Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 162


__ADS_3

Suasana makan malam di Yogyakarta terasa sangat hangat. Setelah merasakan lelah dan bosan selama perjalanan dari Jakarta menuju Yogyakarta, sekarang waktunya mereka yang sudah bersih-bersih di hotel mengisi perut.


Lauk makan malam kali ini adalah gudeg ceker, ayam goreng, dan udang pedas. Semua bebas menikmati makanan apa yang dikehendaki tanpa dibatasi porsinya sehingga yang suda benar-benar lapar boleh saja mengambil porsi semaunya.


“Padahal dikasih lemper sama kue-kue di jalan tadi ya, sempat mampir juga di restoran untuk makan siang tapi rasanya kayak lapar banget nggak sih? Perut gue gitu, njir. Aneh banget yak,”


Ujar Jerry seraya duduk di sebelah Vindra. Tiga sahabatnya sudah memilih meja yang dijatahi empat kursi saja, tepat untuk mereka.


“Sama wey, mungkin karena kita banyak tidur kali, jadi begitu mata melek bawaannya laper muluk,”


“Padahal gue juga makan ciki-ciki yang gue bawa lho, tapi kok tetap lapar ya. Melar banget perut gue, njir,”


“Gue biasa aja,”


“Ah lo mah stay cool banget sih. Lapar bilang aja lapar,”


“Ya emang lapar tapi biasa aja, nggak lapar-lapar banget,”


“Lu dibagi makanan sama Zeline ya? Tadi gue liat, selain makan punya sendiri, lu sharing sama Zeline ‘kan?”


Vindra menganggukkan kepalanya. Ia tak menyangka sahabatnya tahu kalau Ia dan Zeline sempat berbagi makanan ringan yang mereka bawa untuk persiapan bekal di jalan.


“Gimana duduk sebelahan sama Zeline dengan waktu yang cukup lama, bro?”


Vindra mengangkat bahunya disela bersantap mengisi perutnya. Tak ada yang aneh ketika Ia harus duduk bersebelahan dengan Zeline. Awalnya Ia akui memang canggung, tak bisa berkata-kata tapi perlahan bisa mencair, bahkan tak ragu saling menawarkan makanan setelah Ia dulu yang memulai.


“Nih, kamu mau cokelat aku nggak?” Tanya Vindra tadi pada Zeline yang memejamkan mata mendengarkan playlist lagu yang diputar di dalam bus. Karena tak ada tanggapan dari Zeline, akhirnya Vindra sengaja menghentak pelan lengan mantan kekasihnya itu yang langsung membuatnya membuka mata.


“Apa?”


“Kamu nggak budeg ‘kan, Zel? Ini aku nawarin cokelat, kamu mau nggak?”


“Gue bawa makanan juga kok,”


“Ya udah nggak apa-apa, gue cuma mau nawarin aja, nggak usah pamer bawa makanan,” jawab Vindra.


“Ih aku nggak pamer tapi maksud aku supaya kamu nggak perlu repot-repot ngasih makanan ke aku, Vindra,”


“Nggak apa-apa santai aja, ambil lah kalau emang mau,”


Alih-alih mengambil cokelat batang yang diulurkan sang mantan kekasih, Zeline justru meraih makanan ringan berupa keripik kentang dengan varian rasa barbeque.


Setelah membuka kemasan makanan ringan itu, Zeline langsung mengulurkannya ke arah Vindra yang langsung bingung dan bertanya-tanya. Ia bingung karena Zeline malah menawarkannya juga.


“Ayo silahkan diambil ciki aku. Cobain deh, enak tau,” suruh Zeline tapi Vindra menggelengkan kepalanya.


“Kalau kamu mau aku nyobain makanan kamu, okay nggak apa-apa. Tapi kamu harus mau juga nyobain makanan yang aku tawarin ini,”


Zeline akhirnya menganggukkan kepalanya. Tidak ada canggung sedikitpun rasanya susah, maka dari itu perlu momen-momen seperti ini diantara mereka.


“Okay makasih, Vindra. Sekarang giliran kamu yang cobain ciki aku, enak banget deh,”


Zeline menawarkan Vindra lagi. Karena cokelatnya tadi sudah diterima Zeline, sekarang gantian Vindra yang merasakan makanan ringan milik Zeline.


“Gimana rasanya?” Tanya Zeline.


“Enak tapi itu keterlaluan banget bumbunya ya. Lo tuh jangan terlalu banyak makan kayak begitu, mau sakit lo?”


“Ini sehat-sehat aja kok,”


“Anak micin banget, nggak berubah ternyata,”


Zeline yang sedang asyik mengunyah makanan ringannya langsung berhenti menggerakkan mulutnya ketika Vindra bicara seperti itu.


“Nggak berubah? Maksudnya?”


“Waktu sama aku, kamu juga suka makan kayak gituan ‘kan? Suka yang pedas-pedas juga,”


“Iya, kok masih ingat?”


