Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 159


__ADS_3

“Sana duduk dekat Zeline gih,”


“Masalahnya ada si Jerry, males gue sama dia. Dikiranya gue ngintilin dia,”


“Ya udah terserah,”


Vindra berdecak pelan. Dalam hati Ia mengumpat orang yang telah membuat bangku langganannya basah.


“Sialan! Cari masalah aja sama gue,”


“Mungkin ada yang nggak sengaja numpahin kali,”


Vindra menatap kotak tissue di atas meja dengan pandangan berbinar bahagia. Ia barus adara da tissue yang bisa Ia gunakan untuk mengeringkan tempat duduk itu.


“Lo berdua nggak ada yang liat nih ada tisu? Harusnya bilang lah ke gue,”


“Gue juga nggak sadar, oncom! Ya Alhamdulillah kalau lo sadar duluan,”


Vindra mengeringkan kursi yang basah itu menggunakan banyak tisu. Sengaja Ia mengambil tisu cukup banyak hingga kotaknya ringan.


“Nah ‘kan kering jadinya,”


Vindra akan duduk namun bangku malah patah tapi untungnya Ia tidak jatuh di lantai. Tidak bisa dibayangkan akan sebesar apa malunya, dan bokongnya juga pasti akan sakit.


“Anjir, hampir aja gue jatuh,”


“Disuruh ke sana nggak mau sih. Untung aja lo nggak kejedak di lantai,”


Vindra memaki geram. Tampaknya untuk makan saja dipersulit sekali. Tadi bangku sudah basah, giliran sudah Ia keringkan malah patah.


“Sialan banget,”


“Ya udah buruan duduk di sana sama Zeline Jerry,”


Vindra akhirnya terpaksa bergegas ke meja Zeline, Jerry, dan Chaca. Tanpa mengatakan apapun, tanpa permisi Ia langsung duduk begitu saja hingga mengundang tatapan bingung dari ketiga penghuni meja yang sudah mulai menyantap bakso mereka masing-masing.


“Eh kok lo di sini?”


“Emang kenapa? Nggak boleh?” Vindra menjawab pertanyaan Jerry dengan sinis. Pertanyaan yang dilontarkan Jerry membuatnya tersinggung. Kantin ini tempat umum, siapa saja itu boleh duduk dimana pun.


“Seolah nggak suka ada gue di sini,”


“Suka kok, gue bercanda aja. Santai dong mukanya, nggak usah tegang,”


“Kenapa nggak gabung sama Dino Zam?”


“Lo nggak liat tuh kursi patah? Jadi gue mau di sini,” ucap Vindra seraya menunjuk kursi yang baru saja patah ketika hendak diduduki olehnya. Sudah Ia keringkan supaya Ia bisa duduk dengan nyaman tapi yang terjadi malah patah. Benar-benar kejadian yang membuatnya muak. Teman tidak mau mengalah, kursi malah memancing emosinya.


“Eh kalian nanti mau lanjut kuliah dimana?”


Chaca menatap Zeline, Jerry, dan Vindra satu persatu. Sambil makan, Chaca mengangkat topik obrolan soal rencana teman-temannya pasca lulus sekolah. Ia penasaran apa gambaran yang sudah ada di kepala mereka setelah kelulusan nanti.


“Gue lanjut kuliah swasta sama bro-bro gue, iya ‘kan, Vin?”


Vindra menganggukkan kepalanya. Ia dan ketiga sahabatnya sudah punya kesepakatan untuk satu kampus dan satu fakultas. Terlalu susah untuk pisah, walaupun sering bertengkar tapi mereka mengakui dalam hati masing-masing bahwa perpisahan bukanlah hal yang mereka inginkan karena sudah terlalu nyaman bersama.


“Kamu mau lanjut kemana?” Jerry bertanya pada Zeline yang belum memberikan jawaban.


“Ada deh,”


“Dih? Kok nggak kasih tau?”


“Dia belum punya rencana kali makanya—“


“Nggak usah sok tau! Aku udah punya rencana mau kemana kok, tapi belum pasti. Jadi belum mau ngomong,”


“Kasih tau dong,”


“Terus kalau dia kasih tau, lo mau apa? Mau nyusul?”


Jerry terbahak mendengar pertanyaan Vindra yang sinis. Ia memukul pelan meja hingga Zeline dan Chaca terlonjak padahal itu adalah hal biasa bagi Jerry dan Vindra yang kalau bercanda memang suka aneh. Seolah marah padahal tidak.


“Hey kenapa kau benar kalau ngomong?”


“Dih, emang dia mau lo susul?”


“Gue nikahin ntar, lo bakal gue undang,”


“Najis, kepedean,”


“Lo udah ada yang baru ya?”


Vindra menggeleng spontan untuk menjawab pertanyaan Chaca. Vindra malah sedang nyaman sekali dengan kesendiriannya. Walaupun masih dibayang-bayangi dengan Zeline padahal Ia sudah berusaha untuk melupakan.


“Itu sama Zeline nggak mau balikan?”


“Ya dianya nggak mau,”


“Kalau sama Dania?”


“Lo kenapa jadi wartawan begini? Ya elah Dania bukan siapa-siapa gue, Anin juga gitu,”


“Okay sorry-sorry. Gue cuma penasaran aja soalnya lo keliatan deket juga sama Dania,”


“Ya dekat sebagai teman aja lah,”


“Kenapa lo nggak mau sama Dania?”


Karena Vindra santai dan terbuka, Zeline jadi tertarik untuk masuk ke obrolan antara Vindra dan dua temannya. Pertanyaan itu spontan terlontar dari mulutnya.


“Kalau dijodohin sama Zeline gue nggak bakal nolak,”


“Zeline emang sedahsyat itu ya, padahal dia nggak ngapa-ngapain tapi bikin cowok tertarik. Dan lo bodoh sih, bro. Lo ngelepasin dia. Kalau gue jadi lo, udah gue kekepin terus tiap saat, eh ini malah bucin banget sama mantannya yang sekarang udah kayak orang yang nggak kenal sama lo entah karena belum move on atau emang udah nggak mau berurusan lagi sama lo. Tapi baguslah, nggak usah ada drama susah move on segala. Kalian tuh harus bahagia di jalan masing-masing,”


“Tipis move on nya dong ajarin. Kok pada cepat-cepat amat sih kalau move on, caranya gimana?” Tanya Vindra seraya melirik ke arah Zeline.


“Cari yang baru sih biasanya,”


“Ah nggak mau kalau itu,”


“Ya udah tunggu sampai rasa itu hilang sendiri,”


“Nggak enak ya kalau susah move on tuh,”


“Ya emang nggak enak, siap-siap sakit hati sendiri kalau ngeliat doi udah sama yang lain sedangkan kita nya masih belum move on. Sakit cuy, asli. Makanya mesti cepat-cepat move on supaya nggak sakit hati sendiri,”


******


“Dania, jangan gandengan sama gue mulu, gue risih tau nggak? Biasa aja jalannya,”


Setelah Anin terbitlah Dania yang juga dianggap teman oleh Vindra. Vindra mengusir tangan Dania yang nyaman melingkarkan tangan di lengannya sehingga mereka sudah seperti sepasang kekasih. Maka tak heran banyak pasang mata yang menatap Dania dengan sinis.


