
“Aduh Zeline, kenapa sih dorong-dorong? Udah liat kan ada aku di sini?”
Zeline mengangkat salah satu alisnya kaget mendengar ucapan Anin yang tiba-tiba sekali bicara seperti itu padahal Ia tidak mendorong. Bahkan menyentuh pun tidak.
“Apaan sih? Emang aku dorong kamu? Nggak ada kepentingan ngapain dorong-dorong, orang aku nyentuh kamu aja nggak kok,”
“Sabar, ini tuh lagi antre,”
Zeline berdecak pelan. Tanpa diberitahu, Ia pun bisa lihat dengan mata kepala sendiri bahwa saat ini di kantin sedang antre mengambil makanan. Ini hal biasa, tanpa perlu ada drama dorong, biasanya aman-aman saja. Ini tiba-tiba malah ada drama yang dibuat Anin.
“Gue padahal nggak nyenggol lo sedikitpun,”
“Lah yang barusan apa?”
“Dih, orang ada yang lewat di belakang lo barusan. Mungkin karena itu lo jadi merasa kedorong atau lo mungkin lo bohong,”
__ADS_1
“Aku serius!”
Tiba-tiba Anin menaikkan nada bicaranya hingga beberapa pengunjung kantin sekolah langsung menatap penasaran ke arah mereka. Zeline sudah bisa membayangkan apa saja yang orang-orang itu pikirkan setelah menyaksikan Anin memarahinya.
“Yang jelas bukan gue,” jawab Zeline dengan santai dan tanpa punya niat untuk memperbesar keributan.
“Ini ada apaan sih?”
Vindra yang semula sudah menempati salah satu meja langsung bergegas menghampiri Zeline dan Anin yang tampak sedang memperdebatkan sesuatu yang tidak Ia ketahui sedikitpun sebabnya apa.
“Ya udah lah Nin nggak usah diperpanjang,”
“Ya aku kan kaget untungnya aku belum megang bakso nya. Coba kalau aku udah meburu pegang bakso, terus kalau tumpah gimana? Kalau aku jadi ada luka melepuh gimana? Emang Zeline mau ganti? Huh?”
“Ya kaget sih kaget tapi jangan nuduh juga dong,” jawab Zeline dengan ketus.
__ADS_1
Sekarang bukan hanya Vindra yang datang menghampiri dua perempuan itu, tapi Juan juga menunjukkan eksistensi nya di samping Zeline.
“Udah biar gue aja yang antre,” ujar Juan seraya mengisyaratkan Zeline untuk menempati meja yang masih kosong namun Zeline menggelengkan kepalanya menolak.
“Ayo buruan nunggu aja di meja, ntar aku yang antre, kan udah aku bilang ke kantinnya nunggu aku aja eh kamu malah duluan. Udah sana kamu duduk aja biar aku yang antre okay?”
“Nggak apa-apa, nggak usah. Biar gue aja,”
“Aku aja, Zeline,” jawab Juan sambil memainkan matanya supaya Zeline tahu bahwa sekarang mereka harus sama-sama berperan dalam seni akting.
Zeline seketika dibuat paham. Ia tidak tahu itu berpengaruh atau tidak untuk Vindra yang masih tak percaya kalau Ia adalah kekasih Juan. Tapi setidaknya Ia bisa menenangkan diri usai sempat kesal pada Anin. Akhirnya Ia membiarkan Juan lah yang mengantre giliran makanannya dikeluarkan dan Ia terima.
“Lo tuh nggak diajak, anak baru,” ujar Anin dengan tatapan sinis mengarah ke Juan yang langsung mengangkat kedua alisnya seperti menantang.
“Terus kalau gue nggak bantuin cewek gue udahan berantemnya gimana? Khawatir lah gue makanya biar gue aja yang antre, biar gue ada gunanya dikit jadi cowoknya Zeline, berisik banget mulut lo,”
__ADS_1