Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 124


__ADS_3

“Zel, shopping yuk. Gue pengen ke mall tapi males kalau cuma sendiri. Lo nggak mau temenin gue gitu? Lo ‘kan baik tuh, Zel. Ayolah temenin gue ke mall. Gue shopping, lo biasanya suka baca buku ‘kan? Nah berarti lo ke toko buku aja. Gimana? Mau nggak?”


“Gue baru aja konsul sama psikolog biar gue nggak stres mikirin percintaan disuruh sama bokap nyokap, gue pengen istirahat. Lo datang aja ke sini, kita istirahat bareng,”


Gisa mendengus kesal. Yang Ia inginkan adalah jalan-jalan ke mall bukan istirahat, tapi temannya malah mengajak Ia beristirahat.


“Lo kok malah ngajakin gue istirahat sih? Gue tuh mau ngajakin lo ke mall, Zel,”


“Ya udah liat nanti aja. Sekarang kita istirahat dulu,”


“Ya udah deh gue ke rumah lo sekarang, tapi ke mall ya?”


“Ih gue lagi mau istirahat,”


“Tapi abis istirahat gimana? Ini masih siang ya ampun, masa mau istirahat sih? Jam dua belas lho ini, Zel. Mumpung kosong nih, jadwal nggak padat. Makanya gue mau ke mall buat belanja. Ngapain nyuruh gue datang ke rumah kalau lo nggak mau temenin gue ke mall? Gue ke sana cuma buat istirahat doang gitu? Nggak mau ah, pengennya lebih dari istirahat,”


“Ya udah okay-okay. Nanti kita ke mall, abis istirahat tapi ya,”


“Nah gitu dong, Cantik,”


“Makanya gue suruh ke sini istirahat aja dulu, abis tuh liat nanti ke mall atau nggak,”


“Ah harus pokoknya. Lo gimana sih? Kok ngomongnya plin plan? Ngeselin banget anjir,”


“Hahahaha iya-iya, kita ke mall, beneran nggak bohong, nggak plin plan. Tenang aja udah,” Zeline tertawa karena senang merasa berhasil telah mengerjai temannya. Ia sengaja tak memberi kepastian di awal dan itu membuat Gisa kesal.


“Beneran ya? Nanti gue udah ke rumah lo tapi ternyata lo nya nggak mau temenin gue ke mall,”


“Mau kok mau. Kita ke mall,”


“Yes! Okay gue ke rumah lo sekarang,”


“Iya, gue tunggu ya, Gis. Gue kesepian juga nih pengen ada teman. Hati-hati ya, Gis, lo nggak perlu ngebut bawa mobilnya okay?”


“Sip, Ibu ratu. Kalau gitu gue capcus ke rumah lo, bye Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam, hati-hati ya pokoknya, nggak usah ngebut! Awas aja kalau ngebut, gue nggak mau pergi sama lo nanti,”


“Iya nggak ngebut, santai aja, Zel,”


“Okay, bye,”


Zeline tahu Gisa itu suka membawa kendaraan dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Dan itu sering membuat Zeline ketakutan. Tapi Gisa nya santai. Kata Gisa itu biasa saja, sementara Zeline jantungnya merasa tidak aman.


Mungkin karena Zeline sendiri jarang naik kendaraan dengan kecepatan yang tinggi baik itu ketika mengendarai sendiri, maupun naik kendaraan yang dikendalikan oleh orang lain.


“Zel, tolong buka pintunya, Zel, ada yang ngirim bunga ke kamu ini,”

__ADS_1


Zeline segera beranjak dari posisi berbaring karena ketukan pintu kamarnya. Sang mama memberitahu bahwa ada kiriman bunga untuk dirinya. Tentu itu membuat Zeline mengernyitkan keningnya bingung.


“Siapa yang ngirim, Ma?” Tanya Zeline engitu pintu kamarnya Ia buka.


