
Vindra menyentuh bahu Anin berusaha untuk mencuri fokus Anin dari ponselnya. Setelah Anin menoleh ke arahnya, Vindra tersenyum dan meminta maaf.
“Maafin aku ya, jangan marah sama aku, Nin,” ujar Vindra dengan tatapan tulusnya.
“Emang siapa yang marah sama kamu sih?”
“Kamu tuh marah sama aku makanya kamu berangkat sendiri tanpa ngabarin aku, iya ‘kan?”
“Jangan sok tau, Vindra,”
“Aku nggak sok tau, emang kenyataannya begitu. Kamu marah sam aaku. Kalau nggak marah, kenapa kamu berangkat sukuan terus nggak ngasih kabar, biasanya mkan kalau misal mau berangkat duluan atau belakangan kamu selalu bilang sama aku di chat. Nah tadi nggak. Aku ketemu nya sama Mama kamu dan Mama kamu bilang kalau kamu berangkat duluan,”
“Mama aku bilang apalagi ke kamu?”
“Ya nggak ada, beliau cuma bilang kalau kamu udah berangkat duluan,” ujar Vindra.
Tadi memang Ninda tidak mengatakan apapun selain informasi soal anaknya yang sudha bernagkat mebih dulu. Karena itu Vindra lansgung pamit pada Ninda untuk bernagkat ke sekolah, tak ada pembicaraan apapun.
“Mama aku aja nggak ngomong apa-apa ‘kan ke kamu? Kenapa kamu nyimpulin sendiri?”
“Ya mungkin Mama kamu juga nggak tau alasan kamu berangkat duluan,”
“Aku emang mau bernagkat dukuan aja, Vin, aku nggak marah. Udahlah jangan bahas itu lagi, aku pusing deh dengar kamu ngomong terus,”
“Kamu marah sama aku ‘kan?”
“Astaga, balik lagi bahas itu,”
“Aku nggak biasa ada konflik sama orang, Nin, apalagi sama sahabat aku sendiri makanya aku nggak tenang kepikiran terus dan aku kerasa bersalah. Zeline yang ingetin aku untuk minta maaf ke kamu, tadinya aku nggak merasa salah. Setelah dipikir-pikir, nggak snak ada konflik sama sahabat sendiri, aku ngaku kalau aku salah. Mungkin ada omongan aku yang nyakitin hati kamu perkara helm itu, aku minta maaf ya sekali lagi,”
“Iya, nggak usah dibahas lagi tapi, aku udah lupain kok,”
Vindra tersenyum, akhirnya Anin tidak dingin lagi menanggapinya. Ia senang karena itu artinya Nain sudah kembali seperti biasanya.
“Jadi kamu maafin aku?”
“Ya,”
“Senyum dulu dong, mana senyum kamu, Nin?”
Vindra mengarahkan Anin untuk menatapnya demgan menyentuh kedua bahunya setelah Anin menatapnya dna tersenyum, Vindra terkekeh.
“Nah! Gitu dong, jangan ketus mukanya, kamu jelek kalau ketus,”
“Ya udah sana balik ke tempat kamu,”
“Ih Vindra mesra amat sih sama Anin, ntar cewek lo cemburu tau,”
Tiba-tiba ada teman sekelas mereka yang berucap sinis seperti baru kenal Vindra dan Anin saja padahal sudah sering melihat Nain dan Vindra bersama, bahkan bersama Zeline juga
“Zeline nggak akan cemburu karena dia tau hati gue cuma buat dia doang,” jawab Vindra dnegan simple tapi maknanya tegas. Bahwa Ia punya Zeline dan begitupun sebaliknya. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
“Apaan? Noh barusan cewek lo lewat depan kela slo, mgeliat lo lagi ngobrol sama Anin dia langsung nyelonong pergi,” ujar Adit yang baru saja mengomentari kedekatan Anin dan Vindra barusan.
Mendapat informasi dari Adit kalau Zeline baru saja melewati kelasnya dan tidak langsung pergi begitu saja mendadak Vindra terdiam.
