Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 179


__ADS_3

“Itu kamu pakai gelang baru ya? Cie pasti dibeliin Mama kamu ya?”


“Bukan, sok tau kamu ah,”


“Lho terus dibeliin siapa?”


Rasa penasaran Vindra naik berkali-kali lipat melihat Zeline menggunakan sebuah gelang yang sebelumnya tidak pernah Ia lihat Zeline menggunakannya. Ia menduga kalau itu baru dibelikan oleh mamanya Zeline. Tapi setelah mendengar jawaban Zeline ternyata dugaannya salah.


“Ini dari Jery,”


“Hah? Dari Jery? Ngapain dia ngasih itu buat kamu?”


“Nggak tau, makanya aku juga bingung waktu kemarin dia tiba-tiba ngasih ini ke aku. Katanya sih dia beli ini pas liburan sama orangtuanya, dia yang milihin gelang ini. Aku udah nolak tapi dia tetap aja ngasih ke aku,”


“Jadi dia ngasih itu kemarin?”


“Iya kalau nggaks alah kemarin deh pas dia mau olahraga itu lho,”


Vindra menggertak giginya kesal hingga rahangnya mengetat. Ternyata itu alasan Jery datang terlambat ke lapangan. Jery memberikan gelang itu untuk Zeline. Seidkit lama dia sampai di lapangan kemungkinan besar karena Zeline menolak sehingga Jery sedang berusaha membujuk.


“Waktu gue tanya dia sama Zeline ngobrolin apa? dia bilang nggak ngomong apa-apaan sama Zeline? dia malah ngasih gelang,” batin Vindra dengan perasaan yang jengkel sekali.


“Kamu ngapain sih ngajak aku ke sini?”


“Ya makan lah, dan aku senang banget kamu mau aku ajakin makan bareng,”


“Aku mau karena kamu paksa,”


“Hehehe, kan biasanya biarpun dipaksa juga nggak ngaruh, ini ngaruh ya berarti?”


“Jata kamu, mama kamu mau datang juga makanya aku iyain. Sekarang mana Mama kamu? Mau ngobrolin apa emang? Kamu bilang tadi Mama kamu mau ngobrol sama aku di restoran ini,”


“Bohong deh,” ujar Vindra sambil tersenyum dan menaik turunkan alisnya. Zeline yang mendengar jawaban Vindra langsung berdecak kesal.

__ADS_1


“Ih kamu kenapa sih bohongin aku?”


“Ya biar kita bisa makan bareng. Sebenarnya aku yang pengen ngomong sesuatu sama kamu,”


“Ngomong apa?”


“Kita makan dulu nggak apa-apa ya? Biar ngomongnya enak gitu,”


Zeline menghembuskan napas kasar. Untuk semnetara waktu Ia telan duku rasa kesalnya itu jarena kebetulan makanan yang Ia dan Vindra pesan memang sudah datang dan saat ini sedang dihidangkan di depan mata oleh pelayan.


“Makasih ya,” ucap Zeline.


“Sama-sama, silahkan dinikmati,”


Zeoine dan Vindra menikmati makanan pembuka dulu. Seline baru sadar kalau di piringnya ada tulisan “I love you, Zeline”


Seketika Zeline dibuat membeku, kemudian menatap Vindra yang tersenyum karena Zeline dudah melihat ungkapan hatinya yang sengaja Ia utarakan di piring lewat bantuan pelayan di restoran tersebut.


“Ini—ini apa sih maksudnya? Ngapain coba bikin begini?”


“Ya gimana mau makan kalau udah kepikiran duluan? Ngapain sih Vindra bikin kayak gini segala? Aneh banget, mana di piring lagi. Apa dia nggak malu waktu minta pelayannya bikin ini?” Batin Zeline sambil menahan rasa gugup yang entah datangnya darimana.


Zeline benar-benar terkejut ketika mendapati tulisan itu. Tak ada angin, tak ada hujan tiba-tiba ada tulisan “I love you Zeline” di piring yang Ia gunakan.


“Ternyata si Jery bohong ya. Waktu aku tanya dia abis ngobrolin apa sama kamu sampai telat di lapangan. Tapi ternyata dia ngasih gelang ke kamu,”


“Ya emang kamu harus tau ya?”


“Aku kan penasaran, aku juga nanya baik-baik eh dia nggak mau jawab, sampai aku ancam mau injak kakinya dia juga masih bilang nggak ngomong apa-apa sama kamu,”


“Ya mungkin dia nggak mau terbuka soal itu,”


“Ya kenapa emangnya? Padahal tinggal jawab aja, emang susah ya?”

__ADS_1


“Kamu emang kenapa nanya-nanya ke Jery?”


“Ya karena penasaran kalian ngomongin apa sampai si Jery telat masuk lapangan,”


“Terus dia dimarahin sama Pak Boni?”


“Nggak, ditegur aja,”


“Oh kirain di omelin. Kasian juga kalau dia sampai diomelin,”


“Kenapa peduli banget sama dia? Mau diomelin atau nggak, ya biarin aja,”


“Jangan dong kasian kalau sampai diomelin, emang kamu mau kalau diomelin?”


“Lho, ‘kan dia yang diomelin kenapa nanya aku?”


“Kamu kenapa sih sensi banget sama Jery?”


“Cemburu, kenapa?”


“Hah? Kok masih cemburu?”


“Iya, kalau masih cinta terus gimana?”


Zeline menggelengkan kepalanya. Ia tidak mau membahas cinta atau apapun itu. Apa yang sudah berlalu biar saja berlalu.


Mereka menyelesaikan makan setelah itu Vindra tiba-tiba meraih tangan Zeline dan menggenggamnya dengan erat.


“Zel, benar-benar nggak ada kesempatan buat aku lagi ya, Zel?” Tanya Vindra pada Zeline.


“Kesempatan apa sih maksud kamu?”


“Ya kesempatan untuk kita bareng-bareng lagi,”

__ADS_1


“Vin, kita kan udah putus, dan putusnya baik-baik kenapa malah bahas ini lagi?”


“Aku mau kamu jadi pacar aku lagi, Zel. Nggak ada kesempatan buat aku lagi ya, Zel? Aku mohon, Zel. Kita masih bisa kan sama-sama lagi? Jujur sampai sekarang aku belum bisa lupain kamu, Zel. Aku masih banget cinta sama kamu. Aku pengen kita bareng-bareng lagi, boleh ‘kan, Zel? Aku janji apa yang kurang, apa yang salah dari aku kemarin bakal aku perbaiki, Zel,”


__ADS_2