“Ingatlah, masa lupa,”


Zeline terkekeh menutupi gugupnya yang tiba-tiba datang setelah Vindra mengaku bahwa hal kecil tentangnya tidak dilupakan oleh Vindra. Tak disangka olehnya Vindra masih tahu juga apa yang Ia suka.


“Lupain, jangan diingat-ingat terus, bahaya lho,”


“Emang kenapa? Suka-suka memory otak gue lah, kalau tetap mau ingat ya biarin aja, nggak usah lo nyuruh gue untuk lupain. Lagian itu ‘kan hal kecil yang gue tau dari lo, wajar aja kalau gue masih ingat,”


“Aku pikir kamu malah nggak tau apa yang aku suka lho,”


“Tau, pernah berhubungan lumayan lama masa nggak tau apa-apa,”


Vindra tersentak karena tepukan di bahunya. Seketika memorynya yang sedang memutar ulang momen dimana Ia mengobrol dengan Zeline di bus tadi buyar karena ulah Jerry.


“Lo ngapa makannya diam aja sih? Mana makannya santai gitu, mata nggak fokus, lo kenapa?”


“Nggak apa-apa,”


“Lagi ada yang dipikirin kali. Kesian amat lo, Vin. Masih muda udah banyak beban pikiran,”


“Apaan sih, njir. Gue nggak lagi ada pikiran,”


“Lah lo bukan manusia dong kalau nggak ada pikiran?”


Vindra berdecak ketika diledek oleh Jerry, dengan kesal Ia meninju pelan lengan sahabatnya yang sudah hampir selesai makan.


“Buruan makannya! Jangan terlalu santai, abis ini ‘kan mau istirahat,”


“Bawel mulut lo. Gue juga tau kali,”


“Lo mikirin apa sih? Ada beban pikiran?”


“Nggak ada, jangan sok tau, bro,”


“Serius? Sejenak tinggalkan beban pikiran lo itu, Vin. Fokus mau liburan senang-senang,”


“Iya paham gue, nggak usah lo ajarin,”


“Apa lo lagi ingat-ingat momen kebersamaan lo sama Zeline? Hmm? Senang nggak lo bisa duduk sebelahan sama Zeline untuk waktu beberapa jam? Tadi kita tuh di perjalanan berapa lama ya? Delapan jam nggak sih? Nah berarti lo selama itu duduk sama dia,”


“Berarti emang udah ketentuan dari Allah, gue yang di samping dia, bukan lo. Terima aja udah,”


“Waduh, di samping dalam artian apa nih? Di samping saat duduk aja, atau di samping dia untuk selamanya?”


Dino dan Zam tertawa lebar mendengar pertanyaan yang dilontarkan Jerry kepada Vindra. Kalimat yang terlontar dari mulut Vindra membuat Jerry bertanya-tanya dan butuh penjelasan yang lugas. Mendadak Ia cemburu ketika mendengar Vindra berucap bahwa ketentuan Tuhan adalah dirinya yang tepat di samping Vindra.


“Jawab wey! Maksud lo di sampingnya Vindra tuh gimana? Di samping dia selamanya gitu? Di samping dia waktu duduk aja?”


“Ya nggak tau, gue mah cuma manusia biasa yang nggak bisa jawab pertanyaan semacam itu,”


Dino dan Zam semakin tertawa karena jawaban Vindra pasti membuat Jerry merasa ketar-ketir tapi mereka menyukai ekspresi Jerry sekarang yang kelihatan jengkel sekali dengan Vindra.


“Gue berharap banget pas pulang nanti aturan tempat duduk berubah,”


Vindra kali ini tertawa. Jerry tampaknya masih tidak terima sekali dengan kenyataan bahwa Ia lah yang duduk bersebelahan dengan Zeline, memang aturannya yang mengharuskan mereka duduk berdua.


*******


Karena sebelum turun dari bus sudah dihimbau agar kembali ke bus setelah dua jam berbelanja, maka dari itu murid-murid langsung berinisiatif datang ke bus masing-masing setelah dua jam ada di dalam pasar untuk belanja. Mereka juga bahkan diingatkan oleh guru melalui telepon agar segera kembali ke bus.


“Belanjaan kamu banyak tuh,”


Zeline melirik ke arah Vindra yang duduk di sebelahnya hanya membawa dua paper bag saja, beda dengan Zeline yang pegang lima.


“Kamu belanjanya dikit?”


Vindra menoleh sebentar ke arahnya lantas menganggukkan kepala. Memang Ia hanya belanja sedikit. Selain malas memilih Ia juga enggan membawa belanjaan terlalu banyak.


Lagipula mama dan papanya tak ada yang menginginkan oleh-oleh.


“Kenapa emangnya?”


“Nggak apa-apa, tadinya mau heran tapi kalau dipikir-pikir iya juga sih. Kamu ‘kan cowok ya, beda sama cewek yang agak suka belanja,”


“Bukan agak lagi, emang ada yang kecintaan banget sama yang namanya belanja,”


“Kamu nyindir aku, Vin?”