“Zeline nggak bakal cemburu, orang dia tau gue sama Vindra sahabatan dari kecil. Tadi dia langsung lewat gitu aja ya karena emang nggak ada kepentingan di kela sini jadi ngapain dia mampir ya ‘kan, Vin?” Tanya Nain pada Vindra yang diam beberpaa detik kemudian menganggukkan kepalanya.
Vindra harap kekasihnya tidak salah paham. Dan semoga saja yang dikatakan Anin itu benar. Zeline langsung lewat negitu saja karena memang dia tidak ada kepentingan kebetulan melintasi di depan Vindra jadi ya mau tidak mau melihat Vindra dan Anin sedang bertatapan satu sama lain tadi.
“Semoga aja Zeline nggak salah paham,” batin Vindra.
******
“Mereka lagi main hipnotis ya, Zel? Cowok lo sama sahabatnya itu lho, segala adu tatap,”
__ADS_1
Begitu duduk di kelas setelah membuang air kecil, teman Zeline yang bernama Ana langsung bertanya pada Zeline kenapa Vindra tadi adu tatap dengan Anin. Mana Zeline tahu. Zeline hanya melihat sekilas saja tadi, dimana kekaishnya memegang kedua bahu Anin dan mereka sempat beradu tatap entah apa tujuannya.
Ana yang menemani Zeline ke kamar mandi tadi saja benar-banar penasaran apa yang dilakukan oleh Vindra. Apalagi Zeline yang merupakan kekaishnya Vindra.
“Tapi kayaknya mereka lagi ngobrol aja sih tadi, keliatannya begitu,”
“Ngobrol apa kira-kira?” tanya Zeline dengan polosnya. Ana langsung tertawa melihat wajah penasaran Zeline.
“Kenapa lo nggak tanya langsung aja sih sama cowok lo? Pasti dia jawab daripada lo penasaran sendirian dan rasa penasaran lo itu nggak terjawab. Kalau lo nanya sama dia, pasti dia mau jawab lah,”
“Ya udah ntar gue tanya deh, paling lagi ngonrolin hal yang nggak penting kali,” ujar Zeline berusaha berpikiran positif walaupun tak bisa dihindari rasa cemburu itu pasti ada. Tapi Ia berusaha untuk menekan rasa cemburu itu supaya tidak menimbulkan perdebatan.
“Lagian lo sih percaya banget sama Anin,”
“Ana, nggak boleh gitu. Anin itu sahabat aku juga,”
“Ya tapi jangan dibiarin terllau dekat dong. Ah slah gue yang geregetan liat lo kebaikan ama dia,”
“Ih jangan ngomong gitu. Dia anaknya baik masa iya aku jahatin? Ya walaupun kadang mulutnya suka tajam ya, tapi dia sebenarnya baik kok aku tau dan bisa liat itu,”
“Ntar kalau tau-tau dia dijodohin sama cowok lo gimana, Zel? Misal nyar pas lulus SMA mereka dinikahin gimana?”
“Ah kamu ngomongnya terlalu jauh. Udah ah jangan ngomong yang aneh-aneh kerjain tugas aja mendingan,” ujar Zeline menghentikan obrolan antara Ia dan Ana karena omongan-omongan Ana itu membuat Ia jadi overthinking.
Kelas Zeline pagi ini seharusnya diisi dengan mata pelajaran matematika tapi guru tidak hadir dan beliau memberikan tugas. Makanya Zeline dan Ana tadi berani ke kamar mandi alias tidak segan karena memang sedang tidak ada guru.
Setelah jam pertama berakhir dan tugas dikumpulkan, saatnya Zeline dan teman-teman masuk ke mata pelajaran kedua yaitu sains tapi ternyata guru pengampu juga tidak bisa hadir karena sakit. Tapi tidak diberikan tugas, hanya dipersilahkan baca-baca atau mengulas materi yang lalu dan itulah yang Zeline lakukan sekarang sambil pikirannya tidak fokus akibat perutnya mulai lapar. Teman-temannya ada yang malah mengobrol, ada yang sibuk dengan game, ada yang belajar juga. Macam-macam lah isinya.