Vindra pun risih ditempeli oleh Dania. Ia suruh menjauh, Dania tetap keras kepala. Akhirnya Ia terpaksa melepaskan menjauhkan tangannya dari jangkauan Dania dan mendorong Dania.


“Ih kok aku didorong sih?”


“Ya makanya nggak usah dekat-dekat, jalannya biasa aja bisa nggak sih?!”


“Sakit tau, harusnya kamu jangan dorong-dorong aku dong,”


“Ya elah orang gue dorong lo juga pelan, nggak usah berlebihan deh,”


“Kamu biasa dorong-dorong gitu ya?”


“Maksudnya?”


“Kamu terbiasa kasar?”


“Dih, sok tau! Gue marah karena lo terlalu nempel ke gue,”


“Coba nanti aku tanya ke Zeline deh, dia yang tau,”


Vindra menelan salivanya pelan dan mulutnya diam tidak melontarkan suara apapun lagi. Tampaknya Zeline akan menjawab jujur kalau seandainya mendapat pertanyaan itu dari Dania.


“Kamu kasar orangnya?”


“Kenapa sih tanya-tanya begitu?”


“Takut,”


“Iya gue kasar! Makanya jangan dekat sama gue,” jawab Vindra dengan ketusnya. Dania sudah bilang bahwa dia takut bila Vindra kasar. Sekalian saja Ia mengakui kalau Ia memang kasar supaya Dania takut padanya dan tak mendekatinya.


“Eh Zeline Zeline!”


Dania berseru memanggil Zeline yang hampir membuka pintu mobil Chaca. Zeline akan pulang bersama Chaca hari ini. Chaca sudah duduk di dalam mobil sementara Ia harus meladeni Dania dulu.


“Kenapa, Dan?”


“Vindra kasar ya?”


“Anjir, dia beneran nanya begitu dong,” batin Vindra ketika Ia menghidupkan mesin motornya siap untuk pulang.


Vindra penasaran dengan jawaban Seline makanya Ia pasang telinga baik-baik. Sambil menghidupkan motor, Ia menunggu jawaban Zeline.


“Nggak sih, biasa aja, kadang emosian ke orang kalau orang itu nyebelin,”


“Serius? Apa gara-gara itu lo putusin dia?”


Zelins hanya tersenyum lalu masuk ke dalam mobilnya. Selain karena kasar, Zeline mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungan mereka karena Ia merasa Vindra sudah terlalu tidak menghargai dirinya. Jadi untuk apa dipertahankan. Karena dalam sebuah hubungan, saling menghargai itu sangat penting.


“Dih, kok dia nggak dijawab sih?”


“Ayo buruan, lo katanya mau balik sama gue,”


“Beneran boleh?”


“Ya iyalah, takut lo ngadu ke nyokap gue ntar nyokap gue ngoceh ke gue,” ujar Vindra pada anak dari teman mamanya itu.


Vindra menyuruh Dania untuk segera duduk di jok belakang motornya. Dari raut wajah tak bisa dibohongi sebetulnya Vindra lebih nyaman pulang sendiri tapi karena Dania tadi minta berulang kali bahkan kesannya memaksa, maka dari itu kali ini Ia berbaik hati mau memenuhi permintaan Dania.


“Kamu baik banget bolehin aku pulang bareng sama kamu. Kenapa emangnya?”


“Ya takutnya lo ngadu ‘kan ke nyokap gue,”


“Ya nggaklah, masa—“


“Masa iya? Kayaknya bakal ngadu deh. Gue nggak mau dengar nyokap gue ngoceh nasehatin gue harus beginilah begitulah ke lo,”


“Kamu nggak ada niat mau coba dulu sama aku, Vindra?”


“What? Coba apa, njir? Kaget gue dengar pertanyaan lo,”


Setelah terdiam beberapa saat karena terlalu kaget mendengar pertanyaan Dania, sekarang Vindra terkekeh.


“Coba sama aku. Kita—“


“Maksudnya pacaran gitu? Lah kalau gue mau, udah dari awal gue pacarin lo, Dan. Tapi gue nggak bisa move on,”


“Terus sekarang kamu masih cinta sama dia? Kenapa putus kalau gitu?”


“Kalau sekarang gue lagi bisa move on sih, semoga aja secepatnya benar-benar bisa move on,”


“Cinta banget tapi kok pengeb move on? Kamu nggak benar-benar cinta sama dia kali ya? Kamu obsesi atau emang merasa nggak bisa hidup tanpa dia. Secara dia ‘kan cantik, pintar juga,”


“Entah, mungkin iya mungkin juga nggak,”


“Kok kamu nggak bisa baca perasaan kamu sendiri sih? Atau kamu sebenarnya cinta sama Anin?”


Vindra menggelengkan kepalanya, Dania menganggap Vindra tak mendengar pertanyaan darinya maka dari itu Ia mengeraskan suaranya. Barangkali Vindra tidak mendengar kalimatnya karena beradu dengan suara angin dan kendaraan lain.


“Vindra, kamu cinta sama Zeline?!”


“Buset, woy! Ini kuping gue masih normal, jangan teriak dong,”


“Eh, maaf-maaf, aku nggak sengaja. Ya abisnya kamu nggak jawab sih, jadi aku pikir kamu nggak dengar makanya aku ngomong kencang,”


“Gue dengar dan gue udah jawab mas alo nggak liat gue jawab apa? gue udah geleng kepala,”


“Kok kalem sih jawabnya? Kamu cinta ya sama dia? Kenapa nggak pacaran aja sama Anin kalau gitu,”


“Nggak lah, gue nggak ada perasaan apa-apa kok sama Anin,”


“Punya perasaannya sama Zeline? Terus kenapa putus? Pertahanin dong harusnya,”


“Ya dia nya nggak mau dipertahanin,”


“Eh itu mobil Chaca,”


Vindra berseru kaget setelah mengenali mobil yang baru saja ditabrak itu. Tanpa basa-basi, Vindra langsung menghentikan laju motornya yang terhambat karena adanya kecelakaan itu. Dania Ia biarkan begitu saja di atas motornya sementara Ia langsung menghampiri mobil Chaca untuk melihat keadaan di dalam.


Jantung Vindra berdebar-debar. Ada dua orang yang Ia kenali di dalam sana. Tadi Ia sempat melihat Zeline masuk ke dalam mobil Chaca, mereka pulang bersama tapi tidak disangka harus mengalami kejadian seperti ini.


Pikiran Vindra sudah kemana-mana. Hati Vindra dikuasai oleh rasa cemas. Maka dari itu tanpa banyak pikir, Ia segera berjalan cepat menghampiri sumber yang membuat arus lalu lintas jadi terhambat.


Datangnya Vindra, bertepatan dengan keluarnya Chaca dan Zeline dari dalam mobil. Wajah mereka berdua kelihatan panik dan Vindra tahu apa yang ada di benak mereka sekarang.


Vindra pernah ada di posisi ini tapi lebih parah bahkan sampai beberapa hari tidak bisa sadarkan diri.


“Zel, kamu nggak apa-apa? Cha, lo baik-baik aja?”