Vindra menggelengkan kepalanya. Yang Ia tahu kebanyakan perempuan memang suka belanja. Tapi kalau laki-laki biasanya kebalikan dari itu. Sekarang bisa dibuktikan. Ia hanya pegang dua tas belanjaan sementara Zeline lima.


“Kamu belanja apa aja itu?”


“Buat mama papa sama aku aja. Kamu belanja buat siapa aja itu?”


“Gue belanja untuk mama, papa, sama diri gue sendiri,”


“Oalah, tapi kok banyak banget, udah kayak belanjain orang satu kelurahan,”


“Dih apaan sih lebay banget. Mana ada belanjain orang satu kelurahan sampai lima tas? Nggak jelas lo,”


Zeline kesal ketika apa yang Ia belanjakan atau Ia beli dianggap berlebihan. Dibilang untuk satu kelurahan, padahal menurut Vindra biasa saja.


“Ini aku nggak berlebihan kok, aku nggak kalap,”


“Ngomong-ngomong balik lagi ngobrol pakai aku kamu, awalnya sempat lo gue, waktu awal-awal putus, sekarang juga masih suka lo gue sih emang mending aku kamu aja,”


“Ya sekarang ‘kan aku udah berdamai sama masa lalu, jadi nggak kesal-kesal lagi. Dan biasanya kalau aku ngobrol sama teman-teman kadang juga pakai aku kamu, udah deh nggak usah masalahin panggilan,”


“Emang aku teman kamu? Kok ngobrol pakai aku kamu segala?”


“Udah aku anggap teman, nggak aku anggap musuh. Karena aku udah berdamai sama masa lalu. Cepat ‘kan? Iya aku nggak lama-lama. Kalau bisa cepat Alhamdulillah, jadi nggak perlu nyiksa batin terlalu lama karena kesal sama orang, belum bisa berdamai sama masa lalu, dan belum bisa maafin orang yang pernah bikin salah ke kita, lagipula aku juga pasti ada salahnya kok,”


“Jadi kamu udah maafin aku ‘kan, Zel?”


Zeline menganggukkan kepalanya. Setelah memutuskan untuk pisah dengan cara yang baik, Zeline sudah berusaha memaafkan semua kesalahan Vindra. Di awal memang masih sempat tertinggal rasa kesal, tapi seiring berjalannya waktu Zeline merasa hatinya sudah baik-baik saja ketika harus adu tatap dengan Vindra, tak ada rasa marah lagi karena Vindra pernah menjadi suami yang buruk untuknya.


“Kamu nggak benci sama aku?”


“Nggak kok,”


“Pantes, kamu udah biasa aja gitu ya, tapi kamu udah move on? Nggak sama Juan lagi? Sekarang lagi dideketin tuh sama si Jery,”


“Obrolan macam apa ini, Vindra? Kita ini mantan lho, ngapain bahas hal kayak gitu?”


Vindra terkekeh sambil menutup mulutnya dengan kepalan tangan. Disaat yang lain sedang asyik bercerita mengenai momen ketika belanja di pasar tadi, Vindra dan Zeline justru sibuk mengobrol dan pembahasan kali ini lumayan sensitif juga karena menyinggung soal masa lalu.

__ADS_1


“Lah emang kenapa kalau kita bahas ini? Nggak ada yang salah kok, aku ‘kan cuma pengen tau kamu udah move on atau belum,”


“Nggak boleh tanya kayak gitu, nggak sopan, Vindra!”


“Dih aneh banget. Dimana letak nggak sopannya? Aku ‘kan—“


“Udah ssstttt! Jangan berisik,”


Zeline mendekatkan telunjuknya dengan bibir dan berdesis menyuruh mantan kekasihnya itu untuk tutup mulut tak bicara lagi.


Zeline bingung mau jawab apa. Kalau dibilang melupakan Vindra belum tapi dia memang sudah merasa jauh lebih lepas, tak ada rasa marah atau semacamnya pada Vindra. Dan Ia akui masih suka terbayang-bayang dengan Vindra. Ia mau bicara seperti itu tentu malu, Vindra tak perlu tahu. Karena Zeline yakin, itu bukan belum bisa move on, tapi memang masih perlu waktu saja untuk benar-benar bisa berhenti menempatkan Vindra di posisi yang istimewa baik di hati maupun pikirannya.


“Yah masa nggak mau jawab sih? Aku ‘kan penasaran banget ini,”


“Kamu sendiri gimana? Coba aku tanya ke kamu dulu,”


“Aku nggak terima pertanyaan itu, kalau pertanyaan lain pasti aku jawab,”


Zeline tertawa, baru kali ini dia tertawa dengan posisi yang begitu dekat dengan Vindra, bahkan sebab Ia tertawa pun karena Vindra. Selama berpisah baru kali ini juga obrolan mereka lebih santai dan terbuka.


