
Setelah membeli toner salah satu produk perawatan wajah yang wajib untuk Zeline, Zeline dan Mamanya tidak langsung mencari tempat makan melainkan ke tempat jual boneka.
Reta awalnya melarang karena boneka anaknya sudah bisa dibilang banyak. Di tempat tidur ada, di lemari pun ada.
Tapi Zeline bilang, tujuannya hanya ingin melihat-lihat saja. Akhirnya Reta setuju. Dan memang benar, di dalam toko boneka, Zeline hanya melihat-lihat sambil memegang. Dalam hati sudah punya niat menabung untuk membeli boneka karakter Melody yang menjadi incarannya sejak pertama kali melihat bahkan boneka itulah yang membuat Zeline akhirnya tertarik masuk ke dalam toko boneka.
Zeline punya uang bulanan dari orangtuanya dan Ia bisa menggunakan itu untuk membeli apa yang Ia mau.
“Kamu mau yang Melody? Kayaknya mata kamu ngeliat boneka itu mulu,”
“Iya, Ma. Tapi aku mau beli pakai uang jajan aku aja nanti, boleh ‘kan, Ma?”
“Oh mau nabung dulu nih ceritanya?”
__ADS_1
“Iya, Ma,”
“Ya boleh dong. Jadi nggak Mama beliin nih?” Tanya Reta yang sebenarnya tidak masalah kalau memang anaknya minta dibelikan, walaupun sebenarnya sudah bosan melihat boneka anaknya di kamar yang jumlahnya tak sedikit. Tapi kalau anaknya bahagia, dan Ia ada uang, akan Ia turuti.
Tapi ternyata Zeline ingin membeli boneka dengan uang hasil tabungan dari uang bulanannya sendiri.
“Mending beli yang lain kalau mama jadi kamu, ngapain coba beli boneka? Ya tapi terserah kamu lah, Nak. Kamu suka banget sama boneka sih,”
“Iya, Ma. Aku pengen ngoleksi,”
“Belum seberapa, Ma,”
Reta terkekeh sambil geleng-geleng kepala. Belum seberapa kata anaknya? Padahal kalau masuk kamar Zeline, menatap ke tempat tidur ada boneka, ke sofa ada boneka, ke lemari kaca ada boneka. Dimana-mana ada boneka baik itu yang ukurannya kecil maupun yang besar. Zeline sibuk mengamati banyaknya boneka yang dijual, sementara Reta juga begitu hanya saja tidak fokus. Sesekali akan menatap ke arah pintu kalau ada pengunjung yang baru datang. Dan kali ini Ia seperti kenal dengan salah satu pengunjung laki-laki yang baru saja melewati pintu toko boneka.
__ADS_1
“Eh, Zel. Itu si Vindra bukan? Apa Mama salah liat? Mama nggak pakai kacamata soalnya,”
Reta langsung mengguncang pelan lengan anaknya dan melirik ke arah pintu. Zeline langsung mencari tahu sendiri, dan ternyata memang benar Vindra.
Vindra tidak datang sendiri, ada Anin dan ada Mamanya Vindra juga. “Mereka ngapain ya ke sini? Siapa yang mau beli boneka?“ Zeline penasaran dengan tujuan mereka bertiga datang ke sini. Tapi melihat ada Anin, Zeline mulai bisa menebak.
“Kayaknya Anin mau dibeliin boneka sama Vindra dan Mamanya. Mereka jalan bertiga? Aku nggak diajak ya? oh mungkin karena nggak kenal dari kecil kali ya?” Batin Zeline.
“Beneran Vindra tuh,” ujqr Reta sambil memicngkan kedua matanya mengikuti sebentar pergerakan Vindra bersama dua wanita di kanan dan kirinya.
“Iya emang Vindra, Ma,” ujar Zeline.
“Itu Mamanya ‘kan? Sama siapa?”
__ADS_1
“Iya itu Mamanya Vindra sama Anin, yang sering aku ceritain itu lho, Ma. Sahabat aku sama Vindra,”
Reta menganggukkan kepalanya lantas mengamati boneka lagi, dan Zeline tidak lagi fokus. Padahal tadi benar-benar fokus mengamati boneka yang dijajakan. Sekarang justru Zeline lebih tertarik untuk pulang. Terlalu malas untuk bertemu Vindra yang tadi bilangnya akan istirahat di rumah ketika Ia ajak untuk pergi. Beruntungnya Ia gagal kecewa akibat tidak jadi pergi dengan Vindra karena ternyata mamanya ingin ditemani olehnya ke butik. Jadi setidaknya walaupun gagal pergi dengan Vindra, Ia senang diajak pergi oleh Mamanya.