
“Makasih, Dok,”
“Sama-sama. Ini Mas teman Mbaknya ya?”
“Suami,”
Dokter membelalakkan matanya, begitupun Zeline dan Chaca. Kalau Tahu Vindra akan bicara macam-macam dengan dokter, Zeline tidak akan mau diantar Vindra ke rumah sakit. Lebih baik Ia bersama Chaca saja.
Zeline menggertakkan giginya geram. Vindra tidak kira-kira, memperkenalkan diri menggunakan kebohongan yang disampaikan dengan percaya diri.
“Nggaklah, bercanda. Saya mantan,” imbuh Vindra setelahnya seraya tertawa kecil. Dokter semakin bingung dengan penuturan Vindra. Mantan yang disebut Vindra itu tidak spesifik. Entah mantan suami, atau mantan kekasih.
Dokter bertanya seperti tadi karena Ia hanya ingin tahu saja apa sebenarnya status Vindra ini. Karena dia paling keras kepala ketika disuruh menjauh dari Zeline yang akan ditangani, sementara Zeline tidak bersedia punggungnya dilihat oleh orang selain perawat perempuan yang tadi menangani, dan juga Chaca yang seorang perempuan.
“Mantan apa?”
“Ya mantan, Dok,”
“Dokter, dia teman saya. Nggak usah didengerin omongannya yang aneh-aneh,”
Dokter tersenyum dan menganggukkan kepalanya lantas keluar dari ruangan penanganan meninggalkan Zeline, Vindra, dan juga Chaca.
“Kok lo ngomong begitu sih? Nggak jelas banget mantan-mantan,”
“Lho kan emang beneran mantan,”
Vindra mengangkat bahunya tanpa menjelaskan secara rinci maksud dari perkataannya tadi yang langsung membuat dokter dan Chaca bingung sementara Zeline menahan kesal.
“Kurang ajar banget emang si Vindra ya. Dia nggak jelas banget sih. Udah maksa-maksa mau nganterin ke rumah sakit, terus barusan mulutnya sembarangan ngomong,” batin Zeline.
“Makasih,”
“Apa? Nggak denger,”
Zeline merotasikan bola matanya karena ucapan Genio. Padahal Ia sudah bicara jelas tapi Vindra pura-pura tidak mendengar. Biar, Zeline tak mau mengulang.
“Chaca, makasih ya udah mau temenin aku ke sini,”
Alih-alih mengulang ucapan terima kasih untuk Vindra, Zeline justru mengucapkan terimakasih untuk kesekian kalinya pada Chaca yang baik sekali. Sahabatnya itu mau peduli dengannya. Chaca ikut panik begitu Ia tersiram kuah, dan Zeline merasa bersyukur memiliki sahabat yang baik seperti Chaca.
“Eh gue minta ulang, yang tadi lo omongin nggak denger,”
“Ya salah sendiri punya kuping nggak dipake,”
“Lah, darimana ceritanya nggak dipake? Orang jelas-jelas ini dipake, dia terpasang dengan baik, ‘kan nggak bisa dilepas pasang,” kata Genio seraya menyentuh kedua telinganya sendiri.
Chaca berdehem dengan perasaan curiga yang masih belum habis. Tadi mendengar pengakuan Vindra tentang Zeline yang merupakan mantannya, sekarang Chaca disajikan dengan pemandangan yang membuatnya semakin bingung. Interaksi antara Vindra dan Zeline kelihatan cair padahal sebelumnya jarang sekali mengobrol, bahkan terkesan tidak saling mengenal satu sama lain kalau di sekolah. Jangan-jangan mereka sepasang mantan suami istri.
“Nggak bisa bersyukur banget. Harusnya bilang makasih dong,”
“Eh gue udah bersyukur, barusan gue ngomong makasih. Lo aja yang budeg kali,”
“Yee aku nggak denger!”
“Ya udah, gue nggak mau tau. Salah sendiri kupingnya nggak dibersihin, jadinya kebanyakan kotoran terus akhirnya susah dengar,”
“Halah, berisik kamu!”
“Eh udah napa sih! Kok pada debat?! Zeline, mending lo pikirin kondisi lo deh. Apa udah mendingan?”