“Sama aja berarti, ngapain nanya itu ke aku dong?”


“Ya gue penasaran,”


“Sama dong, aku juga penasaran apa kamu udah move on dari aku? Jawab dulu pertanyaan aku itu,”


Vindra pun akhirnya tertawa dan menggelengkan kepalanya. Kemudian Ia mengangkat kedua tangannya dengan rendah seolah Ia adalah penjahat yang baru saja diminta untuk angkat tangan oleh pihak berwajib.


“Gue nyerah deh,”


“Ya udah berarti aku juga ikutan nyerah ah,”


“Dih, nggak usah ikut-ikutan lo,”


Interaksi antara Zeline dan Vindra yang kelihatan akrab, membuat Jerry mendengus. Jerry itu rajin sekali melirik ke arah mereka berdua dan yang Ia dapati mereka malah akrab mengobrol entah membahas apa.


“Cemburu gue, Maaakk. Pengen balik aja deh gue, tapi sayang kalau balik. Gue nggak jadi liburan,” batin Jerry meronta-ronta melihat keakraban Vindra dan Zeline.


“Ini nih yang Vindra mau. Dia sengaja bikin gue cemburu makanya nggak mau gantian tempat duduk sama gue padahal gue cuma minta bentar doang. Dia kenapa sih sebenernya? Dia masih belum bisa move on dari Zeline kali ya?”


“Eh Jerry, mau minum nggak?”


Teman di sebelahnya seolah tahu bagaimana perasaan Jerry. Dia menawarkan Jerry minum yang langsung dijawab dengan Jerry dengan gelengan kepala.


“Nggak mau, makasih,”


“Apa nggak haus abis belanja bro?”


“Nggak rasa haus yang ada, tapi panas,”


“Iya panas biasanya berpasangan sama haus,”


“Apaan sih lu, nggak jelas. Orang udah dibilang gue nggak mau minum,”


Teman di sebelah Jerry yang berjenis kelamin laki-laki juga bernama Refal akhirnya tertawa. Ia menyimpulkan Jerry sedang kelelahan dan katanya tadi juga panas, mungkin karena itu jadi sensitif. Ditawarkan minum malah kesal.


“Lo panas kenapa, Jer?”


“Panas liat cewek yang gue suka sama mantannya. Tapi gue nggak bisa ngapa-ngapain. Bingung banget,”


“Emang siapa? Oh Zeline ya?”


Jerry menganggukkan kepalanya. Ia sebenarnya tidak mau kepanasan sendiri begini tapi apa daya, pemandangan di depan matanya membuat Ia yang sebelumnya sudah merasa sejuk karena pendingin di dalam bus, akhirnya malah merasa panas ketika melihat Vindra mengobrol dengan Zeline, setelah sebelumnya lelaki itu menolak bila Ia yang menggantikan posisinya untuk duduk di sebelah Zeline.


*****


Setelah sampai di penginapan, istirahat dulu ya, nanti kita pergi lagi ke sekitar Keraton,”


“Siap, Pak,”


Pak Iwan memberitahu jadwal mereka setelah ini. Setelah belanja, mereka diharuskan untuk beristirahat terlebih dahulu sebelum memulai perjalanan lagi.


“Kenapa nggak sekarang aja, Pak?” Tanya salah satu murid yang sebenarnya tidak rela meninggalkan bus. Masih nyaman di bus dan tak keberatan sama sekali bila diajak ke tempat lain sehabis belanja barusan.


“Biar nggak sakit, pada istirahat dulu lah. Jangan sekaligus kesana kemari. Kondisi tubuh kalian ‘kan harus diperhatikan juga,”


“Oh iya siap, Pak,”


Ketika bus sudah sampai di area parkir penginapan yang begitu luas, pintu bus dibuka dan mereka semua dipersilahkan untuk keluar dari bus dengan tertib.


“Istirahat ya,”


“Kita mah di kamar main handphone ya, Zel,”


Chaca teman satu kamar Zeline terkekeh mendengar bisikan Chaca. Semalam saja Ia dan Chaca tidur setelah waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Mereka mengundang rasa kantuk datang dengan cara mengobrol, dan memainkan handphone. Lama kelamaan datang juga rasa kantuk itu.


Zeline dan Chaca meletakkan paper bag berisi belanjaan di bawah tempat tidur mereka masing-masing, kemudian bergantian masuk ke kamar mandi karena memang keinginan untuk buang air kecil sudah cukup mendesak mereka.


Chaca sudah lebih dulu selesai buang air kecil dan Ia segera naik ke atas tempat tidur, disusul oleh Zeline yang baru dari kamar mandi dan buang air kecil juga.


