Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 109


__ADS_3

“Vindra, kamu nggak mau bantuin Zeline gitu?” Anin sengaja mendorong punggung Vindra dupaya mengambil tindakan. Vindra ragu karena mengingat Zeline saja maish kesal padanya, tapi Ia memyayangi Zeline walaupun Zeline kesal atau bahkan benci, Ia harus mengabaikan itu. Dan Ia harus secepatnya menolong perempuan yang Ia sayang. Tapi karena Ia terlalu memakan waktu untuk berpikir, akhirnya sudah ada teman sekelas Zeline yang membawa Zeline duduk di pos keamanan dengan cara digendong di punggung.


“Yang lain lanjut aja, biar Zeline diurus sama Bu Dewi dan ditemenin Faris,” ujar Pak Bimo pada murid lain yang sempat menghentikan langkah kaki mereka karena ada mudibah yang terjadi pada Zeline.


Faris menggendong Zeline, dan didampingi oleh Bu Dewi. Anin langsung mencubit lengan Vindra yang sempat membelu sebentar menatap Zeline yang ada di gendongan Faris.


“Kamu kok diam aja? Kamu nggak nolongin Zeline tadi,”


“Ya ‘kan dia udah ditolongin sama temen sekelasnya,”


“Ya kamu kelamaan mikir kali! Jadi keburu orang lain yang nolongin,”


“Lagian aku sama Zeline tadi tuh jaraknya lumayan, ya wajar aja kalau aku kalah cepat,”


“Ya elah, kalau cinta mah mau sejauh apapun langsung tancep gas lah,”

__ADS_1


Vindra berdecak pelan mendengar ucapan Anin di sebelahnya. Vindra jadi semakim merasa bersalah. Apa Ia memang terlalu lama mengambil keputusan untuk mdnolong Zeline? Kalau memang benar, apakah itu berarti Ia sudah berubah? Saat menjadi kekasih Zeline, Vindra paling tidak bisa melihat Zeline terluka ataupun menangis. Pasti Ia akan mengambil tindakan tegas tapi yang terjadi barusan adalah sebaliknya. Ia pikir-pikir dulu. Padahal biasanya langsung sigap melakukan sesuatu demi mengusir rasa sakit ataupun sedih yang dialami oleh Zeline.


“Vindra lo diam aja gitu cewek lo digendong sama Faris? Ya emang musibah sih yang tadi, cuma kenapa lo nggak bantuin aja sih?”


Seorang siswi yang ada di barisan depannya Vindra dan Anin langsung menegur Vindra yang tidak melakukan apapun ketika Zeline terjatuh akibat disenggol motor barusan.


“Orang mereka udah putus. Sebenarnya Vindra sama Zeline tuh udah end, emang lo nggak tau?”


“Hah? Seriusan, Nin?”


“Kok bisa sih? Ada orang ketiga?”


“Nggak ada sih, emang Zeline nya udah bosan kali sama Vindra,”


“Ih mana mungkin sih. Zeline tuh sayang banget sama Vindra. Lo jangan ngomong begitu dong, Nin. Kalian ‘kan sahabatan ya harusnya didukung dong,” ujar Dena yang selama ini melihat hubungan Zeline dan Vindra yang tampak dari luar baik-baik saja dan mereka saling melengkapi satu sama lain, tidak berlebihan menunjukkan kemesraan, tapi tetap saja kelihatan romantis.

__ADS_1


“Dukung apaan? Dukung supaya putus?”


“Ya jangan dong!”


“Eh Anin, jangan bilang mereka putus gara-gara lo? Ih makanha nggak usah sahabatan sama yang udha punya pacar, ribet tau!”


Sinta yang ada di sebelah Dena langsung masuk dalam pembicaraan. Ucapan Sinta langsung membuat Anin menggelengkan kepalanya pelan.


“Kurang ajar banget lo ngomong kayak gitu. Emang lo tau apaan sih? Jangan sok tau deh jadi orang! Gue tuh nggak pernah jadi orang ketiga dalam hubungan siapapun. Lagian gue juga udah lama banget sahabatan sama Vindra.


“Ya terus kenapa dong? Selama ini keliatan akur kok tiba-tiba putus,”


“Ya soalnya—“


“Anin udahlah nggak usah ngomongin hubungan aku bisa nggak? Kamu nggak seharusnya ngelakuin itu. Soal status aku dan Zeline yang udah putus aja sampai kamu obrolin sama orang lain pas banget di depan mata aku,”

__ADS_1


__ADS_2