Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 161


__ADS_3

“Wuidih bukan kaleng-kaleng bajunya bagus amat yang mau jalan ke pasar Beringharjo, lu mau belanja apa mau kencan?”


Jerry terkekeh kemudian mengusap dagunya dengan memasang ekspresi terlalu percaya diri ketika baru saja keluar dari kamar, langsung dipuji sekaligus diledek oleh Dino, sahabatnya.


“Ganteng nggak gue?”


“Beuh! Ganteng bener, gantengnya bukan kaleng-kaleng,”


Vindra menyusul keluar dari dalam kamar. Kebetulan selama liburan ini teman kamar Jerry adalah Vindra. Satu kamar hanya dihuni oleh dua orang dan tentunya satu jenis kelamin. Karena ini acara jalan-jalan sekolah bukan bulan madu.


“Dia pake kemeja. Formal banget ya, udah kek mau lamaran,” ujar Vindra yang ikut meledek Jerry.


“Belajar sebelum lamaran beneran,”


“Wuidih-wuidih, mau lamar siapa nih? Spill dong spill,”


“Siapa lagi? Tidak lain dan tidak bukan adalah Zel—“


“Ayo kita semua sarapan dulu sebelum belanja di pasar,”


Instruksi untuk sarapan langsung membuat Vindra dan tiga sahabatnya duduk di ruang makan tempat penginapan yang ukurannya begitu luas.


“Makan yang lahap ya, nanti istirahat sebentar baru deh berangkat kita. Belanja deh sepuasnya, jangan lupa titipan orangtua atau keluarga. Mungkin ada yang nitip baju, tas, sandal, dan sebagainya. Tapi kalau udah waktunya selesai belanja, udah ya, jangan susah dikasih tau. Setelahnya harus ngumpul lagi ya supaya kota terus bareng-bareng, jangan sampai ada yang ketinggalan,”


“Siap, Pak,” ujar murid-murid menjawab Pak Iwan yang memberikan pesan kepada semua muridnya yang tengah menikmati makan pagi sebelum bergegas pergi.


“Lo nanti mau beli apaan, Vin? Nyokap nitip apaan?”


“Nggak ada, nyokap gue nggak nitip apa-apa. Cuma pengen gue sehat selamat aja katanya,”


“Ah manis banget omongan nyokap lo bro,”


“Gue tanyain mau apa, eh malah ngomong kayak gitu. Ya udah gue simpulin berarti nyokap gue nggak mau apa-apa,”


“Kalau lo punya pacar, pikirin deh tuh pacar lo mau dibeliin apa. Eh tapi lo ‘kan nggak punya pacar ya,”


“Itu tau, pake diomongin lagi,”


“Makanya cari dong, jangan tunggu nanti-nanti, brp. Keburu tua lo,”


“Heleh bacot lo. Kayak udah nemu aja,”


Vindra mengomeli Dino yang menasehati agar Ia segera mencari sosok pendamping sementara Dino sendiri belum jelas siapa kekasihnya karena yang Vindra tahu dekat dengan beberapa perempuan.


“Jangan deh mending kata gue kalau belum punya pemikiran dewasa, daripada ujungnya gagal lagi,”


“Udah diem, nggak usah berisik kalau saran gue mah,”


Vindra mendekatkan telunjuknya dengan bibir supaya Jerry berhenti bicara. Ia tidak suka menjadi bahan omongan apalagi kalau sudah mulai menyinggung masa lalunya yang gagal.


Mereka melanjutkan makan sebagai persiapan sebelum jalan ke tempat belanja dengan barang-barang kualitas bagus, khas Yogyakarta, dan harganya tak menguras kantong.


Setelah mengisi perut, mereka diminta untuk duduk-duduk dulu sambil menunggu bus dipersiapkan.


“Pak ini kita nggak lama ‘kan nunggunya?”


“Ya nggak dong, itu salah satu bus ada yang kurang bahan bakar. Lagian ‘kan baru habis makan, biar nasinya turun dulu, ntar muntah lagi,”


“Lah kita-kita mah nggak ada yang mabok, Pak,”


“Ya ‘kan bisa aja kalau abis makan langsung naik bus dan jadinya malah muntah. Saya tau nggak ada yang mabok orang masing-masing udah sering bawa mobil sendiri ke sekolah,”


“Puas-puasin aja dulu duduknya sebelum keliling pasar nanti pada capek lho. Di sana rame, dan kalian jarang turun ke pasar ‘kan pasti? Seringnya ke mall, nonton, iya nggak? Anak kota mah begitu,”


“Kalau belanja tuh nggak ada kata capek, Pak. Apalagi cewek-cewek tuh,”


“Semua bus sudah siap. Boleh berangkat sekarang, Pak,”


Pak Iwan dihampiri oleh seorang supir bus yang melaporkan bahwa empat bus sudah siap digunakan.