Zeline dan Chaca pasti masih mencerna kejadian yang menimpa mereka. Kaget sudah pasti karena sedang asyik dalam perjalanan menuju rumah malah dihantam oleh motor dari belakang.


“Zel, kamu—“


“Aku baik-baik aja, tapi aku masih kaget, aku juga nggak nyangka bisa selamat, aku pikir—aku bakal lewat, soalnya suara dari belakang itu benar-benar—“


“Ssstt, kamu aman,”


Vindra menepuk lembut puncak kepala Zeline dan juga bahu Chaca. Ia juga menyuruh keduanya untuk duduk di halte yang berjarak sekitar lima meter dari lokasi kejadian.


Setelah Vindra menggiring Zeline dan Chaca untuk duduk, Vindra mengusap satu pipi Zeline secara singkat lalu Vindra akan menghampiri petugas lalu lintas yang sedang menginterogasi si penabrak, tapi tangan Vindra yang baru saja menyentuh pipi Zeline langsung ditahan oleh Zeline.


Vindra bertanya sambil berjongkok di depan Zeline yang berkeringat dan bibirnya pucat. Benar-benar menggambarkan rasa panik dan takut yang besar.


“Kamu kenapa? Masih takut? Kamu ‘kan baik-baik aja,”


Chaca meraih tangan Zeline dan menggenggamnya erat. Chaca juga berusaha menenangkan Zeline disaat Ia sendiri sedang kesulitan untuk tenang.


“Iya, ini beneran ‘kan aku baik-baik aja? Aku selamat?”


“Hey, kamu nggak perlu panik, kamu baik-baik aja, buktinya sekarang kamu masih bisa liat aku nih,”


“Aku trauma, aku takut kayak kamu, Vindra,”


“Maksudnya?”


“Aku takut masuk rumah sakit juga kayak kamu karena kecelakaan,”


Vindra tersenyum tipis. Padahal yang saat itu kecelakaan bersamanya adalah Deby jadi Deby yang tahu persis situasinya, tapi Zeline yang tampaknya trauma.


Vindra duduk di sebelah Zeline sehingga posisi Zeline sekarang ada ditengah antara Vindra dan Chaca, lalu Vindra meraih kepala Zeline agar bersandar di bahunya. Tangan lelaki itu bergerak mengusap kepala Zeline memberinya ketenangan. Kejadian ini terlalu tiba-tiba sehingga wajar reaksi Zeline seperti ini. Mereka baru saja terhindar dari maut. Merasakan sentakan yang cukup kuat hingga mereka terdorong ke depan, belum lagi mendengar suara benturan yang keras, bayangan bertemu dengan dunia yang lain sudah ada di kepala mereka.


“Tapi kalian nggak apa-apa ‘kan? Kepala aman?”


Zeline dan Chaca mengangguk kompak. Kepala mereka aman, semuanya aman, hanya saja jantung mereka yang tidak aman. Sedang menunggu lampu merah berubah menjadi hijau, tiba-tiba mobil dihantam dari arah belakang, tentu saja rasanya campur aduk, apalagi ketika disadari bahwa mereka selamat atau baik-baik saja tanpa luka sedikitpun. Itu yang malah membuat mereka tidak percaya sekaligus lega.


“Udah nggak perlu tegang lagi. Yang penting kamu selamat,”


Vindra meraih kepala Zeline agar menatapnya. Ia bisa melihat tatapan Zeline masih belum fokus dan sedikit merah karena mungkin tadi sempat ingin menangis. Entah sadar atau tidak Vindra menyematkan kecupan singkat di kening Zeline setelah itu Ia mengusap lembut kepala Zeline sebelum beranjak dari tempat duduk untuk menghampiri si pelaku yang akan dibawa oleh petugas.


“Kenapa ini, Pak?” Tanya Vindra pada dua orang yang kebetulan tadi sedang berjaga di lampu merah untuk mengatur lalu lintas. Karena kejadian ini, lalu lintas sempat macet karena ada yang menghentikan kendaraan karena penasaran. Tapi setelah diatur oleh salah satu petugas, lalu lintas kembali lancar hanya dengan waktu singkat.


“Masih ada pengaruh mabuk, Mas,”


Vindra langsung beralih menatap pelaku setelah mendengar penjelasan petugas. Vindra menepuk bahu lelaki yang baru saja merusak mobil Chaca dan membuat pengemudi sekaligus penumpangnya panik.


“Lain kali ati-ati, bro. Lo udah bikin anak orang panik tau nggak? Untungnya mereka nggak apa-apa,”


Vindra memberi tinju di salah satu pipi orang itu, dia sudah membuat orang lain mengalami kerugian materi, bahkan hampir hilang nyawa.


*****


Mobil sudah dibawa ke tempat perbaikan, Vindra berniat untuk mengantarkan Zeline dan Chaca ke rumah mereka masing-masing, namun Chaca memutuskan untuk pulang dengan ojek online.

__ADS_1


“Ayo, lo balik sama aku aja,”


Vindra mengulurkan tangannya mengajak Zeline untuk beranjak dari bangku halte namun Zeline menggelengkan kepalanya.


“Kenapa? Lo nggak mau pulang sama gue?” Tanya Vindra dengan ketus. Padahal niatnya baik.


“Aku naik ojek aja, Vin,”


“Eh kok gitu? Lo aja masih kelihatan belum baik-baik aja. Mending balik sama gue. Tenang aja, lo aman sama gue. Ayo naik motor gue,”


Vindra berdecak karena tangannya tak bersambut. Akhirnya Ia yang berinisiatif untuk meraih tangan Zeline tapi Zeline segera melepaskan.


“Aku nggak mau pulang sama kamu, Vin. Aku pulang naik ojek aja. Aku baik-baik aja kok,”


Vindra menggelengkan kepalanya tidak mengizinkan Zeline untuk pulang dengan orang selain dirinya. Zeline harus pulang dengannya karena Ia ingin memastikan Zeline sampai di rumah dengan keadaan baik-baik aja.


“Kenapa kamu mau antar aku?”


“Kewajiban,”


“Kewajiban apa sih? Kamu ‘kan bukan pacar aku lagi,”


“Kewajiban sebagai manusia harus saling bantu, memberikan pertolongan,”


“Tapi Chaca pulang sendiri nggak kamu larang tuh,”


“Dih kata siapa? Lo budek apa gimana? Gue udah larang tadi tapi dia nggak mau. Dia tetap mau naik ojek,”


Zeline menunjuk Dania yang berjalan mendekat ke arah mereka dengan wajah bersungut-sungut. Sejak tadi Dania diam saja di atas motor menunggu Vindra yang tak kunjung kembali akhirnya Ia yang menghampiri. Dadanya panas melihat Vindra terlalu lama dengan Zeline.


“Vin, Ayo kita pulang. Aku dari tadi duduk kepanasan tau,”


“Mau nggak dibonceng sama Zeline?”


“Aku nggak mau pulang sama kamu, Vindra! Ngerti nggak sih? Aku mau order ojek aja,”


“Nggak boleh, Zel. Gue khawatir, lo paham nggak sih?”


“Gue ‘kan baik-baik aja, kenapa lo khawatir?”