“Istirahat, Cha,”


“Lah, lo juga istirahat oneng. Malah main handphone,”


“Lo juga tuh,”


“Kita anak zaman sekarang banget ya. Dikit-dikit buka handphone, disuruh orangtua tidur malah main handphone diam-diam,”


“Itu kerjaan gue kalau malam. Jadi nyokap suka ngecek gue udah tidur atau belum. Kalau nyokap buka pintu kamar gue, buru-buru gue tidur. Padahal mah sebelumnya gue main handphone,”


“Aku juga begitu sih,”


“Sering banget gue kayak gitu. Kalau gue kunci pintu kamar, besok paginya gue pasti diomelin, Zel. Kunci kamar kalau mau ganti mandi atau ganti baju doang. Udah berasa bocah yak. Padahal gue ‘kan udah gede, masih aja dicek-cek,”


“Ya namanya anak, pasti orangtua selalu mau ngecek anaknya baik-baik aja atau nggak biar mereka tenang juga, Cha,”


Disela obrolan mereka terdengar suara ketukan pintu kamar yang membuat keduanya kompak membungkam mulut dan saling menatap satu sama lain.


“Bukan pintu, Zel,”


“Kamu aja, aku malas,”


“Sama,”


“Zeline, Chaca, buka pintu sekarang dong,”


Tamu yang mengetuk pintu mendesak agar pintu segera dibuka. Akhirnya Zeline berinisiatif padahal sebelumnya Ia berujar malas.


Zeline segera beranjak dari tempat tidur kemudian Ia membuka pintu kamar yang ternyata sengaja diketuk oleh Jerry.


“Eh Jerry kok kamu ke sini? Nanti dimarahin sama guru sama panitia lho. ‘Kan jaraknya udah jauh kamar-kamar cowok dan cewek,”


“Aku barusan beli baju ini lho buat kamu. Aku liatnya suka. Aku tebak pasti cocok kalau dipakai sama kamu. Semoga kamu juga suka ya,”


Zeline menatap paper bag yang diulurkan Jerry dengan tatapan mata yang bingung. Jerry bukannya belanja untuk sanak keluarga di Jakarta saja, malah membelikannya baju.


“Ini buat aku? Beneran? Baru kamu beli tadi?”


“Iya, tadi aku lagi liat-liat baju batik untuk perempuan gitu ‘kan. Terus aku tertarik liat motif dan model ini. Dan aku langsung bayangin kalau ini dipakai sama kamu, makanya aku beli. Nanti dipakai ya. Terima dong, tangan aku pegal nih,”


Zeline segera menerima paper bag yang diulurkan Jerry itu. Kemudian Zeline meliriknya ke dalam untuk melihat isi.


“Bagus banget, makasih banyak ya. Tapi harusnya kamu nggak perlu repot-repot, Jer,”


“Nggak repot sama sekali kok, Zel. Aku harap sih kamu bisa suka ya. Supaya aku nggak sia-sia belinya untuk kamu. Begitu aku liat baju ini aku langsung bayangin kamu yang pakai lho. Dress batik simple gini pasti cocok untuk kamu,”


“Iya makasih banyak, maaf udah bikin repot,”


“Ih jangan ngomong gitulah,”


Chaca mencuri dengar percakapan antara sahabatnya dengan Jerry. Ia juga sempat melihat ke arah paper bag di tangan Zeline. Chaca geleng-geleng kepala.


“Bukan main deh si Jerry. Makin-makin aja dia,” gumamnya.


“JERRY ZELINE!”


Zeline dan Jerry langsung menoleh ke sumber suara. Nama mereka disebut otomatis langsung memberikan reaksi.


“Jerry kamu ngapain ke kamarnya Zeline? Hah?! Pergi-pergi sana! Kamu juga, Zeline, ngapain mau sama Jerry? Udah ada aturan, di kamar masing-masing aja jangan kemana-mana, apalagi ke kamar lawan jenis. Kok kamu bisa lolos sih, Jerry? Pak Iwan, Pak Badar kemana memangnya?”


“Saya nyelinap, Bu. Pak Badar sama Pak Iwan nggak tau,”


“Astaghfirullah, pergi-pergi cepat!”


“Siap, Bu. Saya sama Zeline nggak ngapa-ngapain kok, Bu. Saya cuma ngasih hadiah aja untuk Zeline. Itu kalau Ibu nggak percaya silahkan liat itu hadiah yang saya kasih ke Zeline,”


“Mau apapun alasan kamu, tetap salah, Jerry! Bisa ‘kan dikasihnya nanti-nanti aja kalau kalian berdua ketemu?”


“Nggak bisa, Bu. Soalnya saya udah nggak sabar mau kasih itu ke Zeline, hadiah jangan ditunda-tunda untuk ngasihnya, Bu. Maaf ya, Bu. Maaf ya, Bu. Saya balik ke kamar saya sekarang,”


“Nyaut aja kamu. Saya nggak terima alasan apapun. Lain kali nggak ada ya kejadian kayak gini lagi,”


“Iya maaf, Bu. Saya minta maaf, saya buka pintu kamar karena ada yang ngetuk, nggak taunya Jerry mau kasih ini untuk saya,”


“Iya, lain kali nggak ada kasih hadiah-hadiah dengan cara nyelinap. Ikuti aturan, paham?!”