“Udah banget, nggak panas lagi cuma perih aja,”
“Iya wajar, namanya juga abis kesiram air panas,”
“Eh Vindra, lo bilangin tuh sama pacar lo ya, jangan suka cari perkara deh. Zeline nggak pernah tuh nyenggol-nyenggol dia tapi kenapa dia bisa banget beralasan nggak sengaja nyiram Zeline dari belakang, padahal ‘kan walaupun kantin rame, masih ada tempat untuk nggak nabrak-nabrak Zeline,”
“Udahlah, Cha. Nggak usah dibahas lagi. Emang kantin rame jadi mungkin—“
“Ya nggak gitu, Zeline. Gue kesel aja sama dia. Mana tampang mukanya kayak nggak ada rasa bersalah. Minta maaf iya tapi dari muka nggak ada rasa bersalah. Padahal dia nggak tau gimana rasa sakitnya. Pengen banget gue bales langsung tadi. Biar dia ikut ngerasain, kalau perlu di mukanya sekalian. Biar mukanya yang cakep dan bikin dia populer dan bikin Vindra bucin jadi cacat,”
“Eh, Chaca!” Zeline menegur Chaca yang memang sering sekali hilang kendali kalau sudah bicara apalagi ketika sedang kesal. Berapi-api mulut Chaca bicara dan Zeline tidak mau itu menyinggung hati Vindra. Kemungkinan besar lelaki itu sakit hati mendengar ucapan Chaca dan bisa jadi Vindra jadi membenci Chaca. Zeline tidak mau ada permusuhan diantara mereka. Maka dari itu Ia tidak mau membahas kesalahan Anin yang Ia anggap memang tidak sengaja membuatnya tertimpa musibah tadi.
“Iya gue minta maaf atas nama Anin. Gue juga udah negur dia tadi. Tapi harus lo ingat, jangan sangkut pautin gue sama dia lagi karena kami nggak ada hubungan apa-apa,”
“Hah? Kok bisa? Pantesan nggak keliatan bareng-bareng lagi,” ujar Chaca.
“Ya bisa lah, emang cuma sahabat kok, nggak lebih dari itu,”
“Ah itu alasan biasa, nggak ada alasan lain?”
“Udah deh nggak usah ngomongin gue sama Anin lagi. Intinya udah nggak ada hubungan apa-apa diantara kami,”
“Kalian pulang aja. Aku udah bilang sama mama papa kok, bentar lagi mereka kayaknya udah sampe sini,”
Zeline tidak mau merepotkan Vindra maupun Chaca maka dari itu Ia menyuruh mereka berdua untuk meninggalkannya. Lagipula Ia sudah memberitahu orangtuanya bahwa Ia ada di rumah sakit.
__ADS_1
“Nggak ah, gue nanti aja baliknya. Mending Vindra aja tuh yang pulang, gue sih santai,”
Vindra melirik Chaca yang baru saja menyuruhnya untuk pergi padahal Ia sedang nyaman duduk di dekat bangsal Zeline.
“Lo aja sana yang balik, nggak usah sok asik deh. Segala nyuruh-nyuruh gue balik,”
“Gue nggak sok asik tuh, gue nyuruh lo balik karena lo nggak ada kepentingan di sini. Kalau gue ‘kan emang temennya Gira iadi wajar aja di sini. Nah lo tuh siapa? Temen Zeline juga?”
“Sekalian aja deh ya, daripada lo banyak tanya mending gue kasih tau aja. Gue sama dia emang mantan, terus kenapa kalau gue mau di sini? Gue lagi enak duduk terus lo usir,”
“Mantan apa? Nggak usah ngomong yang aneh-aneh deh, kalau mantan pacar ya gue tau,”
“Mantan suami istri, puas?”
“Ah mas—eh? Apa? Serius?!”
Chaca sampai gagap memberikan reaksi atas ucapan Vindra barusan yang mengungkap status antara Vindra dan Zeline.
Tidak percaya, kaget, dan bingung bercampur jadi satu. Chaca langsung menatap Vindra dan Zeline yang saat ini saling melempar tatapan. Yang satu menatap dengan geram, yang satu lagi menatap dengan santai.
“Kenapa?”
“Lo bisa nggak sih pergi aja dari sini? Daripada lo makin ngelantur mending pergi deh,”
“Lho, ngelantur darimana? Gue ngomong apa adanya. Emang kita mantan ‘kan? Terlanjur udah ada yang tau juga, jadi ya udahlah bodo amat. Lagipula udah mau lulus, terserah apa kata orang-orang,”
“Ish, apa-apaan sih kalian? Jangan bikin gue pusing dong,”
“Ya intinya begitu,”
“Jadi kalian nikah? Kok nggak bilang gue?!”
