Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 74


__ADS_3

“Zel, ada Vindra tuh di bawah,“


“Aku masih pusing, Ma. Belum kuat berdiri lama-lama apalagi jalan turun tangga,”


“Ya udah nanti Mama bilangin ke Vindra,”


Zeline menganggukkan kepalanya. Reta membuka pintu kamar anaknya sebentar untuk memberitahu bahwa Vindra datang untuk menjenguk. Setelah itu Reta turun lagi ke bawah.


”Vin, maaf ya Zeline nya bilang kepala masih sakit, berdiri lama-lama apalagi jalan turun tangga belum kuat,”


“Oh iya nggak apa-apa, Tante. Tapi kalau misalnya aku izin ke kamar Zeline mau ketemu Zeline sebentar, boleh nggak, Tante? Cuma sebentar aja,”


“Boleh, ayo naik kalau gitu,”


Vindra senang karena Ia diizinkan untuk menemui kekasihnya itu. Ia akan tenang kalau sudah bertemu langsung dengan Zeline sehingga tidak sia-sia juga Ia datang ke rumah Zeline.


Reta msmbuka pintu kamar Zeline lebar-lsbar dan mempersilahkan Vindra masuk. Zeline menatap ke arahnya lalu membuang muka kembali fokus dengan ponsel.


“Hai,” sapa Vindra.


Zeline mengangguk singkat. Reta menghembuskan napas pelan dan menggelengkan kepalanya. Kekasihnya sudah datang ke rumah, bahkan mau mendmuinya di kamar, tanggapan Zeline hanya seperti itu. Entah apa yang sebenarnya terjadi sampai Zeline tak acuh begitu pada Vindra.


“Ini aku bawain kue buat kamu, semoga kamu suka,”


“Makasih, kamu kenapa repot-repot beli ini? Emang sempat?”


“Sempat lah, apa yang nggak buat kamu,”


“Dari rumah? Apa abis pergi sama Anin langsung ke sini?” Tanya Zeline pada kekaishnya itu.


“Aku abis antar Anin ke apartemen, langsung pulang. Istirahat bentar terus ke sini deh,”


“Oh terus gimana? Dapat yang dicari?” Tanya Zeline masih menatap ponsel alih-alih menatap lawan bicaranya.

__ADS_1


“Dapat,”


“Abis nyari perlengkapan buat mading, kemana lagi?”


“Cuma makan abis itu pulang kok,”


“Hmm gitu,”


“Kamu udah makan?”


“Udah,”


“Minum obat?”


“Udah,”


“Aku minta maaf ya,”


“Untuk?”


“Ya untuk semuanya, kesalahan aku banyak,”


“Jangan maksa aku untuk minum obat lagi, dan jangan malah belain Anin ketimbang aku padahal jelas-jalas Anin maksa aku, sementara aku ‘kan punya hak untuk bilang nggak mau minum obat,”


“Iya aku minta maaf, Zel,”


“Udah tau dia salah masih aja dibelain. Aku tau sih niat kalian berdua baik pengen aku cepat sembuh jadi aku disuruh minum obat tapi aku nggak suka kalau dipaksa kayak gitu,”


“Iya aku minta maaf,”


“Aku maafin,”


“Jangan marah lagi ya, Zel,”

__ADS_1


“Nggak kok,”


“Beneran?”


“Iya,”


“Aku pulang kalau gitu,”


Vindra menyentuh kening Zeline sebentar dan masih hangat. “Kamu jangan kebanyakan main handphone. Masih hangat kamu tuh,”


“Iya tapi udah mendingan banget kok,”


Vindra meraih ponsel Zeline dan Ia letakkan di nakas. “Istirahat ya,” pesan Vindra dengan lembut sambil tersenyum.


“Okay,”


“Aku pamit pulang, makan dan istirahat yang benar, Zel. Minum obat juga jangan telat-telat ya, kalau misal besok belum bisa sekolah nggak apa-apa jangan dipaksain dan sering-sering kabarin aku ya,”


“Ya, makasih udah ke sini relot-relot bawa makanan juga,”


“Sama-sama, aku pulang dulu Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam,”


Reta mengantarkan Vindra sampai ke depan pintu rumah. Setelah mencium tangan Reta, Vindra langsung bergegas menghampifi kendaraannya. Vindra datang menggunakan motornya.


“Hati-hati ya, Vin. Makasih banyak udah repot-repot jenguk Zeline,”pesan Reta pada kekasih anaknya itu.


“Iya sama-sama, Tante, Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam,”


Vindra melaju dengan kecepatan normal menuju rumahnya. Rasnaya jauh lebih tenang setelah bertemu dengan Zeline ketimbang tadi saat pergi dengan Anin dan berangkat ke rumah Zeline. Ia kepikiran terus dengan Zeline.

__ADS_1


******


__ADS_2