Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 105


__ADS_3

Zeline makan dalam diam bersama Gisa. Dan tiba-tiba Vindra datang memghampiriinya dnegan membawa makanannya sendiri.


Vindra tidak akan menyerah. Vindra yakin Zeline mengambil keputusan yang salah karena Zeline mengakhiri hubungan mereka disaat sedang emosi.


“Lo ngapain sih? Hah? Ini bukan tempat pekrumpulan teman-teman lo ya. Di sini ‘kan circle teman sekelas gue,”


“Zel, aku nggak peduli ya aku ada di circle mana. Yang aku pikirin sekarang adalah, kita nggak bisa putus gitu aja. Aku yakin kamu itu salah ambil keputusan. Kamu mutusin aku disaat kamu lagi emosi. Plis jangan begini, Zel. Aku cinta sama kamu. Tolong jangan putusin aku ya,”


“Vindra, lo nggak malu apa bahas kayak gituan di sini? Udah deh jangan banyak drama. Gue nggak mau tau, pokoknya sekarang lo jangan deketin gue lagi. Kita sekarang sama-sama belajar move on,” ujar Zeline dengan tegas penuh penekanan. Walaupun Ia sengaja membuat suaranya pelan supaya teman-temannya yang sedang makan tidak mendengar apa yang Ia bicarakan, tapi Ia tetap menekan ucapannya supaya Vindra tahu kalau Ia sudah mengambil keputusan yang bukat.


Zeline lelah makan hati terus. Setiap ada Vindra, maka di situ ada Anin juga. Lebih baik Ia hidup sendiri saja daripada dibuat kecewa, dibuat merasa cemburu dan berpikir kalau Ia adalah yang nomor dua.


“Zel, ya ampun. Kenapa kamu jadi kayak gini sih? Aku sedih lho, Zel,”


Zeline melirik Vindra dengan ekor matanya. Ia memang bisa melihat Vindra seperti kacau sendiri. Tapi Ia berusaha untuk mengeraskan hatinya. Vindra berhak mendapatkan itu karena sebelumnya Vindra sudah menyakiti hatinya terlalu sering.


“Sekarang kamu ingat-ingat aja apa yang pernah kamu lakuin ke aku ya. Nggak ada lagi kesempatan buat kamu. Masih paaran aja kamu udah jadiin aku yang nomor dua,”


“Astaga aku nggak selingkuh, nggak jadiin kamu nomor dua. Kamu kenaoa sih ngomongnya kayak begitu?”


“Ya emang kamu ngakuhya nggak selingkuh, nggak pacaran di belakang aku. Tapi sikap kamu ke aku lama-lama berubah setelah ada Anin. Kamu lebih mentingin dia daripada aku. Kamu bilin aku seirh nggak apa-apa tapi giliran Anin nggak boleh sedih. Dia boleh nyalahin aku sernak hati, giliran aku bela diri kamu malah nyalahin aku juga sama kayak dia. Pacarku sendiri nggak percaya lagi sama aku. Jadi ya untuk apa bertahan? Iya ‘kan?”


“Aku bukan nggak percaya. Aku cuma dnegar dari satu pihak aja. Aku ngaku kalau itu eksalahan yang ebsar tapi aku ‘kan udah minta maaf, Zel,”


Vindra akan meraih tangan Zeline tapi Zeline segera menepisnya. Sungguh, emosi Zeline masih meletup-letup sebenarnya. Tapi memang tidak sedahsyat sebelumnya ketika Anin menyalahkannya dan Vindra memarahinya.


“Itu kesalahan kamu dan akhirnya kamu sadar ya. Bukan sekali atau dua kali aja kamu cuma dengerin satu pihak yaitu dia. Sejak ada dia,


kamu emang lebih dengerin dia daripada aku,” ujar Zeline dengan ketus. Zeline ingat sekali. Ketika Anin tak sengaja disenggol motor hingga jatuh, Anin tidak sengaja jatuh dari tangga, selain harus melihat kekhawatiran kekasihnya terhadap Anin pasti Vindra akan bicara seolah-olah Ia yang salah.


“Kamu gimana sih? Kok biarin Anin nyebrang sendirian? Kamu nggak temenin Anin?”


