
“Vindra belum cerita apa-apa,”
“Oh gitu ya? Aku pikir Vindra udah cerita. Jadi aku emang nginap di rumah Vindra. Tadi kita pulang berdua karena aku mau berkunjung ke rumahnya Vindra buat ketemu sama Tante Rina. Diajakin Tante Rina buat nginap di sini, ya udah akhirnya aku nginap di sini, Zel. Terus aku sempat makan malam sama Vindra,”
“Iya, Nin,”
Hanya Anin yang jujur bercerita pada Vindra, sementara Vindra tidak cerita sedikitpun kepadanya. Hanya sekedar obrolan ringan seperti biasanya saja.
“Nin, udah dulu ya, aku mau tidur. Aku udah ngantuk nih,”
“Oh kamu udah mau tidur ya? Okay deh nggak apa-apa. Bye, selamat malam, selamat istirahat, Zel,”
“Iya, Nin,”
“Eh iya, besok kamu berangkat sekolah sama aku dan Vindra ‘kan?”
“Nggak, aku diantar sama Papa aku,”
“Oh gitu, ya udah deh. Aku tutup teleponnya ya, Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam,”
Sambungan telepon diantara mereka berdua selesai. Zeline menghembuskan napas kasar, dan meletakkan ponselnya di atas nakas.
“Hah udah deh, nggak mau mikir apa-apa lagi, aku tenang, mau tidur aja,”
Rasa kecewanya pada Vindra semakin bertambah karena tidak cerita apapun kepadanya. Malah Anin yang bercerita tentang dirinya yang menginap di rumah Vindra, dan mereka berdua makan malam bersama.
“Anin ‘kan sahabatnya Vindra. Jadi aku harus maklum. Udah deh, Zel, jangan mikir yang aneh-aneh. Tidur yuk, istirahat biar pikiran nggak mumet,” ujar Zeline menenangkan dirinya sendiri yang entah kenapa merasa cemas posisinya tergeser. Mengingat Anin dan Vindra sangat akrab, Vindra perhatian sekali pada Anin, ditambah lagi orangtua mereka yang juga sama-sama akrab. Jadi wajar saja kalau Ia kepikiran dengan omongan-omongan temannya tentang tidak adanya persahabatan antara laki-laki dan perempuan yang murni.
******
“Hai Tante,”
“Pagi, Sayang. Udah bangun ternyata,”
“Iya tumben bangun pagian nih. Padahal semalam susah tidur,”
“Kenapa susah tidur?”
“Nggak tau, mungkin karena biasa tidur di apartemen kali ya, Tan,”
“Oh begitu,”
“Sini aku bantu, Tante,”
Anin membantu Rina yang sedang memindahkan menu sarapan yaitu nasi goreng, juga telur dadar dan ayam goreng dari dapur ke meja makan.
__ADS_1
“Makasih ya,”
“Sama-sama, Tante,”
“Tante mau bangunin Vindra dulu. Mudah-mudahan sih, dia udah bangun dan lagi siap-siap,”
Rina akan bergegas meninggalkan ruang makan, namun lengannya ditahan oleh Anin sambil berkata “Aku aja yang ketuk pintu kamarnya Vindra,”
“Oh ya udah boleh, Tante ke kamar manggil Om Dery berarti,” ujar Rina.
“Okay siap, Tante,”
Rina ke kamarnya untuk memberitahu sang suami bahwa sarapan sudah tersaji, sementara Anin bergegas ke kamar sahabatnya.
Ia ketuk pintunya satu kali dan langsung ada jawaban dari dalam kamar “Aku udah bangun, Ma,”
“Oh ya udah bagus,”
“Eh Anin,” Vindra baru tahu kalau yang mengetuk pintu kamarnya adalah Anin, Ia pikir mamanya. Karena biasanya memang Rina.
“Sarapan udah jadi,”
“Okay, nanti aku ke ruang makan,” ujar Vindra yang masih menyidir di rambutnya di depan cermin. Kemudian Ia menggunakan parfum. Setelahnya barulah Ia keluar dari kamar, dan terkejut mendapati Anin yang ternyata masih berdiri di depan pintu kamarnya.
