Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 70


__ADS_3

Bab 64 pacar atau sahabat


“Pulang sekolah temenin aku beli keperluan mading bisa nggak, Vin?”


“Bisa kok, dimana?”


“Ya biasanya ada di toko alat tulis gitu ‘kan?”


“Iya, yang dimana tapi?”


“Hmm yang di mall dekat apartemen aku aja gimana?”


“Okay boleh,”


“Zel, mau ikut?” Tanya Vindra pada kekasihnya yang hanya diam saja. Hari ini Zeline memang tak banyak bicara tapi ketika Vindra tanya ada masalah apa? Atau Ia buat kesalahan apa Zeline selalu menjawab tidak ada.


Zeline menggelengkan kepalanya sambil meletakkan sikunya dengan jendela mobil yang tertutup dan Ia bertopang dagu.


“Kamu kenapa sih, Zel? Kok diam aja deh kayaknya,” ujar Anin yang tidak bisa menahan rasa penasarannya. Masalah apalagi yang terjadi di antara Zeline dan Vindra? Kenapa Zeline diam saja? Pertanyaan itu ada di benak Anin.


“Aku lagi sakit,”

__ADS_1


“Hah?” Anin terperangah.


“Kamu sakit? Sakit apa kok nggak bilang aku sih?” Vindra langsung bertanya khawatir sambil tangannya menyentuh kening Zeline dan ternyata memang agak demam.


“Ya ampun, kamu panas tuh, Zel. Eh aku ada obat-obatan di dashboard. Kamu udah makan tadi ‘kan? Ya udha minum obat sekarang aja,”


“Nanti di rumah, aku punya obat sendiri yang biasa aku minum,” ujar Zeline.


“Zeline, jangan susah kalau dikasih tau. Itu pacar kamu khawatir lho, mending langsung minum obat aja sekarang. Kalau bisa cepat kenapa harus nanti-nanti?”


Zeline berdecak pelan. Ada saja yang memancing rasa kesalnya datang. Ia terbiasa minum obat jenis tertentu, ya walaupun kandungannya sama tapi Zeline lebih memilih obat yang biasa Ia minum saja.


“Ayo minum, Zel. Maksud aku biar obatnya makin cepat berproses di badan kamu,” ujar Vindra yang menyuruh dengan cara halus.


“Aku tau ya niat kalian baik, tapi aku mau minum kbatnya di rumah aja, plis paham ya dan jangan maksa aku,” ujar Zeline dengan tegas, dan tanpa bertele-tele. Ia tegas menolak dengan alasan akan minum obat yang ada di rumahnya saja, dan Ia meminta pada Anin maupun Vindra untuk tidak memaksanya lagi maupun itu dnegan cara yang halus ataupun kasar.


“Ih Zeline kok kamu susah sih dikaish taunya? Aku nggak mau kamu sakit,”


“Ya biarin aja aku ini yang sakit. Ah Anin ribet deh,”


“Zel, kok kamu gitu sih ngomongnya? Anin punya niat baik, jangan ngomel dong,”

__ADS_1


Zeline menghembuskan napasnya dengan kasar. Tadi ketika Anin memaksanya dengan perkataan yang ketus, Vindra tidak menegur. Gimiran Ia ditegur. Zeline mulai merasakan ketidakadilan lagi di situasi ini.


Tapi Zeline abaikan saja. Ia lebih mementingkan rasa sakitnya ketimbang harus beradu argumen dnegan Anin maupun Vindra.


“Aku anterin kamu duluan ya ini,”


“Ya,”


“Aku mau pergi sama Anin ke toko alat tulis, temenin dia beli karton spidol untuk tugas bikin mading,”


“Aku udah dengar tadi,” ujar Zeline pada kekasihnya.


“Iya aku kasih tau lagi takutnya kamu nggak dengar, “


“Emang kamu pikir telinga aku udah nggak normal gitu?”


“Hadeh, salah lagi. Ya udah deh aku diam aja,”


Anin terkekeh melihat sahabatnya itu frustrasi mengahdapi kekasihnya. Lucu ketika Vindra mengeluh sambil menggusar rambutnya.


“Zel, jangan gitu sama Vindra. Kasian lho dia, bisa stres ngadepin kamu,”

__ADS_1


__ADS_2