Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 119


__ADS_3

“Eh sorry-sorry,”


Zeline menganggukkan kepalanya dna tersenyum kecil tidak mempermasalahkan Juan yang baru saja tak sengaja menyinggung sudut mejanya ketika akan berjalan keluar kelas menuju kantin.


“Lo nggak istirahat di kantin? Di sekolah aja?” Tanya Juan pada Zeline yang menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


“Lho kenapa? Ayo ke kantin sama gue,”


“Nggak, gue di sini aja lagian gue bawa bekal,”


“Serius lo bawa bekal?”


“Ya iyalah. Ngapain gue bohong,”


Juan terkekeh mendengar Zeline menjawab dengan ketus. Ia memilih untuk mempertahankan posisinya tepat di sebelah meja Zeline, kemudian Ia bersedekap dada.

__ADS_1


“Lo ngapain masih di sini?” Tanya Zeline seraya mendongakkan kepalanya menatap Juan yang berdiri tegap sambil bersedekap dada.


“Gue cuma pengen lenalan aja sama lo. Kok kayaknya lo jutek? Tapi kata teman lo nggak. Kenapa ke gue beda?”


“Ya masa gue langsung haha hihi sama lo? Orang lo aja anak naru, ya gue ada rasa sungkan lah. Lagian ya, nggak semua orang bisa friendly, baik sih baik, tapi belum tentu bisa friendly ke semuanya, bisa langsung akrab berbaur,”


“Lo termausk orang yang kayak gitu?”


“Gue nggak tau. Gue bggak bisa nilai diri gue sendiri. Yang bisa nilai ya cuma orang lain karena orang lain yang ngeliat gue gimana sehari-hari,”


Zeline memilih untuk sibuk dnegan ponsel alih-alih bicara dnegan Juan yangs emakin ingin membujtikan sebenarnya Zeline itu sesuai dnegan penilaiannya atau justru seperti yang dikatakan oleh temannya.


“Gue bggak ketus, gue biasa aja kok,”


“Ya berarti karena lo belum akrab sama gue. Makanya biar akrab, nggak gue bilang jutek atau ketus lagi mending kita ke kantin sekarang yuk,”

__ADS_1


Juan mengajak sambil tersenyum manis. Zeline mengernyitkan keningnya. Ia bingung kenapa Juan seingin itu mengajaknya ke kantin? Masalah kenal lebih akrab, nanti juga akan terjadi seiring berjalannya waktu mengingat mereka itu belajar di satu kelas yang sama. Tidak perlu perkenalan di kantin.


“Ayo plis temenin gue ke kantin supaya gue juga bisa lebih kenal sama lingkungan di sekolah ini. Lo bisa jadi tour guide gue ‘kan?” Tanya Juan seraya terkekeh di akhir kalimatnya. Ia hanya bercanda menjadikan Zeline sebagai tour guide atau pemandu wisata. Dupaya ditausi di antara mereka cair saja tidak ada maksud apa-apa.


“Gimana? Lo maish nggak mau nih?”


“Nggak, lo sendiri aja sana,”


“Lo ‘kan bawa makanan, nah ya udah makannya di kantin aja sama gue,”


Zeline berdecak pelan dan menatap Juan dengan tatapan jengah. Sudah Ia tolak, tapi Juan masihs aja mengajaknya untuk ke kantin bersama.


“Lo tuh sebenarnya ngerti bahasa gue atau bggak sih? Barusan gue ngomong pakai bahasa manusia, bahasa Indonesia, lo nggak paham juga? Hmm?”


“Karena gue mau kenal akrab sama lo, soalnya lo tug keliatan beda dari yang lain,”

__ADS_1


“Beda gimana? Gue bukan putri kayangan. Nggak usah anggap gue beda deh,” ujar Zeline dengan ketus. Ucapannya itu membuat Juan tertawa.


“Tuh ‘kan, lo ternyata asik orangnya. Jadi nggak salah dong kalau gue pengen kenal akrab sama lo? Kuy kita ke kantin bareng,” ajak Juan seraya menggerakkan kepalanya ke arah pintu.


__ADS_2