Total empat jam pelajaran tidak ada guru jadi wajar kalau penghuni kelas rasnaya seperti baru saja merdeka. Belakangan mereka jarang merasakan jam kosong, sekarang diberikan oleh dua guru mata pelajaran sekaligus.
“Ke kelas Vindra ah. Dia udah selesai atau belum ya,”
Saat waktunya istirahat Zeline langsung keluar dari kelas seorang diri, Zeline merasa kalau kelasnya yang paling awal istirahat karena duasana masih sepi belum ramai. Zeline melihat kelas-kelas lain masih diisi oleh guru mata pelajaran. Sedangkan penghuni kelasnya cepat sekali keluar dari kelas karena memang tak ada yang menahan-nahan mereka, guru tidak ada, tugas sudah selesai, jadi tunggu apalagi kalau tidak langsung keluar setelah bel istirahat berbunyi.
Di tempat duduk itu Zeline memainkan ponsel genggamnya. Ia mengisi kekosongan waktu dnegan membuka sosial media alih-alih sibuk bermain game.
Ketika kelas penghuni kelas Vindra keluar, Zeline langsung menyimpan ponselnya di saku seragam yang Ia kenakan. Vindra tersenyum menatapnya.
“Hai, ternyata udha keluar duluan? Aku baru aja mau nyamperin kamu di kelas,” ujar Vindra.
“Ah yang benar? Ntar aku ditinggal lagi kayak waktu itu,”
“Nggak lah, akh beneran mau nyamperin kamu tadinya, tapi karena kamu udah di sini ya ngapain lagi nyamperin kamu di kelas lagi ‘kan,”
“Ayo makan di kantin aku lapar nih,”
“Ayo,”
Vindra akan melangkahkan kakinya namun suara Zeline membuatnya mengurungkan niatnya itu.
“Anin mana? Kok kamu nggak sama Anin?” Tanya Zeline pada Vindra.
“Anin bawa bekal jadi dia nggak ke kantin, kita aja,”
“Oalah, beneran?”
“Iya beneran lah masa aku bohong,”
“Ya udah deh ayo kita ke kamtin berdua kali ini nggak ada Anin. Tumben Anin bawa bekal, Vin,”
“Iya nggak tau deh,” jawab Vindra sederhana. Ia juga merasa heran tadi ketika Anin memteluarkan bekal amkanan yang dibawa dari dumah.
“Biasanya Anin paling malas beresin bekal kalau nggak Mama nya yang beresin,”
“Kok kamu tau?”
__ADS_1
“Ya iyalah aku hidup sama dia udah lama walaupun nggak serumah tapi aku tau kalah dia anaknya emang suka malas,” ujar Vindra.
Zeline dan Vindra tiba di kantin dan langsung memilih salah satu meja yang masih kosong. Setelah memgambil tempat Zeline memilih untuk menghampiri pelayan supaya cepat pesanan dicatat.
Setelah memesan, Zeline kembali ke meja dimana kekaishnya sedang bermain game online. Kesempatan ini tak akan Zeline sia-siakan selagi Anin sedang tidak bersama mereka. Ia maish penasaran dengan apa yang dibicarakan Anin dam Vindra tadi ketika Ia selintas lewat depan kelas Vindra.
“Vin aku noleh tanya sesuatu nggak sama kamu?”
“Boleh, kamu mau tanya apa emangnya?”
“Tadi aku nggak sengaja lewat depan kelas kamu abis buang air kecils ama Ana—“
“Eh pantesan teman aku tadi ngomong gitu, ternyata kamu emang lewat ya, tapi keanpa langsung pergi nggak nyapa aku dulu gitu?”
Cerita Zeline diselak oleh Vindra yang malah minta disapa. Zeline hanya lewag sekelebat saja dan mata Zeline menangkap Anin dan Vindra sedang duduk bwrhadapan, masalah apa yang mereka bicarakan tidak Ia ketahui sama sekali.
“Aku tadi tuh buang air kecil, guruku nggak ada makanya aku nggak segan keluar ditemani sama Ana. Terus aku liat kamu sama Anin kayak lagi ngobrol ya?”
