
“Sekarang masih nggak aktif handphone nya ya ampun. Dia beneran marah sama gue atau gimana sih?”
Vindra menggusar rambutnya karena sekarang bingung harus apa. Ia menghubungi kekasihnya sejak sore tidak ada jawaban. Terakhir Ia bisa menghubungi Zeline ketika masih ada tamu, yaitu Anin dan mamanya.
“Ke rumahnya Zeline aja ah. Kalau emang dia nggak ngambek kenapa dia nggak jawab telepon sama chat gue. Apa dia sakit? Gue harus tau dia kenapa,”
Akhirnya Vindra mengambil keputusan untuk datang ke rumah kekasihnya saja daripada Ia bingung sendiri karena Zeline tidak bisa dihubungi baik itu melalui chat maupun telepon.
Vindra bergegas mengambil jaket jeans nya, kemudian Ia menyimpan ponsel dan dompetnya di dalam saku celana, tak lupa mengambil kunci motor.
“Naik motor aja lah biar cepat sampai,” gumamnya sambil membuka pintu kamar.
Ia berjalan cepat menuruni anak tangga. Ia bahkan melompati beberapa anak tangga sekaligus. Walaupun pernah ditegur oleh orangtuanya karena melakukan itu, Ia tetap saja senang melakukannya bila sedang buru-buru.
“Ma, Pa, aku pergi sebentar ya?”
“Lho, kemana? Ini udah jam delapan lho,”
“Baru jam delapan, Ma. Aku ‘kan cowok,”
“Iya tapi mau kemana? Jangan malam-malam pulangnya! Ingat ya! Walaupun kamu cowok, kaku tetap punya aturan,” ujar Rina dnegan tegas sambil menatap anaknya dengan tegas juga.
“Iya aku tau, Ma. Ini cuma mau keluar bentar aja kok,”
“Kemana, Vin?” Tanya Hadi.
Vindra terpaksa mengganggu Mama dan Papanya yang sedang menonton di ruang keluarga. Ia harus pamit tidak mungkin diam-diam pergi tanpa pamit pada mereka.
“Aku mau ke rumahnya Zeline,”
“Eh mau ngapain? Ini udah malam, kamu aneh-aneh aja. Mau ngajakin anak orang keluar malam? Ya jangan lah! Nggak bakal dikasih juga sama Papa Mama Zeline. Yang ada juga kamu diusir,”
“Nggak, aku nggak mau ngajak Zeline jalan. Ini aku mau tau aja dia kenapa ya susah dihubungin, aku mau tau alasannya. Apa dia sakit atau dia ngambek sama aku. Biar aku nggak bingung, nggak khawatir ya mendingan aku cari tau langsung aja ke rumahnya,”
“Oh begitu, ya udah hati-hati, langsung pulang. Jangan lama-lama di rumah Zeline nggak enak udah malam,” pesan papanya yang langsung dijawab dengan sikap hormat dari Vindra.
“Okay, Pa. Aku langsung pulang kok,”
“Ya udah hati-hati,”
“Iya, Assalamualaikum,”
Vindra mencium tangan kedua orangtuanya sebelum pergi dengan motornya itu.
“Waalaikumsalam,”
Vindra diantar hingga ke depan pintu. Tidak lupa Vindra menggunakan helm sebagai bentuk perlindungan dirinya.
Vindra mengemudi dengan kecepatan yang normal. Sebelum sampai di rumah Zeline, Vindra melihat penjual martabak. Ia singgah dulu sebentar dan membeli lima kotak martabak. Setelah membeli martabak, Vindra melanjutkan perjalanan ke rumah kekasihnya itu.
Penjaga rumah Zeline langsung membuka gerbang begitu melihat Vindra lah yang datang.
“Malam, Pak,”
“Malam, Mas Vindra. Silahkan masuk, semuanya ada di dalam,”
“Iya makasih, Pak,”
“Sama-sama,”
Vindra menekan bel sambil mnegucap salam. Ia berharap Zelina belum tidur sehingga kedatangannya tidak sia-sia.
“Assalamualaikum,”
Dua kali Vindra mengucap salam, sampai kemudian pintupun dibuka oleh mamanya Zeline
“Waalaikumsalam, Vin, tumben datang malam? Kamu dari rumah?”
