Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 69


__ADS_3

Setelah berkata seperti itu Vindra langsung antre di belanang dua orang pengunjung lainnya. Ia membeli pop corn dan minuman sesuai permintaan kekasihnya. Setelah itu, Ia langsung menghampiri. Zeline dan menyerahkan pop corn serta minuman kepada Zeline.


“Kok pop corn nya satu-satu? Aku nggak habis deh ini. Harusnya satu berdua aja,”


“Nggak apa-apa, biar kita makannya puas,”


“Kebanyakan tapi,”


“Ya udah nggak apa-apa ‘kan bisa dibawa pulang,”


Film segera mulai Zeline dan kekasihnya itu langsung bergegas memasuki studio bioskop untuk menonton film.


“Ini beneran film yang itu ‘kan? Bukan yang action berdarah-darah gutu?”


“Bukan, masa kamu nggak percaya sih? Liat ‘kan tadi tiketnya?”


“Liat sih tapi takut aja itu tiket palsu,”


“Ya ampun hahaha rajin banget aku bikin tiket palsu,”


“Ssst ini di bioskop! Jangan berisik, kalau mau berisik sana keluar lagi,” bisik Zeline mengingatkan Vindra yang baru saja tertawa.


“Ya lagian kamu ada-ada aja tuduhannya,”


“Bisa aja, sekarang apa-apa ‘kan dipalsuin. Uang palsu udah lama dipalsuin, surat-surat penting juga gitu, bisa jadi timet bioskop kamu palsuin juga. Cinta aja bisa dipalsuin,”


“Lah kok bawa-bawa cinta sih?”


“Ya itu ‘kan kenyataan. Cinta aja dipaksuin,”


“Tapi nggak nyambung, Zel. Dari surat-surat, ke cinta,”


“Nyambung lah, ‘kan banyak juga zaman sekarang yang cintanya dipalsuin,”


“Kamu kayak korbannya aja deh,”


“Amit-amit, jangan sampai,”


Zeline langsung mengetuk-ngetuk keningnya. Ia mendapatkan cinta oalsu, atau Ia yang memalsukan cinta, jangan sampai dua hal itu terjadi. Karena itu benar-benar jahat.


“Nanti kamu ke rumah aku ya,”


“Ngapain? Ada pertemuan antara orangtua kamu sama orangtua Anin dan aku diundang?”


“Nggak lah, aku cuma pengen aja ngajak kamu ke rumah, dan Mama juga nanyain kamu terus,”


Zeline menganggukkan kepalanya. Ia tidak keberatan kalau diajak ke rumahnya Vindra. Sudah lama juga tidak ke sana.


“Kamu udah jarang banget lho ngajakin aku ke rumah kamu,”

__ADS_1


“Iya padahal Mama aku sering banget nanyain kamu. Soalnya aku lebih mending datang langsung ke rumah kamu,”


“Kenapa emang?”


“Ya lebih nyaman aja gitu, mama papa kamu nerima aku dengan baik, seru juga ngobrol sama mereka. Kalau di rumah aku, kamu suka canggung gitu, kalau aku sih udah nggak gugup ya kalau datang ke rumah kamu. Udah akrab sama orangtua kamu,”


“Emang aku canggung?”


“Iya yang aku liat begitu. Orangtua kamu juga nggak khawatir ‘kan kalau aku datengin ke rumah, beda cerita kalau kamu nya yang aku bawa,”


“Tapi Mama Papa aku kayaknya sih percaya sama kamu ya, buktinya kalau kamu ajak aku jalan dikasih izin,”


“Tapi tetap aja aku kadang sungkan, Zel. Kamu nya keberatan nggak kalau sering aku ajak ke rumah aku?”


“Nggak lah, kenapa keberatan?”


“Ya udah berarti nanti aku bakal sering ajak kamu ke rumah aku deh kalau dibolehin sama mama papa kamu tapi ya,”


“Ya,”


“Tapi kamu nya jangan canggung, anggap aja rumah aku itu ya rumah kamu sendiri, jangan malu-malu,”


“Ya masa aku mau garadakan? Yang ada Mama kamu ilfeel sama aku,”


“Ya nggak gradakan juga sih yang aku maksud—-“


“Sssttt! Udah mulai film nya,”


Mereka ditegur oleh penonton di belakang mereka ketika film akan mulai. Vindra dan Zeline menutup mulut mereka masing-masing.


“Kita ditegur,” bisik Vindra.


Zeline tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Kemudian Ia mengisyaratkan Vindra untuk fokus menonton. Padahal mereka sejak tadi bicara sangat pelan, hanya bisik-bisik saja. Tapi tetap dapat peringatan dari pengunjung lain.


Vindra tadi spontan meminta maaf dan itu menggemaskan di mata Zeline. Vindra menunjukkan rasa bersalahnya dengan buru-buru minta maaf.


******


“Dari Ibu Rina,”


“Terimakasih, Mas,”


“Sama-sama,”


“Ya ampun Rina repot-repot segala deh,”


Ninda menutup pintu unit apartemen dengan membawa dua kotak makanan dari Rina, mama Vindra.


“Ma, siapa?”

__ADS_1


“Kurir antar makanan dari mamanya Vindra,”


“Ya anlun baik banget. Tau aja kalau kita lagi mau pesan makanan,”


“Iya makanya untung aja kita belum pesan ya. Bentar deh, Mama hubungin dulu tante Rina nya,”


Ninda langsung mengambil ponselnya di kamar untuk menghubungi sang sahabat yang baik sekali hatinya mengirimkan makanan disaat Ia dan Anin akan memesan makanan secara online.


“Halo, Rin, makanan dari kamu udah sampai. Alhamdulillah makasih banyak ya. Aku senang banget nih dapat makanan,”


“Alhamdulillah iya sama-sama semoga suka ya sama kiriman aku,”


“Pasti suka lah, kebetulan aku lagi pengen pesan makanan online,”


“Iya dimakan deh kalau gitu,”


“Semoga berkah ya, Rin,”


“Aamiin,”


“Aku makan ya kalau gitu sekali lagi makasih banyak,”


“Sama-sama,”


“Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam,”


Sambungan telepon berakhir. Ninda langsung meletakkan ponselnya di atas meja makan, kemudian Ia membasuh tangannya sebelum mulai makan.


“Yang antar kurir ya, Ma?” Tanya Anin apda mamanya yang sedang membuka kemasan dari makanan yang dikirim oleh Rina.


“Iya,”


“Kirain Vindra,”


“Nggak, paling belum pulang kali Vindra nya,”


“Kalau dia yang antar, aku mau langsung minta tolong temenin ke toko buat belu karton dan lain-lain,”


“Tadi Mama temenin nggak mau,”


“Ya maunya sama Vindra aja, Ma. Seru kalau sama dia,”


“Oh kalau sama Mama nggak seru ya?”


“Nggak begitu,”


“Kalau Zeline cemburu gimana?”

__ADS_1


“Ya dia nggak usah tau lah kalau aku ditemenin Vindra. Lagian cuma minta temenin beli keperluan bikin mading aja kok, Ma,”


__ADS_2