Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 77


__ADS_3

“Hmm okay,”


Richie terlekeh lalu masuk ke mobil dan melambai pada anak dan istrinya itu seraya berpesan “Baik-baik di rumah ya,”


“Iya Papa hati-hati,” jawab Reta.


“Jangan kangen aku, Pa,” sambung Zeline yang mengundang tawa papa dan mamanya.


“Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam,”


Richie melajukan mobil meninggalkan lediamannya dan juga anak istrinya uang segera masuk ke dalam rumah.


“Aku bantuin, Ma,”


“Ih udah jangan! Kamu istirahat aja di kamar sana, jangan capek-calek dulu dong, Zel,”


Reta melarang anaknya yang hendka mengangkat piring kotor. Saat sehat saja Reta jarang sekali mengizinkan anaknya untuk sibuk dengan pekerjasn rumah, apalagi sedang sakit seperti ini.


“Mama aku di halaman depan boleh nggak? Aku mau nungguin matahari,”


“Boleh dong, Nak. Gih sana berjemur,”


Zeline mengambil oonselnya di kaamr setelah itu ke halaman depan rumah menunggu matahari terbit menyinari bumi temoatnya tinggal ini.

__ADS_1


“Neng Zeline, tumben duduk di situ,” sapa Pak Mukri penjaga rumah pada Zeline yang tak biasanya duduk menyendiri di halamn rumah.


“Heheh iya, Pak. Lagi mau berjemur,”


“Wah jarang banget duduk-duduk lagi gini karena biasanya sekolah,”


“Iya bener, Pak. Kalaupun libur biasanya di kamar aja. Ini tumben nggak males berjemur hehehe,”


“Bagus, Neng. Biar sehat, cepat sembuh,”


“Aamiin,”


Zeline menghabiskan waktunya di halaman depan sendirian sambil menggulir layar ponsel. Ketika sudah mulai ada matahari Ia berjalan-jalan kecil di sekitar halaman rumah.


“Nak, kalau udah nggak kuat masuk, itu kok kamu jalan-jalan sih? Pusingnya ‘kan masih,”


“Oalah hahaha nggak kuat anak Mama kena matahari. Ya udah Mama pindahin aja kursinya ya?”


“Nggak usah, Ma,”


Reta tetap memindahkan kursi supaya anaknya itu bisa duduk saja tidak oerlu jalan-jalan. Ia menghindarkan kursi dari matahari.


“Nah udah jauhan nih, ayo duduk lagi di sini,”


“Aku masih pengen jalan-jalan,”

__ADS_1


“Heh nanti kamu jatuh, kamu ‘kan lagi pusing. Ayo duduk sini,” ujar Reta pada anaknya yang langsung duduk karena sudah ditegaskan begitu oleh mamanya.


“Nah kalau duduk ‘kan aman, nggak begitu kena sinar matahari lagi ‘kan?”


“Nggak, Ma,”


“Kamu tuh jangan kebanyakan mondar-mandir dulu, Mama takut kamu pingsan, Kak,”


“Nggak, Ma. Tenang aja, jangan khawatir sama aku,”


“Ya gimana nggak khawatir orang kamu nya lagi ousing terus jalan-jalan kok. Jangan susah ah kalau dikasih tau,”


“Heheheh iya iya,”


“Mama temenin kamu ya?”


“Boleh, Ma,”


Zeline menunjuk kursi di sebelahnya mempersilahkan Mamanya untuk duduk. Jarang mereka memghabiskan waktu pagi di halaman depan rumah seperti ini.


“Mama biasanya kalau mau jemur sendirian aja di sini, eh sekarang tumben ya sama anak Mama,”


“Aku baisanya sekolah jam segini ya, Ma. Terus kalau lagi libur bawaannya malas keluar kamar, jadi benar-benar jarang banget berjemur,”


“Iya jangan malas-malas, ‘kan baik untuk kesehatan kalau matahari pagi , Nak,”

__ADS_1


“Iya, Mamaku sayang. Aku juga sebenarnya nggak mau amlas tapi susah banget kalau udha datang rasa malas, entah gimana harus ngilangin rasa malas yang suka tiba-tiba datang dan merasuki jiwa ini,”


Zeline memijat pangkal hidungnya pelan sambil geleng-geleng kepala.


__ADS_2