“Kamu gimana sih? Masa nggak liat Anin udah kepleset harusnya buru-buru kamu tahan,”


Zeline tahu Vindra mungkin tidak sengaja melontarkan kata-kata itu karena dia Vindra panik, Vindra terlalu takut terjadi sesuatu oada Anin. Tapi tidak seharusnya Vindra menyalahkannya. Apa-apa Ia, Anin luka sedikit maka Ia yang akan dengar omelannya Vindra.


Kekhawatiran Vindra pada Anin itu sudah serupa alias sama jika Vindra sedang mengkhawatirkan dirinya. Hanya saja perbedaannya adalah tidak ada yang Vindra omeli kalau Ia kenapa-napa, tidak ada yang salah di mata Vindra. Zeline melihat itu adalah perbuatan Vindra yang tidak adil. Setelah Anin ada di antara mereka, Zeline sudah merasakan perbedaan yang cukup signifikan. Perhatian Vindra benar-benar terbagi antara dirinya dan Anin. Terkadang Ia merasa kalah, Ia merasa bahwa Ia yang sahabatnya Vindra, dan Anin adalah kekasih Vindra.


“Zel—“


“Vindra udah deh. Aku nggak mau ya dengar apapun lagi keluar dari mulut kamu. Sekarang kita fokus sama hidup maisng-masing aja. Kamu ‘kan udah move om, ya udha fokus aja sama yang baru, nggak usah lagi berurusan sama mantan kamu ini,”


“Zel, siapa yang udah move on sih? Aku nggak akan move on. Karena aku sayangnya sama kamu, Zel,”


Zeline mencibir Vindra denganw ajah malasnya. Mendnegar kata-kata itu terlontar dari mulut Vindra sudah tidak membuatnya salah tingkah malu-malu lagi. Yang ada malah kesal. Karena kenyataannya sikap atau perlakuan Vindra kepadanya berbeda seratus persen dengan apa yang Vindra katakan. Vindra menyayanginya, Vindra mencintainya, semua itu sudah Zeline anggap masa lalu. Ia sudah menyiapkan tekat yang kuat untuk menyudahi percintaannya yang semakin lama semakin membuat kehidupannya tidak nyaman.


“Vin, udah jangan dipaksa. Kasian Zeline, kalau lo tetap bawa maunya lo. Kalau emang dirasa belum selesai ngobrolnya ntar dilanjut aja lagi. Jangan sambil makan kayak gini,”


Tiba-tiba Gisa yang sedari tadi menjadi pendnegar yang baik angkat bicara. Karena Ia bisa melihat Zeline tertekan. Zeline kesal, Zeline marah pada Vindra tapi Zeline berusaha menahan itu mungkin karena ingat ini ramai orang bukan hanya mereka berdua saja dan Vindra juga lelaki yang pernah mengisi hatinya jadi Zeline ada di posisi serba salah sekarang.


Gisa sudah bisa menyimpulkan permasalahan mereka. Seline merasa tidak dihargai lagi dan memilih pergi sementara Vindra tidak mau kekasihnya itu pergi.


Vindra menganggukkan kepalanya mengerti. Setelah itu Ia memilih untuk pergi dari sisi Zeline, dan Ia kembali ke kumpulan teman-teman sekelasnya.


“Zel, saran gue sih, lo pikirin lagi ya. Bukan apa-apa, keputusan yang diambil terburu-buru itu akhirnya bisa nggak baik. Mungkin lo waktu ambil keputusan untuk mutusin Vindra lagi dalam keadaan emosi. Coba nanti kalau emosi lo udha hilang, lo pikirin ulang lagi ya. Karena gue yakin kok lo sama Vindra tuh maish saling cinta. Gue bisa liat itu di mata kalian masing-maisng. Lagian ya, hubungan kalian udah lumayan juga bertahannya. Ini mungkin salah satu dari banyaknya cobaan besar yang bakal datang di dalam hubungan kalian,”


Zeline menggelengkan kepalanya. Ia menyeruput air minum sebelum menjawab “Gue udah yakin, Gis. Gue nggak mau dijadiin nomor dua terus. Dia emang nggak selimgkuh, dia nggak pacaran di belajang gue, tapi percuma kalau dia lebih perhatian, lebih mentingin perempuan lain dibanding gue ya walaupun itu sahabat dia sendiri. Gue punya hati juga kali. Emangnya sahabat dia doang yang punya hati? Kita nih sama-sama manusia, dan sama-sama perempuan juga. Seharusnya bisa saling jaga perasaan dong. Nggak kayak dia yang susah banget untuk hargain perasana gue sebagai pacarnya Vindra,”


Mendnegar penjelasan Zeline, Gisa langsung mengerjapkan kedua matanya. Keningnya juga mengernyit bingung.


