Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 156


__ADS_3

Kedatangan Juan ke rumah sakit membuat orangtua Zeline merasa bingung. Ketika membuka pintu dan menerima kedatangan Juan, Richie tersenyum canggung.


“Ada apa ya?”


“Saya Juan, boleh jenguk Zeline nggak, Om?”


Dari situ Richie menyimpulkan bahwa Juan ini adalah teman anaknya. Tanpa banyak bicara Richie langsung mempersilahkan Juan untuk masuk ke dalam ruangan Zeline.


Zeline pun tampak kaget dan bingung. Zeline tidak menyangka kalau Juan berinisiatif untuk menjenguknya.


Juan mencium tangan Richie dan Reta bergantian, kemudian tersenyum menatap Zeline yang berbaring di bangsalnya.


“Kok datang nggak bilang-bilang?”


“Nggak usah bilang, yang penting datang. Oh iya gimana keadaan punggung kamu, Zeline?”


“Udah baikan, Juan. Lo nggak perlu datang, jadi ngerepotin lo. Gue nya yang nggak enak. Gye ‘kan udah baik-baik aja,”


“Eh nggak usah ngomong gitu. Emang aku yang mau kok. Oh iya, ini ada sedikit buah sama kue. Semoga kamu mau makan dan suka,”


“Makasih ya udah mau repot-repot ke sini. Pasti gue makan kok,”


“Itu beneran ulahnya si Anin, Zel? Kok bisa sih? Maksud aku, dia sengaja atau gimana?”


Zeline menggelengkan kepalanya lalu menghela napas pelan. Ia mau menyimpulkan sengaja atau tidaknya juga bingung. Kalau dari ucapannya Anin mengatakan bahwa dia tidak sengaja, tapi kalau dari raut muka yang ditangkap oleh Chaca tidak ada rasa bersalah sedikitpun. Bahkan Chaca sempat mengungkit lagi setelah di rumah sakit. Wajah Anin tadi seolah menantangnya untuk marah lebih lama lagi.


“Aku juga nggak tau sih dia itu sengaja atau nggak. Tapi biarin aja lah. Kalaupun sengaja anggap aja ini pelajaran untuk aku supaya lebih hati-hati lagi,”


“Emang kamu nggak hati-hati jalannya?”


“Menurut aku udah hati-hati. Tapi ini ‘kan musibah, Ju. Ambil aja hikmahnya,”


“Pasti rasanya sakit ya?”


Zeline menggeleng dengan tawa kecilnya. Kalau untuk saat ini tak begitu sakit lagi, tapi kalau di awal-awal tersiram itu memang dahsyat sekali rasanya.


“Juan, duduk dulu. Mau minum apa?” Reta mempersilahkan teman putrinya untuk duduk tidak berdiri saja ketika mengobrol dengan Zeline.


“Nggak usah, Tante, makasih. Aku duduk aja, nggak haus kok,”


“Ya udah minum air putih nih. Masa nggak minum sama sekali,”


Reta menyerahkan air minum untuk Juan yang merasa tidak enak bila menolak, maka dari itu Ia segera menerima dan mengucapkan terimakasih.


“Makasih ya, Tante,”


“Sama-sama, makasih juga udah datang ke sini. Selain Chaca dan Vindra, baru kamu lho yang datang ke sini,”


Mendengar nama, Vindra, Juan langsung terdiam sejenak kemudian Ia menatap Zeline.


“Kenapa, Ju?”


“Vindra ke sini?”


“Lah iya, oh ya dia nggak cerita ya? Dia yang antar gue ke sini, padahal gue nggak mau,”


“Oh iya? Hmm pantes aja tadi aku telepon nggak diangkat. Rencananya mau ngajak ngumpul di rumah Zam,”


“Mau ngapain, Ju? Mau balapan sama anak sekolah lain itu?”


Juan tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya. Antara khawatir dan penasaran, Ia sulit membedakan apa yang Zeline rasakan sekarang.

__ADS_1


“Nggak bahas itu sih, mau ngumpul aja kayak biasanya. Emang kenapa, Zel?”


“Nggak, Ju. Cuma tanya aja,”


“Kamu khawatir banget ya kalau Vindra mau balapan?”


“Hah? Ya nggak lah. Gue cuma tanya aja,”


“Memang Vindra itu sering balapan, Ju?” Tanya Richie yang mendadak penasaran setelah mendengar pertanyaan Zeline terhadap Juan soal Vindra yang Zeline kira akan balapan dengan murid dari sekolah lain.


“Nggak juga, Om. Ya…kalau ada yang nantangin dan dia bisa bakal diladenin sama dia, itu ada yang nantang aja kebetulan, Vindra orangnya paling nggak suka ditantang. Orang nantang tuh nggak suka sama dia,”


“Ada yang ngajakin untuk sekarang ini? Lho bukannya Vindra masih pemulihan ya? Apa nggak kenapa-napa badannya nanti kalau balapan?”


“Dia itu keras kepala, Om. Kalau udah maunya dia ya nggak bisa diganggu gugat deh kayaknya, aku dengar dari teman-teman dekatnya sih gitu,”


“Ngeri juga kalau udah balapan sementara keadaannya belum tentu benar-benar membaik,”


“Iya, Om. Ego sama gengsinya tuh tinggi,”


“Kamu sendiri sering balapan?”