“Tega banget lo sama gue, Zel! Gue ini temen lo ‘kan? Kok—“
“Astaga, Cha, tolonglah jangan bahas ini. Punggung aku lagi sakit lho, dia tuh ngarang! Jangan didengerin,”
Zeline terlalu malas bicara dari satu ke satu orang lainnya soal status yang sebetulnya tak perlu lagi Ia bicarakan atau dibahas.
“Ya tapi gue perlu penjelasan, gue ini salah orang yang dekat sama lo, Zel. Bisa-bisanya gue nggak tau soal ini, emang bener lo sama dia—“
“Nggak, Chaca. Mantan emang bener tapi kan mantan pacar bukan yang lain,”
*******
Baru saja Chaca masuk lagi setelah menjawab panggilan dari mamanya di luar ruangan Zeline. Ia langsung meminta maaf pada Zeline, karena niat hati ingin menemani Zeline sampai orangtuanya datang, tapi ternyata sang mama minta diantar ke rumah sakit.
Ia sebagai anak yang baik dan ingin berbakti, tentu tidak bisa menolak walaupun sebenarnya berat juga karena harus meninggalkan sahabatnya.
“Iya nggak apa-apa banget, Cha. Makasih ya udah temenin aku, mama papa lagi macet jadi belum sampai, tapi bentar lagi pasti udah di sini kok. Jadi kamu tenang aja. Kamu antar mama kamu ke rumah sakit ya,”
Chaca menggenggam erat tangan Zeline dan menatap Zeline dengan mata yang sayu, Ia merasa bersalah, tapi tak ada pilihan lain.
“Serius ya nggak apa-apa?”
“Iya nggak apa-apa. Santai aja, Cha. Aku bisa sendiri kok di sini,”
“Lagian gue belum mau balik ini,” ujar Vindra yang sejak tadi diam dan fokus dengan ponsel genggamnya.
“Lo sampe kapan di sini?”
“Ya suka-suka gue lah. Nggak usah nanya, orang bukan urusan lo juga. Gue masih betah di sini, soalnya di rumah nggak ada kerjaan jadi bosen,” ujar Vindra dengan santainya.
“Lah, cari kerjaan sana. ‘Kan udah mau lulus,”
“Ijazah aja belum ada, nggak usah ngatur-ngatur gue buat cari kerjaan deh. Gue udah punya kerjaan. Walaupun masih diajarin bokap,”
Zeline merotasikan bola matanya mendengar celoteh Vindra yang arogan sekali. Ia tidak meminta Vindra bertahan di sini tapi lelaki itu tampaknya nyaman sekali di ruangannya walaupun tak ada yang mereka bicarakan. Zeline mengobrol dengan Chaca tadi, sementara Vindra sibuk dengan ponsel genggamnya. Sekarang kalau Chaca memutuskan untuk pulang, otomatis Zeline dan Vindra akan terjebak dalam situasi yang canggung karena Vindra tak mau pulang.
“Okay gue pulang dulu ya, Zel. Semoga lo cepat sembuh,”
“Aamiin, sekali lagi makasih ya, Chaca,”
“Sama-sama, gue pamit, Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam, hati-hati ya, Cha,”
Chaca mengangguk dengan senyumnya lantas keluar dari ruangan Zeline meninggalkan Zeline dan juga Vindra yang kini menatap ke arah Zeline.
“Lo harusnya pulang aja, gue nggak butuh kamu, Vin,”
“Ya aku betah di sini,”
“Kenapa sih nggak ke rumah aja? Aku nggak enak kalau ada orang, mendingan sendiri,”
“Emang kenapa? Masalah?”
__ADS_1
“Pulang aja sana! Kenapa betah di sini? Harusnya pulang aja. ‘Kan enakan di rumah bukannya? Bisa main game sepuasnya, atau mungkin bisa bawa pacar ke rumah,”
“Apaan sih? Emang aku punya pacar? Nggak usah sok tau,” ujar Vindra dengan kesal.
“Ya cari lagi lah yang baru kalau emang beneran udah putus sama yang duluan,”
“Ngatur, mana bisa secepat itu? Nggak gampang lah untuk move on,”
“Soalnya udah cinta banget ya?”
Vindra memutar bola matanya. Tanpa menjawab, Zeline seharusnya tahu jawabannya.
“Kamu sendiri udah move on?”