Pak Iwan langsung memberikan instruksi kepada anak-anak didiknya untuk segera memasuki bus dengan tertib dan posisi duduk sesuai dengan aturan di awal.


“Pak, boleh nggak sih khusus sekarang aja saya pindah tempat duduk?”


“Memang kamu mau pindah kemana?”


“Di sebelah Zeline,”


“Tapi Vindra nya mau nggak?”


Jerry langsung tersenyum lebar begitu mendengar penuturan gurunya. Terdengar ada kelonggaran dari guru, maka dari itu Ia langsung bertanya pada Vindra.


“Boleh gantian bentar nggak?”

__ADS_1


“Nggak-nggak! Sorry banget nih, gue nggak mau posisi duduk gue berubah. Pengen kayak awal aja soalnya gue ‘kan taat peraturan,”


“Halah eek kucing lo! Kampret banget, orang udah dibolehin tuh sama Pak Iwan eh lo nya malah bergaya nggak mau nurutin maunya gue,”


“Ngapain mau lo diturutin. Ngelunjak lo nanti,”


“Sebentar doang, Vin! Gantian napa, jangan pelit jadi orang tuh! Buruan bangun, gue yang mau—“


“Apaan sih? Emang gue udah bilang iya? Udah dibilang gue tuh mau taat aturan. Gue nggak mau pindah-pindah tempat duduk, dengar nggak?”


“Halah bilang aja lo mau duduk deket Zeline. Iya ‘kan?!”


“Dih, kesel gegara nggak diturutin. Bodo amat, suka-suka gue lah,”


“Gantian bentar doang, Astaga! Pelit banget najis dah,”


“Biarin, udah sana duduk di tempat asli, jangan rengek-rengek ke gue supaya bisa duduk di tempat gue,”


“Udah Jerry balik ke tempat asli sana. Genio nggak mau gantian sama kamu, jadi jangan dipaksa,”


Jerry menggerutu dalam hati. Ia benar-benar kesal dengan Vindra karena awalnya Pak Iwan tampaknya setuju-setuju saja bila Ia duduk di tempat Vindra. Tapi sayangnya Vindra enggan untuk menuruti keinginannya.


Alhasil Jerry harus terima nasib. Ia tetap duduk di tempatnya, alih-alih bisa merasakan posisi Vindra yang duduk di sebelah Zeline.


“Padahal Pak Iwan udah longgarin tuh kayaknya. Tapi Vindra malah kayak gitu. Sialan banget emang si Vindra. Gue udah senang banget barusan, kirain gue Vindra nggak masalah mau gantian tempat duduk sama gue, eh nggak taunya dia belagu, halah kampret!”


Sudah duduk pun Jerry masih menggerutu saja terhadap sahabatnya itu. Ia sudah benar-benar berharap tadinya karena dengar jawaban dari Pak Iwan yang tak keberatan bila Ia bertukar tempat duduk dengan Vindra bila memang Vindra ingin.


Berbeda dengan suasana hati Jerry sekarang yang sedang kesal, Vindra justru senang karena Ia berhasil membuat suasana hati Jerry berubah dari yang antusias menjadi lesu sekaligus jengkel.


Zeline sempat melirik ke sebelah, dan Ia melihat Vindra sedang tersenyum kecil. Zeline tentu merasa bingung.


“Kenapa lo? Abis debat sama Jerry kok malah senyum?”


“Dih siapa yang senyum?”


“Lo ngajak berantem aja,”


“Lah, kok ngajak berantem? Dia aja tuh yang nggak tau diri, udah ada aturan malah melanggar. Pemaksaan ke aku pula. Hak aku lah mau nolak, orang ini bangku aku kok. Suka-suka aku mau nolak kemauan dia atau nggak, lagian emang kenapa sih? Kamu pengen duduk sebelahan sama dia? Sana kamu aja yang pindah, kalau teman sebelahnya dia nggak mau gantian duduk sama kamu, duduk aja sana di pangkuannya Jerry,”


“Apaan sih lo, ngomong sembarangan. Siapa bilang gue mau duduk sama Jerry? Kok jadi ngelantur mulut lo,”


“Lah, abisnya kayak nggak senang gitu sama keputusan aku untuk nolak kemauannya Jerry,”


“Siapa nggak senang? Aku nggak ngomong begitu. Aku cuma nanya aja tadi, kenapa kamu senyum-senyum? Lah kamu nya malah ngomong panjang lebar,”


Suasana makan malam di Yogyakarta terasa sangat hangat. Setelah merasakan lelah dan bosan selama perjalanan dari Jakarta menuju Yogyakarta, sekarang waktunya mereka yang sudah bersih-bersih di hotel mengisi perut.


