Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 55


__ADS_3

Hari ini Zeline menemani mamanya ke butik mengambil baju untuk acara pekan depan yang sudah jadi dan siap dipakai saat acara tunangan keponakan Reta alias sepupu Zeline.


“Jadi kapan Zeline nyusul sepupunya?”


Indah, desainer sekaligus teman Reta bertanya usil pada Zeline dan Reta yang langsung terkekeh.


“Masih jauh,” jawab ibu dan anak itu dengan kompak.


“Oh iya ya masih sekolah, tapi lulus sekolah gimana? Udah ada rencana belum, Zel?”


“Nggak, Tante. Belum dulu deh. Mau lanjut kuliah. Aku mau kuliah dulu, Mama Papa juga setuju. Belum kepikiran untuk nikah,”


“Pacarnya masih sama, Zel?”


“Masih, Ndah. Lama mereka ya,” jawab Reta.


“Oalah masih ya? Kirain udahan, tapi bagus deh. Tante doain sampai ke pemainan ya, Zel,”


Zeline terkekeh dan dalam hati mengamini karena itu doa baik. Zeline bersyukur dipertemukan dengan Vindra karena selama mereka menjadi sepasang kekasih, Vindra adalah definisi lelaki yang baik, walaupun terkadang menyebalkan apalagi setelah ada Anin sebab entah sadar atau tidak Vindra membagi perhatiannya kepada Anin juga sehingga Zeline merasa dinomorduakan.


“Ya udah aku sama Zeline pergi dulu ya, Ndah. Makasih banyak untuk bantuannya,”


“Makasih juga untuk kepercayaannya,”


Indah memeluk Reta sebentar setelah itu Zeline mencium tangan teman dari mamanya itu barulah Ia dan mamanya keluar dari butik.


“Ma, kita makan dulu yuk,”

__ADS_1


“Dimana?”


“Mall, sekalian aku mau beli toner aku yang udah habis boleh ya, Ma?”


“Boleh dong, ya udah kita nggak langsung pulang ya berarti,”


Zeline menganggukkan kepalanya. Zeline sengaja mengatakannya dari awal sebelum Mamanya melajukan mobil agar Mamanya tak membawa mobil ke rumah.


******


“Eh bentar ya, gue ke sana dulu. Itu ada Vindra sama nyokapnya,”


Anin izin pada dua orang temannya Rika dan Devi untuk pergi meninggalkan meja mereka karena Anin melihat ada Vindra dan mamanya di meja yang lain.


“Jadi lo mau makan sama mereka berdua?”


“Ya udah nggak apa-apa, santai aja. Tapi awas lo, kalau seandainya Zeline liat, ntar dikira kalian lagi bahas perjodohan, Zeline nya jadi galau,”


“Hahaha ya nggak lah. Perjodohan apa sih? Vindra tuh sahabat gue, nyokapnya Vindra juga tau itu kok, malah gue dianggap keluarga karena udah kenal dari kecil. Kalau Zeline galau ya itu urusan dia, yang penting apa yang dia pikirin itu bukan kenyataannya,” ujar Anin lalu melangkahkan kakinya ke meja dimana Vindra dan Mamanya sedang makan sambil berbincang.


“Hai, Tante Rina,”


“Hai, Vin,”


Vindra dan Mamanya langsung terkejut ketika ada yang menyapa mereka tiba-tiba dan teenyata itu adalah Anin.


“Eh Anin, ayo sini gabung. Kok bisa ya kita ketemu di sini?”

__ADS_1


“Iya makanya, aku lagi mau makan sama teman-teman aku tuh,” ujar Anin sambil menunjuk ke mja dua temannya.


“Tapi ngeliat ada Tante di sini, jadi aku samperin deh,”


“Ayo duduk di sini kalau teman kamu nggak keberatan,”


“Mereka nggak apa-apa kok, Tan,”


“Ya udah sini yuk,”


Rina mempersilahkan Anin untuk duduk di bergabung dengannya dan sang anak yang tetap makan, dan menjadi pendengar saja.


Anin memanggil pelayan untuk memesan makanan. Setelah itu Ia menunggu dengan sabar sambil diajak mengobrol oleh Rina.


“Abis belanja di mall ini?”


“Iya, rencananya abis ini pulang,”


“Oh, belanja apa?”


“Biasa, jepit dan bando aku udah pada hilang,”


“Oh iya iya,”


“Tante sama Vindra abis belanja juga?”


“Mau temenin Vindra beli sesuatu buat Zeline,”

__ADS_1


__ADS_2