“Ya soalnya lo keliatan masih kaget. Dan gue yakin lo masih kebayang-bayang sama kejadian tadi. Jadi gue nggak mau biarin lo pulang sendiri aja,”


“Ya udah lah aku aja yang pulang sendiri,”


Tiba-tiba Dania pergi setelah berkata seperti itu. Vindra langsung menghembuskan napas lega dan tersenyum sangat lebar.


“Dia nggak pulang sama gue. Jadi lo cuma sendiri aja, ayo kita pulang,”


“Kasian Dania,”


“Ya nggak apa-apa, ‘kan emang dia yang mau pulang sendiri. Bukan gue yang nyuruh dia pulang, Zel,”


“Kamu ngomong ke dia, kamu yang bakal antar dia pulang. Aku nggak akan ganggu kalian berdua,”


“Apaan sih lo? Gue nggak suka lo ngomong begitu. Lo nggak ganggu. Lagian emang awalnya dia yang maksa ngajakin pulang bareng. Kalau gue tolak ‘kan nggak enak. Tapi sekarang dia mau pulang sendiri, ya udah bagus. Jadi gue bisa pulang sama lo aja,”


“Tapi kasian sama Dania, itu mumpung dia belum naik taksi, lo samperin gih,”


“Nggak usah, gue mau balik sama lo aja, ayo,”


Vindra menarik pelan tangan Zeline agar bangkit tapi itu tidak berhasil, akhirnya Ia mengancam Zeline agar mau pulang dengannya.


“Atau mau gue gendong ya? Hah? Mau bangun sendiri atau gue gendong?”


Zeline meraih ponsel untuk memesan ojek online. Vindra awalnya bingung melihat Zeline berkutat dengan ponsel tapi begitu melihat Zeline akan membuka aplikasi ojek online, Ia langsung merebut ponsel genggam milik Zeline kemudian berjalan mendekati motornya. Kalau ponselnya dibawa olehnya pasti Zeline akan menghampirinya.


Dan benar saja Zeline langsung berjalan cepat mendekati dirinya yang akan naik ke atas motor. “Balikin handphone gue! Kamu kenapa sih ngambil handphone gue tiba-tiba? Nggak punya handphone ya?”


“Mau pesan ojek? Ngapain? ‘Kan ada gue yang mumpung baik bisa lo jadiin driver ojek. Ayo buruan naik ke jok, atau handphone lo gue bawa pulang dan nggak gue balikin,”


“Nggak akan bisa,”


Vindra tersenyum miring dan Ia sudah siap-siap untuk melajukan motor namun karena lengan bajunya ditarik oleh Zeline, alhasil motornya tak jadi pergi.


“Jangan macam-macam lo! Tolong balikin handphone gue!”


“Iya nanti kalau udah sampai di rumah lo. Cepetan naik ke motor gue, apa susahnya sih tinggal nurut?”


Zeline diam dan masih enggan untuk pulang dengan Vindra. Dan Vindra yang mulai geram dengan penolakan Zeline akhirnya mencubit pipi Zeline.


“Buruan naik! Ini di bahu jalan, bisa bikin macet,”


Setelah Vindra bicara seperti itu, akhirnya Zeline mau juga duduk di jok belakang motor Vindra. Tanpa menunggu waktu lama motor Vindra melaju dengan kecepatan normal.


“Jangan bengong ya, lupain aja kejadian tadi,”


“Okay,”


“Pegangan aja kalau mau,”


“Nggak mau,”


“Ya udah,”


Zeline pikir setelah Vindra bicara seperti itu, kecepatan motor Vindra akan tetap normal tapi yang terjadi justru Vindra sengaja menambah kecepatan motornya. Detik itu juga Zeline berteriak histeris.


“Vindra jangan begitu! Aku takut kenapa-napa!”


“Iya makanya pegangan aja,”


“Kamu sengaja ya?”


“Sengaja apa sih?”


“Sengaja ngebut supaya aku pegang kamu, iya ‘kan?”


Vindra tertawa lebar mendengar ucapan Zeline. Perempuan itu terlalu banyak menolak, akhirnya sengaja Vindra kerjai.


“Mama papa kamu ada di rumah?”


“Mama aja, papa ‘kan masih di kantor,”


“Kamu udah bilang ke mereka kalau kamu habis dapat musibah?”


“Belum, emang kenapa?”


“Ya nggak apa-apa sih, cuma tanya aja,”


“Aku ‘kan belum sempat pegang handphone. Tadi udah pegang handphone untuk pesan ojek tapi handphone aku malah diambil sama kamu,”


“Ya udah nanti ceritanya sampai di rumah aja,”


“Makasih ya ngomong-ngomong. Maaf udah direpotin nganterin aku,”


“Kamu nggak minta, tapi aku yang mau. Jangan ngomong begitu,”


“Kenapa kamu mau nolong aku?”


“Ya karena harus, ‘kan sesama manusia harus saling menolong,”


“Dih, alasan yang udah biasa banget di dengar,”


“Ya kamu mau dengar alasan apa dari mulut aku? Hmm? Aku nolong kamu karena aku nggak bisa move on?”


Zeline terdiam tak mengeluarkan satu patah kata pun dan malah menikmati deru angin yang menerpa wajahnya.


Vindra membawa motor dengan kecepatan yang normal. Sesekali Ia akan menoleh ke belakang memastikan tak ada yang menabraknya dari arah belakang lagi. Tadi, Chaca sudah menyetir dengan baik, kecepatan juga wajar tetap saja ada yang menabrak. Dan sampai sekarang kejadian itu masih terbayang-bayang dan membuat Zeline takut akan terulang.


“Kamu kenapa sih nengok terus ke belakang? Ada yang lagi kamu cariin?”


“Bukan, aku takut deh kayak tadi,”


“Ya ampun, jangan takut kayak gitu. Kamu aman kok. Aku bawa motor aja udah santai nih, dan nggak nyelap-nyelip,”


“Iya tadi juga Chaca udah bawa mobil yang bener tapi tetap aja ada yang nabrak,”


“Nggak terjadi lagi kok, kamu harus berpikir positif, jangan ingat kejadian tadi. Kamu lupain aja,”


“Mana bisa secepat itu, Vindra?”


“Apaan sih? Nggak nyambung! Udah jangan pegang-pegang tangan aku lah,”


“Udah diem! Ntar jatoh,” Vindra memarahi Zeline yang akan menarik tangannya.


*****


“Makasih udah antar aku,”


“Ya sama-sama,”


Vindra akan langsung tancap gas namun Zeline menepuk-nepuk bahu lelaki itu. Zeline tidak akan membiarkan Vindra pulang sebelum yang ada di saku Vindra sekarang dikembalikan kepadanya.


“Apa?”


“Handphone aku mana? Katanya mau dibalikin kalau udah sampai di rumah aku,”


“Oh iya, nih,”


Vindra segera merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel Zeline. Tapi sebelum menyerahkan, Ia utak-atik sebentar yang membuat Zeline mengernyitkan keningnya.


“Sini balikin! Kamu ngapain buka-buka handphone aku?”


Vindra beranjak turun dari motornya demi menghindari tangan Zeline yang akan merampas ponselnya. Vindra punya maksud tertentu mengutak-atik ponsel Zeline yang ternyata tidak dikunci.