Jerry dan Zeline kompak menganggukkan kepala mereka. Jerry langsung pamit kembali ke kamarnya dan Zeline pun begitu.


Bu Indah geleng-geleng kepala setelah memberi peringatan tegas kepada Zeline dan Jerry. Ia sangat terkejut ketika melihat Zeline dan Jerry berhadap-hadapan di depan pintu kamar Zeline. Tanpa banyak bicara Ia langsung menghampiri sambil memanggil keduanya.


Niat hati ingin patroli, memastikan semua anak didik perempuan aman, tapi malah dipertemukan dengan Jerry yang rupanya menyelinap supaya bisa ke wilayah kamar siswi perempuan.


“Zel, lo dapat apaan itu dari si Jerry?”


“Chaca langsung bertanya pada Zeline yang baru saja mengunci pintu kamar. Zeline menyerahkan paper bag di tangannya kepada Chaca.


Tanpa banyak bicara Chaca segera membuka paper bag dan yang Ia dapati adalah dres batik. Chaca langsung tersenyum menatap Zeline.


“Ini baju buat lamaran lo sama Jerry?”


“Sembarangan kalau ngomong. Aku aja nggak tau kenapa dia tiba-tiba ngasih itu,”


“Ya udah terima aja lah, Zel,”


“Terima apa sih, Cha?”

__ADS_1


“Terima dia jadi calon lo, Zel,”


******


“Vin, lo sebenernya masih belum move on dari Zeline atau gimana sih? Kok yang gue liat kayak gitu ya?”


Malam ini Vindra sedang menyendiri di depan kamar tempat dimana Ia tidur, sudah pukul delapan malam, Vindra malah duduk di kursi bambu sendirian bukannya tidur.


Tiba-tiba Ia didatangi oleh Jerry yang hendak mencari makanan ke kamar sahabat-sahabatnya. Melihat Vindra malah duduk di luar sendirian, Ia menghampiri kamar Jerry dan menepuk bahunya, kemudian langsung duduk dan tanpa basa-basi bertanya soal perasaan Vindra kepada Zeline.


“Ngapain si lo? Datang-datang malah nanya kayak gitu. Nggak penting banget pertanyaan lo, Jer!”


“Ya ‘kan gue penasaran lo masih belum move on sama Zeline atau justru udah?”


“Emang kenapa? Kalau hati gue ternyata belum move on, lo mau apa? Udah sana ah! Ngapain sih ke sini? Ganggu aja lo,”


“Lo kenapa ngelamun? Ada beban pikiran? Cerita aja sama gue,”


Alih-alih pergi setelah diusir oleh Vindra, Jerry justru memilih bertahan. Jerry bingung melihat sahabatnya hanya menyendiri di depan kamar tanpa melakukan apapun. Duduk sambil menatap kosong ke depan.


“Lo mikirin apa? Mikirin siapa? Zeline ya?”


“Apaan sih, Jerr! Ah elah bacot banget mulut lo. Pergi sana! Ngapain sih ke sini?”


“Gue tadinya mau bagi makanan tapi gue liat lo malah lagi ngelamun,”


“Siapa yang ngelamun, nggak! Sok tau lo,”


“Eh tadi gue habis ngasih baju buat Zeline dan dia senang banget. Tapi ketauan sama Bu Indah dan gue sama Zeline diomelin,”


“Gara-gara?”


“Ya karena gue datang ke kamar Zeline, tapi gue nggak masuk. Jadi ceritanya gue ngetok pintu kamar Zeline karena gue mau nyerahin hadiah yang udah gue beli, tapi ketahuan sama Bu Indah dan diomelin. Tapi gue udah jelasin sih, bahwa gue nggak mau ngapa-ngapain,”


“Lagian lo ada-ada aja sih, nggak patuh aturan banget. Nggak seharusnya lo datang ke kamar cewek, sekalipun lo nggak masuk. Tetap aja itu salah dan nggak seharusnya lo lakuin, kalau emang mau nyerahin hadiah ‘kan bisa kalau ketemu sama Zeline aja nggak usah nyamperin dia di kamarnya,”


“Ya karena gue udah nggak sabaran, Vin. Gue udah pengen secepatnya ngasih hadiah buat Zeline, tapi Bu Indah udah percaya kok, tapi beliau kasih peringatan ke gue supaya gue nggak datang-datang lagi ke wilayah kamar cewek,”


“Gatel banget jadi laki-laki,” cibir Vindra yang mengundang decakan kesal tidak terima dari Jerry.


