Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 108


__ADS_3

Agenda Zeline dan teman-temannya pagi ini adalah jalan santai di sekitar vila dan rencananya nanti siang akan pulang ke rumah masing-masing.


Tidak disangka oleh Zeline oulang ke rumah nanti Ia dalam suasana hati yang kurang menyenangkan. Karena habis bertengkar dengan Vindra bahkan hubungan mereka juga berakhir secara tiba-tiba.


Vindra tidak pernah lagi mendekati Zeline. Vindra anggap Zeline sudah tidak punya perasaan apapun lagi untuknya sehingga dengan mudahnya merasa siap berpisah setelah dua tahun lebih mereka menjadi sepasang kekasih.


Mereka berjalan santai dengan barusan yang tertata rapi. Sambil melangkah, Zeline diajak bicara oleh teman kanan dan kirinya yang tak lain adalah Gisa dan Lia.


“Orang mah kalau pagi tuh muka cerah bersinar jangan murung, Zel. Lo kenapa murung gitu sih?”


“Karena dia galau, Lia,”


Bukan Zeline yang menjawab tapi Gisa. Zeline langsung menganggukkan kepalanya membantah ucapan Gisa.


“Nggak kok, gue nggak galau. Gue kalau lagi malas ngapa-ngapain ‘kan emang mukanya murung. Ini gue lagi malas jalan. Kenaoa kita nggak di kamar aja ya? Mager banget gue jalan kaki pagi-pagi,”


“Ya bagus untuk kesehatan lo, Zel,”

__ADS_1


“Ya tapi malas gue, mendingan di kamar aja tuh,”


“Di kamar jadinya tidur mulu. Pulang-pulang jadi dugong deh gue karena tidur mulu, abis itu makan,”


Zeline dan Gisa langsung tertawa mendnegar ucapan Lia yang merasa lebih baik jalan pagi ketimbang di kamar saja. Lia tidak sependapat dengan Zeline. Menurutnya lebih baik jalan pagi daripada di kamar saja. Membosankan sekali menurutnya.


“Gue semangat nih jalan pagi,” ujar Lia dambil mengepalkan salah satu tangannya dan Ia angkat sedikit. Ia sedang memberitahu bahwa Ia semnagat tidak hanya dari kata-kata tapi dari gesture badannya juga.


“Gue juga semangat dong,”


Gisa tidak mau kalah. Zeline yang melihat keanehan sikap dua temannya itu langsung menggelengkan kepalanya.


“Lo juga harus semangat dong. Tuh liat si Vindra semangat kok olahraganya, sambil ngobrols ama Anin lagi,”


“Ssstt heh!”


Gisa mengingatkan Lia yang berbisiks ambil menolehkan kepalanya ke belakang karena kebetulan Anin dan Vindra ada di barisan lumayan belakang.

__ADS_1


“Kenapa sih? ‘Kan gue cuma mau nyemangatin Zeline aja. Jangan murung, harus semangat soalnya mantan lo tuh keliatan baik-baik aja deh kayaknya,”


“Belum tentu, kita ‘kan nggak tau isi hati orang,” Gisa tidak sepakat dengan ucapan Lia. Bisa jadi Vindra juga galau, tapi karena Vindra laki-laki jadi Vindra lebih pintar menutupi perasaannya ketimbang Zeline yang seorang perempuan. Mudah sekali bagi perempuan untuk menggambarkan perasaannya walaupun cuma dari raut wajah atau gerak gerik lainnya.


Tiba-tiba Lia meletakkan kepalanya sebentar di bahu Zeline tapi masih berjalan, disusul oleh Gisa yang melakukan hal serupa.


“Ya elah, katanya semangat. Yang begini namanya semangat? Padahal gue udah punya panggilan si paling senangat buat kalian kok kalian malah letoy gini. Udah ah gue pindah aja paking pinggir,”


Zeline mendorong pelan dua kepala yang bersandar di bahunya. Kemudian Ia mengambil alih posisi Gisa yang ada di sebelah kanan tepatnya pinggir jalan raya.


“Yah elah, padahal gue mau mager-mageran di pundak lo,”


“Iya sama gue juga juga ih,”


“Nggak amu! ‘Kan katanya semangat, gimana sih?”


Sesaat setelah Zeline bicara seperti itu tiba-tiba ada sebuah motor yang menyenggol Zeline hingga membuat Zeline terjatuh.

__ADS_1


“Astaga Zeline!”


Tentunya semua mata mengarah pada Zeline. Kejadiannya terlalu cepat, setelah membuat Zeline meringis kesakitan di aspal, motor itu pergi begitu saja.


__ADS_2