“Jadi maksud lo—-ini lo lagi ngomongin Anin ya?”


“Ya iyalah, Gis. Gue kita lo udah tau,”


“Sorry gue belum ngeh heheheh,”


“Nggak apa-apa,”


Gisa sudah selesai makan dan Ia langsung menghabiskan air putihnya. Barulah Ia menatap Zeline yang masih menikmati makan siangnya berupa nasi putih, sambal kentang dan ayam goreng.


“Jadi lo lagi cemburu sama Anin ya?”


“Duh kalau cemburu udha nggak terhitung sebenarnya, Gis. Dan lo harus tau gue selama ini tuh diam aja, gue maklum karena gue anggap dia sebagai sahabat juga. Cuma kok makin lama gue makin nggak ada harganya ya di mata mereka berdua itu. Gue sering jadi kambing hitam kalau dia kenapa-napa, dia lebih diperhatiin, padahal gue pacarnya. Ini berdasarkan apa yang gue liatd an gue rasain aja ya. Kalau lo nggak percaya ya udah nggak spa-apa. Gue juga nggak minta lo untuk percaya. Anggap aja gue emang perempuan yang lebay, dikit-dikit cemburu, terserah deh lo mau anggap gue apa. Intinya gue nggak mau lagi makan hati. Susah ternyata kalau harus berdekatan atau bahkan bersahabat sama perempuan dari pasangan kita,”


Gisa langsung merangkul bahu Zeline dan Ia udap beberapa kali dengan lembut. Ia mengerti perasaan Zeline. Ia bisa menmepatkan posisinya di posisi Zeline saat maish menjadi kekasih Vindra.


“Gue percaya kok sama lo. Ya emang susah kalau harus berurusan sama teman dekat pasangan. Rasa cemburu itu pasti ada. Sama teman yang nggak dekat-dekat banget kadang pasangan kita lupa untuk hargain perasaan kita. Mereka terlalu akrab aja udah bikin kita cemburu, udha bikin kita merasa nggak dihargai, nah apalagi kayak Vindra sama Anin yang kemana-mana bareng, paling ke kamar mandi doang tuh berdua nggak bareng. Dimana ada Vindra di situ ada Anin. Dan lo kayak di antara mereka berdua ya? Padahal status lo jelas lebih unggul lah dibanding Anin,”


“Untung lo paham perasaan gue, Gis. Makasih banyak ya, lo pagam dan lo nggak ngomongin gue yang nggak-nggak. Walaupun gue tau keputusan ini mungkin bakal bikin ornag mikir jelek tentang gue,”


“Nggak dong, gue nggak begitu sedikitpun. Gue tau rasanya jadi lo. Gue pernah juga waktu itu, ya hampir sama lah kejadiannya kayak lo. Cuma waktu itu gue belum pacaran sama satu cowok ini. Jadi si cowok deketin gue, dan akhirnya kita pedekate tuh. Tapi ternyata si cowok ini punya temen deket cewek, ya bisa dibilang sahabat kali ya? Gue yang belum jadi pacar cowok ini aja ngerasa cemburu setiap liat mereka bareng, gue juga kadang merasa kalau gue dicuekin. Itu padahal gue belum jadi pacar tapi perasaan perempuan emang se-sensitif itu sih. Gue belum jadi pacarnya aja udha merasa cemburu, pana smulu bawaannya kalau ngeliat mereka bareng walaupun cuma ngobrol atau ketawa berdua gitu. Sejak saat itu gue nggak mau dideketin sama cowok yang punya bestie cewek yang benar-benar dekat banget mau dianggap saudara lah, apalah, tetap aja gue nggak mau. Gue gampang cemburuan banget soalnya,”


Zeline terkekeh sekarang gantian Ia yang mengusap bahu Gisa. Ternyata Gisa pernah ada di posisinya tapi bedanya saat itu Gisa belum menjadi kekasih.

