
Ia belum memberitahu Reta bahwa anaknya sakit. Reta berhak tahu apalagi tadi Zeline sempat menayakan keberadaan mamanya itu.
Bibi datang ke kamar Reta. Ia mengetuk pintu dengan sopan dan setelah dipersilahkan masuk, Ia segera membuka pintu kamar.
“Iya kenapa, Bi?” Tanya Reta yang sedang bebraring.
“Bu maaf cuma mau ngasih tau, Mba Zeline sakit, tadi pulang diantar sama Mas Vindra,”
“Astaghfirullah, Zeline sakit? Ya udah saya ke kamarnya sekarang. Makasih infonya ya, Bi,”
“Sama-sama, Bu,”
Bibi segera menjauh dari kamar majikannya. Ia sudah memberitahu tentang Zeline tugasnya sudah selesai.
Reta langsung bergegas ke kamar anaknya itu. Dan Ia melihat Zeline yang berbaring di atas tempat tidur masih menggunakan seragam sekolah bahkan kaos kakinya.
“Zel, kamu sakit apa, Sayang?”
Zeline menoleh ke arah pintu dimana Mamanya datang dengan tergesa-gesa. Reta langsung menyentuh kening Zeline dan tenryata panas.
“Ya Allah, kamu demam ya? Sebentar Mama ambilin kompres sama obat ya,”
“Aku bisa sendiri, Ma,”
Reta berdecak, mana mungkin Ia membuarkan anaknya mengurus diri sendiri disaat kondisinya lagi sakit seperti itu.
Reta segera mempersiapkan kompres, dan juga obat serta air minum. Sebelum menyuruh Zeline minum obat, Reta pastikan dulu anaknya sudah makan.
“Aku udah makan, Ma,”
__ADS_1
“Ya udah ayo minum obat sekarang,” ujar Reta seraya membantu anaknya untuk beranjak duduk. Kemudian Ia meletakkan satu tablet
obat di atas telapak tangan Zeline. Setelahnya Ia berikan air minum kepada anaknya itu.
“Udah?”
Zeline menganggukkan kepalanya. Dan Ia kembali berbaring. Kepalanya berat sekali bahkan untuk sekedar duduk saja rasanya enggan.
“Aku pusing banget nih mau ganti baju, tapi aku risih,”
“Mama gantiin aja, mau ya?”
“Nggak deh, Ma. Aku ‘kan udah gede masa digantiin bajunya?”
“Lho, emang kenapa? Kamu anak Mama sendiri kok, dan kita sama-sama perempuan. Ayo Mama bantuin ganti baju biar kamu nggak perlu bangun-bangun. Bentar ya Mama ambil dulu baju kamu,”
Reta segera menggampiri lemari anaknya dna Ia mengambil baju yang paling atas di antara banyaknya pilihan baju santai Zeline. Setelah itu Ia kembali mendekati Zeline. Ia melepaskan satu persatu kancing kemeja sekolah Zeline dan setelah itu Zeline duduk. Kepalanya nyeri sekali. Karena takut malah tumbang, Ia akhirnya bersandar di kepala ranjang.
Zeline benar-benar dibantu oleh mamanya untuk mengganti busana sehingga kemeja dan rok sekolahnya sudah tertanggalkan semuanya dan berganti dengan busana yang santai dan membuat Zeline nyaman.
Setelah ganti pakaian, Zeline kembali berbaring. Dan Mamanya segera mengompres keningnya.
“Jangan capek-capek makanya, Nak,”
“Iya, Ma,”
“Tadi kata Bibi, kamu diantar Vindra?”
“Iya dia antar aku, terus aku suruh pulang aja,”
__ADS_1
“Emang kenapa kok diusir gitu?”
“Ya karena dia nggak ada kepentingan,” jawab Zeline seraya terkekeh pelan.
“Berantem lagi ya kalian?”
“Nggak kok, Ma,”
“Ayo jujur, kok nyuruh-nguruh gitu? Seharusnya jangan dong, Sayang. Nggak baik ngusir orang begitu, apalagi Vindra udah baik banget antar kamu ke rumah dengan keadaan sehat dan selamat,”
“Dia emang mau temenin Anin juga, Ma. Jadi ya ngapain lama-lama di rumah ini?”
“Oh, mau kemana mereka, Nak?” Tanya Reta yang penasaran mendengar nama Anin disebut oleh anaknya apalagi tahu kalau Vindra akan menemani sahabatnya itu.
“Anin minta temenin beli keperluan bikin mading, Ma,”
“Kamu nggak ikutan karena sakit ya?”
“Iya, ngapain aku ikutan orang kepala aku aja dari tadi udah berat makanya aku banyak diam,”
“Kalau nggak sakit bakal ikut nggak?”
“Kayaknya nggak juga,”
“Kenapa emangnya?”
“Karena—aku nggak diajak hehehe,”
Reta tersenyum nendengar tawa kecil anaknya itu. Ia mencium singkat pipi Zeline dan masih tangannya masih sibuk mengompres kening sang putri.
__ADS_1
“Bukan nggak diajak, kamu nya aja kali yang meras anggak diajak padahal diajak,”
Zeline menggelengkan kepalanya. Yang Ia ingat, Ia tidak diajak sama sekali oleh mereka berdua. Ia tidka mendengar ajakan baik itu dari mulut Anin ataupun Vindra. Tapi entahlah kalau Ia lupa atau mungkin telinganya saja yang kebetulan tidak mendengar ajakan mereka.