“Nih aku balikin,”


Setelah melakukan apa yang sudah Ia niatkan sejak awal meraih ponsel Zeline, barulah Vindra mengembalikan ponsel Zeline yang sudah naik pitam.


“Kamu apain handphone aku?!”


“Nggak diapa-apain,”


“Bohong!”


“Ya udah liat aja sendiri. Handphone kamu aman-aman aja tuh,”


Zeline memastikan sendiri dan ternyata memang tak ada yang aneh dari ponselnya. Tapi Ia masih penasaran dengan apa yang tadi dilakukan oleh Vindra terhadap ponselnya.


“Barusan gue buka kontak, ternyata masih ada tuh nomor aku. Yah ketauan deh bohongnya. Malah masih ada emoji lovenya warna pink di belakang nama Vindra. Bilangnya sih udah nggak simpan kontak aku lagi, eh ternyata masih ada,”


Zeline terdiam dan susah payah menelan salivanya karena dihadang dengan rasa malu setelah Vindra tahu kenyataan yang sebenarnya. Ia memang masih menyimpan nomor telepon Vindra, tapi ada yang keliru. Ia tidak lagi menyematkan emoji.


Zeline dengan cepat membuka daftar kontak dan ternyata di belakang nama Vindra memang ada emoji hati dengan warna merah muda padahal seingatnya tidak menyematkan emoji itu lagi. Dulu memang sempat tapi setelah putus tak mau lagi meletakkan emoji apapun itu bentuknya.


“Ini kamu yang bikin ‘kan?!”


“Dih, apaan sih? Bukan aku,”


Zeline mendorong dada Vindra hingga mundur satu langkah. Vindra tertawa lebar dan Zeline semakin yakin dugaannya benar.


“Aku nggak pernah pasang-pasang love di kontak kamu,”


“Lah itu buktinya,”


“Iya itu kerjaan kamu! Jangan bohong! Ngaku aja kamu!”


Vindra menggelengkan kepala dan masih tertawa lebar. Dengan tingkah mantan kekasihnya yang seperti itu, Zeline semakin yakin memang benar Vindra yang usil menyematkan emoji hati di belakang namanya pada daftar kontak.


“Ketauan belum bisa move on dari aku,”


“Heh aku nggak pernah masang-masang emot love setelah kita udah nggak ada hubungan apa-apa lagi! Kamu jangan ngarang ya, ini kerjaan kamu. Berarti kamu tuh yang nggak bisa move on. Kamu masih berharap aku taruh emoji love di nama kamu? Iya?”


“Hah? Aku? Nggak tuh,”


Vindra mengangkat kedua tangannya seperti penjahat yang baru saja ditangkap oleh pihak berwajib.


Zeline menggelengkan kepalanya tidak percaya. Ia ingat betul nomor telepon Vindra memang masih tersimpan di daftar kontaknya tapi tak ada emoji apapun selain nama saja. Itupun nama Vindra tidak ada sebutan sayang, love, atau semacamnya. Karena mereka sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi terlepas sudah bisa move on atau belum.


“Kamu yang iseng! Jangan nuduh aku nggak bisa move on,”


Zeline langsung menghapus emoji itu, dan Vindra mendengus kasar. “Iya emang aku yang ngerjain,”


“Tuh ‘kan! Kamu nggak jelas banget sih! Ngapain coba pasang-pasang love di nama kamu? Nggak penting banget,”


“Ya nggak apa-apa iseng aja. Dan supaya kamu tuh sadar kalau nomor aku masih ada, barangkali kamu lupa atau nggak sadar belum hapus nomor aku. Eh tapi nggak usah dihapus. Kalau ada emoji love ‘kan jadi beda dari yang lain,”


“Aku nggak suka!”


“Ya udah sini aku hapus,”


Vindra akan meraih ponsel Zeline lagi namun Zeline segera menyembunyikan di balik punggungnya sambil menjawab dengan ketus, “Udah aku hapus!”


“Nggak sekalian nomornya? Jangan, eh tapi kalau kamu mau hapus ya udah nggak apa-apa. Sini aku bantu hapus barangkali kamu lupa cara hapus kontak,”


Zeline menggeleng tidak mengizinkan Vindra mengambil alih ponselnya lagi. Dengan satu tangan Ia mendorong Vindra agar segera pulang.


“Mau aku apusin nggak? Sini aku hapus nomor aku, biar sekalian kamu puas,”


“Nggak usah! Nanti aku hapus sendiri,”


“Masa iya mau dihapus sendiri? Yakin? Bukannya sayang-sayang buang nomor aku?”


“Aku bisa hapus sendiri,”


“Aku aja sini,”


“Nggak usah! Kalau aku bilang nggak usah ya nggak usah, Vindra!”


“Oh berarti nomor aku emang masih mau disimpan sama kaku ya? Okay, kalau gitu aku nggak maksa hapus soalnya kamu masih mau simpan terus,”


Zeline merotasikan bola matanya mendengar ucapan Vindra yang menatapnya dengan seringai tipis di bibirnya.


“Udah ya, aku balik dulu,”


“Ya, makasih sekali lagi,”


“Okay, kamu nggak perlu ingat-ingat kejadian yang bikin kamu takut, soal kecelakaan itu, soal apapun lah pokoknya, termasuk soal kelakuan aku dulu yang mungkin masih kaku benci sampai sekarang. Aku minta maaf. Kaku itu harus lupain apapun yang bikin kamu takut, nggak nyaman, atau trauma. Okay, Cantik?”


Vindra tiba-tiba mencubit singkat pipi kanan Zeline dan mengacak lembut puncak kepalanya, kemudian Vindra melajukan motor dengan kecepatan normal, meninggalkan Zeline yang terdiam dengan badan yang membeku.


“Kenapa dia jadi baik banget sih? Aku bingung,”


Zeline masih tidak menyangka dengan tindakan Vindra sejak tadi yang sigap menghampirinya, menenangkannya ketika Ia panik usai mengalami kecelakaan, memaksa untuk mengantarkan Ia pulang karena ingin memastikan Ia baik-baik saja sampai di rumah. Zeline sudah bukan kekasih Vindra lagi makanya Zeline kaget dan bingung ketika Vindra masih mau memastikan Ia selamat sampai di rumah.


“Zel, ayo masuk, kok malah diam di situ, Nak?”


Zeline menoleh ke belakang ketika dipanggil oleh mamanya. Zeline baru sadar Ia malah diam saja di depan gerbang rumah bukan malah langsung masuk ke dalam rumah usia melihat Vindra pulang.


Zeline segera mengayun langkah mendekati mamanya yang berdiri menatap ke arahnya di depan pintu rumah.


“Kok malah diam di situ? Diantar Vindra ya?”


“Iya, kok mama tau?”


“Mama liat kok. Kenapa diantar Vindra? Tumben nggak sama Chaca,”


“Ada kejadian, Ma. Vindra paksa aku untuk pulang sama dia,”


Reta langsung meraih tangan anaknya dan mengamati badan anaknya dari atas sampai bawah untuk mengetahui keadaan fisik anaknya.


“Kamu kenapa? Kejadian apa maksudnya?”