__ADS_1


“Untung belum pacaran ya?”


“Iya, kalau udah keburu pacaran, beuh gue bakal makan hati mulu deh kayaknya,”


****


“Vindra, kamu kok diam aja? Kamu kenapa?”


Selepas mandi, Vindra memutuskan untuk keluar dari kamarnya dan duduk sendirian di tepi kolam renang. Tidak ada teman-teman di sekitarnya karena mereka smeua ada did alam kamar masing-masing. Ada yang masih istirahat, ada yang sedang mandi, ada juga yang sedang sibuk dnegan ponsel.


Kalau Vindra sendiri sudah siap untuk acara api unggun nanti malam. Makanya Ia amndi tepat waktu seperti halnya kebiasaan di rumah setelah itu Ia mencari udara segar di dekat koman renang. Suasana vila yang disewa oleh pihaks ekolah untuk kegiatan pramuka benar-benar asri sekali. Vindra nyaman berada di sana.


Ketika Vindra sedang melamun menatap kolam renang, tiba-tiba ada yangd atang menghampirinya dan langsung duduk di sebelahnya. Dia adalah Anin.


“Vindra,”


Karena tak mendapatkan reaksi apapun dari Vindra, Anin langsung menyebut nama Vindra


lagi sambil menyentuh siku Vindra dengan sikunya.


“Kenapa, Nin?” Tanya Vindra tanpa mengalihkan tatapannya dari kolam renang.


“Kamu kenapa? Kok ngamn di sini sih?”


“Nggak apa-apa, aku lagi nyaman di sini. Jangan ganggu aku,”


“Ih kok kamu gitu sih? Aku ‘kan penasaran kenapa kamu menyendiri di sini? Lagi ada masalah ya?”


“Nggak kok,”


“Terus kenapa dong?”


“Aku bilang jangan ganggu aku, kok kamu masih di sini?”


“Aku ‘kan sahabat kamu kenaoa aku nggak boleh tau apa yang lagi kamu pikirin?”


Vindra berdecak pelan dan langsung menatap Anin dnegan sorot mata kesal setelah itu duduk menjauh dari Anin, tepatnya di paling ujung kursi yang sejak tadi menjadi tempat ternyamannya.


“Kamu jangan ganggu aku dulu, Nin. Aku lagi mau sendirian di sini. Tolong paham ya, Nin,”


“Oha ku tau, pasti kamu lagi mikirin Zeline ya? Apa kamu sama Zeline maish putus? Maksuda ku, apa Zeline udah benar-benar mutusin kamu, Vin?” Tanya Anin yang langsung dijawab dengan anggukkan kepala oleh Vindra. Anin mengerjapkan kedua matanya. Ia pikirin Zeline hanya main-main, atau tidak serius mengakhiri hubungannya bersama Vindra secara tiba-tiba.


“Hah? Kamu serius, Vin?”


“Apa aku harus ngomong sama Zeline, Vin? Aku bantu kamu untuk ngomong ke dia. Barangkali dengan aku ngomong—“


“Nggak usah. Dia lagi nggak baik-baik aja sama aku ataupun kamu,”


“Dia marah juga sama aku?”


Vindra menggelengkan kepalanya lalu menatap Anin. “Dia mau marah atau nggak sama kamu, semuanya ‘kan udah terjadi. Ini biar ajdi urusan akus ama Zeline aja. Kanu nggak pelru ikut campur. Aku bakal berusaha untuk dapetin Zeline lagi. Aku nggak siap kehilangan Zeline. Aku sayang banget sama dia,”


“Ya kalau ekang Zeline nggak mau lagi sama kamu, mungkin karena dia udah terlanjur sakit hati banget sama kamu, silahkan cari penggantinya Zeline hehehe,”


Vindra langsung memicingkan kedua matanya dan rahangnya mengeras begitu mendengar ucapan Anin.