Lauk makan malam kali ini adalah gudeg ceker, ayam goreng, dan udang pedas. Semua bebas menikmati makanan apa yang dikehendaki tanpa dibatasi porsinya sehingga yang suda benar-benar lapar boleh saja mengambil porsi semaunya.


“Padahal dikasih lemper sama kue-kue di jalan tadi ya, sempat mampir juga di restoran untuk makan siang tapi rasanya kayak lapar banget nggak sih? Perut gue gitu, njir. Aneh banget yak,”


Ujar Jerry seraya duduk di sebelah Vindra. Tiga sahabatnya sudah memilih meja yang dijatahi empat kursi saja, tepat untuk mereka.


“Sama wey, mungkin karena kita banyak tidur kali, jadi begitu mata melek bawaannya laper muluk,”


“Padahal gue juga makan ciki-ciki yang gue bawa lho, tapi kok tetap lapar ya. Melar banget perut gue, njir,”


“Gue biasa aja,”


“Ah lo mah stay cool banget sih. Lapar bilang aja lapar,”


“Ya emang lapar tapi biasa aja, nggak lapar-lapar banget,”


“Lu dibagi makanan sama Zeline ya? Tadi gue liat, selain makan punya sendiri, lu sharing sama Zeline ‘kan?”


Vindra menganggukkan kepalanya. Ia tak menyangka sahabatnya tahu kalau Ia dan Zeline sempat berbagi makanan ringan yang mereka bawa untuk persiapan bekal di jalan.


“Gimana duduk sebelahan sama Zeline dengan waktu yang cukup lama, bro?”


Vindra mengangkat bahunya disela bersantap mengisi perutnya. Tak ada yang aneh ketika Ia harus duduk bersebelahan dengan Zeline. Awalnya Ia akui memang canggung, tak bisa berkata-kata tapi perlahan bisa mencair, bahkan tak ragu saling menawarkan makanan setelah Ia dulu yang memulai.


“Nih, kamu mau cokelat aku nggak?” Tanya Vindra tadi pada Zeline yang memejamkan mata mendengarkan playlist lagu yang diputar di dalam bus. Karena tak ada tanggapan dari Zeline, akhirnya Vindra sengaja menghentak pelan lengan mantan kekasihnya itu yang langsung membuatnya membuka mata.


“Apa?”


“Kamu nggak budeg ‘kan, Zel? Ini aku nawarin cokelat, kamu mau nggak?”


“Gue bawa makanan juga kok,”


“Ya udah nggak apa-apa, gue cuma mau nawarin aja, nggak usah pamer bawa makanan,” jawab Vindra.


“Ih aku nggak pamer tapi maksud aku supaya kamu nggak perlu repot-repot ngasih makanan ke aku, Vindra,”

__ADS_1


“Nggak apa-apa santai aja, ambil lah kalau emang mau,”


Alih-alih mengambil cokelat batang yang diulurkan sang mantan kekasih, Zeline justru meraih makanan ringan berupa keripik kentang dengan varian rasa barbeque.


Setelah membuka kemasan makanan ringan itu, Zeline langsung mengulurkannya ke arah Vindra yang langsung bingung dan bertanya-tanya. Ia bingung karena Zeline malah menawarkannya juga.


“Ayo silahkan diambil ciki aku. Cobain deh, enak tau,” suruh Zeline tapi Vindra menggelengkan kepalanya.


“Kalau kamu mau aku nyobain makanan kamu, okay nggak apa-apa. Tapi kamu harus mau juga nyobain makanan yang aku tawarin ini,”


Zeline akhirnya menganggukkan kepalanya. Tidak ada canggung sedikitpun rasanya susah, maka dari itu perlu momen-momen seperti ini diantara mereka.


“Okay makasih, Vindra. Sekarang giliran kamu yang cobain ciki aku, enak banget deh,”


Zeline menawarkan Vindra lagi. Karena cokelatnya tadi sudah diterima Zeline, sekarang gantian Vindra yang merasakan makanan ringan milik Zeline.