“Eh gue nggak gatel ya! Enak aja lo,”


“Ya lagian kayak nggak ada waktu lain aja ngasih hadiah ke Zeline. Padahal nggak penting-penting banget. Paling yang dikasih juga baju murah,”


“Sialan! Sembarangan lo kalau ngomong. Gue beli tuh dres batik mahal tau,”


“Berapa sih emangnya? Mahal-mahal! Sombong amat lo, ntar nafkah gue ke dia juga mahal, doain aja,”


“Halah eek kucing. Percuma nafkah kalau nggak disayang,”


“Apaan sih,” batin Vindra menggerutu.


“Udah sana pergi dari sini! Gue mual liat muka lo,”


Jerry tertawa terbahak mendapat pengusiran lagi dari sahabatnya tapi Ia tak peduli. Ia tetap bertahan di posisinya saat ini yaitu duduk tepat di sebelah Vindra.


“Udah sana pergi! Ngapain masih di sini?”


“Gue masih mau di sini, ngobrol sama lo. Eh tapi lo ada cemilan nggak sih? Gue bagi dong. Cemilan gue udah habis,”


“Nggak modal, najis!”


“Ya bagi dikit doang, gue lapar nih,”


“Cari makan sana,”


“Nggak boleh keluar lagi, ogeb! Ini sudah malam. Kalau gue lagi di rumah sendiri sih gue bakal pergi cari makanan, tapi ini masalahnya di hotel, kalau ketahuan guru gue keluar, bisa bahaya, disuruh pulang ke Jakarta duluan gue,”


“Ya bagus, Alhamdulillah “


“Lo kayaknya senang kalau gue balik ke Jakarta duluan, emang kenapa? Lo merasa bebas ya sama Zeline?”


Vindra menghembuskan napas kasar karena lagi-lagi Jerry membahas Zeline. Sampai bosan Ia mendengarnya.


“Tau nggak sih, gue tuh udah bosan banget lo bahas Zeline mulu. Dia nggak ada urusan lagi sama gue, kalau lo ngomongin dia mulu ke gue, dan dia tau, dia pasti bakal risih. Udah stop deh, jangan bahas Zeline terus,” sejujurnya karena cemburu lah makanya Vindra bicara seperti itu.


“Gue masih kesal sama lo, bro. Karena lo nggak mau gantian tempat duduk sama gue. Dan lo malah makin akrab sama dia. Gue ‘kan jadi cemburu, Vin. Gue nggak terima,”


“Ya masalahnya dia aja nggak mau sama lo. Jadi bukan salah gue dong,”


“Ya sialan, nggak usah ngomong gitu dong. Ah kampret,”


“Lagian bahas Zeline mulu, bosen gue dengernya, anjir. Berhenti deh lo ngomongin Zeline,”


“Ya udah gue minta makanan dulu dong, ada nggak? Gue lapar banget, sumpah,”


Vindra berdecak kemudian terpaksa bangun dari kursi yang sebelumnya Ia duduki. Biarpun kesal dengan sahabatnya, tapi Vindra tetap mau bersikap baik. Ia tidak mau sahabatnya itu kelaparan.


Ia mengambil makanan ringan satu bungkus berupa keripik kentang juga roti bantal. Langsung Ia bawa keluar dari kamar dan Ia berikan pada sahabatnya yang datang hanya untuk minta makanan.


“Nih, makan deh itu, abisin aja,”


“Wuidih baik bener. Thanks ya, bro,”


“Hmm sana pergi! Nggak usah ganggu gue duduk lagi,”


“Ya nggak dong. Gue masih mau di sini,”


Jerry menumpu salah satu kakinya di atas kaki yang lainnya. Setelah itu Ia membuka kemasan makanan ringan dan mulai menyantapnya.


Melihat tatapan sinis yang dilayangkan oleh Vindra, Jerry langsung bertanya-tanya. Ia tidak merasa salah makanya santai-santai saja.


“Kenapa lo? Kok mukanya sewot gitu?”


“Lo ngapain sih di sini? Hah? Nggak ada kepentingan lagi ‘kan? Jadi ngapain di sini? Nggak diundang juga lo. Lagian udah dapat makanan tapi masih aja mau ganggu gue,”


“Gue nggak ganggu, Bro. Gue emang masih nyaman duduk di sini, jangan ribet udah,”


“Lo yang ribet, oneng. Gue udah bagi makanan, katanya ke sini mau bagi makanan eh setelah dibagi malah nggak mau pergi,”


“Gue mau ngobrol-ngobrol aja sama lo,”


“Ngobrolin apa lagi? Nggak ada yang bisa kita obrolin, ini udah malam waktunya istirahat. Sana balik ke kamar lo,”


“Gue belum ngantuk masalahnya, Vin, jangan nyuruh-nyuruh gue balik deh,”


“Ya tapi lo ganggu gue,”


“Gue ‘kan cuma mau minta makanan. Lo kalau nggak suka bilang aja dah,”


“Lah udah gue bagi itu, bahkan sampe dua, kurang apalagi? Bacot aja mulut lo,”


“Ya udah santai aja lah kita. Ngobrol lagi ngobrol,”


“Ngobrol apaan?”