“Nggak lucu ya, Nin. Bercanda kamu iyu bukan untuk hibur aku,”


“Lho, daripada kamu galau mulu ya ‘kan, aku sebagai sahabat ya dukung-dukung aja kalau kamu cari yang lain, aku yakin di luaran sama banyak cewek-cewek yang antre mau dapetin kamu. Jadi kamu nggak pelru khawatir jadi jomblo, Vin,”


Vindra langsung berdiri dan menatap Anin yang terkejut mendapat respon spontan dari Vindra yang kelihatan tidak terima dnegan ucapannya.


“Anin dengar ya, nggak akan semudah itu. Aku udah lama sama Zeline, akus ayang banget sama dia, dia itu cinta pertama aku. Aku benar-benar ngerasian jatuh cinta setelah kenal dia, terus kamu tiba-tiba ngomong kayak gitu,”


Anin berdecak dan Ia meraih tangan Vindra supaya duduk lagi. Dan setelah Vindra duduk, Ia langsung memutar posisi duduknya supaya berhadapan dengan Vindra.


“Gini ya, Vin. Daripada kamu galau terus mikirin Zeline, ya mendingan kamu cari yang lain aja. Zeoine tandanya udah benar-benar nggak mau lagi pacaran sama kamu, dan mungkin dia udah bisa move on. Kamu juga harus bisa dong,”


“Daripada kamu ngomong yang nggak-nggak mendingan kamu jangan di sini deh,”


“Ya ampun, kamu tega banget. Kamu ngisir aku, Vin? Kamu ngusir sahabat kamu sendiri?” Tanya Anin dengan ekspresi wajah yang sedih. Vindra langsung berdecak dan membuang mukanya tak mau menatap Anin lagi.


“Aku bakal berjuang untuk Zeline. Aku yakin dia itu cuma lagi emosi aja ambil keputusan untuk mutusin aku. Sebenarnya dia tuh nggak mau putus dari aku,”


“Ya udha makanya aku bantuin deh kalau gitu. Supaya kamu nggak galau-galau lagi ya ‘kan. Aku bakal ngomongs ama Zeline kalau gitu,”


Anin akan beranjak dari kursi namun Vindra menahan lengannya dan Vindra menggelengkan kepalanya tegas.


“Aku maish bisa berjuang sendiri. Kamu nggak usah ikut campur. Aku ‘kan udah bilang begitu sama kamu barusan,”


“Ya mana aku bisa diam aja ngeliat sahabat aku—“


“Nin, ini bukan ranah kamu lagi. Hubungan aku sama Zeline itu murni jadi urusan aku sama Zeline aja jadi siapapun nggak bisa ikut campur termasuk kamu,”

__ADS_1


Tanpa mereka sadari, ada seorang perempuan yang mengamati interaksi mereka dengan perasaan yang kian kacau.


“Tuh ‘kan, udah paling bener move on dmang! Salah juga gue keluar kamar mau cari udara segar. Yang ada malah liat pemandangan yang boro-boro bikin seger, yang ada juga bikin muak,”


Zeline langsung putar badan. Lebih baik Ia kembali ke kamar, daripada matanya harus melihat kebersaman Anin dan Vindra yang hanya berdua saja di dekat kolam renang.


Zeline berdecak pelan ketika air matanya jatuh selama kakinya melangkah ke kamar. Ia langsung menghapus aur natanya itu dengan cepat.


“Sial! Harusnya gue nggak nangis kayak gini! Nggak boleh! ‘Kan udah putus, ngapain masih nangis coba?! Dasar lemah lo, Zel!”


Zeline tiba di dalam kamar dan langsung menguncinya. Gis ayang melihat Zeline tiba-tiba amsuk lagi, langsung mengenryitkan keningnya bingung. Gida yang sedang sibuk dnegan ponsel sambil berbaring langsung beranjak mendekati Zeline yang saat ini duduk di tepi tempat tidur mereka.


“Zel, lo kenapa? Kok balik lagi? Bukannya tadi lo bilang, lo bakal cari udara segar ya?”


“Nggak jadi, gue mendingan di sini aja,”


“Oh, kenapa nggak jadi?”


“Boro-borod apat angin segar nantinya,”


“Hah? Maksud lo?”


