
“Nanti temenin aku ke toko perhiasan mau ya?”
Kening Zeline mengernyit mendengar pertanyaan kekasihnya. Tidak biasanya Vindra mengajak Ia ke toko perhiasan. Setelah ke toko buku, sekarang ke toko perhiasan dan Ia tidak tahu menahu soal rencana ini.
“Kayaknya kita nggak adaa rencana mau ke toko perhiasan ya? Kamu baru bilang sekarang,”
“Iya sekalian aja,”
“Emang kamu mau beli perhiasan buat siapa kalau aku boleh tau?” Tanya Zeline yang penasaran sekaligus percaya diri kalau Ia mungkin adalah orang yang akan diberikan perhiasan oleh Vindra. Tapi berusaha mati-matian Ia hilangkan rasa percaya diri itu karena sekarang Vindra lagi dalam mode menyebalkan, rasnaya agak tidak mungkin kalau Vindra membelikan perhiasan untuk dirinya.
“Boleh dong, kamu boleh tau. Anin ‘kan sahabat kamu juga,”
“Apa? Gimana maksudnya?”
“Iya aku mau beli perhiasan untuk Anin. Dia ‘kan bentar lagi ulang tahun tuh. Jadi ya sekalian aja deh nyari kado buat dia. Aku pengen beliin anting, menurut kamu gimana?”
Zeline merasa sesak mendengar jawaban Vindra. Apa lelaki itu tidak sadar ya kalau yang diajak ke toko perhiasan itu dirinya tapi yang mau dibelikan perhiasan itu Anin. Zeline bukan kesal karena Vindra memberikan sesuatu kepadada orang lain, tapi waktunya tidak tepat. Disaat Ia masih kesal dengan Vindra, suasana hatinnya masih belum bersahabat karena tadi di mobil Vindra memeriksa ponselnya, terlalu cemburu sementara Ia tidak boleh cemburu, dituntut untuk memahami terus.
“Aku nggak bisa kasih pendapat mana yang cocok untuk orang lain. Ulang tahun aja sampai dikasih perhiasan ya?”
“Oh menurut kamu kurang cocok ya? Terus apa dong? Aku bingung banget mau ngasih apa,”
“Kasih aja bantal guling biar Anin tidur mulu, nyaman ‘kan? Jadi Anin nggak mau ikutan mulu. Tadi aja dia nelpon kamu cuma buat nanya jadi atau nggak jalan sama aku dan udah sampai mana ‘kan? Itu maksud dia mau ikut kita kali,” Sindir Zeline pada kekasihnya yang ketika mereka sedang makan dihubungi oleh Anin yang ingin tahu tentang mereka.
“Ya ‘kan wajar dia nanya kayak gitu,”
“Kalau aku bilang sih kurang wajar ya karena dia tanya kayak gitu tujuannya buat apa? Kok kepo banget,”
“Zel, jangan mulai deh,”
Vindra tidak mau mereka jadi berdebat hanya karena Anin tadi sempat menghubunginya lewat panggilan suara dan bertanya soal kereka.
“Mungkin dia mau mastiin kita beneran jadi jalan berdua,”
__ADS_1
“Ya ‘kan dia tau, tadi sebelum nganter dia pulang kita udah ngomong ke dia, lagian ya kalaupun kita nggak jadi pergi berdua, Anin mau apa? Mau gantiin aku jalan sama kamu?”
“Zeline! Jangan kayak anak kecil bisa nggak sih? Kamu permasalahin hal yang seharusnya nggak jadi masalah,”
Zeline mendengus kesal. Lebih baik tadi habis dari toko buku dan makan, Ia langsung pulang. Daripada jalan berdua tapi situasinya jadi begini.
Zeline tidak bisa lagi menahan rasa cemburunya karena memang ada saja yang memancing rasa cemburu itu datang. Mungkin karena sudah lumayan lama dipendam juga. Semenjak ada Anin, Ia harus tenang, harus sabar, harus mengerti bahwa Anin itu sahabat Vindra dan Ia tidak boleh cemburu walaupun sulit disaat Vindra sering mengutamakan Anin ketimbang dirinya yang padahl sebelum ada Anin, Vindra tidak pernah seperti itu.
Mereka tiba di sebuah tempat membeli perhiasan. Di sana Vindra langsung mencari yang kira-kira cocok untuk diberikan kepada Anin sahabat masa kecilnya itu.
