
Pagi ini Vindra menjemput Zeline di rumahnya. Mereka akan berangkat ke sekolah bersama seperti biasa. Tapi berhubung masih ada sisa rasa kesal di batin Zeline karena kekasihnya tak menjelaskan apapun soal tujuan dia datang ke toko boneka bersama mamanya, dan juga Anin. Jadi sekarang Zeline sengaja membuat Vindra menunggu lama. Yang biasanya Ia tidak pernah lama turun menemui Vindra dan mereka langsung berangkat, sekarang Ia sengaja mengulur waktu.
“Nggak enak juga nyisir rambut lama kayak siput begini. Tapi nggak apa-apa, nggak bakal telat juga orang baru jam setengah enam. Paling Vindra gondok tuh di bawah. Biasanya aku langsung turun kalau dia udah datang, sekarang aku nggak turun-turun. Hahaha emang enak. Makanya jangan nggak jujur. Ditanyan ngapain ke toko boneka malah nggak jawab cuma ketawa-ketawa doang. ‘Kan bikin makin curiga kalau dia tuh ke toko boneka karena mau beliin boneka untuk Anin,”
Sesaat setelah Zeline menggerutu, pintu kamar Zeline diketuk oleh mamanya. “Iya, Ma?”
“Kamu masih lama? Kasian tuh Vindra nungguin di bawah. Nanti telat lho,”
“Sebenarnya semua udai siap, cuma sengaja aja nyisir rambut dilama-lamain,” gumam Zeline sambil terkekeh pelan.
“Iya bentar lagi, Ma,”
“Biasanya juga nggak leha-leha. Buruan, Nak, nanti telat, itu Vindra juga kelamaan nunggu kamu kasian lho dia,”
Zeline mendengus kesal. Belum juga disuruh menunggu seribu tahun, tapi Mamanya sudah mengasihani Vindra.
“Buruan ya, Zel,”
“Iya, Mama. Ini aku bentar lagi siap kok,”
__ADS_1
“Okay,”
Zeline masih terus menyisir padahal rambutnya sudah rapi. Ia benar-benar sudah siap untuk bernagkat sebenarnya. Pakai seragam sudah, pakai kaos kaki sudah, parfum juga sudah, tinggal angkut tas. Tinggal menyisir saja, dan itu sengaja Ia buat lama.
“Zel, buruan,”
“Astaga ternyata Mama masih di depan pintu?”
Tadinya masih nyaman di depan cermin smabil terus menyisir padahal rambutnya sudah tertata dengan baik. Tapi karena Mamanya kembali mengetuk pintu. Akhirnya Zeline terpaksa meletakkan sisir dan Ia beranjak meninggalkan meja riasnya.
“Mama nungguin kamu lho di sini,” ujar Reta.
“Iya-iya, Ma,”
Zeline membawa ranselnya setelah itu keluar dari kamar dan langsung mendapat tatapan tajam dari mamanya.
“Kamu lama bener sih. Itu udah ditungguin juga,”
“Ya namanya juga cewek, Ma,”
__ADS_1
“Ah biasanya juga nggak lama kok kalau siap-siap mau sekolah. Lagian Mama perhatikan nggak ada yang beda tuh dari penampilan kamu. Mama kira, kamu keluar-keluar pakai baju gaun pesta gitu,”
“Duh Mama ada-ada aja. Aku mau sekolah bukan mau pesta,”
“Ya abisnya lama banget. Sama buruan turun. Takut telat kamu sampai sekolah. Dan bukan kamu aja yang telat tapi Vindra juga,”
“Ya harusnya dia duluan aja kalau emang aku lama. Dia yang nyuruh Mama manggil aku di kamar?”
“Nggak lah, Mama aja yang punya inisiatif untuk manggil kamu. Karena kamu lama banget,”
Zeline dan Reta sudah sampai di lantai dasar. Mereka berjalan menghampiri Vindra yang seperti biasa duduk menunggu di ruang tamu.
“Sorry lama,”
“Iya nggak apa-apa kok, ayo kita berangkat sekarang,”
Melihat reaksi Vindra yang biasa-biasa saja, Zeline jadi kesal sendiri. Niatnya ingin membuat Vindra kesal dengan sengaja megulur waktu ketika bersiap. Tapi yang kesal malah dirinya.
“Kenapa jadi senjata makan tuan gini sih? Dia kok nggak keliatan kesal? Dia malah biasa aja!”
__ADS_1