
“Zel, jawab pertanyaan aku ay. Kamu sama Juan itu udah pacaran atau belum?”
“Ih kepo banget sih. Itu bukan urusan lo!”
“Ya tapi aku berhak tau, Zel,”
Zeline langsung menghempaskan tangan Vindra yang baru saja mencekal tangannya. Zeline menyesali kebetulan yang tak berpihak padanya kali ini. Tiba-tiba Ia tidak sengaja bertemu dengan Vindra di supermarket yang tak jauh dari rumahnya.
“Lo tuh ngapain sih nanya-nanya kayak gitu? Hah, lo bilang kalau lo ada hak? Dmang hak aoa ya kalau boleh tau? Lo ‘kan bukan siapa-siapa gue lagi, jadi ngapain lo nanya hal privasi yang kayak gitu? Hah? Mending urus hidup masing-masing aja deh, Vindra. Jangan ganggu gue lagi. Kita ‘kan udah sendiri-sendiri sekarang. Jangan saling usil bisa nggak sih?!”
Zeline sampai dihalangi untuk menunggangi motornya. Kalau tahu akan bertemu dengan Vindra, Zeline tidak akan mau motoran sore ini. Lebih baik Ia di rumah saja, daripada jalan-jalan dengan motor barunya yang tiba-tiba dibelikan oleh sang papa. Motor impian mendadak ada di garasi dua hari lalu, siapa yang tidak senang? Akhirnya Ia punya motor impian, dan akhirnya Ia diperbolehkan bawa kendaraan roda dua sendiri ya walaupun hanya dioerbolehkan oleh orangtuanya pergi dengan jarak yang dekat-dekat saja.
__ADS_1
“Lagian ya, lo ngapain sih belanja di sini?”
“Aku rindu sama kebiasaan kita yang suka mampur ke sini terus jajan. Makanya aku ke sini. Dan tiba-tiba aku ketemu sama kamu. Jujur aku senang banget,”
“Gue yang nggak senang. Kenapa gue harus dipertemukan sama lo lagi-lo lagi? Padahal di sekolah aja udah ketemu terus,”
“Ya itu tandanya semesta emang mau kita ketemu terus, Zel,”
Zeline langsung memutar bola matanya malas mendengar ucapan sang mantan kekasih. Ketika Ia akan naik ke atas motor, Vindra menahan lengannya.
“Apaan sih? Kenapa lo maksa banget? Kita ‘kan bukan siapa-siapa lagi. Emang pantas lo nanya kayak gitu ke gue? Hah? Nggak! Karena lo bukan pacar gue, bukan siapa-siapa lagi jadi nggak usah deh kepo sama hidup gue yang sekarang,”
__ADS_1
Cengkraman tangan Vindra di pergelnagna tangn Zeline melemah seiring dengan tatapan tidak percaya yang Vindra lo tarkan ke arah Zeline.
“Aku nggak nyangka kamu bakal berubah kayak begini, Zel,”
“Gue nggak berubah sebenarnya.
Gue cuma lagi bersikap sewajarnya aja sama lo. Karena kita ‘kan bukan—“
“Sampai sekarang aku nggak pernah beranggapan kalau kita itu putus ya, Zeline! Kamu aja yang beranggapannkayak gitu kalau aku sih nggak terima ya,”
“Terserah lo mau terima atau nggak keputusan gue itu hak lo. Yang jelas kita nggak ada hubungan apa-apa lagi jadi jangan ikut campur dalam hidup gue lagi. Nggak pantes lo nanya kayak tadi,”
__ADS_1
“Ya aku cuma penasaran aja. Kenapa kamu bisa secepat itu move on, Zel? Hmm? Sementara aku aja nggak ada kepikiran mau move on. Bahkan masih nggak bisa terima kalau kita udah putus, rasanya masih nggak percaya, apalagi liat kamu dekat sama Juan. Aku cemburu, Zeline. Aku benar-benar nggak bisa—“
Zeline berdecak dan menatap Vindra dengan sinis. Wajahnya kelihatan menahan emosi. Ingin sekali mencekik Vindra yang terlalu banyak omong. Ia tidak mengerti kenapa Vindra masih saja mengusiknya padahal Ia sudah berusaha untuk menjaga jarak.