“Ya iya dong, tunggu apalagi? Aku harus nikmati hidup aku yang sendirian tanpa pasangan ini, kamu aja bisa nikmati kesendirian kamu ‘kan? Malah kayaknya lega banget lepas dari aku ya? Sama sih, aku juga begitu,”
Zeline beranjak dari posisi berbaringnya dan itu membuat Vindra langsung menegakkan punggungnya dan menatap Zeline dengan kening mengernyit.
“Kenapa kamu?”
“Nggak apa-apa, mau duduk aja. Lo mending pulang deh, nanti ketemu papa gue, emang nggak canggung?”
“Emang papa kamu belum bisa maafin gue ya?”
“Papa nggak kesal sama lo kok, kan kita putus karena kesepakatan bersama,”
“Kesepakatan kamu sendiri sih lebih tepatnya, tapi aku tetap merasa udah ngecewain orangtua kamu, Zel,”
“Ya elah, santai aja. Mereka nggak kecewa kok,”
“Gue yang kecewa karena keputusan lo!” Jawab Vindra dengan ketus.
“Aneh, beda-beda ngomongnya. Kadang aku, kadang lo, maunya apa sih? Biasanya juga aku,”
“Ya kamu sendiri ngomongnya udah lo gue. Oh mau dilembutin? Hmm?”
Vindra tersenyum miring menatap Zeline yang langsung memalingkan pandangan ke arah lain. Ia masih tidak berani melihat Vindra tersenyum.
“Kenapa sih? Kok buang muka?”
“Malas aja liat kamu,”
Rahang Vindra sedikit mengetat mendnegar ucapan Zeline.
“Lo kenapa sih?” Tanya Vindra ketika melihat Zeline berbaring memunggunginya.
“Punggung aku sakit,”
“Ya makanya pelan-pelan dong, jangan geradakan jadi cewek,”
“Jangan pegang-pegang ah!”
Zeline marah pada Vindra yang memegang lengannya dan membantu Ia duduk lagi. Vindra segera mundur satu langkah dari bangsal Zeline.
“Aku cuma khawatir, Zel. Tiba-tiba kamu kesakitan, nanti kalau orang ngiranya aku yang bikin kamu sakit gimana?”
“Kamu khawatir karena mikirin pandangan orang lain, bukan benar-benar khawatir karena rasa kemanusiaan,”
“Khawatir karena itu juga, Zel,”
“Aku lupa, kamu ‘kan nggak boleh lagi khawatir sama aku ya,”
“Dih, apaan sih? Ngomong makin ngelantur,”
“Lah emang beneran ‘kan? Beda cerita kalau Anin—-hmmpp,”
Zeline mengusir tangan Vindra yang menutup mulutnya. Kemudian Ia melotot tajam. Sementara Vindra berdecak. Mereka sama-sama kesal. Vindra kesal karena Zeline sempat memukul tangannya tadi, padahal Ia menutup mulut Zeline karena Zeline itu makin tidak jelas omongannya, senentara Zeline kesal karena Vindra lancang menutup mulutnya secara tiba-tiba.
“Kamu jangan sentuh-sentuh aku dong! Nggak sopan!”
“Ya makanya itu mulut bisa diam nggak sih?“
“Nggak usah pegang-pegang bisa nggak sih?”
Zeline menimpali ucapan Vindra yang membuat Vindra terbungkam tanpa kata. Rupanya Zeline sudah memberlakukan aturan bahwa dia tidak boleh disentuh sedikitpun oleh Vindra.
Vindra seharusnya tahu akan hal itu tanpa diberitahu tapi Vindra terlanjur kesal karena Zeline akan menyebut nama Anin tadi, sementara Zeline sendiri sudah tahu bahwa Ia dan Anin tidak memiliki hubungan apa-apa.
“Kok kamu bisa sih nyebut nama orang yang udah bikin kamu sakit kayak gini? Kalau aku jadi kamu, mungkin aku udah mual duluan nyebut nama dia,” ujar Vindra.
“Kok kamu keliatan kesal juga? Emang Anin bikin salah sama kamu?”
“Ya nggak, aku kesal aja. Entah kenapa aku rasa dia tuh sengaja nyiram kamu pake kuah sialan itu. Padahal Chaca sendiri bilang masih ada space buat jalan yang benar tanpa harus nabrak,”
“Kenapa kesal? Dia cewek yang kamu cinta lho, Vin. Mungkin dia cemburu sama aku jadinya dia tega ke aku. Jadi daripada itu berlanjut terus, mending kamu pergi aja deh sekarang. Dan jangan dekat-dekat aku,"
__ADS_1