Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 53


__ADS_3

“Aku benar-benar kaget lho, kamu kok tiba-tiba udah di luar aja sih? ‘Kan lagi nggak enak badan,”


“Orang aku mau beli siomay yang lewat depan rumah kok,”


“Ya emang nggaka da orang yang bisa nolongin kamu? Hmm? Kenapa harus kamu yang beli?”


Vindra datang ke rumah kekasihnya dengan niat untuk menjenguk sambil membawa pizza yang Zeline sukai. Tapi ternyata ketika Ia tiba di depan gerbang rumah Zeline, Ia melihat Zeline sedang berdiri di dekat gerobak siomay. Padahal bayangannya, Zeline maish terbaring lenah di ranjangnya, lemas, tidak bisa banyak melangkah dulu. Tapi ini ternyata sudah kuat mengejar penjual siomay.


“Kamu lari-lari dong pas ada tukang siomaynya?”


“Nggak kok, emang udah mangkal,”


Setelah membeli siomay, Zeline berjalan masuk ke dalam rumah diikuti oleh Vindra yang sejujurnya merasa kecewa karena sepertinya pizza yang Ia bawa untuk Zeline akan kalah dengan siomay.


“Aku bawain pizza buat kamu lho, Zel,”


“Oh ya? Makasih,”


“Sama-sama, dimakan ya, jangan cuma makan siomay aja,”


“Iya lah pasti aku makan kok,”

__ADS_1


“Mama kamu kemana? Kalau ada Mama kamu, kayaknya kamu nggak bakal dikasih izin deh kalau pergi sendiri nyamperin tukang siomay,”


“Hahaha emang Mama aku lagi pergi, Vin,”


“Hah? Kemana?”


“Beli roti, tadi aku pengen roti.”


“Astaga, terus tiba-tiba pengen siomay gitu?”


Zeline menganggukkan kepalanya. Memang sakit kali ini Ia aneh. Tadi ingin roti dan mamanya langsung pergi untuk beli. Tapi setelah mendengar penjual siomay lewat bahkan berhenti di depan gerbang rumahnya, Ia tak ragu untuk membeli.


“Anin kemana?”


“Oh iya nggak apa-apa kok,”


“Kamu gimana keadaannya? Masih sakit banget? Pusing demamnya gimana?”


Zeline menunggu sampai Ia selesai mengunyah dulu baru Ia menjawab pertanyaan kekasihnya itu.


“Udah mendingan ini makanya bisa jajan,”

__ADS_1


“Walaupun udah mendingan, harus tetap istirahat dong. Takutnya kondisi kamu nurun lagi,”


“Nggak, tenang aja. Eh ini makan deh siomaynya, barengan sama aku biar kamu tau rasanya. Enak banget tau,”


“Makan aja sama kamu, aku udah kenyang,”


Zeline berdecak kesal menatap Vindra yang menolak. Akhirnya Vindra segera menyantap satu suap siomay. Melihat itu, Zeline tersenyum.


“Nah gitu dong,”


“Makasih ya, enak kok siomaynya,”


“Iya sama-sama,”


Sesaat setelah Zeline menjawab seperti itu, tiba-tiba ada panggilan masuk di ponsel Vindra. Melihat nama Anin, Vindra langsung menerima panggilan dari Anin itu, tak lupa Ia loudspeaker supaya kekasihnya bisa ikut mendengar.


“Iya kenapa, Nin?”


“Vindra, kalau jaket kamu nggak besok aku balikin nggak apa-apa ‘kan ya? Belum mau kamu pakek ‘kan? Soalnya mau aku cuci dulu. Dan takut nggak keburu kalau aku balikin besok ke kamu,”


Siapa yang tidak berpikir ke arah negatif kalau sudah mendengar perkataan itu? Selera makan Zeline langsung sirna tanpa sisa, matanya berkaca, tapi rahangnya mengetat, gigi gerahamnya saling beradu satu sama lain. Detak jantungnya tidak bisa dikatakan normal, begitupun deru napasnya. Ia merasa dadanya dihimpit oleh sesuatu yang begitu berat hingga rasanya sangat sakit dan sulit untuk bernapas.

__ADS_1


“Apa sih maksudnya? Kenapa jaket kamu ada di Anin? Dan kenapa harus dicuci sama Anin segala? Hah? Kamu bisa jelasin ke aku nggak?” Tanya Zeline berusaha menutupi bahwa Ia tidak baik-baik saja setelah mendengarkan perkataan Anin melalui telepon barusan.


__ADS_2