__ADS_1
“Iya, Tante. Ini tolong diterima,” ujar Vindra sambil menyerahkan apa yang ada di tangannya kepada Reta.
“Ya Allah, kenapa repot-repot? Kamu selalu deh ada aja yang dibawa. Makasih banyak ya,”
“Iya sama-sama, Tante. Aku dari rumah langsung ke sini. Zeline ada ya, Tante?”
“Ada, di kamarnya tapi nggak tau deh udah tidur atau belum. Kenapa? Mau Tante panggilkan?”
“Oh nggak usah deh, Tante. Aku nitip salam aja buat Zeline, sama kalau bis atolong bilangin Zeline handphone nya diaktifin. Aku hubungin Zeline nggak bisa-bisa soalnya. Tapi Zeline baik-baik aja ‘kan, Tante?”
“Sehat kok Alhamdulillah, kamu tenang aja,” jawab Reta sambil tersenyum. Tujuan Vindra datang ke sini sepertinya karena ingin menanyakan soal Zeline saja.
“Aku takut dia susah sihubungin karena lagi nggak enak badan, atau dia ngambek sama aku,”
“Nanti Tante sampein ya ke Zeline supaya nyalain handphone nya,”
“Makasih, Tante. Aku panit dulu,”
“Masuk dulu aja, kamu emang nggak capek dari rumah ke sini terus dari sini langsung balik ke rumah,”
“Nggak, Tante. Karena aku pengen tau keadaan Zeline aja,”
“Ya udah hati-hati ya, makasih untuk martabaknya, makasih perhatiannya, sampai relot-repot datang ke sini udah malam cuma untuk tau keadaan Zeline,”
“Aku khawatir jawab Vindra sambil tersenyum. Reta sudah bisa menebak akan sebahagia apa anaknya kalau tahu Vindra datang ke rumah ini dengan tujuan hanya satu, yaitu ingin tahu keadaan Zeline.
“Aku pamit pulang ya, Tan, Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam, hati-hati ya, Vin,”
“Iya makasih, Tante,”
Vindra menggunakan helm setelah itu melajukan motornya meninggalkan kediaman sang kekasih.
******
“Ngobrol bentar, Nak,”
“Oh, harus sekarang nih, Ma?”
“Ih masa nggak mau ngobrol sama Mamanya?”
Zeline menghembuskan napas kasar. Ia tidak punya pikihan selain beranjak meninggalkan ranjang setelah itu membukakan kunci pintu kamarnya untuk menemui sang Mama.
“Iya ngobrol apa, Ma?” Tanya Zeline pada mamanya dengan kedua mata yang masih berat sekali. Memang seharusnya Ia masih memejamkan kedua matanya sekarang.
“Barusan Vindra datang ke sini lho,”
Mendengar nama Vindra, Zeline langsung berusaha membuka mata selebar mungkin sambil bertanya “Beneran ini, Ma?”
“Iya beneran lah, masa Mama bohong. Vindra datang ke sini karena dia mau tau keadaan kamu,”
“Hah? Aku ‘kan baik-baik aja, kenapa dia mau tau jeadaan aku?”
“Karena kata Vindra, kamu itu susah banget dihubungi. Vindra nitip salam buat kamu dan minta tolong sama Mama untuk sampein ke kamu handphone tolong diaktifin, dia hubungin kamu nggak bisa-bisa tuh,” ucap Reta menjelaskan secara detail apa yang Ia pahami dari ucapan-ucapan Vindra tadi.
“Ya ampun, kayaknya gara-gara aku nggak bisa dihubungin makanya dia datang ke sini,”
“Ya emang, dia takutnya kamu sakit atau kamu ngambek sama dia,”
Zeline tertawa mendengar cerita dari mamanya tentang Vindra. Kalau sudah bersikap manis seperti ini, Zeline benar-benar merasa semakin berunung memiliki Vindra.
“Ya udah aku aktifin handphone sekarang,”
“Sama satu lagi, Vindra bawa martabak tuh. Mama taruh di bawah. Mau Mama bawa ke kamar kamu? Makan di bawa apa di kamar?”
“Nggak usah, Ma. Di bawah aja. Makasih ya, Ma untuk infonya,”
__ADS_1
“Okay, jangan lupa aktifin handphone kamu,” ujar Reta sebelum Ia turun ke lantai dasar.
