Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 73


__ADS_3

“Ma, tinggalin aku aja. Aku bisa kompres sendiri,”


“Nggak, Mama mau di sini. Mana mungkin Mama biarin kamu ngurus diri kamu sendiri yang lagi sakit kayak gini,” ujar Reta.


“Kamu tidur aja biar Mama temenin ya,”


Zeline menganggukkan kepalanya. Lantas Ia memejamkan mata untuk terlelap. Memang itu yang Ia inginkan sejak tadi sebenarnya tapi karena kepalanya sakit jadi sulit untuk tidur.


Satu jam kemudian barulah Zeline bisa tertidur pulas. Reta tersenyum melihat mata Zeline sudah terpejam erat dan deru anapanya juga teratur pertanda anaknya benar-benar tidur lelap.


“Sehat ya, Nak,” gumam Reta sambil mengecup hidung runcing anaknya itu. Sesaat kemudian Reta mendengar ada dering ponsel dari dalam tas anaknya. Ia langsung mengambil ponsel Zeline dan ternyata ada panggilan masuk dari kekasihnya. Saat akan menerima panggilan itu, sayangnya sudah terlanjur berakhir. Akhirnya Reta letakkan ponsel anaknya itu di atas nakas. Tidak lama Ia duduk dan meletakkan ponsel itu, Vindra kembali menghubungi Zeline.


Reta langsung menerima panggilan Vindra yang Ia tebak ingin menanyakan keadaan Zeline.


“Halo Assalamualaikum, Vindra,”


“Waalaikumsalam, Tante. Zeline tidur ya? Maaf aku ganggu. Aku cuma pengen tahu kondisinya Zeline aja, Tante,”


“Zeline lagi tidur, ini lagi Tante kompres, Vin,”


“Udah minum obat ya, Tante?”


“Udah, Vin,”


“Aku ada obat di mobil tadi, obat demam sama pusing aku suruh Zeline langsung minum setelah aku tau Zeline sakit tapi Zeline bilang mau minum obat di rumah aja,”


“Iya memang dia punya obat yang biasanya ampuh di dia. Mungkin maksudnya biar minum itu aja. Merk lain suka lama sembuhnya. Obat kalau di Zeline emang cocok-cocokan,”


“Iya, Tante. Semoga Zeline cepat sembuh,”


“Aamiin, makasih doanya ya, Vin,”


“Aku tutup teleponnya ya, Tante. Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam,”


Sambungan telepon berkahir dan Reta segera meletakkan ponsel anaknya di atas nakas. Ia kembali mengamati Zeline sambil mengganti kompres dan sesekali Ia akan mengganti air.


*****

__ADS_1


“Gimana? Zeline nggak apa-apa ‘kan? Udah kamu tenang aja makanya,”


Selepas membeli karton dan alat-alat lainnya, Anin mengajak Vindra untuk makan ramen yang Ia suka.


Sepanjang menemani Anin, Vindra tidak bisa tenang memikirkan Zeline sambil sesekali melihat ponselnya sendiri. Anin juga menyadari kalau Vindra sedang tidak tenang.


“Dia udah minum obat, lagi tidur kata mamanya,”


“Oh gitu yaudah bagus deh,”


“Aku kayaknya nanti malam mau ke rumahnya,”


“Ngapain?”


“Ya jenguk dia lah, Nin. Aku biasanya kayak gitu,”


“Oh gitu, aku ikut boleh?”


“Nggak usah, aku sendiri aja. Kamu nggak usah ikut,”


“Emang kenapa sih? Kok aku nggak boleh ikut?”


“Oh gitu ya udah deh, aku jenguk besok aja,”


“Nggak jenguk juga nggak apa-apa yang penting doanya aja. Lagian kalau didatengin temannya banyak-banyak juga Zeline nggak bisa istirahat,”


“Kamu larang aku untuk jenguk Zeline?”


“Ya nggak gitu, terserah kamu sih kalau mau jenguk. Tapi malam ini aku aja ya,”


Anin mengangguk pasrah. Vindra hanya ingin datang sendiri karena Ia tahu Zeline lagi mode merajuk akibat Ia suruh minum obat di dalam mobil tadi. Suasana hati Zeline belum membaik. Jadi lebih baik Ia datang sendjri, dam Ia perlu waktu untuk bicara empat mata dengan Zeline.


*****


-Aku ke rumah kamu nanti ya-


Zeline merotasikan bola matanya ketika membaca pesan yang dikirimkan oleh kekasihnya itu. Alih-alih membalas, Zeline memutuskan untuk keluar dari aplikasi whatsapp.


Kemudian Zeline memejamkan mata sambil memijat kedua pelipisnya dengan dua tangannya. Rasa pusing masih ada, tapi demamnya mulai turun. Mamanya baru saja keluar dari kamar, sejak Ia pulang sekolah di kamarnya terus rajin mengompres nya.

__ADS_1


Kali ini sedang keluar dari kamarnya untuk menyiapkan makan malam bersama Bibi. Sekaligus akan membawakan makanan juga untuknya.


Zeline bergegas ke kamar mandi karena ingin buang air kecil. Karena Ia ke kamar mandi, jadinya Ia tahu kalau Ia baru saja kedatangan tamu bulanan bertepatan dengan Ia buang air kecil. Pantas saja perutnya sejak sore tadi juga nyeri. Tapi beruntungnya tidak mengganggu karena sakitnya nanti akan lengkap. Sudah demam, sakit kepala, sakit gigi, sakit perut akibat menstruasi juga. Jangan sampai, Zeline membayangkannya saja sudah ngilu.


Begitu Ia keluar dari kamar mandi, Papanya mengetuk pintu kamarnya dan setelah Ia persilahkan masuk narulah Papanya itu membuka pintu kamar sang anak.


“Nak, sholat,”


“Baru aja halangan, Pa,”


“Oh gitu ya udah langsung makan nanti ya kalau Mama udah antar makanan,”


“Iya, Pa,”


“Kamu butuh apa sekarang? Mama lagi di abwah biar Papa yang bantuin,”


Richie menghampiri Zeline dan mengusap puncak kepala Zeline. Ia menggunakan punggung tangannya, untuk merasakan apakah suhu tubuh anaknya masih tinggi atau justru semakin turun.


“Eh udah turun ya,”


“Iya emang udah, Pa. Tadi sebelum Mama turun Mama cek dulu,”


“Alhamdulillah kalau gitu. Ya udah banyak istirahat ya,” ujar Richie sambil mengecup kening anaknya itu.


“Jangan sakit dong, ah nggak seru nih kamu,”


“Aku juga nggak mau sakit, Pa. Tiba-tiba aja sakit ini nggak diundang,”


“Perutnya sakit juga nih jangan-jangan karena datang bulan?”


“Tadi sore agak nyeri dikit tapi udah nggak sekarang, kalau nyeri juga, ya ampun lengkap deh sakit aku, Pa. Kepala aku aja masih berat begini, gigi masih lumayan nyeri, demam yang udah mendingan banget,”


“Ya udah sabar-sabar ya, Insya Allah nggak lama lagi sembuh,”


“Aamiin,”


“Jangan lama-lama sakitnya. Kasian tuh Vindra,”


“Emang dia peduli?”

__ADS_1


“Eh kok ngomong gitu? Berantem ya?“


__ADS_2