“Zel, bantuin aku milih dong,”
“Kan tadi aku udah bilang, aku nggak bisa milihin yang cocok buat orang apalagi perhiasan itu masalah selera juga. Nanti takutnya apa yang aku pilih malah nggak disukain sama Anin,”
“Dia pasti suka lah. Kamu sama dia ‘kan sama-sama perempuan. Kamu pasti tau selera perempuan kayak Anin itu gimana,”
“Aku ‘kan baru kenal sama dia nggak kayak kamu yang udah kenal ribuan tahun,”
Vindra berdecak pelan. Kemudian melirik pelayan toko yang menatap mereka berdua. Vindra mengira pasti pelayan toko itu sudah bisa menebak kalau Ia dan kekasihnya sedang ada masalah.
Zeline mendengus, jelas-jelas Vindra masih mengharapkan bantuannya sekarang. Melihat Vindra diam da mengarah padanya sambil menaikkan salah satu alis, akhirnya Zeline menghembuskan napas kasar.
“Ya udah deh, aku bantu pilihin,”
“Ikhlas ‘kan?”
“Menurut kamu?” Tanya Zeline dengan sinis. Ia kalau sudah mau membantu tentu saja ikhlas. Kalau tidak ikhlas, Ia tidak akan mau mengulurkan tangan memberi bantuan karena percuma, tidak ada manfaatnya.
“Ikhlas nggak? Jawab aja,”
“Ya kalau nggak ikhlas mending nggak usah bantu sekalian,”
“Okay makasih ya. Tolong pilihin anting yang menurut kamu cocok buat dia,”
__ADS_1
“Kenapa nggak cincin?”
Zeline ingin tahu alasan kenapa kekasihnya memilih anting untuk diberikan kepada Anin. Padahal ada kalung, ada cincin dan ada gelang.
“Bukannya lebih romantis cincin atau kalung ya? Kenapa nggak itu aja?”
“Aku bukan mau romantis, aku mau ngasih yang pengen aku kasih aja. Kalau mau romantis ya bukan ke dia lah,” jawab Vindra dengan ketus. Untuk apa Ia ingin disebut romantis dengan memberikan cincin atau kalung. Sementara Ia inginnya memberikan anting. Lagipula kalau mau romantis pada orangtua dan pasangan saja. Ke sahabat perempuan, Vindra rasa tidak perlu romantis.
“Jadi yang mana kalau menurut kamu?”
“Terus kalau mau romantis ke siapa?” Zeline belum mau meninggalkan topik pembahasan itu.
“Ya ke orangtua, ke pasangan. Kalau ke sahabat nggak perlu. ‘Kan cuma sahabat,”
“Iya tapi sahabat dekat banget tuh, udah kayak pacar,” gumam Zeline seraya fokus memilih model yang menurutnya pas untuk Anin.
“Siapa bilang? Itu cuma pemikiran kamu aja. Jangan kebanyakan overthinking makanya,”
Vindra dengar apa yang dikatakan kekasihnya barusan, maka dari itu Ia sahuti dengan ketus. Vindra tidak sennag ketika Zeline mengatakan bahwa Ia dan Anin romantis seperti sepasang kekasih.
“Ini nih bagus,”
Vindra mengamati anting yang sedang ditunjuk oleh Zeline. Anting itu desainnya mahkota. Menurut Zeline, model anting itu cocok untuk Anin. Bentuknya kecil, tidak berlebihan, dan pasti Anin akan menyukainya.
“Beneran? Menurut kamu bagus ya ini?”
“Iya, menurut kamu? Kalau nggak suka ya cari lain lagi,”
“Nggak-nggak, aku setuju. Apa yang menurut kamu bagus aku setuju,” ujar Vindra melarang Zeline yang akan mencari model lain.
“Tapi kenapa milih yang bentuknya mahkota gini? Kamu ada alasannya nggak?”
“Ya cocok aja gitu, aku yakin Anin pasti suka. Dia ‘kan kayak bidadari gitu ‘kan, makanya dikasih yang antingnya bentuk mahkota,”
__ADS_1
“Hah? Bidadari?”
“Iya dong, Anin ‘kan bidadarinya kamu. Apa aja tentang Anin harus jadi yang utama buat kamu. Karena dia bidadarinya kamu, dan kamu pangerannya Anin, iya ‘kan?”