“Gimana rasanya?” Tanya Zeline.


“Enak tapi itu keterlaluan banget bumbunya ya. Lo tuh jangan terlalu banyak makan kayak begitu, mau sakit lo?”


“Ini sehat-sehat aja kok,”


“Anak micin banget, nggak berubah ternyata,”


Zeline yang sedang asyik mengunyah makanan ringannya langsung berhenti menggerakkan mulutnya ketika Vindra bicara seperti itu.


“Nggak berubah? Maksudnya?”


“Waktu sama aku, kamu juga suka makan kayak gituan ‘kan? Suka yang pedas-pedas juga,”


“Iya, kok masih ingat?”


“Ingatlah, masa lupa,”


Zeline terkekeh menutupi gugupnya yang tiba-tiba datang setelah Vindra mengaku bahwa hal kecil tentangnya tidak dilupakan oleh Vindra. Tak disangka olehnya Vindra masih tahu juga apa yang Ia suka.


“Lupain, jangan diingat-ingat terus, bahaya lho,”


“Emang kenapa? Suka-suka memory otak gue lah, kalau tetap mau ingat ya biarin aja, nggak usah lo nyuruh gue untuk lupain. Lagian itu ‘kan hal kecil yang gue tau dari lo, wajar aja kalau gue masih ingat,”


“Aku pikir kamu malah nggak tau apa yang aku suka lho,”


“Tau, pernah berhubungan lumayan lama masa nggak tau apa-apa,”


Vindra tersentak karena tepukan di bahunya. Seketika memorynya yang sedang memutar ulang momen dimana Ia mengobrol dengan Zeline di bus tadi buyar karena ulah Jerry.


“Lo ngapa makannya diam aja sih? Mana makannya santai gitu, mata nggak fokus, lo kenapa?”


“Nggak apa-apa,”


“Lagi ada yang dipikirin kali. Kesian amat lo, Vin. Masih muda udah banyak beban pikiran,”


“Apaan sih, njir. Gue nggak lagi ada pikiran,”


“Lah lo bukan manusia dong kalau nggak ada pikiran?”


Vindra berdecak ketika diledek oleh Jerry, dengan kesal Ia meninju pelan lengan sahabatnya yang sudah hampir selesai makan.


“Buruan makannya! Jangan terlalu santai, abis ini ‘kan mau istirahat,”


“Bawel mulut lo. Gue juga tau kali,”


“Lo mikirin apa sih? Ada beban pikiran?”


“Nggak ada, jangan sok tau, bro,”


“Serius? Sejenak tinggalkan beban pikiran lo itu, Vin. Fokus mau liburan senang-senang,”


“Iya paham gue, nggak usah lo ajarin,”


“Apa lo lagi ingat-ingat momen kebersamaan lo sama Zeline? Hmm? Senang nggak lo bisa duduk sebelahan sama Zeline untuk waktu beberapa jam? Tadi kita tuh di perjalanan berapa lama ya? Delapan jam nggak sih? Nah berarti lo selama itu duduk sama dia,”


“Berarti emang udah ketentuan dari Allah, gue yang di samping dia, bukan lo. Terima aja udah,”


“Waduh, di samping dalam artian apa nih? Di samping saat duduk aja, atau di samping dia untuk selamanya?”


Dino dan Zam tertawa lebar mendengar pertanyaan yang dilontarkan Jerry kepada Vindra. Kalimat yang terlontar dari mulut Vindra membuat Jerry bertanya-tanya dan butuh penjelasan yang lugas. Mendadak Ia cemburu ketika mendengar Vindra berucap bahwa ketentuan Tuhan adalah dirinya yang tepat di samping Vindra.


“Jawab wey! Maksud lo di sampingnya Vindra tuh gimana? Di samping dia selamanya gitu? Di samping dia waktu duduk aja?”


“Ya nggak tau, gue mah cuma manusia biasa yang nggak bisa jawab pertanyaan semacam itu,”


Dino dan Zam semakin tertawa karena jawaban Vindra pasti membuat Jerry merasa ketar-ketir tapi mereka menyukai ekspresi Jerry sekarang yang kelihatan jengkel sekali dengan Vindra.

__ADS_1


“Gue berharap banget pas pulang nanti aturan tempat duduk berubah,”


Vindra kali ini tertawa. Jerry tampaknya masih tidak terima sekali dengan kenyataan bahwa Ia lah yang duduk bersebelahan dengan Zeline, memang aturannya yang mengharuskan mereka duduk berdua.


__ADS_2