“Nggak tau, nggak ada nama pengirim. Kata yang ngirim bunga tadi, si pengirim nya itu nggak mau dikasih tau namanya. Aneh banget ya? Ngirim bunga tapi nggak mau diketahui namanya. Mungkin maksudnya biar kamu bingung kali ya? Ini kejutan untuk kamu kayaknya deh,”


“Tapi aku nggak tau siapa yang ngirim, nggak ada yang bilang ke aku, Ma,”


“Ya karena kejutan, jadi dia nggak mau bilang. Mungkin maksudnya ya emang buat kejutan aja gitu,”


“Ih tapi aku takut kalau nggak jelas gini, takut dari orang jahat,”


Zeline langsung memeriksa bucket bunga yang baru saja Ia terima dari mamanya. Ia ingin memastikan bunga itu aman dari sesuatu yang berbahaya.


“Jangan ngomong gitu dong, mama ‘kan jadi takut juga,”


“Tapi nggak ada tanda-tanda bahaya, Ma,”


Reta segera memeriksa juga, tadi begitu Ia amati sebelum Ia berikan ke Zeline memang tidak ada tanda-tanda aneh dari bunga tersebut.


“Dari siapa itu ya, Nak? Mama penasaran banget. Kamu lagi deket sama siapa sih abis putus dari Vindra? Cerita dong ke mama. Masa kamu diam-diam aja sih?” Reta menatap anaknya dengan senyum dan pandangan menggoda Zeline yang Ia duga sedang dekat dengan seorang laki-laki tapi belum bercerita kepadanya.


“Ya ampun, Mama. Kalau aku dekat sama cowok, udah pasti aku jujur ke mama. Nggak mungkinlah aku nggak cerita, Ma. Lagipula aku belum kepikiran ke arah sana. Aku malas berhubungan sama cowok, takutnya dapat yang nggak baik, yang bisanya cuma nyakitin aku aja,”


“Ya terus ini dari siapa ya, Nak? Kamu yakin belum ada pacar?”


Zeline menghembuskan napas kasar menatap mamanya dengan jengah. Kalau Ia sudah memiliki kekasih, mamanya pasti adalah orang pertama yang Ia beritahu soal itu.


“Ya udah simpan aja deh, lumayan buat pajangan di kamar kamu ‘kan,”


Zeline menganggukkan kepalanya. Walaupun Ia tidak tahu bunga tersebut pemberian siapa tapi tetap akan Ia simpan sebagai bentuk rasa menghargai terhadap apa yang telah diberikan oleh orang lain kepadanya.


“Eh tapi bentar deh, Ma. Ini beneran punya aku bukan? Apa punya orang lain? Takutnya si kurir salah kirim, Ma,”


“Ya nggak lah, Sayangku. Mama udah pastikan tadi. Dan memang benar untuk kamu, kurirnya sebut nama kamu yang lengkap tadi,”


“Hah? Jadi ini beneran buat aku ya? Nggak salah kirim? Aku pikir, barangkali aja orang salah kirim,” ujar Zeline.


“Nggak, nama dan alamat udah bener kok. Emang ini untuk kamu. Sekarang masalahnya bunga ini dari siapa, itu masih jadi pertanyaan besar untuk mama. Bingung banget, kok tumben, tiba-tiba ada yang kirim bunga untuk anak mama yang belum pacaran lagi ini,”


Zeline diam sebentar untuk berpikir siapa orang yang kemungkinan menjadi sosok dibalik bunga yang baru saja Ia terima ini.


“Apa ini dari Vindra ya, Ma?”


Yang dekat dengan Zeline, yang tekadnya kuat tak menyerah sekalipun Zeline berulang kali menolak, hanya Vindra. Kalau benar Vindra, cukup membingungkan juga tujuannya mengirim bunga itu apa.


“Apa iya bunga itu dari Vindra ya? Sebagai permintaan maaf ke kamu?”

__ADS_1


“Aku nggak tau juga, Ma. Tapi kalau menurut aku ini dari Vindra deh,”


“Kenapa kamu mikir kalau itu Vindra?”


“Ngapain coba? Dia pikir aku bakal maafin dia, dan balikan sama dia? bakal berhenti untuk benci ke dia, dan lupain semuanya? Nggak akan!”