“Ya nggak sering-sering banget, Om. Kalau lagi mood aja, sama ada temen ngajakin, soalnya seru apalagi kalau lagi kesal sama sedih. Bisa lampiasin semuanya,”


“Duh anak muda. Ngelampiasin jangan balapan, Nak. Cari kegiatan lain yang lebih bermanfaat. Maaf ya kalau menurut kamu, Om terlalu cerewet atau gimana. Tapi Om khawatir sama kalian anak-anak muda kalau udah balapan gitu. Kalau terjadi sesuatu sama kalian, kasihan juga sama orangtua. Mereka pasti khawatir banget,”


“Iya, Om. Emang udah tau risikonya tapi masih aja dilakuin, padahal kalau dipikir-pikir manfaatnya juga nggak ada,” ucap Juan seraya tertawa.


“Nah itu dia. Makanya kalau Om boleh saran, janganlah balap-balapan lagi. Sayang nyawa, sayang orangtua. Kalau terjadi sesuatu sama anak, pasti orangtua kalang kabut,”


“Pacar juga kalang kabut,”


Richie terkekeh mendengar sahutan Juan yang asal berceletuk. Kalau benar-benar sayang sepertinya memang akan begitu, tapi beda cerita kalau kekasih tak serius menyayangi.


“Masalahnya saya belum punya pacar, Om,”


“Ya sudah, itu artinya belum dipertemukan sama Tuhan. Akan ada saatnya kok, tenang aja,”


“Dipertemukannya malah udah telat, dia keburu udah jadi punya orang. Tapi sekarang sih udah nggak punya orang lagi,”


“Hmm maksudnya kamu suka sama pacar orang lain?”


Juan tertawa di tengah kebingungan Richie dan Reta, sementara Zeline menghembuskan napasnya kasar.


“Bukannya geer, tapi kayaknya yang Juan maksud itu gue deh. Dia udah pernah nyinggung-nyinggung ke arah sana soalnya,”


*****


“Gimana ceritanya Zeline bisa masuk rumah sakit? Kata kamu, Zeline kesiram air panas?”


Vindra mengangguk pelan. Begitu selesai meneguk air putih dingin, barulah Ia duduk dan mulai bercerita.


“Coba cerita, Vin. Tadi kamu nggak papa kasih cerita karena kita ‘kan belum shalat,”


“Iya emang Zeline kesiram sama kuah mie. Kejadiannya di kantin. Anin bilang nggak sengaja. Tapi kasian juga si Zeline. Punggungnya pasti panas, soalnya begitu aku datang ke kamar mandi nyusulin, dia keliatannya nangis,”


“Tapi kata dokter gimana keadaannya? Parah banget?”


Seperti biasa Hadi yang aktif bila soal Zeline, sementara istrinya, Rina, memilih untuk mengunyah makanan ringan.


“Udah dikasih obat luar sama obat dalam. Setelah itu keadaannya udah mendingan, Pa. Nggak usah khawatir, dia udah baik-baik aja kok,”

__ADS_1


“Kamu sendiri gimana?”


“Apanya, Pa?”


“Khawatir?”


Vindra diam seolah tidak mendengar pertanyaan papanya, padahal Ia yang diberikan pertanyaan. Melihat anaknya hanya diam, Hadi langsung terkekeh pelan.


“Kenapa diam? Jawab dong. Kamu khawatir?”


“Kenapa khawatir? ‘Kan bukan pacar lagi ups, eh iya si Anin bentar lagi ulang tahun ya kalau nggak salah? Sebagai sahabat—“


“Ma, orang lagi ngomongin Zeline kok malah nyerempet ke Anin sih?”


Rina terkekeh ketika mendengar ucapan suaminya. Ia menaikkan salah satu alis sambil melirik ke arah Vindra.


“Ya barangkali aja Vindra ada kejutan istimewa buat sahabatnya,”


“Apaan sih, Ma. Nggak ah, paling ngasih kado doang, nggak ada istimewa-istimewaan,”


“Hahaha, berarti belum move on nih,”


“Ya emang,”


“Jadi kamu nggak mau datang kalau Anin bikin acara?”


“Liat nanti, Ma. Aku belum bisa mastiin,”


“Lho, kenapa emangnya? Kamu sibuk ya?”


“Ya…nggak juga. Cuma ‘kan yang namanya manusia nggak bisa mastiin. Kalau tiba-tiba aku sakit gimana? Otomatis nggak bisa datang, Ma,”


“Ajakin Zeline aja sekalian,”


Usul dari Hadi langsung membuat Rina menggelengkan kepalanya.


“Jangan bikin ruwet, Pa. Kalau udah selesai ya selesai, jangan disambungin lagi, kasian Zeline,”


“Katanya mereka kan teman, sama Vindra juga teman,”


“Temen ‘kan, Vin?”


Vindra menggelengkan kepalanya. Hubungan Ia dan Zeline sudah bisa dibilang baik-baik saja, tak ada masalah lagi. Tapi Ia merasa bahwa mereka tidak ada hubungan pertemanan apalagi persahabatan.


“Sekarang gimana dengan hati kamu, Vin? Udah bisa lupa sama Anin?”


“Sama Anin mah nggak ada apa-apa, Pa,”


Hadi tertawa mendengar ucapan Vindra yang menjawab dengan nada ketusnya.


“Kalau sama Zeline gimana? Kalau Zeline sama yang lain—“


“Jangan dong,”


“Cemburu dia, Pa. Nggak terima kalau Zeline sama yang lain,” ucap Rina sambil tertawa.


Vindra mengernyit ketika mendapati keberadaan Jery temannya yang masih duduk di atas motor besarnya. Jery tidak bicara padanya kalau dia akan datang.


“Tiba-tiba datang, kenapa lo?”


“Katanya mau ngumpul di rumah Zam? Oh iya si Juan jenguk Zeline tuh,”

__ADS_1


“Kok lo tau?”


“Taulah, orang rame juga di grup angkatan, pada bilang si Juan perhatian lah bla bla,”


__ADS_2