“Iya itu aku aama dia lagi ngobrol,”
“Ngobrol apa? Aku boleh tau nggak?”
“Boleh dong, aku itu tadi lagi minta maaf sama Anin, Zel. ‘Kan kamu juga yang nyuruh aku untuk minta maaf ke dia, nah udah aku lakuin tadi. Dia emang kayaknya badmood sama aku deh, Nin. Soalnya dia tuh aku ajak ngobrol diam aja terus cuek gitu nggak kayak biasanya. Aku ajak ngomong malah sibuk sama handphone,”
“Terus gimana? Dia usah maafin kamu?”
“Setelah aku minta maaf aku ajak ngomong baik-baik baru deh dia maafin aku, tapi dia nggak jelasin dia kesal karena apa. Perasaan aku sih bilang kayaknya dia beneran kesal soal helm,”
“Lh gitu, ada adegan tatap mata saya kayak pesulap gitu ya? Dh kayak pesulap atau hipnotis itu sih?”
Awalnya Vindra bingung tidak paham maksud ucapan kekasihnya tapi setelah Zeline memperagakan apa yang tadi Ia lakukan kepada Anin, Vindra akhirnya paham. Vindra tertawa menyadari kalau istrinya sedang mengajaknya bercanda. Pesulap, dan hipnotis katanya? Padahal tadi Ia hanya ingin Anin menatap matanya barangkali Anin jujur tapi ternyata tidak
“Itu bukan adegan tatap mata saya pesulap atau hipnotis, Vin,”
“Lah terus apa dong?”
“Aku cuma pengen dia natap mata aku aja soalnya dia selam aku ajak ngomong mggak natap aku senagai lawan bicara dia. Ya makanya aku suruh dia untuk natap aku dan aku minta maaf lagi, ya udah akhirnya damai deh kami berdua,”
“Udah ya jangan berantem-berantem lagi. Nggak baik berantem, apalagi kalian bersahabat. Udah kayak orang yang jadi aja pasangan aja ada berantemnya,” unar Zeline dnegan enteng tanpa beban padahal itu menyentil Vindra.
“Ngaco kamu. Pasangan aku ya kamu lah,”
“Kalian berdua beratme gemas namanya,”
“Nggak ada gemas-gemas. Yang namanya berantem ya berantem aja lah nggak ada kata gemas,” ujar Vindra.
“Ya tapi menurut aku kalian berantem gens, kenapa sih emangnya? Suka-suka aku lah mau nyebutnya apa,”
“Kamu sama Anin kalau berangem nggak ada gemas sedikitpun, Zel. Gara-gara helm aja bisa berantem,”
“Ya itu karena saking nggak akurnya kali ya,”
“Tapi nggak kok, aku liat kamu sama Anin akur-akur aja jarang berantem malah yang aku liat. Kalian saling menjaga satu sama lain,”
“Ya udah sekarang aja mungkin keliatannya nggak berantem kalau masih kecil jangan ditanya. Berantem mulu, aku udah bisa ingat momennya tuh,”
“Iya itu ‘kan waktu masih kecil tapi setelah umur sekarang juga masih saling ketus satu sama lain, kamu ngeliatnya yang akrab terus sih. Yang suka ketus itu ya di telepon, kalau ketemu langsung mau ketus juga aneh soalnya ntar orang mikir yang gimana-gimana,”
“Kamu sama Anin drama sering telponan ya? Terus saling ketusnya karena apa kalau aku boleh tau?”
“Hampir tiap hari ada telponan. Ketusnya kalau misal aku lama nih jawab telepon nah itu Anin cerewet banget. Padahal ‘kan aku nggak pegang handphone dua puluh empat jam. Aku jawab aja pakai bahasa jawa jadi kocak,”
“Kamu suka ketus ke dia karena apa?“
“Ya aku nggak terima lah dia bilang aku kupingnya agak gangguan makanya dia suruh aku ke dokter,” ucap Cindra yang mengundang tawa Zeline
__ADS_1