
“Aku hari ini nggak pulang sama kalian berdua ya, aku mau ke rumah teman aku main sebentar,”
“Teman yang mana? Terus kamu sendiri ke sana? Pulang nanti sama siapa?” Tanya Vindra pada Anin. Vindra merasa punya tugas untuk menjaga Anin. Mengingat Anin itu sahabatnya, dan anak dari sahabat orangtuanya juga. Anin juga perempuan, Ia sebagai orang yang dekat dnegan Anin ingin tahu tentang apa saja yang Anin lakukan selama di luar, dan memastikan Ia baik-baik saja.
“Aku antar ke rumah teman kamu itu,”
“Aku mau ke rumah Dela, nanti berangkatnya sama Dela kok,” ujar Anin seraya tersenyum dan menapuk bahu Vindra.
“Beneran sama Dela? Terus baliknya sama siapa? Ntar aku jemput deh,”
“Nggak usah, gampang lah tinggal naik ojek online,”
“Ya kalau bisa jangan. Apalagi kalau kamu mau pulangnya agak maleman,”
“Nggak kok, nggak malam. Aku ‘kan bakal ke kafe nanti amlam untuk acara ulang tahun aku,”
“Oh iya, jadi kamu pulang dari rumah Dela nggak malam ‘kan?”
“Nggak, tenang aja,”
__ADS_1
“Aku antar aja deh ke rumah Dela terus nanti aku jemput juga,”
“Ih nggak usah, kamu harus dengerin ucapan aku, Vindra,” ujar Anin pada Vindra yang ingin mengantar jemput Anin. Meskipun Anin sudah menolak tapi Vindra tetap mau bersikap baik.
Zeline menghembuskan napas pelan. Entah kenapa Vindra keras kepala sekali. Sudah ditolak, masih juga menawarkan dirinya senagai supir pribadi Anin.
Bersikap baik tidak apa, Zeline tidak masalah, tapi kalau sudah seperti ini, jatuhnya malah menyebalkan di mata Zeline.
“Anin hati-hati ya nanti pulangnya,”
“Okay makasih, Zel,”
“Astaga, aku usir ya kalau kamu nanya kayak gitu lagi,”
“Hahahah emang udah mau pulang sih. Okay kalau gitu aku duluan, Dela nya mana? Kamu ‘kan sama dia,”
“Dela lagi ke kamar mandi dulu,”
Vindra menganggukkan kepalanya pelan. Akhirnya Ia hanya pulang berdua dengan Zeline, karena sahabatnya hari ini punya wacana lain yaitu ke rumah temannya yang bernama Dela.
__ADS_1
“Kamu kenapa sih maksa banget mau anterin Anin,”
“Nggak maksa, aku cuma pengen mastiin dia beneran ke rumah Dela, dan sampai apartemennya dengan aman aja sih,”
“Khawatir banget ya? Hmm?” Tanya Zeline setelah menggunakan sabuk pengaman dan kini menatap Vindra yang sudah memegang kemudinya.
“Ya wajar ‘kan khawatir sama teman sendiri. Apalagi dia perempuan, biasa bareng-bareng,”
“Hmm..aku mau tanya deh, kamu dikasih tugas khusus nggak sih sama orangtuanya Anin untuk jagain Anin, antar jemput Anin, gitu-gitulah pokoknya,”
“Nggak sih, tapi aku pengen jagain dia karena dia sahabat aku, dan dia perempuan. Keluarga aku sama keluarga dia, itu udah dekat banget. Aku anggap dia udah bukan sahabat lagi sebenarnya, tapi keluarga yang kebetulan satu sekolah sama aku, jadi aku pengen jagain dia, mastiin dia baik-baik aja,“
Zeline menganggukkan kepalanya. Ia sempat berpikir kalau kekasihnya itu diberikan tugas khusus untuk menjaga Anin, tapi ternyata tidak. Hanya saja yang Ia lihat, Vindra itu punya keinginan keras untuk menjaga sahabatnya itu. Mengingat Anin itu perempuan, dekat juga dengan Vindra, jadi rasa cemburu itu pasti ada. Perlakuan Vindra kepada Anin itu sudah bisa dibilang sama seperti perlakuan Vindra kepadanya.
“Temenin aku ke mal beli hadiah ulang tahun Anin mau nggak?”
“Mau kok, sekarang?”
“Nggak, tahun depan. Ya sekarang dong, ‘kan Anin ulang tahunnya hari ini. Kamu gimana sih? Kamu aja udah ngasih hadiah tuh, aku rasa malah kamu itu orang pertama yang ngasih kado buat Anin. Istirmewa banget ya?”
__ADS_1