
“Zeline pulang bareng sama aku mau nggak?” Vindra mengejar Zeline yang baru daja keluar dari kelas. Zeline langsung menghentikan langkah kakinya dan menatap Vindra dengan sorot mata jengah.
“Nggak, gue mau pulang sendiri aja, kebetulan driver di rumah lagi sakit jadi gue naik ojek online, soalnya Papa gue juga lagi meeting,”
“Mending sama aku aja yuk,”
“Nggak, emang lo nggak dengar apa omongan gue barusan? Gue mau pulang sendiri aja. Udah sana pulang ke rumah lo sendiri, nggak usah ajak-ajak gue. ‘Kan gue bisa pulang sendiri,” ujar Zeline kemudian berlalu melewati Vindra begitu saja namun Vindra tidak menyerah. Vindra berusaha mengejar langkah Zeline.
“Zel, kok kamu begitu sih? Aku pengen banget pulang sama kamu,”
“Ya harusnya gue lah yang nanya lo kenapa sih sebenarnya? Udah gur jawab ‘kan barusan? Apa jawaban gue kurang jelas? Hah? Gur mau pulang sendiri, ini lagi mau order ojek online,”
“Ya udah nggak usah pakai ojek, sama aku aja,” ujar Vindra yang masih bersikeras mengajak Zeline untuk pulang bersama namun Zeline menggelengkan kepalanya.
“Jangan batu deh. Udah dibilang gue nggak mau. Tolong jangan paksa gue,”
“Zel, aku—“
__ADS_1
“Zeline, balik bareng nggak? Udah agak mendung nih, bareng gue aja,”
Tiba-tiba ucapan Vindra terhenti karena ada suara lain yang bersumber dari arah belakang Vindra juga Zeline.
Juan datang dengan senyum hangatnya menatap Zeline kemudian Vindra. Detik itu juga Vindra langsung menggertakkan giginya geram.
“Kenapa sih harus datang di saat yang nggak tepat? Nggak bisa kaish kesempatan buat gue dekat sama Zeline? Kenapa harus ada lo?!” Batin Vindra dengan rahang yang mengetat.
“Eh Juan, gue rencananya mau naik ojek online sih,”
“Nggak usah, pulang sama gue aja yuk. Takutnya lama nunggu abangnya datang, ya mending sama gue aja. Ya itu kalau lo mau sih, atau lo mau balik sama Vindra?”
“Nggak-nggak, gue balik sama lo aja kalau gitu,”
Vindra langsung membelalakkan kedua matanya tidak terima. Dadanya semakn panas sekarang mendnegar jawaban Zeline yang bersedia pulang dengan Jan, alih-aluh pilang dengannya. Tadi ketika Ia ajak, Zeline menolak dengan tegas, giliran Juan yabg datang, Zeline tidak menghabiskan waktu lama untuk bersedia.
“Serius?”
__ADS_1
Zeline langsung menganggukkan kepalanya dan itu membuat Juan tersenyum. Vindra yang memyaksikan tu langsung bisa menyimpulkan bahwa Zeline mungkin masih menganggap Juan sebagai temannya tapi Juan nampak sudah lebih dari itu.
“Ya udah kalau gitu ayok kita balik sekarang sebelum hujan,”
“Okay,”
“Vin, gue sama Zeline duluan ya,” pamit Juan yang tak dijawab sama sekali oleh Vindra. Zeline pergi begitu saja meninggalkan Vindra yang harus menelan kekecewaan besar. Ia gagal mengajak Zeline pulang, justru sekarang Ia harus rela melihat Zeline pulang dengan Juan.
“Vindra! Kamu buru-buru amat sih aku nyariin kamu lho,”
Ketika Vindra menatap lurus ke depan dimana Zeline dan Juan berjalan berdampingan, tiba-tiba Anin datang dan langsung berdiri di sebelah Vindra.
“Aku boleh pulang bareng sama kamu nggak?”
“Ya emang pernah aku nggak bolehin?” Jawab Vindra sambil berlalu, dan karena nada bicaranya ketus, Anin langsung mengenryitkan keningnya bibgung.
“Lho kok dia gitu sih?”
__ADS_1
Anin segera menyusul Vindra dengan langkah kaki yang cepat. “Vindra, kamu kenapa? Kamu kesal sama aku? Apa aku buat salah?”
“Nggak, lagi nggak mood aja. Udah nggak usah nanya-nanya,”