Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 32


__ADS_3

“Zeline kenapa sih? Kok kayak hindarin kamu sama aku gitu? Apa kita buat kesalahan ya?”


Anin bertanya-tanya karena dua hari ini Zeline seperti menjauhi Ia dan juga Vindra. Tentunya Ia bertanya-tanya. Ada apa sebenarnya? Kenapa Zeline menghindar? Apa Ia dan Vindra buat kesalahan? Tapi Ia tak merasa buat kesalahan apapun.


“Masalah perempuan, biasalah,”


“Maksudnya?”


“Ya udah biarin aja. Aku udah ngomong sama dia juga tapi mungkin dia lagi perlu waktu. Udah nggak perlu kamu pikirin,” ujar Vindra yang kalau Anin lihat kesannya malah tak peduli dengan perubahan yang ditunjukkan oleh kekasihnya.


“Kamu sama Zeline lagi berantem kah?”


Anin bertanya seperti itu setelah melihat Zeline dijemput oleh drivernya, dan tidak ada obrolan apapun pada Vindra yang berpikir hari ini Zeline pulang bersamanya tapi ternyata malah memilih pulang sendiri.


“Nggak sih sebenarnya,”


“Terus kenapa Zeline cuek gitu ke kamu? Ke aku juga sih kayaknya, bahkan pulang sendiri juga tuh padahal ‘kan kita biasa pulang bareng, udah dari kemarin kayak gitu ‘kan?”


“Zeline lagi perlu waktu aja. Ya udah yuk pulang,”


Zeline lagi perlu waktu untuk memahami kalau sebenarnya Vindra tak lagi menjadikan Ia prioritas, karena ada Anin yang sudah menggantikan posisinya.


******


“Kamu kenapa udah dua hari ini pulang nggak sama Vindra, Zel? Lagi sama-sama sibuk apa gimana?”


Reta bertanya pada anaknya yang baru saja sampai di rumah dengan wajah lelahnya. Lagi-lagi Ia lihat Zeline tidak pulang bersama Vindra, padahal biasanya mereka rajin pulang bersama.


“Iya, Ma,”


“Lagi sama-sama sibuk atau berantem?” Tanya Reta dengan kedua mata memicing berusaha menyelidik.

__ADS_1


“Nggak berantem, lagi kesal aja aku sama dia,”


Akhirnya keluar juga dari mulut Zeline tentang kesalnya Zeline pada kekasihnya itu. Daripada mamanya bertanya-tanya kenapa Ia malah tidak pulang dengan Vindra. Alasan sesungguhnya adalah bukan sibuk masing-masing, tapi memang sedang ada masalah di antara mereka berdua.


“Kesal kenapa, Nak?”


“Lama-lama, posisi aku kayak digantiin sama sahabatnya itu, Anin. Aku selama ini diam aja, entah dia sadar atau nggak lebih mentingin Anin ketimbang aku. Tapi yang jelas sekarang aku benar-benar udah kesal banget, Ma,”


Reta menghembuskan napas pelan. Inilah sebabnya Ia tidak mau dulu Zeline pacaran dengan siapapun itu, karena kalau sudah ada masalah, bisa menjalar kemana-mana. Ke mental, kehidupan sehari-hari, bahkan pendidikan juga bisa jadi korban.


“Udah coba ngomong sama Vindra belum?”


“Udah, Ma. Dia udah minta maaf tapi aku tetap aja kesal. Jadi aku merasa, di sini tuh aku yang sahabatnya Vindra dan Anin yang pacar,”


“Ya udah jangan kesal lagi, istirahat sana biar kepalanya adem, bangun-bangun seger,”


Zeline merengut, sedang kesal malah disuruh istirahat. Mamanya memang ada-ada saja. Sebenarnya tanpa tidur, hanya dengan cerita begini saja lumayan mengurangi panas di dadanya Zeline.