Zeline langsung meraih ponselnya yang sedang dicharge. Ia ketiduran dan ponsek sedang diisi dayanya dengan keadaan mati. Jadi wajar saja kalau Vindra tidak bisa dihubungi.
“Nih gara-gara kehabisan batre sih tadi,” gumamnya. Begitu ponselnya aktif, Ia langsung mengirimkan pesan kepada Vindra.
-Vin, maaf tadi handphone aku dicharge, terus aku ketiduran. Makasih udah khawatir sama aku sampai repot-repot datang ke sini pas malam dan bawa martabak lagi. Makasih banget. Maaf ya sekali lagi-
Zeline turun ke lantai dasar dengan membawa ponsel. Barangkali Vindra akan menghubunginya lagi jadi Ia bsia langsung menjawabnya supaya lelaki itu tahu bahwa pesannya pada sang Mama sudah disampaikan.
“Itu martabaknya, Nak,”
“Ayo makan bareng-bareng, ini kebanyakan kalau buat aku sendiri,”
“Udah Mama makan satu, ntar kalau kebanyakan Mama gendut,”
“Ih Mama, masa cuma satu doang?”
“Ya udah buat besok ‘kan bisa, Zel. Besok tinggal kita panasin,”
“Iya tapi malam ini part martabak dulu lah kita,”
“Udah pada tidur, Zel. Part-party aja kamu,”
Zeline tertawa mendengar omelan mamanya. Zeline ingin smeua yang ada di rumah menikmati makanan apapun yang Ia nikmati.
Tapi sayangnya malam ini martabak datangnya cukup malam sehingga penghuni rumah sudah tidur kecuali Zeline dan Reta.
*******
Vindra menanggalkan jaket yang Ia kenakan setelah itu langsung bergegas ke kamar mandi. Selama perjalanan Ia sudah menahan desakan untuk buang air kecil.
Sesudah dari kamar mandi Ia merasa lega. Ia langsung mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur. Barulah Ia nendarat di atas kasur.
“Waktunya tidur. Tapi belum tenang kalau belum liat Zeline online di whatsapp nya,”
Vindra meraih ponselnya dan yang pertama kali Ia lihat tentu saja room chat Zeline. Ia tersenyum senang membaca pesan dari Zeline.
“Akhirnya aktif juga kamu, Zel, coba telepon ah. Kali aja diangkat,”
Vindra menghubungi nomor kekasihnya itu dan langsung dijawab oleh Zeline. “Hai, Zel,”
“Hai, maaf ya aku ketiduran, handphone aku tuh abis batre terus aku charge jadi ya udah nggak tau apa-apa deh. Makaish ya udah datang ke sini, bawa martabak segala lagi. Ini aku lagi makan martabak kamu ditemenin sama Mama,”
“Iya sama-sama, aku tenang akhirnya dengar suara kamu. Aku pikir aku punya salah sama kamu dan akhirnya kamu ngambek,”
“Nggak kok, aku nggak lagi ngambek,”
“Aku kira kamu ngambek gara-gara aku bilang ke kamu, aku mau fokus sama tamu dulu yaitu Anin sama Mamanya jadi nggak bisa sering buka handphone. Eh nggak taunya karena hamdphone dicharge?”
“Iya, itu aku jujur. Maaf ya sekali lagi. Aku nggak ngambek lah. ‘Kan emang kalau kedatangan tamu harus kayak gitu,”
“Syukurlah kalau kamu nggak ngambek,”
“Kok bisa sih sampai mati gitu handphone kamu?”
“Ya karena aku mainin terus dan aku nggak sadar kalau misalnya batre udah sekarat. Eh akhirnya mati deh karena kehabisan batre,”
“Lain kali jangan begitu ya. Aku khawatir sama kamu, Zel. Aku pikir kamu sakit atau ngambek gitu sama aku,”
“Nggak kok, aku baik-baik aja,”
“Ya udah kalau gitu selamat menikmati martabaknya, semoga enak ya,”
“Martabak dari kamu enak banget. Review jujur banget lho ini,”
“Oh ya? Alhamdulillah kalau emang enak. Udahan dulu ya, aku mau istirahat,”
__ADS_1
“Iya, selamat istirahat, bye,“