Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 182


__ADS_3

“Zel, itu Juan udah punya pacar belum?”


“Hmm? Kenapa Mama tiba-tiba nanya begitu?”


Zeline langsung berhenti makan ketika mendapat pertanyaan seperti itu dari Reta mamanya yang menemani Ia makan sereal siang ini sepulang sekolah.


“Ya nggak apa-apa, Mama mau tau aja. Dia udah unya pacar belum?”


“Yang aku tau sih belum, Ma,”


“Oalah, kirain udah,”


“Emang kenapa, Ma?”


“Kayaknya Juan suka sama kamu ya?”


Zeline mengangkat kedua bahunya menjawab pertanyaan Reta. Ia tidak tahu pasti jawaban atas pertanyaan mamanya itu.


“Pernah ngomong ke kamu nggak?”

__ADS_1


“Hmm nggak tau aku lupa atau nggak sadar ya, Ma? Akus ama dia emang dekat tapi ya dekatnya cuma teman aja gitu, aku anggap dia cuma teman, ke Jery juga gitu. Ya sama lah kayak Vindra cuma bedanya Vindra kan sebelumnya udah pernah jadi pacar aku. Jadi ya gitu deh, Ma,”


“Soalnya yang Mama liat dia suka sama kamu deh. Dia keluatannya kesal tuh Vindra masih deketin kamu. Waktu dia datang ke sini dan dia bilang Vindra masih ganggu kamu. Itu keluatan nggak suka nya,” ujar Reta menyampaikan isi pikirannya tentang Juan setelah Juan berkunjung ke rumahnya mengantarkan Zeline pulang dan saat itu Juan mengatakan padanya bahwa Zeline masih diganggu oleh Vindra.


“Kalau emang dia nggak terganggu ya, ngapain dia laporan sama Mama kayak gitu? Dia seolah engen ngasih tau Mama kalau Vindra gangguin kamu, belum bisa move on dari kamu,” ujar Reta.


“Hmm nggak tau, Ma. Aku juga nggak mikir ke sana. Biarin aja deh dia mau suka atau nggak sama aku, aku nya sejauh ini biasa-biasa aja,”


Zeline meneguk air minum setelah serealnya habis. Kemudian Ia mencuci alat makannya barulah Ia kembali duduk di hadapan mamanya.


“Mama ngeliat Juan gimana?”


“Teman aku emang pada baik, Ma,”


“Alhamdulillah semoga pada baik terus sama Zeline, dan Zeline nya juga gitu ke teman-teman,”


“Kalau Vindra gimana? Abis databg ke ulang tahun Mamanya, kamu masih ada komunikasi gitu nggaks ama Vindra?”


“Masih suka ketemu kalau papasan gitu,”

__ADS_1


“Masih ngobrol?”


“Masih, Ma,”


“Ya udah bagus lah. Memang harus begitu kan,”


“Santai aku mahs ama dia, dia nya aja tuh yang nggak santai. Agresif kadang, jadi aku yang nggak enak kalau diliat yang lain. Masa suka tiba-tiba duduk di sebelah aku pas aku makan di kantin sendirian. Ngapain coba? Padahal dia lagi sama teman-temannya,”


“Ya kalau berteman kan begitu, tandanya nggak ada canggung-canggung lagi, pengen ngobrol sama kamu itu dia,”


“Aku suka takut kalau diajak ngobrol sama dia,”


“Emang kenapa?”


“Takut tiba-tiba dia pengen balikan sama aku lagi, Ma. Dia kan pernah ngomong ke aku kalau dia pengen kami bareng-bareng lagi,”


“Serius?” Tanya Reta dengan kedua mata yang membelalak.


“Ya serius, Mama. Nggak mungkin lah aku bohong, waktu itu dia ngajakin aku makan, katanya ada Tante Rina mamanya. Dia bilang ada yang mau diobrolin sama Tante Rina ya udah akhirnya aku mau dia ajak ke restoran. Nggak taunya saat itu cuma ada aku sama dia doang, nggak ada Tante Rina. Dan di situ dia ngajakin aku balikan, Ma. Aku kaget banget. Segala nulis i love you di piring gitu,”

__ADS_1


__ADS_2