“Mobilnya Chaca ditabrak, Ma,”


“Hah? Gimana ceritanya? Tapi kamu nggak apa-apa ‘kan?”


Seline tersenyum dan memutar badannya sendiri supaya mamanya bisa lihat bagaimana keadaannya sekarang.


“Bisa mama liat aku baik-baik aja,”


“Ya emang keliatan dari luar baik-baik aja, tapi beneran nggak ada luka di dalam gitu ‘kan?”


“Nggak ada, Ma. Syukurnya aku sama Chaca baik-baik aja tapi mobilnya Chaca penyok lumayan parah di belakang. Aku cuma kaget aja tadi sama panik. Aku juga nggak nyangka bisa baik-baik aja. Bahkan sakit sedikitpun nggak ada, Ma,”

__ADS_1


“Terus yang nabrak siapa? Kok bisa ada Vindra?”


“Vindra kebetulan melintas di dekat situ terus liat mobil Chaca ditabrak, dia langsung nyamperin,”


“Terus Vindra antar kamu pulang?”


“Iya, dia tadinya mau antar aku sama Chaca pulang tapi Chaca nggak mau. Chaca pulang naik ojek online. Aku juga mau naik ojek tapi Vindra nggak bolehin, aku dipaksa pulang sama dia,”


“Ya Allah, Alhamdulillah kamu sama Chaca baik-baik aja, terus pelakunya udah diamankan?”


“Udah, katanya sih dia masih ada pengaruh alkohol,”


“Ya Allah, bener-bener orang itu ya. Hampir aja nyelakain orang. Udah bilang makasih ke orang yang bantu kamu? Siapapun itu,”


“Udah dong, Ma,”


Reta tersenyum lembut. Tangannya mengusap kedua pipi Zeline kemudian Ia menyuruh Zeline untuk segera bersih-bersih dan istirahat.


******


“Minggir! Minggir! Minggir! Gue laper nih,”


Vindra ditarik ke kantin oleh Dania yang sengaja menabrak Zeline juga Chaca yang juga sedang berjalan menuju kantin.


Vibdra berdecak dan langsung menghempaskan tangan Dania yang tidak sopan menariknya seperti koper. Sebelumnya Dania tidak seperti itu, hanya merangkul lengannya, tapi begitu akan melewati Zeline, Dania malah menariknya dan sengaja menabrak Chaca dan Zeline hingga keduanya berpencar padahal sebelumnya bergandengan tangan.


“Dania lo apa-apaan sih?! Biasa aja jalannya. Nggak usah narik gue dan nabrak-nabrak orang, cari masalah aja lo,” omel Vindra yang tak suka dengan tindakan Dania barusan. Chaca juga menatap Dania dan Vindra dengan sinis.


“Kayak kekurangan jalan aja pake nabrak-nabrak gue sama Zeline. Nggak jelas banget lo berdua,”


Chaca meraih tangan Zeline dan mengajak sahabatnya itu untuk kembali berjalan menuju kantin. Vindra menatap Dania dengan tatapan geram dan rahangnya yang mengetat.


“Lo kenapa sih kayak tadi? Ada masalah apa? Zeline sama Chaca ‘kan nggak ada salah sama lo,”


“Kamu tau nggak sih, aku kesal sama Zeline karena kemarin dia pulang sama kamu, padahal harusnya ‘kan kamu pulangnya sama aku, Vindra,”


“Lo yang mau pulang sendiri. Gue kemarin mau antar Zeline ke rumahnya karena gue mau mastiin sendiri dia baik-baik aja sampai di rumah. Udah gue tawarin kemarin, lo mau nggak gue boncengin sama Zeline tapi lo langsung bilang kalau lo mau pulang sendiri aja. Ya udah, jadi gue cuma antar Zeline,”


“Ya lagian harusnya kamu mikir dong! Mana bisa aku sama Zeline dibonceng? Bakalan susah,”


“Bisa, kalian berdua bisa kok gue bonceng, lagian udah dekat sama rumah Zeline kemarin itu,”


“Kamu nggak ada tuh larang aku, atau minimal antar aku naik ke taksi. Kamu sibuk aja sama Zeline,”


Setelah meluapkan kekesalan yang Ia tahan sejak kemarin, Dania melanjutkan langkah ke kantin meninggalkan Vindra yang keningnya mengernyit. Vindra merasa tidak bersalah. Awalnya memang Ia ingin memenuhi permintaan


Dania untuk pulang berdua. Tapi ketika tahu Zeline mengalami kecelakan, Vindra ingin mengantarkan Zeline sampai di rumah tanpa menyuruh Dania untuk pulang sendiri. Tapi ternyata Dania enggan untuk dibawa pulang oleh Vindra bersamaan dengan Zeline, Dania memilih untuk pulang sendiri dan itu disyukuri oleh Vindra.


Karena Vindra tak perlu mengantarkan Dania juga, dan Ia bisa lebih lepas pulang hanya berdua dengan Zeline.


“Lo kemarin tuh kemana sih? Kok nggak bisa dihubungin?” Tanya Jerry ketika Vindra sudah tiba di meja kantin yang sudah ditempati lebih dulu oleh tiga sahabatnya.


“Gue ketiduran abis antar Zeline ke rumahnya,”


“Hah? Lo antar Zeline? Ngapain? Lo mau modus?”


“Kemarin dia balik sama Chaca. Terus ada yang nabrak mobil Chaca dari belakang, tapi untungnya mereka nggak apa-apa. Dan gue antar Zeline balik karena kebetulan gue liat mobil Chaca udah penyok makanya langsung gue samperin,”


“Cuma antar aja? Atau basa-basi dulu sama nyokap bokap Zeline? Kok susah dihubungin? Padahal mau diajakin nongki di rumah Dino,”


“Kenapa lo, Jer? Masalah kalau emang gue basa-basi sama nyokap bokap Zeline? Heh?”


Vindra melempar tatapan sinis pada Jerry yang kaget setelah tahu bahwa kemarin itu Ia mengantarkan Zeline pulang ke rumahnya. Jerry juga langsung kelihatan kesal.


“Eh Jer, lo nggak duduk deket Zeline?” Tanya Dino pada Jerry yang hari ini duduk bersama teman-temannya, bukan bersama Zeline.


“Nggak, lagi mau sama kalian,”


“Oalah tumben, biasanya mau caper mulu,”


“Tapi ‘kan nggak tiap saat juga nempel sama dia, bro. Ah elah lu, apa yang gue lakuin salah aja di mata lo,”


“Eh salah salah! Gue malah seneng dong kalau ngumpul gini, ya ‘kan. Soalnya kemarin nggak lengkap gara-gara nggak ada Vibdra,”


Mereka berempat berkumpul di satu meja yang sama dan sudah menjadi tempat favorit mereka. Kursi yang patah kemarin saat hendak digunakan oleh Vindra sudah diganti dengan kursi yang baru sehingga mereka bisa makan dan mengobrol dengan nyaman.


“Gue rasa Zeline juga senang lo di sini, dia capek ngeladenin lo soalnya,”


“Dih, kata siapa?!”