“Ya…ngobrol aja terserah lo mau ngobrolin apaan,”


“Zeline lagi? Gue nggak mau, bosen Zeline mulu yang dibahas, lagi-lagi Zeline jadi bahan pertengkaran kita berdua, ogah gue,”


“Lo sama Zeline tuh kenapa sih kalau diliat-liat makin hari makin cocok? ‘Kan gue jadi makin takut kehilangan Zeline,” gumam Vindra.


Vindra melirik sinis ke arah Jerry. Ia dan Zeline cocok? Mungkin maksud Jerry cocok sebagai teman. Karena Ia dan Zeline rasanya sudah seperti teman saja sekarang. Memang akrab layaknya teman.


“Cocok gimana?”


“Cocok kayak orang pacaran,”


“Dih, teman kali maksud lo, soalnya gue sama Zeline emang akrabnya kayak teman aja sekarang. Awal-awal duduk bareng masih canggung, susah ngobrol eh tapi lama-lama mencair aja gitu,”


“Tapi gue nggak suka, gue cemburu. Bisa jauhan aja nggak sih kalian berdua itu?”


“Lah tempat duduk kan udah diatur, jadi gue nggak mau pindah-pindah,”


“Emang lo nya pengen banget duduk sama Zeline kayaknya ya?”


Vindra tertawa dan geleng-geleng kepala. Jerry masih saja tidak terima dengan kenyataan bahwa Ia lah yang diatur agar duduk dengan Zeline, bukan dirinya.


Seharusnya kalau masih mau protes silahkan sama panitia saja, ini malah tidak. Jerry malah kesal padanya yang memilih untuk tetap mematuhi aturan yang sudah dibuat dimana Ia diharuskan untuk duduk bersama Zeline bila berada dalam bus mau kemana pun mereka.


Vindra tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya hendak masuk ke dalam kamar, dan Jerry langsung memanggilnya dan menyuruh Vindra agar tetap duduk.


“Apaan sih? Gue mau tidur ngantuk! Besok balik,”


“Iya ya, cepet banget kita ke Jogja. Masih betah gue, jujur. Masih pengen banget di sini,”


“Sesuai rencana baliknya besok,”


“Ya udah kalaupun balik besok nggak usah tidur cepat sih, besok udah tidur di bus juga,”


“Nggak ah, gue ngantuk mau tidur, pergi sana!”


Vindra mengusir sahabatnya, Jerry, yang masih sibuk mengunyah di kursi depan kamar Vindra. Ia tak peduli walaupun diusir oleh temannya itu.


“Sini dulu sih, ngapain buru-buru banget lo tidur. Gue masih mau ngomong nih sama lo,”


Vindra berdecak pelan dan akhirnya kembali duduk di depan sahabatnya yang masih sibuk mengunyah itu. Vindra mengangkat dagunya singkat kemudian bertanya pada Jerry hal apa yang ingin ditanyakan oleh sahabatnya itu.


“Lo sebenernya belum bisa move on dari Zeline ya? Lo cinta sama dia?”


“Astaga, Zeline lagi yang dibahas. Lo budeg apa gimana sih? Gue ‘kan barusna udah bilang jangan bahas Zeline lagi, gue bosan,”


“Nggak, gue mau nanya serius sama lo. Kalau emang lo belum move on dari Zeline, lo nggak mau nyoba untuk deketin dia lagi?”


“Lo ngomong apaan sih? Harusnya lo nggak ngomong gini lah ke gue. Lo ‘kan ngincar Zeline banget,”


“Ya abisnya Zeline nggak nengok-nengok ke gue, Vin. Gue hampir nyerah, njir,”


Vindra melirik sahabatnya yang makan tapi tiba-tiba saja suasana hatinya jadi sedih, terlihat dari tatapan matanya yang tidak secerah tadi.


“Lo hampir nyerah? Kenapa? Bukannya masih banyak harapan? Zeline ‘kan udah lepas dari gue,”


“Ya percuma udah lepas kalau Zeline nya juga nggak mau nengok ke arah gue. Dia nggak bisa balas perasaan gue, jadi gue benar-benar udah nggak tau lagi deh harus ngapain. Dia baik banget tapi sayangnya nggak bisa balas perasaan gue sih. Kayaknya dia juga belum bisa move on dari lo ya? Sama kayak lo,”


“Ya nggak lah, Jer. Kami ‘kan udah masa lalu. Lo kalau emang benar-benar mau sama dia, ya usaha lah, jangan nyerah,” kata Vindra dnegan hati yang sakit.

__ADS_1


Vindra merasa tidak tega melihat sahabatnya yang hampir menyerah katanya, untuk mengejar cintanya Zeline. Jerry dibuat kecewa terus karena sampai sekarang Zeline masih tidak bisa membalas perasaannya, Zeline menganggapnya hanya teman saja.


******


__ADS_2