“Ya iya, gue nggak dapat angin segar, yang ada juga angin ribut,”


Sontak saja Gisa tertawa mendnegar jawaban Zeline yang asal. Gis atidak tahu apa maksud Zeline tapis epertinya Zeline sedang tidak baik-baik saja.


Gisa langsung lepetakkan ponselnya dnegan asal di atas tempat tidur kemudian Ia merangkul bahu Zeline.


“Lo kenapa?”


“Gue nggak apa-apa kok, Gis, lo tenang aja,” jawab Zeline smabil tersenyum menatap Gisa yang saat ini maish merangkul bahunya.


“Lo yakin?”


Zeline menganggukkan kepalanya lalu berkata “Ya namanya juga abis putus cinta kalau ada galu-galaunya dikit mohon dimaklumi ya, Gis. Sebenarnya gue juga nggak mau,”


“Iya gue paham kok. Lo boleh galau karena putus cinta tapi jangan jadi bego ya,”


“Maksud lo?”


“Ya jangan sampai jadi bego, galau boleh. Misalnya nih, lo punya niat bundir, atau apa gitu,”


“Heh! Naudzubillah lo jangan smebarangan ngomong ah! Takut gue dengarnya,”


“Ya itu nasehat buat lo! Gue nggak mau lo ngelakuin hal bego. Lo boleh aja galau, tapi jangan jadi bego! Paham ‘kan maksud gue?”


“Iya gue juga tau, Gis. Gue nggak akan ngelakuin apapun kok, cuma sedih-sedih dikit tapi gue yakin bentar lagi juga sembuh,”


“Lagian kalau galau-galau gitu tandnaya lo maish cinta sama Vindra terus kenapa putus dih? Lo baru nyesal sekarang ya? Hmm? Cieee,”


“Gue nggak nyesal, malah gue makin yakin tuh putus dari Vindra,”


“Emang kenapa?”


“Ya iyalah, barusan aja dia udha ngobrol berdua tuh sama si Anin di dekat kolam renang. Nggak tau berunding apaan. Udah kayak ada rahasia besar aja beundingnya berdua, mana di dekat kolam. Kurang sweet apa coba?”


“Ya udah samperin lah,”


“Ih ngapain? Nggak penting. Gue mau move on, salah satu cara supaya bisa move on adalah menjauh,“


“Duh gue nggak yakin lo bisa, Zel. Soalnya dua tahun lebih, cuy. Sudah banget pasti,”


“Lo jangan ngomong begitu dong, lo harusnya yakinin gue dupaya bisa,”


“Ya gue ngomong realistis aja sih. Soalnya nggak gampang. Yang pacaran baru sebulan aja kadang sudah banget untuk move on, apalagi yang dua tahun udah gitu cinta pertama. Beuhh susah nya minta ampun deh itu,”


“Lo doain aja, gue pasti bsi akok,”


“Aamiin, semangat, Zeline! Gue dukung apapun yang terbaik untuk lo. Sebagai teman cuma itu yang bisa gue lakuin,”


Zeline langsung memeluk Gisa dengan erat dan mengusap punggung Gisa berulang kali seolah Ia tengah menenangkan Gisa.


“Harusnya gue yang puk-pukin lo sih, bukan lo. ‘Kan yang abis putus cinta tuh elo,”


“Ya nggak apa- kita ‘kan saling menguatkan satu sama lain,”


Disaat pelukan mereka terlepas tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar mereka. “Siapa tuh?” Tanya Gisa yang langsung ditanggapi dengan gelengan kepala dari Zeline.


“Nggak usah dibuka kalau kata gue sih,” uhar Zeline.


“Lah kok gitu?”


“Takutnya nyesal kalau dibuka pintunya,”

__ADS_1


Gisa berdecak pelab. Tamu datang tidak mungkin mereka abaikan begitu saja. Lagipula yang mengetuk pintu kamar mereka sekarang nampaknya tidak sabaran lagi menunggu pintu dibuka karena dari irama ketukannya saja sudah bisa ditebak. Begitu pintu dibuka oleh Gisa, dan terlihat jelas siapa yang datang, Zeline langsung berkata “Tuh ‘kan udah gue bilang nggak usah dibuka. Jadi nyesal deh,”


__ADS_2