Zam geleng-geleng kepala melihat Vindra dan Jerry yang mulai mau adu mulut lagi. Semenjak Jerry menyukai Zeline dan tahu bahwa Vindra pernah menjadi suami Zeline, perdebatan diantara mereka memang tak bisa dihindari tapi setelah itu baik lagi.


Yang biasanya kalau ribut masalah perempuan sulit untuk kembali akrab dan dekat, tampaknya itu tidak berlaku bagi Vindra dan Jerry karena terbukti sampai sekarang mereka akur walaupun kerap diselingi adu mulut karena sebab yang sama yaitu Zeline. Padahal Zeline tidak pernah melakukan apapun yang menyebabkan mereka bertengkar, tapi memang keduanya yang menjadikan Zeline itu bahan perdebatan. Yang satu seperti tak bisa move on, yang satu lagi seperti ingin berusaha gigih untuk meraih Zeline.


Walaupun kerap bertengkar tapi Vindra dan Jerry sudah punya kesepakatan juga bersama Dino dan Zam untuk kuliah di tempat yang sama.


“Kita bentar lagi perpisahan ya. Nggak kerasa banget,”


“Sedih mau pisah, eh tapi kita nggak pisah deh,”


“Jadi ya bareng-bareng mulu? Ya elah bosen gue,”


“Ya udah sana lo keluar dari circle kita, cari yang lain,” ujar Vindra mengusir Zam yang baru saja mengatakan bosan bersama tiga sahabatnya. Zam langsung terbahak mendapat pengusiran itu alih-alih sakit hati atau tersinggung.


“Nggak ah, udah nyaman,”


“Heleh kentut! Ngapain lo bilang bosen kalau kayak gitu? Hah? Sana cari circle lain,”


Penjual di kantin mengantarkan bakso dan jus mangga yang menjadi menu andalan mereka berempat.


“Gasss kita makan,”


Mereka baru mulai makan, Dania tiba-tiba datang menghampiri mereka berempat dan langsung duduk di salah satu bangku yang masih kosong.


Dalam hati Vindra menggerutu. Seharusnya Ia singkirkan bangku itu supaya Dania tak bisa duduk di dekatnya.


“Kenapa makan di sini?”


“Mau di sini sama Vindra, kemarin ‘kan nggak jadi pulang sama Vindra, sekarang mau makan bareng sama Vindra,”


Dania tiba-tiba melirik ke arah Anin yang kedapatan mengamatinya dengan wajah datar. Posisi mereka lumayan agak berjarak tapi Dania bisa mendapati mata Anin yang tak fokus dengan makanan.


“Kenapa, Nin? Lo mau di sini kayak yang udah-udah? Gantian lah, ‘kan lo udah sering deket sama Vindra,”


“Dania, lo apaan sih? Cari masalah aja, orang diem malah diajakin ribut,” tegur Dino pada Dania yang datang-datang malah menghadirkan suasana tidak enak.


“Lah ‘kan gue cuma nanya aja soalnya dia lirik ke arah gue. Belum move on kali,”


“Lo belum move on?”


“Dih, siapa yang belum move on,”


*****


“Udah nggak usah banyak omong. Ayo kita ke mal,”


“Aku mau ke kafe dulu, mama emangnya lupa?”


“Oh iya mama lupa. Tapi nggak lama ‘kan?”


“Nggak, cuma mau ngopi bentar,” ujar Vindra yang langsung mengundang senyum dari mamanya.


“Papa nggak diajak ya?”


“Nggak usah, Pa. Mama mau sama Vindra aja,”


Vindra terkekeh melihat papanya yang mendengus karena penolakan istrinya. Padahal kalau diajak, Ia tidka akan menolak.


“Ma, ini cuma kita berdua aja ‘kan? Nggak ada teman mama? Nggak ngajak Dania ‘kan, Ma?”


“Ya nggak lah, kok tiba-tiba mikirin Dania? Kamu mau ngajak Dania?”


“Dih, aku nggak mikirin Dania. Ngapain mikirin dia? Aku cuma mau mastiin aja mama nggak ngajak Dania atau teman-teman mama ‘kan? Aku nggak mau ikut kalau mama ada ngajak orang. Aku pusing nanti,”


“Pusing gimana sih? Emang—“


“Aku nggak suka denger ibu-ibu ngobrol. Soalnya kadang rempong,”


“Enak aja! Mama sama teman-teman mama nggak rempong, ngobrol biasa aja tau,”


“Ya udah berarti beneran nggak ada orang lain ‘kan?”


“Nggak ada!”


“Ya ampun galak banget. Aku ‘kan nanya doang, Ma. Aku takut mama ngajakin siapa-siapa gitu,”


“Nggak ada lah, tenang aja. Ayo buruan jalan, jangan banyak omong,”


Tiba menarik tangan anaknya untuk keluar dari kamarnya. Vindra pasrah saja ditarik oleh mamanya, sementara papanya tertawa lebar.


“Hati-hati ya, sabar ngadepin mama,”


“Papa ngomong apa sih? Emang mama kenapa coba?”


“Ya karena mama begini, jadi aku diminta sabar sama papa,”


“Suka ngada-ngada papa kamu tuh,”


Vindra membukakan pintu mobil untuk mamanya yang tersenyum mengucapkan terimakasih sambil mencium pipi Vindra.


Vindra menyusul masuk ke dalam mobil dan langsung mengemudikan mobil dengan kecepatan normal meninggalkan kediaman orangtuanya.


“Udah punya pacar? Udah move on?”


“Mama senang aku jomblo? Padahal aku nggak betah nih jomblo,”


“Jangan pacaran dulu lah, nanti-nanti aja,”


“Udah ada yang dekat kok, Ma,”


“Hah?! Seriusan? Kok baru bilang sekarang sih? Duh, jangan pacaran dulu lah, nikmati waktu sama mama papa dulu. Kok cepet amat sih move on nya?”


“Ya nggak apa-apa, Ma,”


“Nggak boleh pacaran ah! Pokoknya nggak boleh. Harus benar-benar lupain masa lalu dulu baru cari yang lain,”


Vindra tertawa mendengar larangan mamanya. Statusnya yang saat ini hanya sendiri membuat Rina senang, dan Rina berharap Vindra tidak menjalin hubungan dengan siapapun dulu sampai anaknya benar-benar pulih.


“Mau sampai kapan nggak boleh?”


“Nanti-nanti aja, Sayang. Kamu masih muda, nikmatin masa muda kamu dulu, nikmatin waktu sama mama papa dulu barulah nanti cari pengganti mantan kamu. Cari perempuan yang baik, kalau bisa lebih baik tapi kalau nggak bisa ya paling nggak sama baiknya deh kayak Zeline,”


******


“Lho, kata mama nggak ngajak siapa-siapa, kok itu ada Tante Shanti sama Dania? Ah mama nih kenapa sih bohongin aku? Ngapain ketemuan sama mereka segala? Aku ‘kan udah bilang cukup kita berdua aja. Aku bakal ngajakin mama ke kafe buat ngopi sama temenin mama ke mall. Tapi aku udah pesan jangan ngajak teman mama siapapun itu, eh malah diajakin,”


Vindra kesal dengan mamanya yang kenyataannya malah turut mengajak Dania dan mamanya untuk makan bersama di sebuah restoran yang ada di dalam mall.