“Aku rasa dia suka kali tuh sama Anin, atau Anin suka sama dia, atau bisa jadi mereka berdua saling suka,”


“Eh jangan ngomong begitu, jatuhnya malah nuduh kalau kamu asal ngomong tanpa bukti. Makanya biar nggak mumet kayak begini, harusnya kamu nggak pacaran dulu. Mama izinin kamu pacaran ya karena Mama percaya kamu bisa jaga diri, bisa pacaran yang sewajarnya aja untuk saling memotivasi dalam hal belajar, bukan malah ribut-ribut begini yang bisa bikin mental kamu down, pendidikan kamu terbengkalai. Yang harusnya fokus belajar, malah kayak begini,”


Zeline menunduk mengamati mamanya yang kali ini tampak kecewa dengan dirinya. Kemudian Zeline meraih kedua tangan mamanya. Ia langsung meminta maaf “Jangan kesal sama aku ya, Ma. Maaf udah bikin Mama kecewa, udah bikin Mama ikutan pusing sama masalah aku,”


“Nggak usah minta maaf sama Mama. Sekarang selesaikan aja masalah kalian berdua. Kalau mau lanjut yang benar, jangan ada ribut-ribut kayak begini lagi. Kamu harus bisa ngerti dan Vindra juga harus bisa jaga perasaan kamu. Tapi kalau mau putus ya silahkan. Mungkin memang itu jalan yang baiknya biar kalian sama-sama fokus belajar,”


Zeline langsung panik mendengar kata putus. Ya bagaimana tidak panik, Ia dan Vindra itu sudah cukup lama bersama kurang lebih dua tahun. Ia sudah terlanjur dalam memiliki perasaan cinta untuk Vindra. Dan Ia tahu sebenarnya Vindra itu laki-laki yang baik. Selama menjadi kekasihnya Vindra tak pernah semengecewakan ini.


Tapi setelah hadirnya Anin, Vindra terkesan berubah menjadi Vindra yang tidak Zeline kenali.


“Aku minta maaf ya, Ma,”

__ADS_1


“Udah sana istirahat deh, biar kepala kamu dingin terus bicara baik-baik sama Vindra kalau perlu suruh Vindra ke sini biar ngobrol langsung, Mama bisa dnegar jadi sama-sama enak ‘kan,”


Zeline menganggukkan kepalanya patuh. Ia langsung bergegas ke kamarnya sendiri dan akan istirahat seperti apa yang dititah oleh mamanya barusan. Sebangunnya Ia dari tidur nanti, Ia akan mengajak Vindra bicara. Tapi sebenarnya Ia berharap supaya Vindra yang lebih dulu mengajaknya bicara. Semoga saja Vindra diberikan inisiatif seperti itu nanti.


******


“Lo kenapa? Gue perhatiin dari tadi lo ngeliatin fotonya Zeline terus,”


Vindra langsung memadamkan layar ponselnya hingga gelap setelah kedapatan mengamati foto Zeline oleh Raka, temannya yang saat ini duduk di sebelahnya.


Vindra dan tiga orang temannya sedang mengerjakan tugas kelompok. Setelah mengantarkan Anin ke apartemen, Vindra langsung le rumah Raka untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru matematika mereka.


Ada Raka yang kali ini jadi tuan rumah, ada Vindra, Daniel, dan Gilang yang kali ini disatukan dalam kelompok dua.


“Lagi berantem lo ya?” Tebak Raka yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Vindra.


“Lah terus kenapa dong? Jujur aja udah, jangan bohong,”


“Emang gue nggak berantem,”


“Ya tapi kayak galau gitu,”


“Gue sih ngerasanya nggak lagi berantem ya, tapi kalau Zeline kayaknya iya deh,”


“Nah kok gitu? Emang ada apa sih? Lo boleh cerita,”


“Iya buruan cerita, kita siap jadi pendengar yang baik, Vin,” ujar Gilang yang sedang sibuk dengan kalkulatornya. Soal milik Gilang lagi yang belum selesai sementara milik Vindra, Raka, dam Daniel sudah.


“Ngambek aja dia sama gue,”


“Gara-gara?”

__ADS_1


“Gue katanya lebih mentingin Anin. Lah dia ‘kan sahabat gue ya. Wajar kalau gue mentingin Anin juga. Dan gue nggak merasa kalau gue tuh gantiin posisinya Zeline sama Anin. Gue tetap cinta sama Zeline kok, gue tetap perhatian sama dia, masa dia nggak bisa liat itu sih?”


__ADS_2