“Ya udah kamu pastikan aja dulu sama Vindra. Bener dia atau bukan, okay?”


“Okay, Ma. Tapi kalau bukan Vindra gimana ya, Ma? Mendadak aku takut ini, Ma,” ujar Zeline dengan raut wajah cemas yang mulai terpatri di wajahnya.


Reta menghembuskan napas pelan. Kemudian Reta mengusap bahu anaknya dengan lembut menghadirkan ketenangan sang anak.


“Sayang, nggak perlu takut. Ini yang dikirim ‘kan bunga, bukan barang-barang menakutkan kayak boneka darah apa segala macamnya. Ini bunga, ya mungkin kamu punya penggemar rahasia kali, jadi jangan cemas gitu ya. Insya Allah kamu baik-baik aja, semoga ini orang yang kirim bunga punya niat yang baik ke kamu,”


“Ya udah deh aku tanya Vindra dulu untuk mastiin, takutnya bukan dia,”


“Okay, kamu tanya ke Vindra sekarang, mama tau jawabannya jadi mama tungguin,” ujar Reta seraya duduk di tepi ranjang anaknya. Ia pun turut penasaran sebenarnya siapa yang sudah mengirimkan bucket bunga kepada anak tunggal, anak perempuan satu-satunya yang tak langsung senang, melainkan malah khawatir ketika mendapatkan bucket bunga dari orang yang tak mau disebutkan namanya. Hal itu membuat Zeline bertanya-tanya, dengan rasa cemasnya. Ia takut ada maksud jahat dari si pengirim bunga.


Zeline langsung menghubungi Vindra dengan sambungan telepon supaya cepat mendapatkan tanggapan. Kalau melalui pesan singkat belum tentu Vindra langsung menjawab. Sambungan telepon juga sebenarnya tak menjamin langsung mendapatkan jawaban, hanya saja Zeline enggan mengetik pesan. Kalau bicara langsung lebih enak.


“Halo, Vindra,”


“Hai, kok tumben telepon aku duluan? Aku senang banget lho,”


“Maaf gue mau tanya. Tolong lo jawab ya, gue dikirimi bunga sama orang yang nggak ada nama pengirimnya. Itu dari lo bukan?”


“Hah? Bunga? Maksudnya ada yang ngirim bucket bunga ke rumah kamu gitu? Tapi nggak ada nama pengirim?”


“Iya, lo yang ngirim bunganya?”


“Nggak kok, aku nggak kirim bunga, Zel,”


“Hah? Seriusan? Lo jangan bohong ya, Vin,”


“Serius, ngapain sih aku bohong? Mana mungkin aku bohong. Kalau aku kirim apa-apa terus kamu kasih tau aku udah sampai di rumah, aku pasti bakal iyain. Biasanya begitu ‘kan? Nah ini aku nggak tau apa-apa soal bunga, Zel,”


“Biasanya lo sering kirim makanan gitu, ini bunga bukan lo yang kirim?”


“Bukan, kalau aku yang ngirim udah pasti aku iyain, Zel, karena aku nggak mau bikin kamu takut itu dari orang yang nggak dikenal terus mau nggak mau nerima kiriman itu. Nah kalau urusan bunga itu aku nggak tau apa-apa, seriusan deh. Aku nggak kirim bunga ke kamu,”


“Lho, terus ini dari siapa ya?”


“Aku nggak tau juga. Kok dia lancang sih kirim-kirim bunga ke kamu? Oh apa dari lacar kamu kali,” ujar Vindra dengan nada tak enak di akhir kalimatnya. Dalam hati Zeline berkata “Apaan sih, pacar dari Hongkong!”


“Ck! Lo kenapa pertanyaan jadi melenceng gitu sih? Kalaupun gue udah punya pacar emang kenapa? Hmm? Lagian pacar gue kalau ngasih bunga pasti ngomong,”


“Yah, sedih aku,”

__ADS_1


“Makanya gue nanya ke lo, karena gue bingung siapa yang ngirimin bunga ini, nggak ada yang ngomong ke gue,”


“Orang iseng kali,”


__ADS_2