“Eh Mama nggak ngajak. Emang mereka lagi beli kebutuhan bulanan. Jadi mama ‘kan update status tuh lagi di mobil. Ditanyain sama Shanti mau kemana, ya mama jawab mau ke mall ini dan dia bilang juga lagi ditempat yang sama beli kebutuhan bulanan, jadi jangan nyalahin mama dong!”


Vindra berdecak dan dalam hati tidak percaya sama sekali dengan apa yang dikatakan oleh mamanya.


Vindra mendadak enggan melangkah masuk lebih jauh ke dalam restoran setelah melihat wajah dua orang itu.


“Nanti pasti bahas perjodohan segala macam. Aku males, mending pulang aja,”


Vindra akan berbalik namun tangannya langsung dicekal oleh sang mama yang juga melotot tajam ke arahnya.


“Jangan macam-macam kamu ya! Mama lapar, dan mau makan, siapa yang mau bahas perjodohan segala,”


“Tapi aku nggak mau ah, mama nih rempong banget sih. Segala ketemuan sama Tante Shanti, ngajak Dania pula. Ujungnya makin gencar nih jodohin aku sama Dania. Padahal mama sendiri bilang aku jomblo aja dulu supaya bisa nikmatin waktu sendiri dan sama mama papa, eh ini—“


“Nggak! Siapa sih yang mau ngomongin itu? Kamu nggak jelas banget. Ayo, kita masuk,”


“Ma—“


Rina menggandeng lengan anaknya, dan detik itu juga Vindra tahu tak ada lagi kesempatan untuknya menjauh. Ia sudah ditarik paksa ke dalam restoran.


“Tau gitu mendingan nggak usah ke mall aja sekalian biar nggak barengan sama mereka,”


“Kamu nggak ikhlas temenin mama ke mall, berarti nggak jadi dapat pahala,”


“Ya udah biarin aja, abisnya mama kayak gini sih, udah aku bilang—“


“Lah mama ‘kan udah bilang. Mama nggak ngajakin sama sekali. Emang kebetulan sama-sama di mal, terus nggak sangka bakal ketemu di restoran ini,”


Vindra duduk di sebelah mamanya, mereka berdua berhadapan dengan Shanti dan Dania yang tersenyum menyapa.


“Seneng banget, kayaknya udah lama nggak ketemu kayak gini ya,”


“Vindra tumben temenin mamanya ke mall,” ujar Dania pada Vindra yang Ia tahu malah lebih sering kumpul dengan teman-temannya ketimbang orangtua.


“Ya emang kenapa? Nggak boleh?”


“Biasanya ngumpul sama Dino, Jerry, Zam,”


“Tapi ‘kan nggak ada salahnya lah gue temenin nyokap gue ke mal. Lagian mereka bertiga juga ada kegiatan masing-masing kali,”


Vibdra mendapat lirikan berupa peringatan dari mamanya. Bagi Rina, jawaban Vindra terhadap pertanyaan Dania itu kurang tepat. Kedengaran ketusnya, padahal Dania bertanya baik-baik dan bahkan sambil terkekeh juga. Seharusnya kalaupun tidak suka dengan pertemuan ini, jangan ditunjukkan secara langsung ke mereka.


“Oh gitu, eh Vin nanti kamu pesta kelulusan pakai baju apa?”


“Aturannya ‘kan formal ya berarti pakai baju yang formal,”


“Nggak, maksud aku warnanya gitu lho. Aku juga tau kalau peraturannya harus formal,”


“Belum tau, gue belum nyari,”


“Hah? ‘Kan udah tinggal berapa minggu lagi tuh. Kamu kenapa belum nyari? Kamu tau acaranya kapan ‘kan?”


“Ya tau lah,”


“Ya kali aja nggak tau, soalnya kadang nggak masuk setelah ujian,”


“Gue masih rajin, Dan. Sembarangan aja nih kalau ngomong. Lo jangan ngomong begitu di depan nyokap gue, ntar sampai rumah gue dihajar,”


Dania terkekeh mendengar ucapan Vindra, begitupun Rina dan Shanti. Vindra tak mengakui bahwa memang tidak setiap hari Ia datang ke sekolah. Karena Ia malas masuk sekolah untuk membahas soal ujian terakhir kemarin, membicarakan konsep acara kelulusan, dan rencana jalan-jalan setelahnya. Akhirnya Ia bersama tiga sahabatnya sering beda arah, bila teman-teman yang lain ke sekolah setiap hari, Ia dan tiga sahabatnya malah ke kafe, ke restoran, ke rumah salah satu dari mereka. Intinya tidak ke sekolah.


“Terus kamu setuju nggak sama rencana jalan-jalan ke Jogja itu?”


“Setuju-setuju aja,”


“Kamu tau ‘kan mau ke Jogja?”


“Awalnya ke Bandung, terus ke Puncak Bogor, terus kemana lagi tuh? Ah taulah pusing gue, emang jadinya ke Jogja?”


“Iya udah beneran ke Jogja, eh kita satu bus ya,”


Vindra menatap Dania dengan kening mengernyit. Ia tidak bisa mengatur akan satu bus dengan siapa saja. Tiba-tiba Dania bicara begitu.


“Nggak tau,”


“Semoga, aku berharap sih bisa satu bus sama orang yang seru-seru,”


“Kok deket banget jalan-jalannya? Nggak jadi ke luar negeri? Waktu itu bukannya ada wacana ke luar negeri ya?” Tanya Rina yang dijawab dengan gelengan oleh Dania.


“Nggak jadi, Tante. Anak-anak mau melokal aja, lagian kata mereka di Jogja nggak kalah seru dari luar negeri,”


“Oalah, iya-iya benar. Di sana seru kok. Tante beberapa kali ke sana suasananya emang beda banget sama di ibukota ini. Enak lah, dijamin betah nggak mau pulang ke sini lagi,”


“Padahal anak-anak orang kaya, kok nggak ke luar aja?”


“Ya mana aku tau, Vindra. Anak-anak pada maunya wisata domestik aja, nggak mau sampai ke luar, emang kamu mau ke luar? Ya udah jalan-jalan sendiri aja,” canda Dania.


“Nggaklah, nanti gue jalan ke luar negeri kalau udah punya pasangan aja. Hitung-hitung bulan madu gitu ‘kan,”


“Mau kemana, Vin?”


Tiba-tiba Vindra beranjak dan itu langsung membuat mamanya bertanya bingung.


“Aku mau ke kamar mandi sebentar,”


Rina mengangguk membiarkan putranya bergegas ke kamar mandi. Tanpa Ia ketahui Vindra ingin kabur dari restoran itu. Ia memutuskan untuk menunggu mamanya di mobil saja. Sebenarnya Ia ingin pulang, tapi Ia tidak setega itu meninggalkan mamanya yang nanti akan pulang sendirian kalau Ia pulang lebih dulu.

__ADS_1


“Nggak mau ngobrol-ngobrol, mendingan gue duduk, dengerin lagu di mobil ketimbang ngobrol nggak jelas. Takutnya nanti ujung-ujungnya malah mau ngobrolin perjodohan, ogah gue,”


__ADS_2