang terjadi antara Anin dan Dania.


“Eh Zeline kok lo pergi sih? Sini dong,”

__ADS_1


Zeline memilih bungkam. Untuk apa Ia bertahan di meja yang rasanya panas? Lebih baik Ia mencari tempat yang teduh, dan itu ruang kelas karena ada penyejuk ruangannya.


Ketika Ia hampir masuk kelas tiba-tiba Vindra datang mengulurkan roti dan juga minuman dingin. Kening Zeline mengernyit bingung.


__ADS_2