“Astaga, kaget aku. Aku pikir kamu udah ke meja makan,”
Vindra tertawa mendengar ucapan Anin. Seharusnya Anin tidak perlu berpikir seperti itu. Anin itu sudah dianggap seperti keluarga, jadi tidak perlu merasa tak enak hati, atau semacamnya pada keluarga di rumah ini.
“Jangan ngomong gitulah, kamu itu udah dianggap kayak anak sendiri sama Mama Papa aku, kita ‘kan keluarga,”
“Iya cuma tetap aja, aku nggak enak lah,”
“Ya udah ayo bareng ke meja makan,”
Anin menganggukkan kepalanya. Ia dan Vindra segera bergegas ke ruang makan untuk sarapan. Ternyata di sana sudah ada Rina dan Dery, suaminya.
“Ayo-ayo makan,” ajak Dery dengan hangat.
“Anin bilang, dia mau nunggu aku aja ke meja makan soalnya dia nggak enak, Putra mahkota belum ke meja makan,”
“Ya ampun, Anin jangan ngomong begitu. Kayak ke siapa aja,”
“Hehehe nggak enak aja gitu, Tan,”
“Kamu itu udah jadi anaknya Tante sama Om juga jadi nggak ada deh kata nggak enak itu,”
“Makasih ya Om, Tan, udah baik banget ke aku. Jadi meskipun aku jauh dari orangtua, aku merasa tetap punya orangtua, tetap punya keluarga di sini,”
__ADS_1
“Sama-sama,”
*****
“Jadi ya berangkat sama Papa, Nak?”
“Jadi kok, Pa,”
“Semangat ya, hari terakhir sekolah nih, besok ‘kan libur kita ke vila,”
“Pasti semangat dong, Ma. Aku kalau hari terakhir sekolah tuh semangatnya nambah berkali-kali lipat, Haha,”
Zeline mencium tangan sang mama setelah itu Ia duduk di jok motor papanya. Zeline senang sekali diantar Papanya menggunakan motor karena jarang terjebak macet. Ia juga bisa menikmati udara pagi yang masih segar secara langsung, tapi biasanya akan membuatnya mengantuk. Ditambah lagi semalam baru bisa tidur pukul satu malam.
“Zel, nanti pulang Papa jemput ya?”
“Iya boleh, Pa,”
“Tumben nggak sama Vindra, kenapa?”
“Eh nggak tau deh kalau pulang sama Vindra atau nggak, nanti aku hubungin Papa deh ya,”
“Okay kabarin aja,”
“Ini kamu udah bilang sama Vindra ‘kan kalau Papa yang antar kamu ke sekolah? Nanti dia keburu datang ke rumah eh nggak taunya kamu udah ke sekolah sama Papa,” ujar Deni pada Zeline yang duduk di belakangnya mengenakan seragam sekolah.
“Udah bilang kok, Pa,”
“Ya udah bagus kalau gitu,”
“Aku senang deh naik motor pagi-pagi, ngantuk tapinya,”
“Eh jangan ngantuk. Mau sekolah malah ngantuk. Jangan dong, harus semangat sekolahnya, kalau mau tidur nanti di rumah. Lagian kok tumben ngantuk? Emang semalam tidur jam berapa? Hmm?”
“Jam satu,”
“Hah? Kenapa tidur jam satu? Kamu ngerjain tugas? Belajar buat ujian? Atau malah nonton?”
“Ngerjain tugas udah kelar dari jam—-jam berapa tuh ya? Aku lupa, aku nggak bisa tidur akhirnya nonton, scroll sosmed, terus baru deh ketiduran, handphone jatuh kena jidat aku, Pa,”
“Ya ampun, jangan dibiasakan kayak begitu. Kamu kalau mata diajak buat nonton, buat buka sosmed, jadinya malah makin susah tidur tau. Meremin aja matanya, nanti juga tidur pasti,”
“Nggak bisa, Pa. Susah banget,”
“Tapi jangan malah dipakai buat natap gadget, Zel, makin susah tidur kamu, Nak. Kamu kayak orang yang lagi galau aja, apa emang lagi galau? Kok tumben susah tidur?”
“Hahahaha nggak galau kok, Pa,”
__ADS_1